Mag-log inTiba di ruangan direktur lantai dua belas, napas Amara langsung berembus amat kasar. Sepasang matanya menatap tajam ke arah tumpukan map laporan yang menggunung menutupi setengah meja kerjanya.
"Kepalaku rasanya mau pecah melihat semua dokumen setinggi gunung ini," keluh Amara memijat pelipisnya menahan rasa pusing.
Membantu meringankan beban kerja tersebut, Adrian melangkah tegap ke sudut ruangan untuk menyeduhkan secangkir teh kamomil panas. Selesai meletakkan cangkir teh, pri
Terpojok oleh gertakan dingin yang amat mengerikan tersebut, wanita pembantu ini langsung menyanggupi kesepakatan sepihak itu demi menyelamatkan nyawanya dari kurungan besi."Saya bersedia melakukan apa pun perintah dokter asalkan tidak diusir secara paksa dari kediaman mewah ini. Tolong berikan saya satu kesempatan kedua untuk menebus kesalahan fatal yang nyaris merenggut nyawa calon pewaris keluarga. Saya berjanji akan memancing Siska keluar dari sarangnya secepat mungkin tanpa memancing kecurigaan.""Bagus, pastikan kamu melaporkan setiap gerak-gerik sekretaris gila itu kepadaku tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Jangan berani berbuat curang karena aku bisa menghancurkan sisa hidupmu di balik jeruji besi," ancam Adrian melepaskan cengkeramannya.Mengusap air matanya dengan punggung tangan kotor, pelayan tersebut langsung berlari keluar menuju area dapur untuk kembali bekerja normal.Memastikan jebakan barunya telah terpasang sempurna di pihak lawan,
Merespons pujian dari calon ibu mertuanya, pria beralis tebal itu hanya menundukkan kepala secara sopan. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan keselamatan Nyonya Amara dan bayinya," sahut Adrian merendah.Wanita konglomerat itu menghela napas lega sembari mengusap pelan bahu putri tunggalnya."Ibu tidak perlu khawatir lagi karena Adrian selalu menjagaku layaknya seorang ratu. Bahkan dia tidak tidur semalaman cuma buat memantau detak jantung bayiku di klinik. Sekarang aku mau istirahat di kamar dulu karena pinggangku masih lumayan pegal."Lantaran kelelahan fisik masih mendera, Amara segera melangkah menuju anak tangga bersama sang dokter. Sesudah memastikan kekasihnya berbaring nyaman, Adrian bergegas menuruni anak tangga menuju lantai bawah.Pria penuh siasat ini bergerak sangat gesit melewati area koridor yang sedang sepi pelayan.Mengeluarkan dua buah benda elektronik mutakhir dari sakunya, dia mulai menyusun jebakan pengawasan. Adrian
Mendengar penuturan logis dari sang dokter, lutut nyonya besar itu mendadak terasa kehilangan seluruh tenaganya untuk sekadar berdiri.Bu Ratih merasa amat bersalah dan meminta Adrian untuk terus mendampingi Amara tanpa batasan waktu di rumah. Sambil menyeka wajahnya, dia menyerahkan kendali kesehatan putrinya secara utuh kepada laki-laki cerdas tersebut."Saya mohon tolong jaga Amara siang dan malam tanpa henti mulai hari ini sampai masa kritisnya berakhir. Kamu boleh tinggal di rumah kami selama apa pun yang dibutuhkan demi memastikan keselamatan nyawa cucuku. Semua biaya perawatan medis serta kompensasi ekstra akan saya transfer ke rekeningmu besok pagi tanpa banyak perhitungan."Menyembunyikan seringai kepuasannya, sang dokter hanya mengangguk pelan saat menerima mandat kekuasaan eksklusif tersebut.Malam harinya, Adrian menyuapkan bubur hangat kepada Amara dengan sangat telaten di atas ranjang periksa. Menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang sunyi,
Penderitaan fisik itu benar-benar melumpuhkan seluruh saraf kewarasannya untuk sekadar berteriak lantang memanggil asisten kebersihan.Kebetulan sekali, seorang asisten rumah tangga melintas terburu-buru membawa sekeranjang buah-buahan organik segar. Buah apel dan jeruk manis di tangannya langsung terjatuh berhamburan ke atas permukaan lantai.Pelayan rumah yang melihat kejadian itu menjerit histeris dan langsung menelepon nomor darurat Adrian.Menerima panggilan darurat dari pelayan rumah, Adrian memacu kendaraannya kembali ke kediaman keluarga konglomerat dengan kecepatan penuh.Membelah padatnya lalu lintas jalan raya, kecemasan tergambar amat jelas di wajah tampan sang dokter kandungan yang sedang diburu waktu. Alhasil, laju mobil utilitas sport tersebut menembus pekarangan rumah Bu Ratih dalam waktu sangat singkat.Berlari kencang menembus pintu utama rumah mewahnya, pria ini mendapati pemandangan mengerikan yang langsung memacu detak jantungnya. Tiba di rumah, Adrian segera meng
Detektif menjelaskan bahwa ibunda Amara menyewanya untuk menggali riwayat hidup sang dokter di masa lalu. Bahkan, data medis kelahiran putri tunggal dari kliennya itu juga menjadi target pencarian utama.Detektif itu ketakutan dan membongkar bahwa Bu Ratih sudah memegang salinan data masa lalu keluarga Adrian dan rahasia adopsi Amara."Nyonya besar itu sangat membenci Anda semenjak mengetahui asal-usul keluarga miskin Anda." Detektif itu menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menghindari tatapan mematikan di depannya."Lalu kebohongan apa lagi yang kamu berikan kepada wanita gila kekuasaan itu untuk mengancam istriku?" interogasi Adrian semakin tajam menusuk relung hati."Beliau juga mengetahui rahasia adopsi Nyonya Amara dari panti asuhan lewat laporan investigasi tersebut. Dokumen itu akan dipakai untuk mengancam posisi pewaris takhta di perusahaan keluarga. Saya sungguh menyesal telah menerima tawaran pekerjaan berbahaya dari wanita konglomerat licik itu."Rahang Adrian mengeras me
"Jangan banyak beristirahat kalau kamu masih mau mendapatkan jatah makan malam ini. Saya pasti akan memotong porsi nasimu kalau hasil pecahan batunya kurang dari target harian! Tempat ini bukan hotel penampungan bagi para gelandangan manja sepertimu!"Mendapat perlakuan kasar layaknya hewan pekerja, Doni hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa perih. Telapak tangan pria manipulatif ini dipenuhi oleh luka melepuh akibat gesekan gagang kayu yang kasar."Tolong berikan saya waktu lima menit saja untuk sekadar meminum setetes air putih," rintih Doni memelas dengan bibir pecah-pecah."Pukulan rotan Bapak kemarin malam benar-benar membuat tulang rusuk saya nyaris patah berantakan. Saya berjanji akan mengumpulkan dua keranjang batu tambahan sesudah beristirahat sejenak di bawah pohon. Tolong kasihani saya yang sudah tidak kuat berdiri tegak ini."Alih-alih mendapatkan belas kasihan, sebuah tendangan keras justru mendarat telak di tulang keringnya. Penjaga tambang itu meludah ke tanah sebe







