تسجيل الدخولKeesokan malamnya, Langga menjemput Febi lagi, jelas tentu karena Samuel ingin bertemu dengan Febi. Ia berdiri di depan rumah Febi, ia menatap ke sekeliling yang tampak sederhana. Langga menghela nafasnya kasar. "Pak Langga, saya sudah siap." Seru Febi dari depan pintu, ia sudah mengenakan outfit seadanya. Tadi, ia tidak mau ke rumah pria itu, namun Langga terus memaksa, katanya Samuel tidak mau makan. Febi yang masih di liputi rasa bersalah akhirnya mau. Pun Miko malam ini pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Febi membiarkan, karena ia ingin melihat adiknya seperti dulu lagi. "Ayo" Febi menganggukkan kepalanya, ia berjalan di belakang pria itu. Udara malam langsung menyambutnya, angin berhembus pelan, meniup daun-daun di sana. Tidak lama... Mobil Langga berhenti perlahan di halaman rumah besar milik keluarga. Malam sudah sangat larut. Udara terasa dingin setelah hujan turun sejak tadi, sementara lampu-lampu rumah masih menyala hangat dari dalam. Febi turun pelan da
Deg. Febi langsung menoleh cepat ke arah Langga. Matanya membesar penuh keterkejutan. “Bapak mau bilang semuanya ke Samuel?” suaranya hampir pecah. Langga masih menatap lurus ke depan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan lelah di wajahnya. “Saya nggak bilang sekarang.” Jawabnya pelan. “Tapi kalau suatu hari semuanya kebuka…” ia menarik napas berat, “saya nggak akan biarin kamu nanggung sendiri.” Kalimat itu justru membuat hati Febi semakin sesak. Karena selama ini, ia selalu merasa dirinya sendirian memikul rasa bersalah itu. Febi menggigit bibirnya kuat-kuat. “Samuel bakal hancur…” “Ya.” Jawaban Langga terdengar lirih. “Dan dia berhak marah.” Sunyi. Hujan di luar mulai mereda perlahan. Sementara di dalam mobil, udara terasa semakin berat. Febi menundukkan wajahnya. Tangannya gemetar di atas pangkuan. “Aku takut dia jijik sama aku…” Langga langsung menoleh. Tatapannya melemah saat melihat perempuan itu hampir runtuh lagi. “Jangan ngomong gitu.” “Tapi itu
Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang sedikit berembun karena dinginnya udara malam. Namun di dalam mobil itu, suasananya jauh lebih dingin. Febi duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilnya erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau ke mana-mana. Tentang kehidupannya yang sepertinya ingin mempermainkannya lagi. Dan tentang Langga yang sekarang duduk tepat di sampingnya memegang kemudi dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Tidak ada suara. Hanya denting pelan suara alunan lagu dari radio mobil yang diputar sangat kecil. Dan justru kesunyian itu terasa lebih menyesakkan. Febi menggigit bibirnya pelan. Ia sungguh tidak nyaman berada berdua seperti ini bersama Langga. Terlalu banyak hal yang pernah terjadi di antara mereka. Terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar selesai. “Samuel keliatan lebih tenang waktu ada kamu.” Suara Langga akhirnya memecah
Langga menundukkan pandangannya pelan. Jemarinya mengepal samar di sisi tubuhnya. Ucapan Samuel tadi terus terngiang di kepalanya seperti sesuatu yang perlahan menghancurkan napasnya sendiri."Makasih udah bawa Febi ke sini."Kalimat itu terlalu sederhana. Namun terasa begitu menyakitkan. Karena anaknya sama sekali tidak tahu bahwa orang yang paling ingin ia lindungi dari luka justru adalah orang yang selama ini menciptakan luka itu sendiri. “Papa?”Suara Samuel kembali terdengar pelan.Langga buru-buru mengangkat wajahnya lalu mengangguk kecil. “Iya.” Namun suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Febi yang sedari tadi diam langsung menunduk semakin dalam. Ruangan itu terasa menyesakkan baginya. Ia tidak kuat berada di antara ayah dan anak itu terlalu lama. Tidak kuat melihat Samuel menatap Langga dengan penuh percaya, sementara dirinya menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hubungan mereka kapan saja.Samuel menghela napas pelan sebelum kembali bersandar di ranjangnya
Pintu ruangan terbuka pelan. Febi yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Samuel langsung tersadar dan buru-buru menegakkan tubuhnya. Sementara Samuel masih menggenggam tangannya erat, seolah takut perempuan itu pergi saat ia lengah sedikit saja. Dan beberapa detik kemudian seorang perempuan paruh baya masuk dengan langkah tergesa. Sintia. Mamanya Samuel. Matanya langsung membesar begitu melihat keberadaan seorang wanita di sana. “Ya Tuhan… ini Febi?” Suara perempuan itu langsung dipenuhi haru. Sebelum Febi sempat berdiri sempurna, Sintia sudah lebih dulu menghampirinya lalu memeluk tubuh gadis itu erat. Pelukan hangat seorang ibu. Dan itu membuat dada Febi terasa nyeri seketika. Karena sejak ibunya pergi ia begitu merindukan pelukan seperti itu. “Kamu datang nak…” suara Sintia mulai bergetar. “Akhirnya kamu datang juga, Nak…” Febi langsung menahan napasnya. Tangannya perlahan membalas pelukan itu meski tubuhnya terasa kaku. “Iya, Tante…” Sintia langsung me
Ruangan itu kembali dipenuhi suara tangis Febi yang tertahan. Perempuan itu menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, seolah malu memperlihatkan betapa hancurnya dirinya sekarang. Sementara Samuel hanya bisa menatapnya dengan dada yang sesak. Ia tidak tahu rahasia apa yang sedang dipikul Febi sampai sedalam ini. Namun satu hal yang pasti, rahasia itu benar-benar sedang membunuh perempuan yang ia cintai perlahan.“Hey…” Samuel menggenggam pergelangan tangan Febi pelan lalu menurunkannya dari wajah gadis itu. “Jangan sembunyi dari aku.” Tatapan mereka bertemu. Dan detik itu juga, Febi kembali merasa ingin runtuh. Karena mata Samuel masih sama seperti dulu. Masih penuh cinta. Masih penuh rasa sayang yang tulus. Tanpa jijik. Tanpa kebencian. Padahal kalau lelaki itu tahu semuanya… mungkin tatapan itu akan hilang selamanya.“Aku nggak sebaik yang kamu pikirin…” suara Febi pecah.Samuel mengernyit pelan. “Siapa yang bilang aku nyari perempuan sempurna?”Febi langsung terdiam.Sam







