MasukSetelah kekacauan panjang akibat para preman tadi, para dokter dan perawat tampak seperti baru saja keluar dari medan perang. Beberapa duduk bersandar, ada yang mengusap wajah dengan lelah, ada yang langsung meneguk air tanpa bicara.
Anaya melepas sarung tangannya perlahan.Belum sempat ia beranjak, seorang dokter senior mendekat. Wajahnya yang tadi kaku kini jauh lebih lunak.“Dokter Anaya.”Anaya menoleh.“Iya, Dok?”Dokter itu tersenyumSore mulai turun.Langit Jakarta berubah jingga keabu-abuan.Di sebuah halte yang mulai sepi, tiga koper berdiri berjejer.Naya duduk di bangku besi sambil memegang ponsel.Tari duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke jalan.Sedangkan Risa…sedang cemberut.Sangat cemberut.Kedua tangannya bersedekap.Pipinya menggembung.Dan sejak lima belas menit terakhir, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.Naya menghela napas."Masih marah?"Risa mendengus."Aku nggak marah.""Kamu kalau nggak marah nggak mungkin mukanya kayak ikan buntal.""Aku sedih!""Bedanya?""Sama aja!"Tari sampai menahan tawa.Naya memijat pelipis."Risa.""Apa?""Kita cuma numpang sementara.""Aku nggak mau!"Naya mengernyit."Kenapa?"Risa langsung berdiri."Karena itu rumah suami baru Mama!"Naya hampir tersedak."Tolong jangan teriak.""Aku nggak mau tinggal sama dia!""Dia siapa?""Itu! Gilang baru Mama!"Tari langsung batuk."Eh, Nona kecil…"Risa menunjuk langit."Pokoknya aku maunya Papa Gilang!"Na
Suara bentakan Eyang Wulan hari itu terdengar sampai ke ruang makan.Tidak ada lagi kata-kata lembut.Tidak ada lagi kesabaran.Yang tersisa hanya kemarahan.“Aku sudah bilang jangan melawan aku!”Brak!Gelas teh di atas meja bergetar ketika Eyang Wulan membanting koran yang menampilkan berita turunnya saham perusahaan.Wajah wanita tua itu pucat karena marah.Semua pelayan hanya bisa menunduk.Sementara Naya berdiri tegak di depan meja.Tatapannya lelah.Namun tidak mundur.“Eyang yang memaksa aku menikah.”“Karena itu demi perusahaan!”“Perusahaan Eyang, bukan hidupku.”Kalimat itu membuat wajah Eyang Wulan berubah.“Apa kamu tahu berapa kerugian yang aku tanggung?”“Lalu apa Eyang tahu berapa yang aku tanggung selama ini?”Sunyi.Naya menghela napas.“Aku sudah capek.”“Capek?” Eyang Wulan tertawa dingin. “Kamu hidup enak, tinggal di rumah ini, pakai uangku, lalu bilang capek?”“Kalau begitu aku pergi.”Kalimat itu membuat seluruh ruangan hening.Clara yang duduk di samping Eyang W
Pernikahan yang seharusnya digelar besar-besaran itu akhirnya dibatalkan.Hanya dalam satu hari.Satu hari yang cukup untuk membuat seluruh keluarga Wulan berada dalam kekacauan.Dan pusat dari semua kekacauan itu adalah satu orang.Naya.Pagi itu ruang makan terasa sunyi.Tidak ada suara sendok beradu.Tidak ada percakapan.Hanya suara televisi yang menampilkan berita ekonomi."...saham Grup Wulan Atmadja kembali mengalami penurunan setelah beredar kabar batalnya kerja sama strategis dengan keluarga Mahendra..."Clara langsung mematikan televisi.Brak!Remote dilempar ke atas meja.Wajahnya merah padam."Puas sekarang?"Naya yang sedang duduk diam mengangkat kepala."Apa?""Apa?" Clara tertawa sinis."Kamu masih tanya apa?"Ia menunjuk layar televisi yang sudah mati."Perusahaan keluarga kita hancur gara-gara kamu!"Naya mengepalkan tangan di bawah meja."Aku tidak minta menikah dengan Erwin.""Kamu juga tidak berhak menghancurkan semuanya!""Yang menghancurkan bukan aku!"Clara lang
Naya melangkah cepat keluar dari kamar.Di belakangnya, Risa yang baru saja berhenti menangis ikut berlari kecil."Mama mau ke mana?""Cari Eyang."Nada suara Naya pendek.Terlalu pendek.Dan itu membuat Risa langsung tahu sesuatu sedang tidak beres.Mereka baru sampai di tangga ketika suara para pelayan terdengar dari bawah."Bunga yang putih taruh di sebelah kanan.""Karpetnya jangan miring.""Meja tamu VIP dipindah sedikit."Naya berhenti.Keningnya berkerut.Pelan.Lalu matanya menyapu seluruh halaman rumah.Beberapa truk bunga baru saja datang.Pekerja lalu-lalang.Tenda mulai dipasang.Karpet merah digelar.Lampu-lampu dekorasi sedang dinaikkan.Jantung Naya langsung berdegup tidak nyaman.Perasaan buruk.Sangat buruk.Ia menuruni tangga lebih cepat.Salah satu pelayan yang sedang membawa rangkaian bunga langsung menunduk hormat."Selamat siang, Nona."Naya menghentikannya."Ini semua apa?"Pelayan itu tampak bingung."Untuk pernikahan, Nona."Sunyi."Pernikahan siapa?"Pelayan
Setelah semua dokumen selesai diperiksa, mereka keluar dari kantor catatan sipil.Matahari mulai naik.Halaman parkir tidak terlalu ramai.Namun suasana di antara mereka justru terasa semakin berat.Naya baru saja hendak membuka pintu mobil ketika tiba-tiba tangannya ditarik.Cukup kuat.Ia menoleh.Gilang.Pria itu berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.Tatapannya dingin.Tidak seperti biasanya.Tidak ada senyum malas.Tidak ada candaan.Hanya diam yang terasa menekan."Gilang, lepas."Tidak.Jemari Gilang justru semakin mengencang.Naya langsung meringis."Sakit."Baru kali itu Gilang berkedip pelan.Seolah tersadar kalau cengkeramannya terlalu kuat.Namun bukannya melepas, ia malah menarik Naya menuju mobil."Nanti."Jawaban pendek.Membuat emosi Naya langsung naik."Nanti apanya?!"Tidak ada jawaban.Kesabaran Naya habis.Ia langsung mengangkat kaki dan menendang tulang kering Gilang.Tidak keras.Tapi cukup mengejutkan."Aw!"Gilang kehilangan keseimbangan sesaat.Kakinya
Motor Gilang berhenti tepat di depan Kantor Catatan Sipil.Mesin dimatikan.Helm dilepas.Lalu ia menatap gedung di depannya cukup lama.Beberapa detik.Kemudian tertawa pelan sendiri.Benar-benar pelan.Kalau ada orang yang melihatnya sekarang, mungkin akan mengira pria itu sudah mulai stres.Dan memang sedikit benar.Karena hari ini ia sedang dalam perjalanan untuk menikahi wanita yang sama.Untuk kedua kalinya."Gila..." gumamnya pelan.Dulu menikah diam-diam.Sekarang menikah lagi.Masih diam-diam.Bedanya dulu Naya tahu dia suaminya.Sekarang Naya justru tidak tahu.Hidup memang kadang terlalu kreatif.Gilang menggeleng kecil lalu berjalan menuju halaman depan sembari menelpon atasan. Gilang memberitahu atasan bahwa dia akan menikah dengan menggunakan identitas aslinya, dan komandan pun setuju. Di sana Naya sudah menunggu.Bersandar di mobil.Kacamata hitam bertengger di atas kepala.Tangannya menyilang.Wajahnya terlihat tidak sabar.Begitu melihat Gilang datang, Naya langsung







