LOGINWaktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me
Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"
Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han
Hani berkedip.Sekali. Dua kali.bLalu menatapku."Oh."Aku langsung mengangguk cepat."Nah. Benar. Itu."Untuk pertama kalinya sejak lima menit terakhir, aku merasa bisa bernapas lagi.Tian memang menyebalkan. Namun setidaknya kali ini dia tidak memperburuk keadaan."Jadi..." Hani menatap Tian lagi. "...Bia cuma waiters di restoran langganan Anda?""Ya.""Dan Anda tahu dia kerja di perpustakaan?""Dari Silvi.""Dan tahu dia kuliah di sini?""Tidak sengaja.""Dan tahu dia enggak balas pesan?"Aku langsung memejamkan mata. Ternyata aku terlalu cepat lega.Tian tampak berpikir sebentar. Lalu menjawab santai."Kalau yang itu sepertinya kamu salah dengar."Hani mengernyit, merasa jika pendengarnya masih baik-baik saja. Ia lalu enoleh ke arahku."Bia.""Apa?""Itu tidak membantu."Aku menghembuskan napas panjang, lalu..."Saya mau kerja.""Sekarang aku malah makin penasaran.""Tahan.""Enggak bisa." Hani tampak kesal. Aku benar-benar ingin menghilang ke rak ensiklopedia dan tidak pernah ke
Mahasiswa itu langsung membeku. Aku juga.Sedangkan Tian?Pria itu terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. Seolah baru saja mengucapkan sesuatu yang sepenuhnya normal.Padahal tidak. Sama sekali tidak."A-apa?" Mahasiswa itu berkedip bingung.Tian menatapnya datar."Kau bertanya apakah dia sudah punya pacar."Mahasiswa itu mengangguk gugup. "I-iya.""Jawabannya sudah." Tian menyahut cepat. Aku langsung memejamkan mata.'Ya Tuhan. Tolong! Siapa saja. Selamatkan aku.' Aku membatin penuh harap. "Mbak Bia..." Mahasiswa itu menoleh kepadaku dengan wajah panik.Aku langsung tersenyum kaku."Jangan dengarkan dia.""Hah?""Dia sedang kurang tidur." Aku menambahi. "Mbak...""Aku baik-baik saja," kataku mencoba menenangkan. "Justru itu masalahnya," gumamku, berharap siapa pun tak dengar.Mahasiswa itu kini menatap kami bergantian seperti sedang menyaksikan pertandingan tenis.Lalu dengan insting bertahan hidup yang sangat baik, ia buru-buru mengangguk."Oke! Saya cari bukunya dulu!"Dan tan
'Apa maksud kalimatnya?'Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku bahkan setelah aku masuk ke dalam rumah.Aku menutup pagar perlahan. Mengunci pintu. Melepas sepatu. Melakukan semua rutinitas yang biasa kulakukan setiap malam.Namun pikiranku sama sekali tidak berada di sana. Karena untuk kesekian kalinya, Tian berhasil meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban."Itu mungkin karena aku sudah kehabisan cara."Cara apa? Cara untuk mencariku? Cara untuk mendekatiku? Atau cara untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada sejak awal?Aku mengembuskan napas panjang. Lalu menggeleng keras.Cukup. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Tidak lagi. Tidak lagi mencoba menerjemahkan setiap kalimat Tian. Tidak lagi mencari makna tersembunyi dari setiap tatapannya. Tidak lagi berharap. Karena setiap kali aku melakukannya, yang terluka selalu aku.Begitu masuk ke ruang tamu, aku melihat ayah masih duduk di sofa.Televisi menyala pelan. Namun aku cukup yakin beliau t
Lift terbuka di lantai dasar dengan bunyi pelan. Aku melangkah keluar sambil masih menggenggam ponsel di tangan. Rumah sakit pagi menjelang siang selalu ramai. Keluarga pasien berlalu-lalang, suara roda brankar sesekali terdengar dari lorong lain, dan aroma makanan dari kantin mulai memenuhi udara.
Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke
Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelu
Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hang







