Share

Bab 3

Author: Fahira Khanza
last update Last Updated: 2022-06-06 09:51:28

SUARA DESAHAN DI KAMAR IPARKU

BAB 3

Pias, satu kata itulah yang aku dapatkan dari wajahnya saat aku menanyakan perihal kemana mobilnya. 

"Ah, itu anu mobilku ada di depan rumah Pak Bram tetangga baru kita itu. Yah benar seperti itu. Itulah sebabnya kamu gak dengar suara mesin mobilku," kilah mas David.

 Aku menatap wajahnya mencari sebuah kejujuran di sana dan berharap menemukannya. Sayangnya aku tidak menemukan itu. Fix, mas David sedang berbohong kali ini. 

Oke, aku ingin lihat sampai di mana dia mampu terus menutupi kebusukannya padaku. Toh aku mau menuduhnya sekarang kau tidak memiliki bukti. Akan aku cari bukti-bukti itu dan jika benar semua sesuai pradugaku maka aku akan membuat mereka menyesal karena telah bersekongkol menipuku seperti ini. 

"Kenapa mesti kamu parkir di depan rumah tetangga baru? Memangnya kenapa kalau langsung kamu masukin ke garasi rumah kita?" tanyaku yang ingin tahu jawaban apa yang akan dia berikan. 

"Ya, aku gak mau aja suara mesin mobilku mengganggu orang-orang rumah yang lagi istirahat karena ini sudah larut malam. Lagian kan rumah Pak Bram tidak setiap hari ditempatin makanya aku pilih memarkirkannya di sana." 

Aku mengedikkan bahu tanda tidak peduli dengan seribu alasan yang diucapkannya karena aku jelas-jelas melihat di mimik wajahnya kalau dia sedang berbohong. 

"Teruskan saja kebohonganmu itu, Mas. Akan tiba saatnya nanti kamu akan terkena imbas dari perbuatanmu sendiri." 

Aku pun meninggalkan mas David yang masih berdiri di ruang tamu menuju dapur karena rasa haus ini tidak lagi bisa kutahan. 

Setelah aku selesai mengaliri tenggorokanku dengan air minum aku pun berniat kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku yang terganggu. Akan tetapi, saat aku baru saja membuka pintu kamar, aku mendapati mas David tengah tersenyum-senyum sendiri sembari menatap ponselnya. Bahkan, dia sampai tidak tahu kehadiranku di kamar karena saking fokusnya terhadap ponsel itu. 

"Kamu senyum-senyum sama ponselmu memangnya ada yang lucu kah?" tanyaku sembari melongokkan kepalaku sedikit seolah-olah ingin melihat apa yang ia lakukan dengan ponsel tersebut. 

Seketika mas David terkejut dan langsung mematikan ponsel miliknya itu, lantas ia meletakkan ponsel tersebut di bawah bantal yang ia gunakan. Aku semakin mengerutkan dahi karena dibuat semakin penasaran akan tingkahnya. 

Rupanya suamiku benar-benar tengah bermain sandiwara padaku. Baiklah, akan aku cari hingga ke akar-akarnya apa yang kamu sembunyikan itu. Jangan panggil aku Raya kalau tidak bisa secepatnya membongkar kebusukan yang kamu tutupi. 

"Oh iya kamu tadi beneran lembur, Mas?" tanyaku lagi padanya. Kini, posisiku sudah duduk di sebelah mas David di atas ranjang kami berdua. 

"Kok tanya lagi? Apa masih kurang jelas jawabanku tadi di bawah? Aku benar-benar lembur, Sayang."

 Aku memutar bola mataku jengah mendengar dia memanggilku sayang. Aku memang mencintainya dan menyayanginya. Namun, aku tidak bucin padanya. Hal yang mencurigakan sedikit saja sudah bisa membuatku langsung berpikiran negatif. Bukan maksudku ingin suudzon pada suamiku sendiri. Hanya saja, kita sebagai wanita jangan pernah mau selalu menjadi korban keegoisan para suami buaya dan tukang bohong sepertinya. Terkadang perlakuan manis yang kita terima hanyalah sebagai pengalihan agar kita tidak menyadari kebohongannya. Cinta sih boleh tapi bodoh yang jangan. 

"Lalu, ponselmu? Katanya tadi ponselmu habis baterai? Lalu itu yang kamu pencet-pencet sambil senyum-senyum apa namanya kalau bukan ponsel?" 

"Ah, itu kan tadi kan emmm ponselku memang habis baterai tapi terus aku charge sebentar saat kamu minum di bawah tadi. Terus udah hidup lagi makanya udah bisa aku pakai lagi." 

Alasan yang tidak masuk akal. Mana mungkin ponsel yang benar-benar kehabisan baterai bisa hidup hanya dengan mencharge nya selama lima menit saja. Dia kira charger hape itu pesawat jet bisa mengisi baterai ponsel kita secara kilat? Mungkin kalau ponsel tersebut masih menancap kabel charge nya aku percaya. Akan tetapi, ponsel itu sama sekali tidak aku lihat ia sedang mencharge nya. 

"Oh ya tadi aku dengar suara dering ponsel kamu dari kamar Nora. Apa kamu habis dari kamar Nora?" Aku sengaja menjeda kalimatku. Setelahnya aku melanjutkan lagi perkataanku. 

"Eh, ya ampun kok aku lupa ya, kan kamu baru saja pulang saat aku turun tadi ya. Jadi bagaimana mungkin kalau kamu dari sana," ucapku sembari menyeringai pada mas David yang wajahnya sudah tegang. 

Aku sengaja ingin mempermainkan detak jantungnya. Aku ingin dia akan merasa seperti naik roller coaster setiap kali pertanyaan-pertanyaan tak terduga keluar dari bibirku ini. 

"Ah, kamu bisa saja, Ray. Kalau soal nada dering kan siapa saja bisa punga nada dering yang sama." 

"Yaudahlah ya, orang aku juga cuman bercanda gak usah tegang gitu dong, Mas." 

"Enggak kok, aku enggak tegang. Yaudah yuk kita tidur. Mas udah ngantuk banget nih."

 Aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk ini. Tidak berselang lama aku mendengar dengkuran halus dari bibir mas David. Rupanya dia sudah tertidur pulas. Cepat sekali tidurnya? Pastilah cepat, kan dia habis olahraga malam. Ups. 

***

"Pagi Sayang. Bangun dan kita sarapan yuk." Aku membuka mata saat merasakan ada satu kecupan yang mendarat di keningku. Rupanya suamiku sudah rapi sepagi ini. 

Hal seperti ini bukan yang pertama bagiku karena mas David memang terbiasa bangun pagi. Terkadang dia sering bangun terlebih dahulu daripada aku dan membangunkanku untuk menemaninya sarapan sebab segala pekerjaan rumah tangga sudah ada yang menghandle nya di rumah ini. Aku merasa sangat beruntung memiliki suami seperti mas David saat aku belum tahu tentang dirinya yang ternyata suka bermain sandiwara. 

Namun, kini aku merutuki diriku sendiri karena begitu mudahnya dulu aku terpesona dengan wajah lugu nya dan sikap baiknya itu yang ternyata hanya kamuflase saja. 

Mas David memang mempekerjakan satu orang ART di rumah ini untuk bersih-bersih rumah dan memasak. Sedangkan untuk urusan cucian baju mas David, akulah yang turun tangan sendiri meski terkadang aku juga ikut menyiapkan masakan untuk suamiku dan ibu mertuaku. 

Berharap Nora ikut membantu? Hah, itu adalah hal yang mustahil. Setahuku Nora kerjanya itu kalau enggak di kamar ya pergi ngelayap entah kemana. Aku pikir dia melakukan itu lantaran menghibur diri akibat LDM dengan suaminya. Itulah alasan yang mas David kemukakan padaku saat aku bertanya kenapa ibu mertua masih merasa kesepian meskipun sudah ada Nora di rumah ini. 

"Hei, pagi-pagi kok melamun. Cepat cuci muka dan gosok gigi. Kita sarapan di bawah yuk. Oh iya aku harus berangkat cepat pagi ini karena ada jadwal meeting dengan petinggi perusahaan," ucap mas David sembari membenahi dasi yang ia pakai. 

Jika biasanya aku langsung sigap bangun dan membantunya membenarkan pakaiannya. Namun, kali ini aku sangat malas sekali melihat wajah suamiku itu dri dekat. 

Aku menyingkap selimut tebal yang bertengger di atas tubuhku, setelahnya aku pun menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelah kurasa cukup aku pun bergegas keluar kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat aku kembali ke dalam kamarku tidak lagi kulihat mas David ada di sini. Mungkin saja dia sudah terlebih dahulu ke meja makan untuk sarapan. 

***

"Hei, Sayang! Sini kita sarapan!" seru mas David saat melihatku berjalan ke arahnya yang sudah duduk manis di kursi makan. 

Di sebelah mas David juga sudah ada Nora yang sedang menyendokkan nasi goreng buatan Bi Ratmi ke dalam mulutnya. 

Namun, ada hal yang aku sangat ingin tanyakan pada Nora begitu tubuh ini sudah mendarat di kursi makan. 

"Nora? Kevin kemana? Bukannya dia pulang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Fransiscaroom
hayoo Nora juga bakalan bohong kayanya
goodnovel comment avatar
Rosantirosa
bnr2laki buaya ad istri ngmbat ifar
goodnovel comment avatar
Syahman Purba
seru juga ceritanya, bikin penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 308. Ending

    Beberapa bulan kemudianSuara tangisan bayi itu menggema memenuhi ruangan kamar bersalin. Raya meraup udara dalam-dalam, napasnya tersengal-sengal setelah melakukan proses melahirkan secara normal. Ravi yang saat ini berada di samping Raya, menangis tersedu-sedu kala sang istri berhasil melahirkan keturunannya. Bahkan, kali ini Ravi sedang merengkuh kepala sang istri. Air mata mengalir dengan begitu derasnya di kedua manik mata sepasang suami istri itu. "Selamat ya, Bu Raya dan Pak Ravi, bayinya berjenis kelamin laki-laki." Ravi melepaskan rengkuhan pada sang istri, sejenak mereka saling berpandangan. Terpancar suatu kebahagiaan dengan jelas pada wajah Raya dan juga Ravi. "Terima kasih, Sayang ...." Ravi mengelus pucuk kepala sang istri. Tenang Raya yang sepenuhnya belum pulih itu hanya merespon Ravi dengan anggukan kepala. Seorang dokter yang menggendong bayi mungil itu mendekat ke arah keduanya. "Lihatlah, bayinya sangat tampan." Sang dokter menunjukkan wajah bayi mungil itu.

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 307

    Bab 307Nora tersentak saat menyadari ada seseorang yang menangkap tubuhnya. Ia berusaha meronta-ronta, dan meminta untuk dilepaskan. "Lepas! Lepas, nggak!" Nora berteriak keras tatkala menyadari kalau tubuhnya ditarik oleh seseorang.Mata wanita itu membola saat membalikkan wajahnya untuk melihat siapa yang melakukannya itu. Ia terbelalak, dan seketika rasa panik menggelayuti hatinya. Dia melihat ada delapan orang pria yang sudah mengerubunginya. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung terhidu di hidungnya. Ya, orang-orang itu sedang mabuk rupanya. Dan, saat ini Nora adalah mangsa empuk dan lezat bagi mereka.Nora tak bisa membayangkan kalau malam ini dia akan menjadi pemuas nafsu bagi para lelaki mabuk itu. Ia tak pernah membayangkan akan digangbang masal oleh mereka."Pergi! Pergi kalian dari sini!" Nora berteriak setelah cukup lama mengumpulkan keberaniannya. Namun, teriakannya itu sama sekali tak berpengaruh pada mereka. Mereka hanya tertawa saja menanggapi teriakan Nora ya

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 306

    Bab 306Bryan melangkahkan kaki memasuki beranda rumahnya. Lelaki itu meletakkan kunci mobilnya pada meja hias yang terletak di bawah televisi kemudian melepaskan jaket kulitnya yang berwarna hitam.Kepalanya melihat ke arah lorong yang berjejer pintu-pintu kamar. “Nora,” panggilnya karena ingin segera melihat wajah wanita itu, lelaki itu merasa bosan seharian di luar dan dirinya ingin mendapat pelayanan dari Nora malam ini.Tak ada sahutan saat Bryan memanggil nama wanita itu. “Nora?” panggil Bryan lagi sambil berjalan menuju kamar wanita itu. “Nora? Kenapa dia tidak menjawab?” herannya mengetuk pintu kamar.Tok tok tok …Bryan mengetuk pintu itu sekali lagi dan memanggil-manggil nama wanita pemuas nafsunya itu. Karena lelaki itu tak kunjung mendapatkan sahutan, Bryan pun akhirnya membuka pintu kamar itu dengan paksa.Ketika pintu dibuka, Bryan mendapati ruangan kamar yang kosong tak ada orang. Barang-barang Nora tampak berceceran dan satu hal yang membuat kening Bryan mengkerut. “Pa

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 305

    "Tetapi sebelum itu, mungkin aku harus membersihkan diri dulu," gumam Nora saat menyadari tubuhnya sudah terasa begitu lengket. Tak ingin semakin membuang waktu, wanita itu pun segera mengambil handuknya yang masih tergantung di balik pintu kamar untuk kemudian melenggang memasuki kamar mandi.Sejenak Nora mengeluarkan senandungnya. Lalu, netra wanita itu tampak berkaca menanti kebebasan yang mungkin sebentar lagi akan dia rasakan."Seharusnya aku melakukan ini sejak lama. Aku benar-benar menyesal karena telah menghabiskan waktu dengan hal penuh dosa ini. Ya Tuhan, masih berkenan kah Engkau memberikan maaf padaku?" gumam Nora yang kini tengah berdiri tepat di bawah guyuran air showernya. Nora benar-benar tak sabar untuk memulai hidup baru yang akan dia isi dengan banyak hal-hal positif.Selesai melakukan ritual mandinya, Nora pun segera bergegas menuju ranjang tidur kemudian pakaian bersihnya untuk kemudian dia kenakan. Nora menatap ke arah kamarnya sesaat. Ruang berukuran sedang ini

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 304

    Nora tidak sadrakan diri karena apa yang di lakukan Bryan kepadanya. Karena di tidak tahan dengan perlakuan Bryan yang membabi buta kepada Nora, membuat wanita itu berontak, akibatnya kepalanya terbentung kepala ranjang.Bryan langsung meninggalkan Nora begitu saja dan menyuruh anak buahnya untuk memanggilkan tenaga medis untuk menangani Nora. Sedangkan Bryan sendiri pergi entah kemana. Setelah puas melampiaskan hasratnya kepada Nora, lelaki itu merasa fresh dan siap menjalankan aktivitasnya.Sebenarnya Bryan juga sedikit heran dengan dirinya sendiri, entah sejak kapan dia sangat menikmati rasa sakit Nora, apalagi ketika gadis itu berteriak-teriak meminta berhenti dan menyudari permainan mereka, Bryan malah merasa terpacu dan tidak ingin berhenti. Dia merasakan kenikmatan yang luar biasa.Keesokan harinya Nora siuman dalam keadaan tidak bisa berjalan, dia juga merasa tenaganya habis terkuras serasa habis berlari ratusan kilometer.“Aku di mana? Apa yang terjadi padaku?” batin Nora sem

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 303

    Malam ini, Nora tampil cantik dengan pakaian ketat dan belahan dada rendah. Dia menggunakan lipstik merah merona yang melapisi bibirnya, kalung cantik yang berkilauan, dan sepatu hak tinggi kulit hitam yang membuat kakinya terlihat berjenjang luar biasa.Rambutnya yang gelap dan tebal jatuh hingga ke tengah punggungnya. Sebatang rokok tergantung bebas dari antara bibirnya, sementara dia berjalan dengan sedikit berlenggak-lenggok. Ketika Nora melangkah memenuhi panggilan Brian, pinggulnya bergoyang sangat menawan.Sang Germo itu memandangnya seolah Nora berjalan dalam gerakan lambat. Nora memanglah sangat cantik dan tidak ada yang akan tahu tentang fakta bahwa dia adalah seorang wanita penghibur yang sebenarnya, jika mereka tidak melihatnya di tempat prostitusi.Seorang pelanggan dengan ekspresi wajah terlalu sumringah datang."Selamat malam, Pak?" sapa Brian tak kalah cerianya.Tentu saja dia menyambut dengan ramah sosok pria yang sudah pasti akan menyumbangkan pundi-pundi yang cukup

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 302

    Bab 302“Please, berhenti, Bryan.” Nora ngos-ngosan dan kesulitan mengambil napas karena sejak tadi Bryan meneruskan ritme goyangan pinggulnya hingga keperkasaan lelaki itu menusuk masuk ke dalam milik sang wanita.“Diamlah! Nikmati saja!” desah Bryan yang kian mempercepat temponya. Lelaki yang posisinya berada di atas itu menopang tubuhnya dengan kedua lengan kekar yang ada di kedua sisi bahu Nora. Bryan menatap wajah Nora dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.“T-tapi, ini sudah ronde … ah entahlah, entah ronde keberapa dalam hari ini!” jerit Nora meremas bantal yang mengalasi kepalanya. Dia memicingkan mata menahan rasa perih yang mulai menjalar pada bagian miliknya. Barangkali miliknya akan lecet setelah pergerumulan ini.“Sudah aku bilang! Aku masih belum puas dan ingin terus kau puaskan,” tukas Bryan dengan nada baritonnya. Suaranya yang berat membuat Nora terpaksa menyerah dan membiarkan tubuhnya terus terlentang dengan Bryan yang mendominasinya.Sudah sejak tiga jam lalu

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 301

    Bab 301“Iya, cuih!” Mira melepeh makanan yang dibuat Amanda setelah sang ibu memaki masakan wanita itu. Dia mengambil tisu dan mengelap sisa makanan di mulutnya.Mira juga mendorong piringnya agar menjauhi pandanganya hingga membuat perasaan Amanda sangat tersakiti dibuatnya.“Maaf, Kak, Mama.” Amanda menunduk masih dengan mengenakan celemek dapur yang melilit pingganya. Dia terduduk di bangku meja makan dan tak mampu mengangkat wajahnya sama sekali.Sang ibu juga jadi tidak selera makan. Sejujurnya dia kesal bukan perkara masakan yang dibuat Amanda, namun omongan tetangga yang tadi dia dengar ketika arisan di rumah salah satu keluarga kaya.“Ibu benar-benar tidak tau lagi bagaimana harus menghadapi kamu, Amanda,” ujar sang Ibu menghela napasnya dengan kasar. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa seksak. “Kamu bisanya bikin ibu menderita saja!”Air mata Amanda kembali berlinang. Terserah bila kakak-kakaknya terdengar begitu membencinya, tapi kini ibunya juga ikut kecewa padanya dan m

  • Suara Desahan Di Kamar Iparku   Bab 300

    Amanda memasang wajah sedihnya. Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Tak punya tempat tinggal dan harta. Sama sekali tak pernah terbesit di pikiran jika pada akhirnya nasib yang dia alami akan sesial ini.Amanda menatap kedua saudaranya secara bergantian. Hal itu justru membuat Rudi dan Mira merasa semakin muak. "Ada apa lagi? Mau bicara apa lagi? Masih mau mengelak dan mengatakan kalau semua ini adalah milikmu? Iya!" sentak Mira seolah tak ingin memberikan kesempatan bagi Amanda untuk bicara.Dulu dia sangat menyukai adiknya ini, bagaimana pun Amanda adalah mesin uang yang mudah dimanfaatkan. Amanda selalu siap sedia kala saudaranya membutuhkan pinjaman. Bahkan Amanda tak segan memberikan uang secara cuma-cuma untuk sanak saudaranya yang kekurangan.Namun nyatanya semua kebaikan Amanda itu tak membuat kedua kakaknya merasa harus berbalas budi dan bersikap baik pada Amanda yang sekarang sepertinya telah jatuh miskin. Justru mereka merasa muak dan tak sudi berbaur de

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status