Teilen

Mulai ada Rasa

last update Veröffentlichungsdatum: 06.06.2026 18:22:42

Mendengar rentetan pertanyaan dari Devan dan Vani, laki-laki bernama Vano itu malah terkekeh santai tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dia mengusap sisa-sisa bedak tebal di lehernya dengan cuek.

"Hehehehe.... iya, kebetulan tadi kan banyak yang keliling ngamen, akhirnya ikutan deh. Tapi pas baru nyampe ke rumah kamu, eh udah dapat uang lima puluh ribu ini dari Om itu. Jadi ya gak usah keliling lagi, udah banyak hasil hari ini mah. Lumayan kan uangnya buat makan kita berdua sore ini," ucap Vano
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Suamiku, Tuan Mudaku    BANTUIN MANG KARDI

    Emran menyandarkan kepalanya yang terasa mulai berat di bahu Devan, memiringkan wajahnya sembari mengutarakan kejujuran hatinya."Beneran atuh... Cuma Om nya kadang pikasebelen tapi Emran tetep sayang peluk atuh Emran mau bobo..." Ucap Emran dengan suara yang mulai serak menahan kantuk luar biasa.Hati Devan meleleh mendengar pengakuan jujur dari keponakannya. Pria tampan itu merentangkan tangannya lebar-lebar, menarik tubuh gembul Emran ke dalam dekapannya, lalu mengalihkan pandangan penuh kehangatan pada sang istri yang sibuk memegang ponsel."Sini.... Om peluk.. sayang sini tidur juga." Ucap Devan mengajak Vani ikut bergabung di atas sofa empuk.Vani yang jarinya sibuk menari di atas layar ponsel menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya."Gak mau masih mau nonton sama lagi chatan sama Vano juga ini." Ucap Vani santai.Alis Devan bertaut, rasa cemburu tipis langsung menyelusup ke dadanya mendengar nama saudara kembar istrinya disebut."Chatan apa?" Tanya Devan menuntut penjel

  • Suamiku, Tuan Mudaku    KASIH SAYANG DEVAN KE EMRAN

    Di dalam kamar mandi, Devan masih setia jongkok di depan kloset, menatap keponakan gembulnya yang masih betah duduk"Sebentar lagi masih banyak...." Ucap Emran memberitahukan bahwa proses pembuangan hajatnya belum sepenuhnya tuntas.Devan menghela napas panjang, mengurut pangkal hidungnya yang terasa pegal melihat sisa-sisa perjuangan sembelit keponakannya."Makan apa ajah sih di sekolah sampe eek kamu sebanyak ini?" Tanya Devan heran membayangkan isi perut bulat bocah di depannya.Emran mendongak polos, menyebutkan satu per satu deretan makanan yang dimakannya sepanjang pagi hingga siang tadi dengan raut wajah tanpa dosa."Baso goreng terus nasi liwet di suapin sama Oma sama bihun goreng juga enak bihun goreng bikinan mbok Inah." Ucap Emran merincikan pesta jajanan kolosal yang masuk ke dalam pencernaannya.Devan membelalakkan matanya kaget, membayangkan tumpukan porsi makanan yang di makan keponakan nya."Astaga.... Nasi kuning yang kamu bawa bekal di makan gak?" Yany Devan memastik

  • Suamiku, Tuan Mudaku    EMRAN SAKIT PERUT

    Melihat ancaman asbak tebal yang diangkat tinggi-tinggi oleh sang ayah, Devan langsung menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah cemberut dan mata menatap sengit."Dasar Aki-aki tua Bangka pisikopat kebiasaan licik pisan itu istri Devan ajah main di peluk-peluk cium-cium." Ucap Devan menggerutu nyaring, meluapkan kejengkelannya pada sang ayah yang sesuka hati merangkul dan mencium istri kecilnya.Damian yang mendengar omelan anaknya justru santai menurunkan asbak kaca tersebut, menatap Devan dengan tatapan meremehkan."Hey... Bodoh dia anak Daddy." Ucap Damian mengingatkan status kekeluargaan mereka bahwa Vani juga merupakan anak angkat kesayangannya.Devan tidak mau kalah, membusungkan dadanya sembari melontarkan pembelaan konyol dengan intonasi bernada tinggi."Hey... Pak tua Bangka dia gue mamih Devan." Ucap Devan lantang, bermaksud menegaskan bahwa Vani adalah istrinya dan ibu dari calon anak-anaknya kelak.Damian memutar bola matanya malas, menyengir ejek melihat tin

  • Suamiku, Tuan Mudaku    BAJU YANH SAMA

    “Eeeehhhh... Ya ngaku apa atuh? Ya ngaku suaminya ajah atuh...” sahut Devan ngasal dengan wajah tanpa dosa, mencoba memberikan ide konyolnya.“Mau Vani dikeluarin dari sekolah, hah...?” semprot Mamih Eko langsung menatap tajam ke arah Devan, membuat nyali pemuda itu langsung menciut.“Ya gak atuh... Kasihan istri Devan kalau di keluarin dari sekolah mah. Walaupun sebenarnya bisa home schooling doang.” gumam Devan lirih sambil merengut pelan.“Ya makanya diem ajah kamu di rumah! Daddy dan Mamih yang bakal pergi. Yuk sayang, ke rumah sebelah. Nanti abis makan siang kita langsung ke sekolah Vano. Atau sayang mau makan siang di luar kota sekalian ngedate?” tawar Damian manis, mengalihkan pandangannya penuh kehangatan pada sang istri tercinta.“Gak ah... Males... Mamih mau ngadem dulu di sini sama Emran sama Vani, orang masih ada waktu juga. Sekolah mereka juga dekat dari sini jadi nanti ajah. Mamih masih cape...” tolak Mamih Eko santai, memilih untuk tetap bersantai bersama cucu dan menan

  • Suamiku, Tuan Mudaku    DISKUSI SIAPA YANG PERGI KE RAPAT WALI MURID

    Mendengar ancaman pamungkas yang sangat melanggar batas kemanusiaan itu, Vani hanya bisa mencebikkan bibirnya, menatap Devan dengan sepasang mata bulatnya yang memancar kekesalan tingkat tinggi."Ngancem wae pikasebelen....." Ucap Vani menggerutu pasrah, tidak berani membantah lagi karena takut ancaman ekstrem suaminya benar-benar terjadi.Devan tersenyum puas melihat kemenangan telaknya. Pria tampan itu kemudian mengelus lembut pipi Vani yang masih memerah, berusaha bersikap manis untuk membujuk istri kecilnya agar mau mengisi perut."Makan ya mas suapin." Ucap Devan menawarkan bantuan dengan intonasi nada yang begitu lembut dan penuh perhatian.Namun rasa gengsi dan sisa-sisa kejengkelan di dada Vani masih terlalu besar untuk menerima perlakuan manja tersebut."Mau makan sendiri ajah." Ucap Vani yang langsung duduk dan langsung turun dari kasur, melangkah cepat meninggalkan Devan sendirian di dalam kamar orang tuanya.Devan yang ditinggal begitu saja hanya bisa menarik napas panjang

  • Suamiku, Tuan Mudaku    VANI CEMBURU

    Mendengar pengakuan asal-asalan dari mulut Devan soal interaksi masa lalunya, Vani yang sedang dibakar cemburu langsung memalingkan wajahnya rapat-rapat ke bantal. Rasa jengkel di dadanya semakin membuncah membayangkan wanita lain pernah memegang tubuh suaminya."Tau ah sana pikasebelen pisan bekasan geleuh iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... Udah di pegang-pegang cewek lain..... " Ucap Vani mencibir tajam dengan intonasi penuh kejengkelan, merasa jijik sekaligus cemburu setengah mati pada jejak masa lalu Devan.Devan yang gemas melihat wajah cemberut istri kecilnya justru terkekeh geli. Pria tampan itu makin merapatkan badannya, menempelkan bibirnya ke pipi Vani yang memerah."Hehehehe.... Muuuuuaaaaahhhh.... Itu mah video palsu sayang..." Ucap Devan meralat ucapan usilnya tadi, mencoba menenangkan prasangka buruk Vani dengan ciuman gemas di pipi.Vani tidak mempan dibujuk begitu saja. Gadis itu menghentakkan badannya, menatap Devan dengan sepasang mata bulatnya yang sembap."Vani gak bodoh ya V

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Yang pasti bukan pengemis

    "Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekar

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Mencari kesempatan dalam kesempitan

    "Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Nginep di Klinik

    "Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Gara-gara gelas hampir nyawa melayang

    "Sayang, ada apa?" tanya Devan dengan nada khawatir begitu menghampiri pacarnya."Ini, Sayang... pembantu kamu ceroboh banget! Dia mecahin gelas kesayangan aku, Sayang," adu Lana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.Plak! Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya lebih dulu, tangan Devan melayang kera

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status