Share

Bab 2

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2026-02-13 19:08:55

Namaku Shabia. Tapi, orang-orang selalu memanggilku Bia. Tak ada nama panjang atau nama keluarga, seolah tak ada yang istimewa dengan latar belakang keluargaku.

Aku baru turun dari taksi ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menungguku di depan teras. Dengan sebatang rokok di mulutnya juga secangkir kopi —yang sepertinya sudah dingin, menatap marah padaku.

"Kemana saja kamu? Jam segini baru pulang," katanya sambil berdiri.

"Tumben sekali Ayah peduli." Aku menjawab sinis.

Ku lihat ia melotot. "Anak kurang ajar! Sudah berani kamu sekarang."

Aku tersenyum mengejek. "Aku tidak pernah takut kalau saja Ayah tidak memakai ibu sebagai ancaman."

Lelaki yang ku panggil 'ayah' itu membalasku dengan senyum yang sama. "Makanya, jangan macam-macam kalau kamu masih mau ibumu hidup."

"Ayah benar-benar jahat. Bagaimana Ayah bisa tega pada perempuan yang Ayah cintai itu." Aku melotot, menatap benci.

"Haha! Cinta katamu? Perempuan penyakitan itu tidak pantas aku cintai," katanya menghina.

"Perempuan tidak berguna. Sepanjang hidupnya hanya diam di atas ranjang, tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk kebutuhan biologis saja, aku harus mendapatkannya dari perempuan lain."

Aku menggeleng, sedih. Tak percaya dengan kalimat —yang sebetulnya, sudah sering aku dengar keluar dari mulutnya.

"Sudah jangan berlebihan," katanya sebab mungkin melihatku mulai menangis. "Sekarang, mana uang yang aku minta?"

Ayah menarik paksa tas dari pundakku. Ia lalu mengambil dompet yang terjatuh saat ia bongkar isinya.

"Apa ini, Bia?" katanya saat mengambil uang dua puluh ribu dari dalam dompet.

Itu adalah sisa uang yang aku miliki, yang rencananya untuk sarapan ibu besok, dan ayah ambil dengan wajah marah.

"Aku enggak punya uang, Yah," jawabku kesal.

Tapi, ayah tak terima. Ia malah menarik rambutku hingga leherku menenggak.

"Jangan membohongiku! Aku tahu kamu baru saja pergi ke tempat hiburan malam. Mana hasilnya?"

Aku terperanjat kaget. 'Dari mana ayah tahu aku pergi ke sana.'

"Kenapa? Kamu enggak nyangka kalau aku tahu kamu pergi ke tempat kaum pencari nafsu itu?" Dia terkekeh saat membaca bola mataku.

Aku diam dengan air mata yang mulai keluar. Leherku sakit sebab ayah semakin menarik rambutku kencang.

"Aku melihatmu naik taksi dengan pakaian seperti ini. Malam-malam. Kemana lagi kalau bukan ke tempat seperti itu?"

Entah harus senang atau miris mendengarnya. Bahkan, lelaki yang beberapa waktu belakangan ini berubah, sangat tahu bagaimana penampilan sehari-hari anak semata wayangnya yang sebenarnya.

"Enggak ada lelaki yang mau dengan perempuan kampung seperti aku, Yah."

"Bohong! Enggak mungkin kamu enggak laku. Bahkan, si Dendy saja mau menerima kamu di tempat karaokenya dengan bayaran tinggi."

Dendy adalah teman sekaligus atasan ayah di tempatnya bekerja sebagai petugas keamanan. Sebulan yang lalu aku dikenalkan. Dan setelah itu —hampir setiap hari ayah memintaku untuk mau bekerja di tempat itu.

"Dari pada kuliah, untuk apa? Aku juga enggak bisa membiayai kuliahmu," katanya —hampir setiap malam.

"Setidaknya Ayah bisa diam kalau memang tidak mampu, dan bukan malah menjerumuskan anak sendiri ke tempat kotor itu." Aku tak lagi mampu menahan amarah.

"Aku mau kuliah supaya bisa kerja di tempat yang layak. Mendapatkan gaji lumayan supaya bisa mengangkat ekonomi keluarga."

Jawaban yang aku berikan sepertinya tidak pernah masuk ke telinga ayah. Sebab permintaan supaya aku mau menjadi seorang pemandu lagu, terus ia gaungkan.

Ayah melepaskan rambutku dengan hentakan yang amat keras hingga membuatku terjerembab ke lantai.

"Aku enggak mau tahu, kamu cari dan dapatkan uang yang aku minta. Kalau tidak, jangan harap saat pulang kuliah besok, kamu melihat perempuan tak berguna itu ada di atas ranjangnya."

Ayah terlihat sekali marah ketika meninggalkan rumah. Subuh sudah mau menjelang, entah kemana ia akan pergi.

Aku pun mencoba tak peduli dan memilih merapikan barang-barang milikku, dan kembali memasukkannya ke dalam tas.

Setelahnya aku beranjak bangun. Ku biarkan cangkir berisi kopi itu di atas meja —sebab pasti si empunya akan mencari saat kembali.

Rumah terasa sunyi saat aku masuk. Setiap langkah, menjadi latar suara yang tak mampu menutupi kehampaan hatiku.

Ku buka pintu kamar ibu. Perempuan itu masih tertidur dengan wajah yang terlihat begitu menyedihkan.

Perlahan ku tutup pintu kembali. Tak kuasa aku mendekat, khawatir akan membuatnya terbangun dengan isak tangis yang selalu saja sulit aku tahan.

Kamar berukuran tiga kali tiga adalah tempat favoritku. Di tengah masalah keluarga yang saat ini menimpa hidupku, aku telah berubah menjadi seorang pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar setelah berjibaku dengan kegiatanku di luar.

Pagi kuliah, siang bekerja part time di perpustakaan kampus sampai sore. Lalu, lanjut bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran hingga malam.

Dengan kondisi ibu yang sudah satu tahun terakhir mengalami struk, sebetulnya aku tak tega membiarkannya sendirian di rumah. Tapi, kalau aku tidak bekerja, bagaimana kami makan? Bagaimana mengobati penyakit ibu dan kontrol setiap bulan setelah ayah terkena PHK satu tahun yang lalu? Meski sekarang ayah sudah kembali bekerja, tapi lelaki itu tak pernah lagi membiayai hidup kami. Tak perlu aku, tapi ibu, wanita yang pernah ada di hatinya, bahkan tak lagi ia pedulikan.

Ah, mau mengeluh, tapi rasanya tak pantas. Sedangkan di luaran sana masih banyak orang-orang yang nasibnya lebih buruk dariku.

Aku membaringkan tubuh di atas kasur. Tidak empuk seperti kasur hotel yang aku rebahi beberapa waktu lalu. Tapi, di atas kasur ini aku merasa jauh lebih nyaman dan tenang.

Selembar cek yang aku simpan di dalam bra, aku keluarkan.

Ya, aku sengaja menyimpannya di dalam sana karena ayah tidak akan memeriksa sampai sejauh itu.

Dua ratus juta.

Kembali aku ingat momen kebersamaan kami di kamar hotel mewah beberapa saat lalu. Selama dua puluh dua tahun aku menjaga kehormatan ini. Dan harus aku lepaskan. Tapi, bukan untuk suamiku. Bukan juga untuk lelaki yang aku cintai.

Rasa nyeri di tubuh tentu masih terasa karena ini pertama kalinya buatku. Tapi, semua itu terkalahkan sebab rasa sayangku pada ibu. Aku tak mau melihat ibu sedih di kondisi kesehatannya yang buruk. Tak apa jika aku harus memberikan uang itu ke ayah daripada aku melihat lelaki itu menyakiti ibu setiap hari.

'Semoga tak ada hutang-hutang yang lain,' batinku, tak lama tertidur.

Aku lelah.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 52

    Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas ketika mataku perlahan terbuka, cahaya matahari sudah berubah lebih terang di balik tirai jendela ruang rawat kamar ibu.Leherku pegal karena posisi tidur yang buruk. Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang hangat di atas ranjang.Aku berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Suara televisi kecil terdengar pelan dari sudut ruangan. Aroma bubur rumah sakit samar tercium di udara.“Ibu?”Suaraku serak. Aku melihatnya memandangku dalam diam. Ibu sudah bangun. Dan beliau menatapku sambil tersenyum kecil meski wajahnya masih terlihat lemah.“Kamu tidur di situ?”Aku buru-buru duduk tegak dan mengusap wajah. “Ketiduran sedikit.”“Sedikit?” Ibu tertawa kecil pelan. “Leher kamu sampai miring begitu.”Aku ikut tertawa tipis, meski rasa bersalah langsung muncul lagi.“Maaf. Harusnya aku datang lebih pagi.”“Kamu habis kerja malam lagi?”Pertanyaan itu membuatku diam sepersekian detik terlalu lama.“Iya.”Ibu menghela napas kecil.“Kamu k

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 51

    Aku buru-buru masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi.Namun sebelum pintu kaca otomatis menutup sepenuhnya, pantulan mobil hitam itu masih terlihat samar di kaca. Tian belum pergi.'Memangnya dia tidak kerja?' gerutuku dalam hati masih berjalan dengan leher memutar ke belakang. Pendingin ruangan rumah sakit langsung menyambut kulitku yang masih terkena udara pagi. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki perawat membuat kepalaku sedikit lebih tenang.Sedikit.Aku berjalan cepat menuju lift sambil menunduk memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar dari Bu Yana juga.Syukurlah.Lift terbuka di lantai rawat inap VIP. Begitu keluar, langkahku otomatis melambat.Dua pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh dari ruang rawat ibu. Dengan tas selempang dan ransel, aku berjalan mendekat. Setelah dekat pintu, aku langsung berhenti.Mereka melihat ke arahku hampir bersamaan, lalu salah satunya sedikit menundukkan kepala.“Pagi, Mbak.”Aku mengenali wajah itu samar. Salah satu penga

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 50

    Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.“Kau tidur cuma dua jam.”“Kenapa masih membicarakan jam tidur saya?”“Karena aku tidak mau kau sakit. Aku membayarmu tidak untuk itu.”Aku menoleh pelan. Nada suaranya datar. Sangat Tian.Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman daripada saat ia bicara terlalu lembut tadi pagi.“Saya masih bisa kerja.”“Kau kerja di dua tempat, kuliah, lalu bolak-balik rumah sakit.” Ia mengetuk pelan setir. “Kalau tumbang, itu merepotkan.”Aku mendengus kecil. “Ternyata saya cuma investasi.”“Kau memang investasi mahal.” Jawaban itu keluar cepat tanpa rasa bersalah sedikit pun.Aku memalingkan wajah lagi ke jendela.'Ya. Benar. Ini memang hubungan transaksional sejak awal.'Baru saja aku terbuai de

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 49

    Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu.Dan entah kenapa, aku membenci caranya tetap menatapku bahkan saat ia menerima panggilan dari perempuan lain di depanku.Ia menerima panggilan.“Halo.”Suara Silvi langsung terdengar ceria dari speaker kecil ponsel.“Kamu udah bangun? Aku dari tadi nyari kamu.”Aku buru-buru berjalan menjauh beberapa langkah, pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Memberi ruang. Atau mungkin menyelamatkan diriku sendiri.“Sudah,” jawab Tian singkat, masih menatapku. “Oh ya, kamu tidak lupa hari ini kita fitting terakhir? Mama ingetin aku barusan.”Fitting.Kata itu menghantam aneh di dadaku.Tentu saja mereka harus fitting sebab besok hari istimewa keduanya terjadi. Aku menundu

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 48

    Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hangat. Dan terlihat sadar pada keberadaan seseorang di sampingku.Tian masih tertidur.Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat lelaki itu dalam keadaan benar-benar tenang. Tidak dingin. Tidak penuh kuasa. Garis wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur, membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.Dan entah kenapa itu membuat dadaku aneh.Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Semalam sudah cukup membuat pikiranku kacau.Aku bergerak perlahan, berniat turun dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun baru saja kakiku menyentuh lantai, sebuah tangan melingkar di pinggangku.“Jam berapa?” suaranya serak khas orang baru bangun tidur.Aku menahan napas.“Masih sangat pagi.”“Hmm.”Pelukanny

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 47

    Tenggorokanku tercekat.Tak pernah Tian melakukan ini.Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.“Aku bantu.” Lagi, ia bicara. Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.Aku refleks menahan pergelangan tangannya.“P-Pak Tian…”Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya."Tian."Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu. Air terus jatuh membasahi wajah kami. Kemeja putihnya kini menempel di tubuh, memperlihatkan garis tegas di balik kain yang basah. Rambutnya ikut lembap, beberapa helai jatuh ke dahinya.Dan tatapan itu, tidak dingin. Justru terlalu lembut hingga membuatku gugup.“Kau takut?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak.”“Kau gemetar.”“Itu karena dingin.”Dan malu. Aku menambahkan.“Kau bohong lagi.”Aku mendelik pelan, tapi napasku sudah berantakan lebih dulu.Tangannya naik menyentuh pipiku. Ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status