Home / Male Adult / Cintai Aku, Dok? / 9. Jatah Mantan (1)

Share

9. Jatah Mantan (1)

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-20 16:21:22

Sentakan gairah yang membakar kulit Carla melumat habis sisa kewarasan Hiro. Kerinduan yang mengendap selama setahun di dasar hatinya meledak, menolak untuk diredam lebih lama lagi.

Rasa bersalah, ketakutan akan ancaman keluarga besar Rossi, dan bahaya yang mengintai Carla menguap, kalah telak oleh luapan insting purba yang menuntut penyatuan.

Tanpa memutus ciuman panas mereka—di mana lidah mereka bertarung dalam tarian basah yang penuh kehausan—tangan kokoh Hiro mencengkeram paha Carla dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status