LOGINNamaku Shabia. Tapi, orang-orang selalu memanggilku Bia. Tak ada nama panjang atau nama keluarga, seolah tak ada yang istimewa dengan latar belakang keluargaku.
Aku baru turun dari taksi ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menungguku di depan teras. Dengan sebatang rokok di mulutnya juga secangkir kopi —yang sepertinya sudah dingin, menatap marah padaku. "Kemana saja kamu? Jam segini baru pulang," katanya sambil berdiri. "Tumben sekali Ayah peduli." Aku menjawab sinis. Ku lihat ia melotot. "Anak kurang ajar! Sudah berani kamu sekarang." Aku tersenyum mengejek. "Aku tidak pernah takut kalau saja Ayah tidak memakai ibu sebagai ancaman." Lelaki yang ku panggil 'ayah' itu membalasku dengan senyum yang sama. "Makanya, jangan macam-macam kalau kamu masih mau ibumu hidup." "Ayah benar-benar jahat. Bagaimana Ayah bisa tega pada perempuan yang Ayah cintai itu." Aku melotot, menatap benci. "Haha! Cinta katamu? Perempuan penyakitan itu tidak pantas aku cintai," katanya menghina. "Perempuan tidak berguna. Sepanjang hidupnya hanya diam di atas ranjang, tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk kebutuhan biologis saja, aku harus mendapatkannya dari perempuan lain." Aku menggeleng, sedih. Tak percaya dengan kalimat —yang sebetulnya, sudah sering aku dengar keluar dari mulutnya. "Sudah jangan berlebihan," katanya sebab mungkin melihatku mulai menangis. "Sekarang, mana uang yang aku minta?" Ayah menarik paksa tas dari pundakku. Ia lalu mengambil dompet yang terjatuh saat ia bongkar isinya. "Apa ini, Bia?" katanya saat mengambil uang dua puluh ribu dari dalam dompet. Itu adalah sisa uang yang aku miliki, yang rencananya untuk sarapan ibu besok, dan ayah ambil dengan wajah marah. "Aku enggak punya uang, Yah," jawabku kesal. Tapi, ayah tak terima. Ia malah menarik rambutku hingga leherku menenggak. "Jangan membohongiku! Aku tahu kamu baru saja pergi ke tempat hiburan malam. Mana hasilnya?" Aku terperanjat kaget. 'Dari mana ayah tahu aku pergi ke sana.' "Kenapa? Kamu enggak nyangka kalau aku tahu kamu pergi ke tempat kaum pencari nafsu itu?" Dia terkekeh saat membaca bola mataku. Aku diam dengan air mata yang mulai keluar. Leherku sakit sebab ayah semakin menarik rambutku kencang. "Aku melihatmu naik taksi dengan pakaian seperti ini. Malam-malam. Kemana lagi kalau bukan ke tempat seperti itu?" Entah harus senang atau miris mendengarnya. Bahkan, lelaki yang beberapa waktu belakangan ini berubah, sangat tahu bagaimana penampilan sehari-hari anak semata wayangnya yang sebenarnya. "Enggak ada lelaki yang mau dengan perempuan kampung seperti aku, Yah." "Bohong! Enggak mungkin kamu enggak laku. Bahkan, si Dendy saja mau menerima kamu di tempat karaokenya dengan bayaran tinggi." Dendy adalah teman sekaligus atasan ayah di tempatnya bekerja sebagai petugas keamanan. Sebulan yang lalu aku dikenalkan. Dan setelah itu —hampir setiap hari ayah memintaku untuk mau bekerja di tempat itu. "Dari pada kuliah, untuk apa? Aku juga enggak bisa membiayai kuliahmu," katanya —hampir setiap malam. "Setidaknya Ayah bisa diam kalau memang tidak mampu, dan bukan malah menjerumuskan anak sendiri ke tempat kotor itu." Aku tak lagi mampu menahan amarah. "Aku mau kuliah supaya bisa kerja di tempat yang layak. Mendapatkan gaji lumayan supaya bisa mengangkat ekonomi keluarga." Jawaban yang aku berikan sepertinya tidak pernah masuk ke telinga ayah. Sebab permintaan supaya aku mau menjadi seorang pemandu lagu, terus ia gaungkan. Ayah melepaskan rambutku dengan hentakan yang amat keras hingga membuatku terjerembab ke lantai. "Aku enggak mau tahu, kamu cari dan dapatkan uang yang aku minta. Kalau tidak, jangan harap saat pulang kuliah besok, kamu melihat perempuan tak berguna itu ada di atas ranjangnya." Ayah terlihat sekali marah ketika meninggalkan rumah. Subuh sudah mau menjelang, entah kemana ia akan pergi. Aku pun mencoba tak peduli dan memilih merapikan barang-barang milikku, dan kembali memasukkannya ke dalam tas. Setelahnya aku beranjak bangun. Ku biarkan cangkir berisi kopi itu di atas meja —sebab pasti si empunya akan mencari saat kembali. Rumah terasa sunyi saat aku masuk. Setiap langkah, menjadi latar suara yang tak mampu menutupi kehampaan hatiku. Ku buka pintu kamar ibu. Perempuan itu masih tertidur dengan wajah yang terlihat begitu menyedihkan. Perlahan ku tutup pintu kembali. Tak kuasa aku mendekat, khawatir akan membuatnya terbangun dengan isak tangis yang selalu saja sulit aku tahan. Kamar berukuran tiga kali tiga adalah tempat favoritku. Di tengah masalah keluarga yang saat ini menimpa hidupku, aku telah berubah menjadi seorang pendiam yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar setelah berjibaku dengan kegiatanku di luar. Pagi kuliah, siang bekerja part time di perpustakaan kampus sampai sore. Lalu, lanjut bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran hingga malam. Dengan kondisi ibu yang sudah satu tahun terakhir mengalami struk, sebetulnya aku tak tega membiarkannya sendirian di rumah. Tapi, kalau aku tidak bekerja, bagaimana kami makan? Bagaimana mengobati penyakit ibu dan kontrol setiap bulan setelah ayah terkena PHK satu tahun yang lalu? Meski sekarang ayah sudah kembali bekerja, tapi lelaki itu tak pernah lagi membiayai hidup kami. Tak perlu aku, tapi ibu, wanita yang pernah ada di hatinya, bahkan tak lagi ia pedulikan. Ah, mau mengeluh, tapi rasanya tak pantas. Sedangkan di luaran sana masih banyak orang-orang yang nasibnya lebih buruk dariku. Aku membaringkan tubuh di atas kasur. Tidak empuk seperti kasur hotel yang aku rebahi beberapa waktu lalu. Tapi, di atas kasur ini aku merasa jauh lebih nyaman dan tenang. Selembar cek yang aku simpan di dalam bra, aku keluarkan. Ya, aku sengaja menyimpannya di dalam sana karena ayah tidak akan memeriksa sampai sejauh itu. Dua ratus juta. Kembali aku ingat momen kebersamaan kami di kamar hotel mewah beberapa saat lalu. Selama dua puluh dua tahun aku menjaga kehormatan ini. Dan harus aku lepaskan. Tapi, bukan untuk suamiku. Bukan juga untuk lelaki yang aku cintai. Rasa nyeri di tubuh tentu masih terasa karena ini pertama kalinya buatku. Tapi, semua itu terkalahkan sebab rasa sayangku pada ibu. Aku tak mau melihat ibu sedih di kondisi kesehatannya yang buruk. Tak apa jika aku harus memberikan uang itu ke ayah daripada aku melihat lelaki itu menyakiti ibu setiap hari. 'Semoga tak ada hutang-hutang yang lain,' batinku, tak lama tertidur. Aku lelah. ***"Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.
"Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia
Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M
Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me
Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"
Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han
Aku membeku.“Karena … aku?” ulangku pelan. Nadaku berusaha terdengar biasa, tapi jelas ada sesuatu yang berubah.Angga mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.“Iya. Dia nanya banyak soal kamu.”Jantungku berdetak lebih cepat.“Apa saja yang dia tanya?” tanyaku, kali ini lebih hati-hati.Ang
"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir
Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pi
Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak







