MasukKeesokan harinya, koridor lantai tiga rumah sakit perlahan mulai ramai oleh riuk pikuk aktivitas pagi. Bau antiseptik yang khas menyeruak di udara, berpadu dengan derak roda troli medis yang didorong para perawat.Nayra akhirnya telah dipindahkan dari ruang ICU menuju kamar rawat inap semula kamar nomor 304. Meski selang ventilator besar sudah dilepas dan digantikan oleh nasal kanula oksigen biasa, kondisi wanita itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia masih terbaring kaku dalam buaian koma medis akibat pendarahan hebat dan komplikasi yang dialaminya.Mama Fitri telah tiba sejak pagi-pagi sekali setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kampung halaman. Sementara itu, orang tua Nayra dikabarkan masih berada di perjalanan menyusul menggunakan jalur darat dan diprediksi baru akan sampai menjelang siang.Setelah beberapa saat mengelus kening menantunya yang dingin sambil memanjatkan doa-doa keselamatan di dalam kamar, Mama Fitr
Di luar ruang ICU, koridor rumah sakit terasa begitu lengang. Suara dengung pendingin udara berpadu dengan langkah gontai beberapa perawat yang melintas dari kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di lorong steril tersebut. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih yang dingin, menambah aura kesedihan yang menggelayuti keluarga kecil itu.Di atas deretan kursi besi dingin yang menempel di dinding, Angga dan Ayu masih setia duduk menanti. Keduanya tampak teramat lelah. Lingkaran hitam menutupi bagian bawah mata mereka setelah seharian penuh dihantam badai emosi, mulai dari mengurus Riko di ruang anak, melerai keributan Arga dan Rama di taman, hingga menyaksikan pertaruhan nyawa Nayra dan bayinya di ruang operasi.Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap lehernya yang terasa kaku. Matanya menatap pintu kaca tebal ruang ICU yang tertutup rapat, membayangkan beban berat yang saat ini tengah menghimpit pundak adik iparnya di dalam sana.Ia memiringkan kepa
Di tengah kehancuran jiwanya, Arga mendongakkan kepala. Matanya yang merah dan sembap menatap dokter bedah yang masih berdiri menunggunya dengan sabar."Apakah... apakah saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Arga lemah, hampir seperti bisikan gundah dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.Dokter itu mengangguk pelan. "Bisa, Pak. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit). Tapi untuk saat ini, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk untuk mendampingi. Dan Anda harus mengenakan pakaian medis steril lengkap demi menjaga kondisi steril pasien dari risiko infeksi," ujar dokter menginstruksikan."Saya, Dok... Saya yang masuk. Tolong izinkan saya," ucap Arga tanpa ragu. Ia mengusap air matanya kasar, memaksa kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak.Lima belas menit kemudian, Arga sudah berada di depan pintu kaca tebal ruang ICU. Ia telah mengenakan jubah hijau steril, penutup kepala, dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya yang memar
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik di depan ruang operasi terasa laksana siksaan yang membakar jiwa. Tiga puluh menit... empat puluh lima menit... satu jam berlalu tanpa ada kepastian.KLIK!Lampu merah indikator di atas pintu ruang operasi mendadak padam. Pintu besar itu terdorong terbuka. Seorang dokter spesialis anak (pediatris) keluar lebih dulu sambil mendorong sebuah inkubator kecil transparan, dikawal oleh dua orang suster.Arga, Angga, Mbak Ayu seketika berdiri, merangsek mendekat dengan jantung yang berdegup kencang."Dokter! Bagaimana anak dan istri saya, Dok?!" seru Arga histeris, matanya berusaha mengintip ke dalam dinding kaca inkubator.Dokter spesialis anak itu melepas maskernya dan memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Selamat, Pak. Bayi Anda laki-laki. Beratnya memang hanya 1,9 kilogram karena lahir prematur di usia kehamilan delapan bulan, dan tadi sempat mengalami sedikit sesak napas karena kekurangan cairan ketuban."Arga menahan na
Tangan Arga bergetar hebat saat ujung pena menyentuh lembaran kertas persetujuan operasi (*informed consent*). Setiap huruf dari tanda tangannya tergores dengan rasa cemas yang teramat sangat. Di lembaran kertas putih itu, ia menyerahkan sepenuhnya takdir istri dan calon anak pertamanya ke dalam tangan tim medis."Sudah, Suster... tolong, lakukan yang terbaik. Selamatkan mereka berdua," bisik Arga lincah, menyerahkan kembali papan jalan itu kepada petugas administrasi."Baik, Pak. Bapak bisa menunggu di depan ruang operasi utama di lantai empat. Pasien akan segera dipindahkan melalui lift khusus," ujar petugas itu dengan raut wajah prihatin.Arga tidak menjawab. Ia membalikkan badan dengan langkah gontai. Di dekat pintu IGD, Rama masih berdiri mematung. Pria itu tampak sangat pucat, kehilangan semua keangkuhan yang beberapa saat lalu ia tunjukkan saat memicu pertengkaran.Arga melangkah melewati Rama begitu saja tanpa melirik sedikit pun. Kemarahannya yang tadi meluap-luap kini me
Arga langsung melupakan keberadaan Rama. Ia memutar tubuhnya secepat kilat dan merangsek maju mendekati dokter tersebut. "Saya, Dok! Saya suaminya!" ucap Arga dengan nada mendesak, sepasang matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan.Rama ikut melangkah di belakang Arga, mencoba mendengarkan pembicaraan tersebut dengan raut cemas yang sama besarnya.Dokter itu menatap penampilan Arga yang babak belur sejenak dengan dahi berkerut, namun ia memilih mengabaikan hal itu demi menyampaikan kondisi darurat yang sedang terjadi di dalam ruang tindakan. Ia mengembuskan napas pendek sebelum membuka suara."Maaf, Pak. Kondisi istri Anda saat ini sangat kritis. Pasien mengalami pendarahan hebat akibat solusio plasenta atau plasenta yang terlepas sebagian sebelum waktunya dan yang paling fatal, air ketubannya sudah pecah sempurna di dalam," jelas dokter itu tanpa alih-alih memperhalus bahasa medisnya karena waktu yang mereka miliki sangat terbatas.Arga tertegun, otaknya mendadak macet untuk
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m







