LOGINYang paling mendesak saat ini adalah menyelidiki orang yang telah memaksa Suma bunuh diri.Jika memang Dhana, Keluarga Wiguna harus hati-hati menyembunyikan diri.Sekalipun bukan Dhana, jangan menyinggungnya lagi untuk saat ini....Kota Siraya, Grand Hotel.Angelica baru saja selesai mandi. Tubuhnya terbungkus handuk.Dia duduk di sofa, tenggelam dalam pikiran.Tepat pada saat itu, terdengar ketukan di pintu."Nona, kami sudah menyelidiki Dhana. Mohon buka pintu sebentar, kami akan melapor."Angelica berdiri, merapikan handuknya, lalu mengenakan mantel panjang, baru kemudian melenggang dengan pinggang rampingnya untuk membuka pintu.Setelah dua pengawal masuk dan duduk, barulah mereka melapor."Nona, setelah menyelidiki sepanjang sore, kami mendapatkan banyak informasi berguna. Dhana ternyata lebih hebat dari yang kita bayangkan.""Kakek Yuna disihir dengan Mantra Pengunci Jiwa dan hampir meninggal, tapi Dhana menyembuhkannya.""Yuna menderita kanker stadium akhir, Dhana juga menyembu
"Dipaksa bunuh diri?" Marius nyaris gila memikirkannya.Seseorang sekelas grandmaster dipaksa bunuh diri. Siapa sebenarnya orang yang memaksanya?Sungguh sulit dibayangkan!"Sudah tahu siapa orang yang memaksanya?"Sekretarisnya menggeleng. "Belum."Marius menggosok pelipisnya, kembali mengingat isi percakapan di telepon dengan Suma, yang berulang kali mengingatkannya agar tidak mengusik Dhana."Dhana ... bukan seperti yang kamu katakan. Walaupun dia baru saja naik tingkat menjadi grandmaster bela diri, kekuatannya jauh melampaui tingkat itu. Kekuatan semengerikan itu belum pernah aku temui di mana pun. Aku merasa seperti semut kecil di hadapannya ...."Suma menangis histeris di akhir kalimatnya.Mungkinkah Dhana yang melakukannya?Kekuatan Dhana, ternyata benar-benar sekuat seperti itu?Suma tidak pernah menyinggung siapa pun. Siapa yang cukup kuat hingga bisa memaksanya bunuh diri?Lagi pula, bagaimana Dhana bisa menemukan Suma?Pikiran Marius dipenuhi tanda tanya.Dhana, mungkin mem
Selanjutnya, Ratna berhasil.Diiringi tawa Ratna, Ayu juga berhasil.Ketiganya bersuka cita, melompat-lompat mengelilingi Dhana.Mereka tidak pernah membayangkan bisa belajar kultivasi bela diri."Kalian bertiga harus rajin berlatih. Ini baru permulaan. Keamanan Desa Mawar di masa depan ada di tangan kalian."Mereka tersenyum dan mengangguk serempak.Mawar berpikir, dia bisa mengangkat batu penggilingan seberat lebih dari 150 kilogram dengan mudah. Jadi, mengangkat Dhana pasti lebih mudah lagi, bukan?Mawar memandang Dhana, dan sebuah ide berani terlintas di benaknya.Jika bisa mengangkat Dhana, pasti sangat seru.Dengan kedua tangan memegang lutut Dhana, lalu mengangkatnya tinggi dalam posisi berhadap-hadapan.Sepertinya ... lumayan seru.Mawar tersenyum nakal.Waktu sudah cukup larut. Dhana dan adiknya mengantar Ratna pulang terlebih dahulu, baru kemudian keduanya pulang ke rumah.Dhana benar-benar lelah hari ini.Meski lelah, dia sangat bahagia.Terutama satu jam bersama Mawar yang
Ratna mengepalkan tinjunya, merasa sangat gembira.Ayu tampak bersemangat, dengan tangan di pinggang sambil menatap langit."Kekuatanku juga meningkat. Tubuhku rasanya sangat ringan. Kalau aku coba lompat, mungkin bisa setinggi satu meter!"Mawar tersenyum lebar, pipinya merah merona."Dhana, kukira kamu cuma bercanda. Nggak kusangka, kami bertiga jadi lebih kuat."Melihat ketiga wanita itu begitu gembira, Dhana mengangguk puas.Semua kerja kerasnya membuahkan hasil.Mereka akhirnya mengerti.Baru pada pukul 10 malam, Dhana mengajarkan beberapa bab awal dari Teknik Dewi Sembilan Langit, lalu memberi perintah agar mereka berlatih dengan sungguh-sungguh.Mereka semua sangat gembira dan patuh."Oh ya, jangan beritahu siapa pun soal ini. Termasuk ayah ibuku, jangan beri tahu dulu sementara ini. Kalian harus belajar dengan tekun, dan jangan bocorkan rahasia bela diri ini kecuali dalam keadaan terpaksa."Mereka semua mengangguk lagi.Untuk menguji hasilnya, mereka pergi ke halaman.Di halama
Dhana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tadi membuang waktu satu jam.Kalau tidak, mereka tidak akan terburu-buru seperti ini. Untungnya, selama satu jam tadi, tidak ada yang mengganggu.Secara keseluruhan, mereka merasa cukup puas."Dhana, kenapa buru-buru begitu? Belajar bela diri kan nggak bisa dilakukan dalam sekejap. Kenapa bisa lebih penting daripada urusan tadi?"Mawar cemberut dan mengeluh.Bagi Mawar, kebahagiaan jiwa dan raga adalah yang paling penting.Soal latihan bela diri, meski dia percaya Dhana bisa mengajarkannya, itu urusan yang jauh di masa depan.Kalau hari ini tidak bisa, coba besok.Kalau besok tidak bisa, tunggu lusa."Kamu pergi berhari-hari ke kota, nggak kirim pesan, nggak tanya kabar sama sekali. Keterlaluan."Mawar mengeluh lagi.Lalu kembali mengungkit masalah lain."Kamu tadi pagi kepanasan sampai mimisan. Aku sengaja membantumu mendinginkan tubuh dan menghilangkan racun, tapi kamu malah nggak menghargai niat baikku."Dhana tersenyum nakal. "Yang bada
Ayu berpikir sejenak. "Mungkin. kita kurang memberi umpan? Coba angkat jaringnya dulu, lalu tambahkan umpannya.""Mungkin." Ratna mengangguk ragu-ragu.Jaring pun di angkat. Di dalam jaring yang besar itu, hanya ada sekitar sepuluh ekor ikan kecil. Bahkan yang terbesar pun ukurannya hanya setebal dua jari.Melihat pemandangan itu, mereka tersenyum getir.Ratna melihat jam lagi. Dari saat melempar jaring hingga menariknya kembali, sudah berlalu lebih dari 20 menit, tapi hanya berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil. Sungguh sial.Dibandingkan dengan pagi tadi, dengan waktu yang sama sudah bisa menangkap ratusan kilogram.Betapa ironisnya, sungguh membuat kesal.Mereka tidak mau menyerah. Setelah persiapan dengan cermat, jaring dilempar kedua kalinya. Mereka menjulurkan leher menatap ke dalam air dengan penuh harap.Setelah memeriksa waktu, ternyata sudah berlalu setengah jam."Aduh, salah di mananya?" keluh Ratna sambil mengerutkan kening, menggosok matanya yang terasa pegal."Aku j
Setelah beberapa saat bekerja keras, halaman kecil itu akhirnya selesai dibersihkan.Tiba-tiba, ponsel Dhana berdering.Panggilan dari Mawar, dan dia mengangkat telepon."Dhana, cepat datang ke kebun sayur kami! Keajaiban! Semua sayuran yang kita semprot tadi malam berubah hidup!"Mawar terdengar sa
Satu jam kemudian, Dhana menerima hasil uji.Sambil melihat laporan di tangannya, senyum gembira terpancar di wajahnya."Luar biasa, benar-benar luar biasa! Astaga!"Laporan tersebut mencantumkan nilai gizi berbagai sayuran. Memastikan bahwa sawi itu tidak hanya berukuran besar tapi juga memiliki ni
Setelah meletakkan cangkir, dia mendongak menatap Mira."Bu Mira, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Sebenarnya, sayuran ini hasil kebun keluargaku sendiri. Aku sedang bersiap untuk produksi yang lebih besar."Mira tersentak berdiri dengan penuh semangat.Jika memang ditanam oleh Tabib Dhana sendiri,
"Beneran?" tanya Ayu, matanya membelalak."Iya!" Dhana mengangguk dengan tegas, mengangkat dagunya dengan sombong. "Aku dulu mahasiswa terbaik, setiap hari keluar-masuk laboratorium. Wajar saja aku bisa menciptakan serum untuk perkembangan sayuran, ya 'kan?"Ayu mengangguk penuh pertimbangan sambil







