Home / Romansa / Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku / Bab 11 — Pulang Terlambat

Share

Bab 11 — Pulang Terlambat

last update publish date: 2026-09-03 02:02:30

Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Sera akhirnya memasuki rumah.

Tangannya masih memegang tas kecil berisi beberapa buku dan perlengkapan yang tadi digunakan di yayasan. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian beraktivitas, tetapi ada kepuasan kecil yang membuat langkahnya tetap ringan.

Hari itu, salah seorang anak di yayasan mengalami kesulitan memahami tugasnya. Sera sebenarnya bisa pulang lebih awal, tetapi ia tidak tega meninggalkan anak itu

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 123 — Rumah yang Penuh Tawa

    "Ayah! Ayah sudah pulang!"Damian baru saja membuka pintu ketika anak mereka berlari menghampirinya. Ia segera berjongkok dan menangkap tubuh kecil yang menerjang pelukannya."Pelan-pelan. Ayah belum sempat melepas sepatu.""Tapi aku kangen!"Damian mengangkat anaknya, lalu mengecup pipinya."Ayah juga kangen."Dari ruang tengah, Sera menyaksikan mereka sambil tersenyum. Pemandangan itu selalu berhasil menghangatkan hatinya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.Dulu, ia tidak pernah membayangkan Damian Wijaya akan menjadi ayah yang begitu mudah luluh oleh rengekan anak mereka.Pria yang dahulu bahkan enggan menatapnya kini bisa menghentikan rapat hanya karena menerima panggilan video dari rumah."Jangan terlalu dimanjakan," tegur Sera ketika Damian berjalan mendekat sambil menggendong anak mereka.Damian mengangkat alis. "Aku baru pulang.""Dan kau langsung menggendongnya.""Memangnya aku harus men

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 122 — Aku Memilihmu

    "Kalau waktu bisa diputar kembali, apa kau akan tetap menikah denganku?"Damian menghentikan langkahnya.Malam itu, ia membawa Sera kembali ke restoran tempat mereka pertama kali bertemu. Tempat yang dahulu menjadi saksi perjodohan mereka, ketika dua keluarga menentukan masa depan tanpa memedulikan perasaan keduanya.Kini, Damian menggenggam tangan Sera dengan erat."Kenapa kau bertanya begitu?""Karena hari ini ulang tahun pernikahan kita. Aku ingin tahu apakah suamiku menyesali keputusannya."Damian menatapnya."Aku tidak pernah menyesal menikahimu."Sera tersenyum tipis. "Padahal dulu kau mengatakan sesuatu yang berbeda."Damian terdiam.Ia masih mengingat malam pengantin mereka. Sera duduk sendirian dalam gaun putih, sementara dirinya berdiri dengan hati penuh kebencian.Aku tidak akan pernah mencintaimu.Dulu, ia mengucapkan kalimat itu untuk menjaga jarak. Sekarang, kalimat tersebut me

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 121 — Pertanyaan Anak Mereka

    “Ayah, apa Ayah dulu tidak menyukai Ibu?”Damian hampir tersedak kopinya.Sera yang sedang duduk di seberangnya langsung menutup mulut, berusaha menahan tawa. Anak mereka duduk di antara keduanya, menatap Damian dengan rasa ingin tahu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghilang.“Kenapa kau bertanya begitu?” Damian meletakkan cangkirnya.“Karena tadi Tante Clara bilang Ayah dan Ibu menikah bukan karena saling mencintai.”Damian menoleh perlahan ke arah Sera.Sera mengangkat kedua tangan. “Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mengatakan apa-apa.”“Tentu saja,” gumam Damian.Anak mereka menarik ujung lengan kemeja ayahnya.“Jadi, bagaimana Ayah bertemu Ibu?”Damian menarik napas. Ia bisa menghadapi rapat direksi, negosiasi bernilai miliaran, dan orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Namun, menghadapi pertanyaan anak sendiri ternyata

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 120 — Tahun-Tahun yang Berubah

    “Damian, kalau kau terus menggendongnya setiap kali dia merengek, dia tidak akan mau turun dari pelukanmu.”Damian menatap Sera dengan wajah datar. Anak mereka tertidur nyaman di dadanya, sama sekali tidak peduli pada perdebatan kedua orang tuanya.“Dia masih kecil.”“Dan kau memanjakannya.”“Aku ayahnya.”Sera mengangkat alis. “Alasan yang sangat bagus.”Damian tidak menjawab. Ia hanya mengecup kepala anak mereka, lalu berjalan melewati Sera seolah baru saja memenangkan perdebatan penting.Sera menggeleng sambil tersenyum.Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi satu hal tidak pernah berubah: Damian Wijaya tetap pria dingin yang sulit dibantah di hadapan orang lain. Hanya saja, di rumah, ia bisa kalah hanya karena satu tatapan dari Sera.Dan Sera selalu tahu cara memanfaatkannya.Waktu mengubah banyak hal.Yayasan yang didirikan Ser

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 119 — Nama Anak

    “Bagaimana kalau kita memilih nama yang berarti harapan?”Sera mengangkat wajah dari bayi yang tertidur di pelukannya.Damian duduk di sampingnya sambil membawa buku kecil berwarna krem. Sejak mereka pulang dari rumah sakit, pria itu selalu punya alasan untuk berada dekat anak mereka—memeriksa selimut, memastikan suhu kamar, atau sekadar memperhatikan wajah mungil yang belum banyak ia pahami.“Kau sudah memikirkan nama?” tanya Sera.“Sudah.”“Berapa banyak?”“Tiga halaman.”Sera tertawa kecil. “Kita sedang memilih nama anak, Damian, bukan nama perusahaan.”“Aku ingin memilihnya dengan benar.”Tawa Sera mereda ketika melihat kesungguhan di wajah suaminya.“Kalau begitu, apa yang kau cari?”Damian memandang bayi mereka. Jemari mungil itu bergerak sedikit di balik selimut.“Nama yang mengingatkann

  • Suamiku Tidak Pernah Mencintaiku   Bab 118 — Tangisan Pertama

    Tangisan itu akhirnya terdengar.Nyaring. Kecil. Namun cukup untuk membuat Damian kehilangan seluruh kata-katanya.“Bayinya lahir dengan selamat,” ujar dokter. “Ibu dan anak dalam kondisi baik.”Damian menatap dokter itu seolah membutuhkan waktu untuk memahami kalimat sederhana tersebut.Lalu terdengar tangisan bayi sekali lagi.Matanya langsung memerah.“Anak saya...” bisiknya.Dokter tersenyum sambil memperlihatkan bayi mungil yang baru saja lahir. Damian mendekat dengan langkah ragu. Tangannya gemetar ketika melihat wajah kecil itu untuk pertama kalinya.Selama berbulan-bulan, ia telah membayangkan momen ini. Ia menyiapkan kamar bayi, membaca buku pengasuhan, bahkan menyimpan foto USG di meja kerjanya.Namun, tidak ada satu pun yang mempersiapkannya menghadapi perasaan sebesar ini.Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Kenapa kau menangis?” suara Sera terd

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status