LOGINAku sudah janjian dengan ayah untuk menemuiku di perpustakaan kampus lusa kemudian.
Ancaman Ayah beberapa waktu lalu, berhasil aku rayu dengan keyakinan bisa memberikan uang yang diminta. Cek yang sudah aku cairkan sebagian sudah tersimpan di dalam tas kresek yang aku masukan ke dalam goodie bag. Aku sengaja meminta ayah datang, dibanding harus bertemu di luar, yang persentasi bahayanya lebih besar. Satu jam setelah kelas selesai, ayah datang dengan penampilannya yang rapi. Aku harus mengakui akan sikapnya yang bisa menyesuaikan tempat. Tidak basa basi, langsung saja menanyakan maksudnya. "Mana uangnya?" katanya sedikit berbisik setelah duduk berhadapan denganku. Ia tahu di mana posisi kami sekarang. Aku mengangkat goodie bag dan meletakkannya di atas meja. Tak ada suara, langsung saja menyerahkan tas itu. "Apakah sesuai jumlahnya dengan yang aku minta?" katanya lagi, kali ini dengan wajah sumringah. "Aku enggak mau kesehatan ibu memburuk karena perilaku Ayah. Jadi, aku minta jangan buat lagi masalah," kataku, tidak secara langsung menjawab pertanyaannya. Senyum itu —jujur saja, membuatku muak. Setelahnya, ayah pun pergi. Tanpa ucapan terima kasih apalagi basa basi selayaknya seorang ayah bicara kepada anaknya. Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Seolah beban yang sejak kemarin ada di pundakku, terangkat menjauh. ** Waktu terus berlalu, hingga jam menunjuk ke angka lima sore seorang gadis cantik muncul sembari tersenyum menatapku. "Syukurlah! Aku kira kamu sudah pergi ke restoran, Bi." Gadis itu berkata sembari duduk di tempat yang siang tadi ayah duduki. "Aku baru selesai menyortir beberapa buku yang sudah tidak layak," jawabku membalas senyumnya. "Ada apa, Vi?" "Aku mau undang kamu buat datang ke pesta ulang tahunku akhir minggu nanti." Sejenak aku menghentikan gerakan tanganku di atas kertas. "Hampir saja aku lupa. Aku belum sempat membelikan kado untukmu. Syukurlah kamu memberi tahuku hari ini." Dia tersenyum. "Masih banyak waktu. Lagipula, tidak perlu kamu repot-repot memberiku kado. Dengan datang saja itu sudah lebih dari cukup." Aku cemberut, pura-pura kesal. "Apa karena aku tidak seperti temanmu yang lain, yang bisa memberimu kado mahal. Lantas, membuatmu enggan menerima kado dariku?" Seketika wajahnya pucat. Saat itu juga ia meminta maaf. "B-bukan begitu, Bi. A-aku sama sekali tidak bermaksud ke arah itu. Maaf kalau kata-kataku sudah menyinggungmu." Sedetik. Dua detik berlalu. Aku tertawa kemudian saat melihat wajahnya yang masih pucat dan memelas. Namun, sejenak kemudian aku menutup mulut, menghentikan tawa setelah menyadari posisiku. "Aku akan datang. Kirim saja undangannya supaya aku bisa mempersiapkan diri," kataku akhirnya, membuat dia lega. Silvi Paramita, dua puluh dua tahun —sama sepertiku. Anak semata wayang. Bedanya, ia lahir dari keluarga kaya raya. Sedangkan aku? Ah, sudahlah. Tak perlu dijelaskan. "Oke!" sahutnya begitu gembira. "Sungguh aku senang kamu akan datang. Karena katanya ada surprise yang kedua orang tuaku sudah siapkan. Dan aku mau kamu jadi salah satu saksinya," ucapnya tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu. Papa bilang mau menjemputku. Dan katanya ia sudah hampir sampai." "Oke! Hati-hati di jalan." Ia kemudian beranjak bangun, tersenyum padaku dengan wajah ceria. Melihat wajahnya yang ceria itu membuatku berpikir bahwa orang-orang seperti Silvi, mungkin tidak pernah mengalami hidup susah. Tidak pernah memikirkan esok makan apa. Tidak pusing ketika mendengar bunyi token listrik yang habis. Lalu, tidak perlu memikirkan bagaimana biaya kuliah. Tugas-tugas yang menumpuk, yang pastinya tidak hanya membutuhkan tenaga, tapi juga uang untuk memfasilitasi semuanya. 'Tidak perlu iri, Bi. Tuhan sudah mentakdirkan hidup masing-masing hamba-Nya. Tuhan juga sudah menakar rezeki kita masing-masing di dunia.' Aku berkata dalam hati, mencoba menghibur diri. Sepuluh menit kemudian aku sudah beranjak, meninggalkan perpustakaan kampus menuju restoran tempat aku mencari penghasilan selanjutnya. Sebuah pesan dari Bu Yana, masuk ke ponselku. "Ibu sudah mandi dan mau makan sebelum minum obat. Bapak masih di rumah, tapi terlihat bersiap berangkat." Bu Yana melaporkan pekerjaannya. Ya, aku memang sengaja meminta seorang tetangga untuk membantu dan menjaga ibu selama aku tidak ada di rumah. Hanya dari siang sampai menjelang malam sebelum ayah pergi bekerja. Tapi, kali ini kenapa ayah sudah akan pergi? "Pergi kemana, Bu?" kataku bertanya. Pesan dari janda satu anak itu, masuk cepat ke aplikasi pesanku. "Bapak enggak bilang, Mbak. Saya juga enggak berani tanya." "Oh, ya sudah enggak apa-apa. Nanti kabari saja kalau Bu Yana sudah mau pulang." "Baik." Aku bergegas ke restoran. "Sepertinya aku akan pulang lebih awal nanti malam," kataku sembari menunggu ojek online-ku datang. ***Aku diam. Tidak merespon ucapan Dendy, karena fokusku saat ini hanya untuk memastikan bahwa anak buah Tian tenang dan tidak bertindak provokatif. "Mana ayahku?"Ku lihat Dendy tersenyum sinis. Ia benar-benar mengejekku. Tak peduli dengan keberadaan beberapa pria yang datang bersamaku. "Sesuai kesepakatan, lunasi semua hutang dan kau bisa melihat ayahmu. Bahkan ... bisa membawanya pulang."Aku diam sejenak. Memikirkan sebenarnya berapa banyak hutang ayah kepada Dendy, juga orang-orang di luaran sana. "Berapa hutangnya?"Aku melihat tawa lelaki di depanku yang terlihat mengejek. "Apa kau yakin bisa melunasinya malam ini?""Katakan saja dulu."Wajah Dendy terlihat tidak senang. Sepertinya rencana yang ia punya tidak berjalan sesuai harapan. Entah apa itu. Perlahan lelaki itu bangun dari duduknya. Ia lalu berjalan mendekat ke arahku. Berjalan sembari membawa sebotol minuman beralkohol, yang aku yakin berharga murah. Dua orang pria di sebelahku terlihat bergerak siaga. Namun, mereka
Tian sudah akan menciumku. Namun saat melihatku menangis, aksinya pun urung dilakukan. "Kau menolak?"Aku diam, tak menjawab. Hanya terisak pelan yang kemudian membuatnya duduk. Ku lihat ia merapikan dasinya. Wajahnya terlihat kesal dan dingin. Ia mengembus dan melepaskan napas cepat. Perlahan aku duduk sembari merapikan bajuku yang setengah berantakan. Setelahnya kami sama-sama terdiam, tak ada yang bicara. "Kau mau membalas dendam?" tanyanya memecah keheningan yang terjadi beberapa saat. "Saya tidak memiliki hak untuk melakukan itu."Seketika Tian menoleh, menatapku dengan matanya yang tajam. "Lalu, apa kau bisa menjelaskan situasi tadi?""Situasi yang mana? Waktu salah satu temanku ingin mengantar pulang? Apakah itu satu perbuatan yang salah, yang membuat harga diri Anda terusik?" Aku bertanya, sedikit berlebihan memang. Tian diam. Ku lihat ia menggeram. "Kau milikku. Masih milikku selama kontrak kita belum selesai.""Bagaimana kalau hubungan kita diketahui oleh tunangan An
Baru selesai dengan pekerjaan di restoran, tiba-tiba ponselku berbunyi saat aku sedang berganti pakaian. Awalnya aku abaikan, tapi suara itu terus menjerit seperti memaksa ingin diperhatikan. Aku pun akhirnya merogoh kantong celana jeans bagian belakang untuk meraih benda yang berisik itu. Nama Bu Yana terpampang di layar. Membuat perasaanku mendadak tak enak. "Halo! Iya, Bu Yana. Ada apa?" Aku masih berusaha tenang meski perasaanku sudah tak karuan. Wajah menyedihkan ibu seolah berada di depan mataku sekarang. "Mba Bia, tolong bapak, Mba!" Suara Bu Yana terdengar panik. "Bapak? Kenapa sama ayah saya?" "Bapak dibawa sama orang-orang.""Siapa?""Saya engga tahu, Mba. Tapi, kata ibu, mereka orang-orang suruhannya Dendy."Aku terdiam sejenak. Ayah dan Dendy adalah teman sekaligus atasan dan bawahan. Dibawa oleh orang itu? Sepertinya bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. "Bu, Dendy kan memang atasannya ayah. Jadi, saya rasa mereka baik-baik saja.""Engga, Mba. Tadi sebelum diba
"Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.
"Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia
Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M
"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir
Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pi
Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak
"Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat."Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan ta







