Home / Male Adult / Cintai Aku, Dok? / 7. Pemuda Muka Tembok

Share

7. Pemuda Muka Tembok

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-20 16:20:40

Dia melangkah maju setengah langkah, tidak memedulikan peringatan Evelyn, namun kali ini dia menjaga jarak agar tidak menyentuh ruang fisik sang dokter, daripada terkena tamparan seperti semalam, lebih baik menjaga jarak aman saja.

 

"Pernikahan macam apa yang sedang kamu pertahankan, Dok?" bisik Hiro, matanya menggelap dengan binar intimidasi yang dingin. 

 

"Pernikahan di mana suamimu tidur dengan wanita lain sementara kamu menenggak Scotch murni sendirian di sudut kelab malam? Kamu menyebut itu sebuah pernikahan, atau hanya sebuah kontrak harga diri yang enggan kamu lepaskan?"

 

Kalimat Hiro menghantam tepat di ulu hati Evelyn. Pertahanan es yang dibangunnya sejak pagi tadi mendadak retak. 

 

Kenyataan pahit tentang pengkhianatan Arthur yang coba dia kubur dalam-dalam selama jam dinas, kini dikuliti tanpa ampas oleh seorang pemuda sembilan belas tahun yang statusnya dia anggap rendah.

 

Evelyn mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. 

 

"Itu... bukan urusanmu, Sampah! Kamu tidak tahu apa-apa tentang duniaku atau pernikahanku!"

 

"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan, Evelyn," sahut Hiro pelan, untuk kedua kalinya memanggil nama depan wanita itu tanpa embel-embel formal. 

 

Tatapannya turun sekilas menatap kedua tangan ramping Evelyn yang bergetar menahan tangis dan amarah, lalu kembali mengunci manik mata sang dokter.

 

"Aku tidak tertarik pada status pernikahanmu. Aku hanya tertarik pada caramu membalas dendam. Dan tawaranku semalam masih berlaku. Jangan biarkan pengacara licik itu mengira dia bisa menginjak-injak wanita sehebat dirimu tanpa pembalasan yang setimpal."

 

Evelyn memalingkan mukanya, menolak membiarkan Hiro melihat sepasang matanya yang mulai berkaca-kaca akibat luka yang dikuliti paksa. 

 

Dia menarik napas dalam-dalam, mengunci rapat seluruh emosinya di balik topeng dingin yang biasa dia gunakan di hadapan para pasien kritis.

 

"Simpan khayalan kotormu untuk dirimu sendiri, Bocah," desis Evelyn, suaranya kini kembali mendatar, meski ada getaran samar yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. 

 

"Aku tidak akan pernah merendahkan diriku hanya untuk membalas dendam menggunakan jasa pelacur pria sepertimu."

 

Evelyn berbalik dengan sentakan cepat, berniat meninggalkan koridor buntu itu dan menyudahi percakapan gila ini. Namun, baru dua langkah dia mengayunkan kaki, suara dering ponsel yang nyaring memecah kesunyian lorong rumah sakit.

 

Langkah Evelyn terhenti seketika. Dia merogoh saku jas putihnya, mengambil ponsel, dan menatap layar yang berkedip.

 

Arthur.

 

Nama suaminya tertera di sana, membuat rahang Evelyn kembali mengeras. Dia menekan tombol jawab dengan gerakan kaku, sengaja tidak berpindah tempat karena gengsinya menolak memperlihatkan ketakutan di depan Hiro yang masih berdiri diam di belakangnya.

 

"Ada apa, Arthur?" tanya Evelyn dingin tanpa basa-basi.

 

"Evelyn, syukurlah kamu mengangkatnya," suara bariton Arthur Sterling terdengar dari seberang telepon, namun tidak ada nada penyesalan atau rasa bersalah di dalamnya. Suaranya terdengar sangat tenang, penuh perhitungan layaknya seorang pengacara yang sedang menghadapi kasus di pengadilan. 

 

"Aku tahu kamu sudah melihat berita sialan itu. Dengar, itu hanya jebakan dari lawan politik korporatku. Foto-foto itu dimanipulasi."

 

Evelyn melepaskan tawa hambar yang sarat akan keputusasaan. "Dimanipulasi? Kamu pikir aku bodoh, Arthur? Wajahmu terpampang jelas di semua media daring!"

 

"Evelyn, jaga suaramu! Jangan kekanak-kanakan!" bentak Arthur dari seberang sana, mulai kehilangan kesabaran karena egonya sebagai pengacara papan atas terusik.

 

 "Posisiku sedang dipertaruhkan sekarang. Aku butuh kamu tetap diam dan memainkan peranmu sebagai istri yang suportif. Malam ini, ada makan malam amal bersama para investor di Hotel Ritz-Carlton. Kamu harus datang bersamaku, tersenyum di depan kamera, dan menunjukkan pada dunia bahwa pernikahan kita baik-baik saja. Mengerti?"

 

"Dan kalau aku menolak?" desis Evelyn, air matanya nyaris luruh mendengarkan betapa egoisnya pria yang telah menemaninya selama lima tahun ini.

 

"Kamu tidak bisa menolak, Evelyn. Ingat posisi dan reputasimu sebagai dokter bedah terbaik di kota ini. Jika pernikahan kita hancur karena skandal, nama baikmu juga akan ikut terseret. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Bersiaplah," ucap Arthur mutus pembicaraan secara sepihak. 

 

Nada sambung yang monoton langsung terdengar, meninggalkan Evelyn dalam keheningan yang menyakitkan.

 

Tangan Evelyn yang memegang ponsel perlahan turun ke samping tubuhnya. Dia berdiri mematung, menatap dinding kosong di hadapannya dengan bahu yang sedikit bergetar.

 

Harga dirinya tidak hanya diinjak-injak, tetapi suaminya baru saja mengancam akan menyeret karier yang dia cintai jika dia tidak menuruti sandiwara konyol ini.

 

Sebuah bayangan tegap perlahan mendekat dari arah belakang. Aroma parfum maskulin yang intimidatif kembali mengepung indra penciuman Evelyn, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya ancaman Arthur baru saja.

 

"Sangat terprediksi," sebuah suara bariton rendah berbisik tepat di atas puncak kepala Evelyn, membuat sang dokter tersentak kecil namun tidak berbalik.

 

Hiro berdiri hanya beberapa senti di belakang punggung Evelyn, menundukkan kepalanya sedikit demi menyamakan tinggi badan mereka. Sepasang mata elangnya menatap profil samping wajah Evelyn yang kini dipenuhi guncangan emosi.

 

"Pria pengecut selalu menggunakan ancaman reputasi untuk mengendalikan wanita yang lebih hebat darinya," sambung Hiro, nadanya terdengar begitu tenang, halus, namun sarat akan provokasi yang mematikan. 

 

"Dia ingin kamu tersenyum di depan kamera malam ini, sementara dia tetap bisa tidur dengan model mudanya besok malam. Apakah itu akhir yang kamu inginkan untuk harga dirimu, Dok?"

 

Evelyn memejamkan matanya rapat-rapat, giginya berantukan menahan geram. Ucapan Hiro benar sepenuhnya, dan hal itu membuat hatinya semakin hancur.

 

Hiro mengulas seringai serigala di bibirnya saat menyadari bahwa pertahanan es sang dokter kini benar-benar berada di ambang kehancuran total.

 

Dia mengulurkan satu tangan panjangnya dari belakang, dengan gerakan perlahan yang disengaja agar Evelyn bisa melihatnya, jemari kokoh Hiro mengambil ponsel dari genggaman lemah Evelyn.

 

Kali ini, Evelyn tidak menolak atau berteriak. Dia terlalu lelah dan hancur untuk melawan.

 

Hiro membuka menu kontak di ponsel Evelyn, mengetikkan beberapa digit nomor dengan cepat menggunakan ibu jarinya, lalu menyimpannya dengan nama yang sangat singkat. 

 

Dia meletakkan kembali ponsel itu ke dalam saku jas putih Evelyn dengan sentuhan yang teramat lembut di pinggang sang dokter.

 

"Aku sudah menyimpan nomorku di sana," bisik Hiro, suaranya merayap rendah, penuh jebakan manis yang mengunci takdir mereka. 

 

"Hotel Ritz-Carlton, jam tujuh malam. Jika kamu memilih untuk datang bersamanya dan menjadi pajangan yang menyedihkan, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi...."

 

Hiro mundur satu langkah, menegakkan tubuh tegapnya yang setinggi 189 cm dengan keangkuhan mutlak seorang Rossi yang bersiap memenangkan taruhan.

 

"Jika kamu ingin menghancurkan makan malam amalnya dengan cara yang paling liar dan tak terlupakan, hubungi aku. Aku akan menjemputmu dengan Lamborghini-ku sebelum bajingan itu sempat menginjakkan kaki di rumahmu."

 

Tanpa menunggu jawaban dari Evelyn, Hiro berbalik. Langkah kaki pantofel mewahnya kembali berdentum ritmis, meninggalkan koridor sepi itu menuju lobi utama, siap menyelesaikan sisa formalitas donasi dua puluh juta dolarnya dengan senyum kemenangan yang sudah terkunci di bibirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status