로그인
Suara tepuk tangan riuh memenuhi ballroom hotel bintang lima itu, menyambut sang bintang utama yang melangkah ke atas panggung dengan dagu terangkat.
Di bawah sorot lampu, Raka Pratama berdiri dengan senyum penuh percaya diri, seolah seluruh dunia berada dalam genggamannya.
"Keberhasilan proyek Smart-Tech ini adalah bukti bahwa visi yang tepat bisa mengubah sejarah," suara bariton Raka menggema mantap.
"Saya dedikasikan pencapaian ini sepenuhnya untuk masa depan NOVATECH."
Tepuk tangan kembali membahana. Investor dan pejabat tinggi berebut memberikan tatapan kagum. Namun, di sudut ruangan yang remang-remang, Elena Wijaya berdiri mematung sambil menggenggam gelas sampanye yang sudah mendingin.
Dialah yang tidak tidur selama enam bulan untuk menyempurnakan algoritma itu. Dialah yang melobi vendor-vendor sulit menggunakan relasi pribadinya.
Namun malam ini, namanya bahkan tidak disebut satu kali pun, seolah ia hanyalah hantu di perusahaannya sendiri.
“Bukankah itu Nona Elena? Tunangan Tuan Raka?”
“Kenapa dia di pojok sana? Jika orang belum tahu, mungkin mereka akan mengira Nona Mora yang tunangannya,” bisik seorang tamu sambil melirik Mora.
"Kasihan sekali Elena," bisik sosialita lain di dekatnya, cukup keras untuk didengar.
"Kudengar dia mandul. Pantas saja keluarga Pratama tak kunjung meresmikan pernikahan. Sudahlah dari keluarga kaya kota kecil, tidak berguna pula. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk dibuang."
Elena mencengkeram gelasnya hingga buku jarinya memutih. Tatapan mengejek itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Maura, kakak perempuannya.
[Kau masih belum pulang? Apakah pria itu mengabaikanmu lagi? Perlu aku turun tangan?]
Elena terkekeh getir. Hanya Maura yang peduli, namun Elena selalu melarangnya ikut campur demi menjaga nama baik keluarga. Ia membalas singkat, enggan berdebat dengan kakaknya.
[Aku akan pulang sekarang, Kak. Aku bosan.]
Tanpa pamit pada Raka yang masih sibuk dipuja, Elena melangkah keluar.
Gerimis tipis mulai membasahi kaca depan SUV putih miliknya saat Elena memacu kendaraan menyusuri jalanan aspal yang meliuk di pinggiran tebing.
Napasnya berat, dadanya sesak mengingat bagaimana kedua orang tuanya selalu memuja Raka dan menganggap keluhan Elena hanyalah angin lalu.
Layar dasbor menyala. Maura menelepon. Elena menekan tombol hijau, mencari sedikit kehangatan dari suara kakaknya.
"Halo, Kak?"
"Elena? Kau sudah jalan pulang?" suara Maura terdengar hangat, penuh kasih sayang yang tulus.
Elena menatap jalanan yang mulai berkabut di depannya. "Sebentar lagi, Kak. Aku butuh udara segar sebentar sebelum pulang. Mungkin aku akan sampai dalam tiga puluh menit.”
Terdengar suara helaan napas dari sambungan telepon. "Kau sudah makan?”
“Sudah,” jawab Elena bohong.
“Baiklah, kabari aku jika kau sudah sampai.”
Elena menutup telepon dengan senyum tipis yang langsung hilang saat ia memasuki tikungan tajam yang menghadap langsung ke jurang.
Ia menginjak pedal rem, namun jantungnya seolah berhenti berdetak saat kakinya hanya menekan ruang kosong. Pedal itu blong—tanpa tekanan sedikit pun.
"Remnya... tidak mungkin!"
Ia memompa rem berkali-kali, namun mobil justru melaju liar seolah mesinnya telah dipaksa untuk mencapai kecepatan maksimal.
BRAKKK!
Mobil itu menghantam pembatas jalan dengan dentuman memekakkan telinga, terguling berkali-kali di lereng berbatu sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terbalik di ambang jurang yang menganga.
Kesadaran Elena tersisa di ujung tanduk. Darah hangat mengalir dari pelipis, mengaburkan pandangannya. Di tengah suara desis mesin, ia mendengar pintu mobil tertutup di dekatnya. Harapan muncul, ia mengira seseorang datang menolong.
Namun, harapan itu mati saat sepasang sepatu pantofel mahal berhenti tepat di depan jendela mobil yang pecah. Elena bersusah payah mendongak.
Di sana, Raka berdiri dengan angkuh, tangannya menggandeng mesra Mora yang tersenyum puas.
"R-Raka... tolong..." rintih Elena.
Raka berjongkok, menatap tunangannya yang sekarat dengan tatapan dingin yang belum pernah Elena lihat. Ia meludahi wajah Elena yang bersimbah darah, lalu tertawa kecil.
"Maafkan aku, Elena. Tapi kau terlalu pintar untuk tetap hidup," ucap Raka dengan nada tenang yang mengerikan.
Air mata Elena menetes, rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan sakit hatinya saat ini. “K-kenapa?” lirihnya.
"Membatalkan pertunangan secara normal akan membuat publik mencaciku. Mereka akan tahu soal Mora dan anak yang dikandungnya. Jadi, kecelakaan tragis adalah solusi terbaik."
"Apa... salahku?" lirih Elena dengan sisa tenaga.
"Kau naif, Elena. Kau seperti kayu yang membosankan. Aku tak pernah berselera padamu."
Raka mengusap tangannya dengan sapu tangan, seolah-olah menyentuh area mobil Elena adalah sesuatu yang menjijikan.
Mora mengusap perutnya yang masih rata, lalu berbisik licik, "Semoga Anda tenang di alam baka, Nona Elena."
Raka berdiri, memberi isyarat pada mobil hitam di belakangnya. "Terima kasih untuk NOVATECH, Sayang. Aku akan menjaga warisanmu dengan baik."
Tanpa sedikit pun ragu, Raka memberikan instruksi terakhir. Mobil pengawal di belakangnya melaju, menghantam bagian belakang SUV Elena dengan kekuatan penuh.
BRAKKKK!
Elena membelalakkan mata saat gravitasi merenggut dunianya. Mobil itu meluncur jatuh ke kegelapan jurang. Dalam detik-detik jatuh yang terasa abadi, tangis Elena bercampur darah. Di tengah kobaran api yang mulai menjalar, batinnya meraung.
Jika maut memberiku jalan kembali... aku akan pastikan kalian memohon untuk mati!
BOOM!
Ledakan dahsyat mengubah tepi jurang yang gelap menjadi merah membara. Dari kejauhan, Raka dan Mora menatap pemandangan indah
itu dengan napas lega. "Selamat tinggal, Elena."
Pintu geser ruang VIP terbuka. Samuel berjalan masuk dengan langkah tegap, diikuti Erick Wijaya di belakangnya.Melihat mereka kembali, Elena langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Samuel dengan gurat panik. Matanya sibuk meneliti penampilan Samuel dari ujung kepala hingga kaki.[Aduh... di bagian mana Ayah menghajarnya? Dia tidak akan melawan, kan? Bagaimana jika dia melawan?]Elena beralih menoleh ke arah ayahnya, seolah menelusur setiap inci tubuh ayahnya.[Sepertinya Ayah juga baik-baik saja. Lalu, apa yang mereka lakukan sejak tadi?]]Sudut bibir Samuel berkedut menahan tawa mendengar rentetan pertanyaan panik di kepala istrinya. Sementara itu, Erick yang berjalan di belakang Samuel langsung menghela napas berat."Elena..." panggil Erick dengan suara berat yang sengaja ditekan. “A-ah, iya, Yah?”"Suamimu itu baik-baik saja, tidak kurang satu apa pun. Kenapa kau menatap Ayah seolah-olah Ayah ini penjahat yang baru saja menyiksanya?"Uhuk!Maura dan Maria yang duduk di meja
Di sudut lain restoran, sebuah ruangan privat kecil menjadi saksi bisu pertemuan dua pria yang memiliki pengaruh besar di dunianya masing-masing. Berbeda dengan ruang VIP sebelumnya, atmosfer di sini terasa jauh lebih canggung, dingin, dan sarat akan ketegangan yang tak kasat mata. Erick Wijaya duduk dengan tegap, meraih teko keramik berukir emas untuk menuangkan teh ke dalam cangkir Samuel. Namun, belum sempat air hangat itu mengalir, tangan kekar Samuel menahannya dengan lembut namun tegas. “Biar saya saya, Ayah mertua.” Pria muda itu mengambil alih teko, lalu dengan gerakan tenang dan penuh hormat, justru dialah yang menuangkan teh ke cangkir Erick. “Terima kasih.” Erick memperhatikan gestur itu dengan tatapan datar, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati. "Tuan Samuel, kau tidak perlu berpura-pura sopan padaku di ruangan ini. Aku tahu kau dan Elena sedang berbohong." Gerakan tangan Samuel terhenti sesaat sebelum ia meletakkan teko kembali ke tempatny
Suasana di dalam ruang VIP restoran hotel bintang lima itu mendadak berubah layaknya ruang interogasi. Meja makan panjang yang mewah kini menjadi pembatas dua kubu. Samuel dan Elena duduk berdampingan di satu sisi, sementara Erick, Maria, dan Maura duduk berjejer di seberang mereka dengan tatapan menyelidik yang menghujam tajam.Erick Wijaya meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan, namun sarat akan wibawa seorang ayah. "Elena... Ayah ingin mendengar langsung dari mulutmu sendiri. Apa benar yang dikatakan Tuan Samuel tadi?”Elena menggigit bibir bawahnya karena gugup. Ia menoleh ke arah Samuel dan mendapati suaminya itu justru sedang tersenyum tanpa dosa sama sekali.[Dasar pria menyebalkan!]“Ayah… aku minta maaf—”“Ya atau tidak?!” potong Erick tegas.Elena tertunduk, lalu mengangguk kecil. “Ya, Ayah. Aku dan Samuel sudah menikah belum lama ini.”“Kenapa?” tanya Erick lagi, menuntut penjelasan.Samuel beralih menggenggam tangan Elena di atas meja, lalu menatap Erick dengan s
"Ini editan! Ini pasti video AI!" Suara Raka memekik histeris, memecah kesunyian ruang makan. Tangannya gemetar menunjuk layar ponsel, lalu beralih menunjuk Samuel dan Elena dengan tatapan murka. "Ayah! Kakek! Jangan percaya ini! Samuel menggunakan teknologinya untuk memfitnahku!" Sofia langsung berdiri, wajahnya memerah padam demi membela sang putra. "Benar Ayah mertua! Putraku tidak mungkin serendah itu! Tega-teganya kalian menjebak Raka yang tulus demi melegalkan perselingkuhan kalian sendiri! Kalian benar-benar jahat!" Pramoedya ikut menggebrak meja hingga gelas kristal berdenting. "Erick, lihat kelakuan putrimu! Dia membawa pria asing untuk menjatuhkan nama baik keluarga kami dengan taktik kotor!" Elena yang berdiri di samping Samuel hanya menatap drama itu dengan pandangan malas. “Itu benar atau tidak, seharusnya kalian lebih tahu dari kami,” ucap Elena. “Dasar jalang sialan! Raka kami tidak sekotor dirimu yang suka berselingkuh!” bantah Sofia, meski jelas
Suasana ruang makan kediaman Pratama terasa mencekam. Tak ada lagi tawa ramah atau sambutan hangat yang biasanya menyambut keluarga Wijaya. Meja panjang itu kini terasa seperti kursi pesakitan. Tatapan meremehkan dari Pramoedya dan Sofia tertuju tajam pada Elena, seolah-olah ia adalah noda yang mengotori lantai marmer mereka."Silakan duduk," ucap Pramoedya dingin, tanpa basa-basi.Elena duduk dengan punggung tegak, sementara Erick dan Maria berada di sisinya dengan perasaan yang berkecamuk. Baru saja mereka mendaratkan pantat di kursi, rintihan batin Elena kembali bergema hebat di kepala orang tua dan kakaknya.[Lihat wajah-wajah haus harta itu.] [Kemarin saat butuh suntikan modal, mereka datang merangkak dan menjanjikan pernikahan.][Sekarang, saat merasa sudah di atas angin, mereka menatap kita seperti sampah. Benar-benar keluarga lintah!]Erick dan Maria tersentak, sedangkan Maura makin menggebu-gebu mendengar itu. Maura menggenggam tangan sang adik dengan erat. “Tenang saja,
Pagi hari di apartemen Elena tidak diawali dengan ketenangan. Aroma kopi yang diseduh Maura di dapur sedikit pun tidak mampu mencairkan atmosfer kaku di ruang tengah. Erick dan Maria duduk di sofa dengan lingkaran hitam di bawah mata mereka, bukti nyata bahwa semalam mereka sama sekali tidak bisa tidur karena dihantui oleh fenomena aneh suara batin sang putri.“Pokoknya aku tidak akan tinggal diam jika mereka merendahkan kita, apalagi Elena,” tegas Maura.“Jangan gegabah, bisa jadi ini hanya salah paham,” ucap Maria yang masih berusaha berpikir positif.Maura mendelik kesal, dia sudah siap untuk menyahut, tapi Elena menahannya.“Kak. Biarkan saja.”Bukan mengakui kalah, tapi Elena justru ingin agar kedua orang tuanya melihat langsung bagaimana sikap keluarga Pratama.Tok, tok, tok!Gedoran pintu yang terbilang kasar itu mengejutkan semua orang. Elena yang baru saja keluar dari kamar dengan pakaian rapi refleks menghentikan langkahnya. Ketika Maura membuka pintu, sosok Raka Pratama l
Suasana di ruang rapat utama NOVATECH terasa mencekik. Meja kayu mahoni panjang itu kini dikelilingi oleh wajah-wajah kaku para tetua keluarga Pratama. Kehadiran mereka yang mendadak adalah pertanda buruk, siaran pers Samuel Adiguna pagi tadi telah memicu gempa tektonik di bursa saham perusahaan.
Mobil mewah Samuel meluncur membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, hampir mencekik. Elena menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, matanya kosong menatap aspal yang berlari cepat. Secara fisik, ia hanya di
Suasana di dalam ruang rapat utama sangat mencekam. Udara terasa dingin oleh pendingin ruangan, namun dahi Raka mulai berkeringat. Di depannya, layar besar menampilkan grafik penawaran dari berbagai perusahaan teknologi.Raka melirik Elena yang duduk tenang di sampingnya. "El, masukkan angka itu se
Raka duduk di kursi belakang, keningnya berkerut dalam saat jemarinya menari di atas layar tablet. Di sampingnya, Elena tampak tenang dengan polesan makeup minimalis yang justru menonjolkan aura elegannya. Bagi Elena, setiap detik berada di ruang tertutup bersama pria yang pernah membunuhnya adala







