แชร์

8. Mantan

ผู้เขียน: Nona Muda
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 16:21:00

Hiro melangkah keluar dari lobi utama rumah sakit, mengabaikan tatapan memuja dari para perawat yang berpapasan dengannya. Begitu masuk ke dalam kabin Lamborghini Aventador hitamnya, dia langsung melesat membelah jalanan Manhattan yang padat.

 

Tujuannya siang ini bukanlah rumah utama keluarga besar Rossi di kawasan elite Long Island, melainkan sebuah kompleks apartemen biasa dengan arsitektur lawas yang terletak beberapa blok dari The Gilded Cage. 

 

Gedung itu sengaja dipilih Hiro untuk menyembunyikan identitas aslinya. Bagi dunia luar, apartemen berkoridor sempit itu adalah tempat tinggal seorang berondong sewaan mahal bernama Hiro. 

 

Di unit itulah dia biasa menerima para wanita kaya yang bersedia membayar tarif fantastis demi menikmati malam bersamanya.

 

Hiro memarkir mobil supernya di area bawah tanah yang temaram. Dia berjalan menuju lift dengan langkah santai, melepas kancing teratas kemejanya untuk mengusir rasa penat setelah menghadapi Dr. Evelyn Crawford. Seringai kemenangan masih membekas tipis di wajah tampannya saat lift berdenting, mengantarkannya ke lantai empat.

 

Dia menyusuri koridor berlantai kayu yang sedikit berdecit. Namun, tepat ketika langkah kaki pantofel mewahnya berhenti di depan pintu unit nomor 412, gerakan tangan Hiro yang hendak menempelkan kartu akses mendadak terkunci di udara.

 

"Hiro..."

 

Sebuah suara lembut, parau, dan sangat familier memanggil namanya dari sudut koridor yang remang-remang.

 

Jantung Hiro berdesir tajam—sebuah reaksi fisik langka yang hampir tidak pernah terjadi lagi dalam satu tahun terakhir semenjak dia mendedikasikan hidupnya di bawah aturan kejam bisnis mafia. Dia menoleh perlahan, sepasang mata elangnya yang biasa menatap dingin kini melebar karena rasa terkejut yang nyata.

 

Berdiri di sana, seorang gadis berambut kecokelatan panjang dengan sweter rajut yang tampak kebesaran di tubuhnya yang ramping. Wajahnya yang polos tanpa riasan tebal tampak pucat, dengan sepasang mata bulat yang kini berkaca-kaca menatapnya.

 

Carla.

 

Dia adalah satu-satunya wanita dari masa lalu yang benar-benar pernah dicintai oleh seorang Hiro Rossi. 

 

Satu tahun yang lalu, sebelum Hiro terpaksa menerima takdirnya sebagai calon tunggal penerus dinasti mafia, Carla adalah dunianya. Mereka menjalani hubungan yang normal, hangat, dan jauh dari hingar-bingar dunia malam yang kotor.

 

Namun, demi melindungi nyawa Carla dari musuh-musuh keluarga Rossi, Hiro terpaksa memutus hubungan mereka secara sepihak dan kejam, meninggalkan gadis itu tanpa penjelasan apa pun hingga Carla mengira Hiro telah berubah menjadi pria berengsek yang memilih menjadi pemuas wanita di kelab malam.

 

"Carla?" bisik Hiro, suara baritonnya yang biasa mendominasi kini terdengar sedikit serak. Dia menurunkan tangannya dari pintu apartemen. "Sedang apa kamu di sini?"

 

Carla melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya runtuh melewati pipinya. 

 

Tatapannya tertuju pada pakaian mahal Tom Ford yang dikenakan Hiro, lalu turun pada kunci Lamborghini yang masih tergenggam di jemari kokoh pemuda itu.

 

"Aku... aku hanya ingin memastikan rumor itu salah, Hiro," kata Carla dengan suara bergetar menahan tangis yang menyesakkan dadanya. Dia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata pria yang paling dirindukannya. 

 

"Seseorang memberitahuku bahwa kamu tinggal di sini sekarang. Mereka bilang kamu menjadi... menjadi pemuas wanita di The Gilded Cage. Katakan padaku semua itu bohong, Hiro! Kamu bukan pria seperti itu!"

 

Hiro terdiam membeku. Rahangnya mengencang keras. Ego predatornya mendadak runtuh, digantikan oleh rasa bersalah yang amat dalam. 

 

Dia ingin sekali merengkuh tubuh rapuh Carla ke dalam pelukannya, mengatakan yang sebenarnya bahwa semua ini hanyalah penyamaran untuk mengamankan takhta bisnis keluarganya.

 

Namun, kilasan ingatan tentang kejamnya dunia mafia mengingatkannya kembali, semakin dekat Carla dengannya, semakin besar bahaya yang mengancam nyawa gadis itu.

 

Hiro memejamkan mata sesaat, membuang seluruh kelembutan di hatinya, lalu membukanya kembali dengan tatapan mata yang berubah menjadi sangat dingin dan asing—topeng yang biasa dia gunakan untuk mengusir orang-orang.

 

"Rumor itu benar, Carla," sahut Hiro datar tanpa ekspresi, sengaja menyuntikkan nada kejam ke dalam suaranya. Dia kembali menatap pintu apartemennya. 

 

"Dunia sudah berubah, dan aku menyukai pekerjaanku yang sekarang. Uang di kelab malam jauh lebih menjanjikan daripada hidup di masa lalu bersamamu."

 

Carla terengah, mundur satu langkah seolah baru saja dihantam gada tak kasat mata. "Kamu bohong..."

 

"Pulanglah," potong Hiro dingin tanpa menoleh lagi. Dia menempelkan kartu aksesnya hingga pintu apartemennya berbunyi klik dan terbuka. 

 

"Tempat ini bukan untuk gadis baik-baik sepertimu. Dan jangan pernah datang ke sini lagi."

 

Carla tidak mundur. Kalimat kejam Hiro justru memicu keputusasaan yang membakar habis akal sehatnya. Dengan isakan yang lolos dari bibirnya, Carla berlari maju, menerjang tubuh tegap Hiro sebelum pemuda itu sempat melangkah masuk melewati ambang pintu apartemen.

 

Kedua lengan ramping Carla melingkar erat di pinggang Hiro. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu, mencengkeram kemeja sutra hitam Tom Ford milik Hiro hingga kusut. 

 

Tubuh mungilnya bergetar hebat, menghantarkan rasa hangat sekaligus duka yang langsung menembus pertahanan dingin sang pewaris mafia.

 

"Kamu bohong, Hiro! Aku tahu kamu bohong!" tangis Carla pecah, suaranya teredam di dada Hiro. 

 

"Tatapan matamu tidak bisa menipuku. Tolong, jangan usir aku lagi."

 

Sentuhan fisik yang begitu tiba-tiba dan intim itu membuat seluruh tubuh Hiro menegang kaku.

 

 Aroma sampo lavender milik Carla yang sangat dia hafal langsung menyeruak, menggusur keharuman parfum mawar mahal Evelyn maupun aroma alkohol kelab malam yang sempat melekat di benaknya. 

 

Ini adalah kehangatan nyata yang paling dia rindukan selama satu tahun ini, kehangatan yang murni, bukan hasil transaksi lembaran dolar.

 

Naluri lelaki Hiro berontak. Topeng kejam yang dipasangnya retak dalam hitungan detik. 

 

Tanpa sadar, satu tangan panjangnya terangkat, mencengkeram tengkuk Carla dan membenamkan kepala gadis itu lebih dalam ke dadanya, sementara tangan satunya lagi melingkar protektif di punggung ramping Carla, mendekapnya begitu erat seolah enggan melepaskannya lagi ke dunia luar.

 

"Carla...," bisik Hiro. Suara baritonnya pecah, tidak ada lagi nada intimidasi, yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang pria yang tersiksa oleh takdirnya sendiri.

 

Carla mendongak dari dada Hiro. Sepasang matanya yang basah oleh air mata menatap langsung ke dalam manik mata elang Hiro yang kini meredup penuh kabut emosi. 

 

Napas mereka yang memburu saling berkejaran di ambang pintu yang terbuka setengah. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga tak ada ruang tersisa.

 

Terbawa oleh kerinduan yang menggebu, Carla berjinjit. Jemari tangannya yang mungil merayap naik ke rahang tegas Hiro, menangkup pipi kiri pemuda itu—tepat di bekas tamparan Evelyn yang kini mendadak tak ada artinya lagi. 

 

Sebelum Hiro sempat memproses apa yang terjadi, Carla menyatukan bibir mereka.

 

Cup.

 

Sebuah ciuman yang sarat akan rasa sakit, kerinduan, dan keputusasaan yang mendalam. Bibir Carla yang lembut dan sedikit gemetar menekan bibir Hiro dengan penuh tuntutan, seolah mencoba menyedot kembali pria yang dulu pernah menjadi miliknya seutuhnya.

 

Sentakan keintiman itu membakar habis sisa kendali diri Hiro. Erangan rendah lolos dari tenggorokannya saat dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang mendominasi, meremas pinggang Carla hingga tubuh gadis itu terangkat dan terdesak masuk ke dalam kegelapan ruang tamu apartemennya.

 

 Pintu unit 412 tertutup otomatis di belakang mereka dengan bunyi klik yang sunyi.

 

Hiro memojokkan tubuh Carla ke dinding di samping pintu. Ciuman mereka semakin dalam, panas, dan menuntut, melepaskan seluruh rasa frustrasi atas perpisahan paksa mereka selama setahun ini. 

 

Jemari kokoh Hiro merayap masuk ke balik sweter rajut kebesaran milik Carla, menyentuh kulit pinggangnya yang halus, menghantarkan sengatan gairah yang membuat Carla melenguh pelan di sela ciuman mereka.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   22. Hidangan Gadis Perawan

    Evelyn merapikan lengan gaun malamnya yang sedikit kusut akibat cengkeraman Hiro, memastikan penampilannya kembali sempurna tanpa cela. Dia menatap Hiro untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan yang penuh dengan penolakan mutlak dan ketidaktertarikan yang dingin. "Simpan mainanmu untuk wanita-wanita di luar sana yang membutuhkannya, Bocah. Aku tidak punya waktu untuk drama remaja," ucap Evelyn dingin. Tanpa menunggu balasan lagi, Evelyn berbalik dan berjalan membelah kegelapan VIP lounge dengan langkah kaki yang tegas. Gaun hitamnya melambai elegan seiring dengan gerakannya yang menjauh dari panggung. Dinding esnya tetap berdiri kokoh, tidak tersentuh, dan sama sekali tidak goyah oleh pesona erotis sang pangeran mafia. Hiro tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung tegak Dr. Evelyn Crawford yang perlahan menghilang di balik pintu keluar berlapis beludru. Seringai serigala di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi fokus yang teramat tajam. Adrenalin

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   21. Bagaimana Cara Menaklukkannya?

    Evelyn tidak mengedipkan mata, bahkan ketika embusan napas Hiro yang hangat dan beraroma mint menyapu permukaan kulit lehernya yang sensitif. Alih-alih gemetar atau memalingkan wajah seperti kebanyakan wanita yang kehilangan akal sehat di bawah pesona lelaki penghibur satu ini, Evelyn justru menegakkan punggungnya. Otot-otot tubuhnya yang terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan meja operasi selama berjam-jam bekerja dengan sinkronisasi yang sempurna.Dengan gerakan yang teramat tenang dan penuh perhitungan, Evelyn mengangkat gelas wiski murni di tangan kanannya. Dia tidak meminumnya. Sebaliknya, dia menempelkan dinding gelas kaca yang sedingin es itu tepat di tengah dada bidang Hiro yang polos—tepat di atas otot pektoralis mayor yang sedang naik turun karena napas pemuda itu."Suhu tubuhmu terlalu tinggi untuk seseorang yang mengklaim sedang memegang kendali, Bocah," ujar Evelyn. Suaranya terdengar sangat jernih, flat, dan benar-benar kontras dengan dentuman bass deep house ya

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   20. Male Stripteaser

    Hiro terdiam selama beberapa detik. Seringai serigala perlahan terukir di sudut bibirnya yang tegas. Ide Madam Chloe benar-benar gila, manipulatif, dan sangat berisiko. Namun, justru karena itulah adrenalin di dalam tubuh sang pewaris mafia langsung berdesir hebat. Ini adalah jenis permainan liar yang paling disukai oleh naluri predatornya."Kau memang iblis, Chloe," gumam Hiro, suara baritonnya merayap rendah, dipenuhi intonasi kepuasan yang dingin."Aku menganggap itu sebagai pujian tertinggi, Pangeran," kekeh Chloe. Dia mengembuskan asap rokok elektriknya yang wangi ke udara, lalu menyerahkan sebuah amplop hitam tebal dengan cetakan foil emas berlogo khusus The Gilded Cage ke atas meja rias. "Tiketnya sudah siap. Gunakan kurir pribadimu agar tidak terendus oleh suaminya yang licik itu."Hiro menyambar amplop itu, merogoh ponsel pintar enkripsi miliknya, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Evelyn.[ Aku punya resep obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hatimu malam ini, Do

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   19. Addicted To You, Dok!

    Para perawat di belakang mereka langsung menahan napas, mulai saling berbisik curiga mendengar kata 'semalam' dan 'melindungi' yang keluar dari mulut pemuda tampan tersebut.Evelyn mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jas putihnya. Gengsinya dipertaruhkan di depan seluruh stafnya sendiri. Dia menatap tajam pergelangan tangan Hiro yang sama sekali tidak menunjukkan tanda memar atau bengkak—bocah itu jelas-jelas hanya sedang mencari alasan untuk mengganggunya.Mengabaikan seluruh drama manja yang disajikan Hiro, Evelyn membenarkan letak kacamata berbingkai peraknya. Seringai kejam seorang kepala bedah terukir tipis di bibirnya."Kalau memang tanganmu sakit dan tidak bisa disembuhkan," Evelyn memajukan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Hiro dengan pandangan sedingin es kutub, "bagaimana kalau kita bawa saja kamu ke ruang operasi sekarang? Tangannya dipotong saja sampai ke siku agar tidak perlu mengeluh lagi. Kebetulan, gergaji tulangku sedang menganggur

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   18. Pulang Atau Ditampar?

    Sikap mundurnya tadi terbukti berhasil memancing reaksi Evelyn. Dinding pertahanan sang dokter bedah kardiotoraks tidak lagi sekaku sebelumnya, melainkan mulai terkikis oleh ego yang terluka dan pengaruh alkohol yang membakar otaknya. Evelyn meneguk wiski di tangannya hingga tandas dalam sekali hentakan, persis seperti yang dilakukan Hiro sebelumnya. Sensasi panas cairan pekat itu membakar tenggorokannya, memicu batuk kecil yang samar sebelum dia meletakkan gelas kosong tersebut dengan dentingan keras ke atas meja marmer. "Menguras dompetku?" Evelyn mendengus hambar, melangkah maju satu tindak hingga ujung sepatu hak tingginya nyaris bersentuhan dengan sepatu pantofel mewah Hiro. Dia mendongak, menantang langsung dominasi fisik pemuda setinggi 189 cm di hadapannya. "Tarifmu tidak akan ada apa-apanya dibanding seluruh biaya operasional ruang bedahku, Bocah. Kamu pikir berapa banyak uang yang bisa dihasilkan oleh pelacur pria dalam semalam?" Hiro menundukkan kepalanya sedikit, me

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   17. Wanita Berhati Es

    Hiro mengulas seringai serigala yang tipis di sudut bibirnya. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jemari kokohnya memindahkan tuas transmisi, menginjak pedal gas, dan membiarkan Lamborghini Aventador hitam itu bergerak mundur perlahan keluar dari gang buntu, sebelum akhirnya melesat membelah jalanan Manhattan yang mulai sunyi.Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan menekan. Evelyn beberapa kali melirik ke arah luar jendela, sementara otaknya sibuk mencerna runtuhnya seluruh dinding pertahanan diri yang selama ini dia banggakan. Dia adalah seorang kepala tim bedah kardiotoraks yang terhormat, namun malam ini dia membiarkan dirinya dilarikan oleh seorang brondong sewaan kelab malam yang baru saja berlumuran darah.Tepat pukul 20.00, Lamborghini milik Hiro berhenti dengan mulus di area parkir bawah tanah sebuah menara penthouse ultra-mewah di kawasan Upper East Side. Tempat ini memiliki akses lift pribadi yang langsung menuju unit milik Evelyn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status