LOGINEvelyn mengencangkan cengkeraman tangannya pada tas jinjingnya, mencoba mengusir getaran aneh yang mendadak menyerang dadanya akibat atmosfer intim ruangan ini. Dia melangkah kaku hingga berhenti tepat dua langkah di depan Hiro, menatap pemuda itu dengan pandangan sedingin es."Aku datang ke sini bukan untuk menjengukmu, bocah sialan!" desis Evelyn, suaranya merayap rendah penuh dengan ancaman."Aku datang untuk menegaskan bahwa kelancanganmu sudah berakhir hari ini. Berhenti meneror telepon pribadiku, stop mengirimkan benda-benda konyol ke ruang kerjaku, dan lenyapkan imajinasi gilamu tentang kencan satu malam itu! Jika kau berani mengusik ketenangan hidupku sekali lagi, aku sendiri yang akan memastikan izin tinggal medismu di rumah sakit ini dicabut malam ini juga!"Hiro tidak langsung mendebat atau memasang wajah memelas seperti tadi pagi. Dia justru mengulas seringai serigala yang paling menawan di bibirnya yang pecah.Dengan gerakan lambat dan mantap, Hiro menegakkan tubuh jangku
"Bocah sialan itu benar-benar tidak tahu malu," desis Evelyn sekali lagi saat melangkah membelah koridor lantai tiga yang sepi. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu stiletto mengetuk lantai marmer rumah sakit dengan irama cepat, menggaungkan seluruh sisa emosi yang bergolak di dadanya.Di sepanjang koridor menuju ruang kerja pribadinya, beberapa dokter residen dan staf administrasi yang berpapasan dengannya refleks menepi. Mereka menundukkan kepala kaku, tidak berani menyapa ketika melihat rahang tegas sang Kepala Departemen Bedah Jantung mengeras sempurna dengan tatapan mata di balik kacamata perak yang sedingin es. Aura intimidasi Evelyn pagi ini benar-benar berada di titik paling membekukan.Evelyn mendorong pintu ruang kerjanya dengan satu sentakan kaku. Aroma wangi dari puluhan karangan bunga lili putih kiriman anak buah Hiro kembali menyergap indra penciumannya, seolah mengejek kekacauan mental yang baru saja dia lalui di ruang operasi. Kehadiran bunga-bunga segar itu sepert
Sementara itu, di lantai tiga gedung utama, suasana di dalam Ruang Operasi Utama nomor dua terasa sangat sunyi dan dingin. Hanya suara konstan dari monitor kardiak yang berbunyi membelah keheningan ruangan steril tersebut. Di tengah ruangan, sebuah tim medis sedang berdiri mengitari meja operasi, fokus pada prosedur bedah penggantian katup aorta seorang pasien paruh baya. Dr. Evelyn Crawford berdiri sebagai operator utama. Tubuhnya dibungkus rapat oleh gaun bedah hijau steril, lengkap dengan masker penutup wajah, penutup kepala, dan kacamata pembesar khusus yang terpasang di depan matanya. Tangannya yang menggunakan sarung tangan lateks memegang sebuah forceps dengan presisi yang biasanya tak tergoyahkan. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang salah dengan sang dewi bedah jantung. "Suture, ukuran 4-0," perintah Evelyn. Suaranya terdengar datar, namun ada intonasi tajam yang tidak biasa, membuat asisten bedah di sampingnya refleks bergerak lebih cepat dari biasanya. "Ini, Dokter,"
"Wanita dewasa jauh lebih menantang, tapi hanya berlaku untuk Evelyn," gumam Hiro pelan sembari tersenyum tipis.Dr. Julian Vance yang masih berdiri di sisi ranjang hanya menggelengkan kepala. Dokter senior itu menghela napas panjang, menganggap kalimat lancang pemuda di hadapannya hanyalah bentuk arogansi khas berandalan muda yang tidak tahu tempat. Namun, Julian terlalu lelah untuk memberi nasihat moral pagi ini; pikirannya sendiri masih porak-poranda oleh hancurnya rencana aliansi keluarga Vance akibat skandal Marcus Sterling."Fokuslah pada pemulihanmu, Tuan Rossi," ujar Julian kaku seraya merapikan berkas digitalnya. "Aku harus menghadiri urusan keluarga yang sangat mendesak. Jika ada keluhan, perawat jaga akan segera menanganimu."Tanpa menunggu balasan, Julian melangkah cepat keluar dari kamar VIP 502, meninggalkan Hiro dalam keheningan kamar yang mewah.Hiro memejamkan mata, membiarkan tubuh tegap setinggi 189 sentimeter itu rileks di atas kasur empuk. Efek obat analgesik dosi
"Kalau kau diam saja, artinya kau setuju, Evelyn," bisik Hiro lagi. Nada suaranya mendadak melunak, berubah menjadi desakan halus yang merayu, seolah-olah dia sedang menyuntikkan racun manis ke pusat pertahanan sang dokter bedah.Evelyn tersentak, tersadar dari lamunan pahit yang sempat mengunci kesadarannya. Sepasang mata di balik lensa kacamata peraknya berkilat tajam, memancarkan kombinasi rasa jengah dan keangkuhan yang menolak ditundukkan oleh remaja sembilan belas tahun."Jangan bermimpi, Tuan Rossi," desis Evelyn, suaranya kembali memadat, sedingin es kutub. Dia menegakkan punggungnya, menarik paksa seluruh kendali emosinya yang sempat diobrak-abrik oleh kata-kata Hiro."Diamku bukan berarti setuju. Diamku adalah bentuk rasa iba atas kelancanganmu yang sudah melampaui batas kewajaran seorang pasien," lanjut Evelyn dengan intonasi kaku khas Kepala Departemen Bedah."Kencan? Bersamamu? Menghabiskan waktu dengan seorang brondong yang mengais dolar dari belas kasihan wanita sosiali
Ckiit!"Uaaaghhh! Dok! Astaga, berhenti memuntir kulitku!" jerit Hiro spontan, seluruh aura predator gelap yang baru saja ia bangun semenit lalu runtuh seketika.Evelyn tidak memedulikan tatapan elang ataupun nada bariton intimidatif milik pemuda itu. Rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun membuat tangannya bergerak secepat kilat, menyambar lengan kiri Hiro yang bebas dari infus, mencubitnya dengan sekuat tenaga, lalu memutarnya seratus delapan puluh derajat tanpa belas kasihan.Evelyn Crawford sama sekali tidak takut. Baginya, tidak peduli seberapa banyak rahasia gelap yang dikantongi pemuda sembilan belas tahun ini, atau seberapa berkuasa dia di lantai VIP The Gilded Cage, di dalam kamar perawatan 502 ini Hiro hanyalah seorang pasien brondong yang kekanak-kanakan dan tidak tahu sopan santun."Aku tidak peduli dengan aturan main gila apa pun yang kau buat di sarang maksiatmu, Tuan Rossi!" desis Evelyn, wajahnya merapat, menatap Hiro murni dengan kemurkaan seorang Kepala Departemen







