共有

Bab 2 Mati Rasa

作者: Ichira Sherry
last update 公開日: 2026-05-26 00:30:14

"Cerai?" tanya Aryo.

"Ya, bukannya lebih baik kita cerai? Kamu bisa menikahi kekasihmu itu dan aku melanjutkan hidup tanpa tekanan." Arina menatap Aryo dengan lebih tenang.

Aryo tampak bimbang. Dia memang tak setuju dengan pernikahan ini, tapi apapun keputusan ibunya selalu dia turuti, termasuk menikah dengan wanita yang tak dicintainya.

"Katakan saja pada ibumu, mau cerai karena aku mandul. Sesuai yang kamu katakan tadi. Bukannya ibumu mau cucu?" Arina menatang Aryo. Dia sudah muak dengan hubungan ini.

"Kamu saja yang bilang padanya. Sekalian pada orang tuamu juga. Aku malas dan tak mau repot."

Wajah angkuh Aryo, membuat Arina kesal. Dia berusaha melewati Aryo karena tidak ingin berada lebih lama di dekat laki-laki itu malam ini. Namun baru beberapa langkah, Aryo langsung menahan pergelangan tangannya.

"Mau ke mana? Pembicaraan kita belum selesai," tanyanya dingin. "Selain itu, ada Ibu di rumah. Kita harus tidur satu kamar."

Arina langsung menoleh tajam lalu menepis tangan Aryo kasar.

"Aku sudah terbiasa tidur sendiri, Mas," jawabnya sinis. "Biar saja ibumu tahu kalau anaknya ini bahkan nggak pernah menyentuh istrinya sendiri. Biar langsung disetujui kalau mau cerai."

Aryo menghembuskan napas kasar. Kesabarannya mulai habis menghadapi sikap Arina yang malam ini jauh lebih berani dari biasanya.

Dia tak mungkin melakukan apa yang dikatakan Arina barusan. Image nya sebagai anak baik dan penurut di mata ibunya akan runtuh seketika. Jika harus bercerai, dia ingin Arina lah yang disalahkan, bukan dirinya.

Aryo kembali mendekat lalu mencengkram tangan Arina lebih kuat.

"Cukup, Arina!" bentaknya rendah. "Jangan kekanak-kanakan. Kita sudah sepakat untuk bersikap baik selama orang tua kita ada di rumah ini. Jadi berhenti membuat masalah."

Arina tertawa pelan penuh ironi. "Bersikap baik?" ulangnya pelan. "Kamu yang sejak awal memperlakukan aku seperti orang asing."

Namun Aryo tak menanggapi. Dia justru menarik tangan Arina menuju kamar utamanya.

Selama satu tahun menikah, mereka memang hidup di rumah yang sama, tetapi seperti dua orang asing. Mereka tidur di kamar berbeda, makan sendiri-sendiri, dan jarang berbicara kecuali jika ada hal penting.

Pernikahan mereka terlalu datar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada perhatian.

Apalagi cinta.

Aryo selalu bersikap dingin dan cuek meskipun Arina berusaha membuka percakapan atau mencoba menjadi istri yang baik.

Sesampainya di kamar, Aryo langsung menutup pintu lalu menguncinya.

Arina berdiri diam di dekat sofa sambil memeluk dirinya sendiri. Sedangkan Aryo berjalan santai ke arah lemari seolah pertengkaran tadi bukan sesuatu yang penting.

Kemudian laki-laki itu menoleh sekilas.

"Seperti biasa," ucapnya datar. "Kamu tidur di sofa."

Arina menahan sesak di dadanya. Meski sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tetap saja hatinya terasa sakit setiap kali mendengar itu.

Sayangnya, malam ini dia terlalu lelah untuk berdebat. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arina mengambil satu bantal kecil lalu merebahkan tubuh di sofa panjang. Dia membelakangi Aryo, mencoba mengabaikan keberadaan suaminya sendiri.

Aryo berjalan menuju kasur besar di tengah kamar. Baru saja dia hendak duduk, suara ponselnya tiba-tiba berdering nyaring memecah keheningan.

Aryo mengambil ponselnya dari atas nakas. Seketika sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat nama yang muncul di layar.

Davina Calling.

Aryo melirik sekilas ke arah Arina yang masih berbaring membelakanginya.

Lalu tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia menerima panggilan itu dan sengaja menyalakan loudspeaker.

"Halo," ucap Aryo lembut. Nada suaranya berubah drastis. Sangat berbeda dibanding caranya berbicara pada Arina.

"Mas Aryo..." suara manja perempuan terdengar dari ponsel. "Aku ganggu nggak?"

Aryo tersenyum kecil sambil bersandar di kepala kasur. "Nggak. Aku malah senang kamu nelepon."

Arina memejamkan mata kuat-kuat. Selama mereka menikah, Aryo bahkan jarang tersenyum padanya.

"Aku tadi kepikiran terus sama Mas," ucap Davina lembut. "Makanya aku telepon."

"Hm? Kangen?" goda Aryo pelan.

Davina tertawa kecil malu-malu. "Iya.

Aryo memijat pelipisnya santai. "Aku juga kangen."

Davina kembali berbicara dengan nada manja. "Besok jadi ketemu, kan?"

"Jadi."

"Janji?"

Aryo tersenyum tipis. "Iya, sayang."

Arina menghela napas malas. Kenaoa juga dia harus mendengar obrolan menjijikan anatara suami dan selingkuhannya itu.

Apa Arina cemburu suaminya selingkuh?

Jawabannya tidak!

Hanya saja Arina muak saat melihat kemesraan ya g sengaja Aryo tunjukkan padanya itu. Sementara dia berusaha menjadi istri yang baik dengan tidak melirik laki-laki lain. Benar-benar tak seimbang.

Arina ingin tidur, tapi sayangnya sejak tadi sulit untuk terlelap. Dia mendengar kembali percakapan suami dan swlelingkuhannya itu.

Davina terdengar tertawa kecil. "Aku suka kalau Mas manggil aku begitu."

"Kamu memang suka dimanja."

"Habisnya cuma Mas yang bikin aku nyaman."

Aryo merebahkan tubuhnya di kasur sambil tetap memegang ponsel. "Kalau sama kamu, aku juga nyaman."

"Mas..." panggil Davina lirih.

"Hm?"

"Aku kangen dipeluk dan disentuh."

Aryo terkekeh pelan. "Baru juga beberapa hari nggak ketemu."

"Tetap saja kangen."

"Nanti kalau ketemu aku peluk dan sentuh sampai puas."

Wajah Arina langsung berunah muak. Dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi telinganya.

Davina kembali berbicara. "Mas jangan kerja terus. Aku nggak suka kalau Mas kecapekan."

Aryo tersenyum kecil lagi. "Ada kamu yang perhatian begini, capekku langsung hilang."

Arina akhirnya tak tahan lagi. Dia langsung bangkit duduk lalu menoleh tajam ke arah Aryo. Wajahnya kesal bukan karena cemburu, melainkan muka.

Beberapa menit kemudian panggilan itu berakhir. "Good night, Mas."

"Hm. Tidur sana."

Telepon pun terputus. Kamar kembali sunyi. Namun kali ini terasa jauh lebih dingin. Arina menatap Aryo dengan tatapan kesal.

"Kamu sengaja melakukan itu supaya aku dengar, ya?"

Aryo meletakkan ponselnya di atas kasur lalu menatap Arina datar. "Kalau iya memangnya kenapa?"

Arina tertawa kecil. "Menjijikkan sih sampai aku nggak bisa tidur."

Aryo tersenyum miring. "Karena aku cinta sama Davina. Sementara kamu juga tahu, kalau pernikahan ini nggak pernah aku inginkan."

"Terserah saja, aku mau tidur."

Arina kembali membaringkan tubuhnya. Dia berusaha untuk menutup mata. Tiba-tiba bayangan masa lalu kembali berputar di otaknya. Andai saja dia tak menikah dengan Aryo, mungkin dia sudah bahagia dengan orang lain.

"Mungkin saja."

"Davina, Ahh ..."

Arina mendengar suara Aryo. Dia menengok ke arah suaminya di ranjang. Laki-laki itu sudah berbaring dan memejamkan mata sembari memegang pusakanya sendiri.

Arina kembali membaringkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Sesuatu dalam tubuhnya bergetar hebat.

"Sial, kenapa aku jadi begini?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 70 Tak Bisa Diperbaiki

    Arina memesan secangkir kopi hangat dan beberapa potong roti. Setelah seharian mengurus berbagai hal yang menguras tenaga dan pikirannya, dia ingin bersantai sejenak sebelum pulang. Setidaknya, beberapa menit untuk menenangkan diri dan menikmati waktu tanpa gangguan.Tak lama kemudian, pesanannya datang. Aroma kopi yang harum langsung memenuhi indera penciumannya. Arina mengucapkan terima kasih kepada pelayan lalu mengaduk kopinya perlahan.Karena memilih tempat duduk di dekat jendela, pandangannya leluasa mengarah ke luar kafe. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, kendaraan memenuhi jalan raya, dan di kejauhan berdiri megah gedung perusahaan milik Aryo.Arina menghembuskan napas panjang."Oh, semoga saja aku nggak ketemu sama Aryo dan Davina. Aku benar-benar nggak mau pusing lagi."Dia menggeleng pelan sambil menyeruput kopinya. Rasanya pahit, tetapi justru membuat pikirannya sedikit lebih segar.Hari ini dia baru saja keluar dari pengadilan untuk menyerahkan berkas perceraian. Sem

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 69 Perasaan Gavin

    DegJawaban Gavin membuat jantung Arina langsung berdebar. Dia menatap mata Gavin, berusaha mencari kejujuran dari sana. Dia takut, Gavin mengatakan ini hanya untuk menenangkannya saja, bukan karena tulus ingin dekat dengannya.Arina menjauhkan tubuhnya dari Gavin. Dia menutup mata sejenak kemudian menatap laki-laki itu kembali."Menginginkanku hanya sebatas teman di atas ranjang atau karena perasaan?" tanya Arina mempertegas hubungan.Gavin hanya diam. Dia menatap ke bawah dan belum memberikan jawaban. "Soal itu---""Diammu sejenak tadi sudah cukup membuatku tahu jawabannya, Gavin. Ah sudahlah, mungkin aku hanya terbawa suasana karena sebentar lagi akan bercerai dari Aryo. Maaf membuatmu repot-repot menjawab pertanyaanku. Bagiku sudah jelas, hubungan diantara kita, hanyalah karena perjanjian itu. Aku juga sudah cukup berterima kasih karena diizinkan tinggal disini," ucap Arina."Arina, aku----""Aku capek, aku akan kembali istirahat."Gavin menghela napas. "Baiklah."Arina meninggal

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 68 Jawaban Gavin

    "Jadi ... kamu benar-benar menolaknya?" tanya Arina lagi seolah sedang memastikan. "Benar." "Dan keluargamu langsung menerima?" Gavin terkekeh pelan. "Jelas saja nggak akan semudah itu." Arina mengerutkan kening. "Ayahku marah besar waktu pertama kali aku mengatakan tidak. Dia bahkan mengira aku hanya sedang bercanda." "Terus?" "Aku menjelaskan baik-baik bahwa aku nggak mau menikah dengan seseorang hanya karena keluarga menganggap kami cocok. Masalahnya bukan cocok dalam hal menjalin hubungan, melainkan karena dianggap setara dalam hal bisnis dan faktor finansial." Arina terdiam. "Bagiku, pernikahan bukan sekadar kesepakatan dua keluarga. Yang menjalani kehidupan setelah menikah adalah aku. Jadi, aku merasa punya hak untuk menentukan dengan siapa aku ingin hidup." Kalimat itu membuat Arina tanpa sadar menatap Gavin lebih lama. Dia kembalikan mengingatkan dirinya sendiri. Dia seorang wanita dan tak bisa setegas Gavin. Dia hanya menolak sekali, namun orang tuanya mema

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 67 Memastikan Sekali Lagi

    "Aku menolak perjodohan itu."Arina terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Gavin. Entah kenapa, meskipun laki-laki itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia menolak perjodohan tersebut, hati Arina tetap belum sepenuhnya tenang.Justru ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa lega.Ada keinginan yang diam-diam muncul untuk melanjutkan hubungannya dengan Gavin. Bukan lagi sekadar hubungan yang berawal dari sebuah perjanjian. Bukan karena kebutuhan masing-masing. Bukan pula karena keadaan yang memaksa mereka untuk saling berdekatan.Perasaan itu muncul begitu saja.Tanpa disadari, perhatian dan kepedulian Gavin perlahan membuat pertahanan hati Arina runtuh. Laki-laki itu selalu ada ketika dia membutuhkan bantuan. Gavin juga sering menggodanya, membuatnya kesal, tetapi di saat yang sama selalu menunjukkan kepedulian yang tidak pernah Arina dapatkan dari laki-laki lain.Arina bahkan tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.Di

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 66 Butuh Kejelasan

    Gavin menaikkan tubuh Arina di meja dekat dinding lalu mengunci tubuhnya di sana. Setelah mencium wanita itu cukup lama, tubuhnya tak bisa menahan diri lagi. Dia ingin menyentuh Arina. Bibirnya kini berada di leher Arina memberikan kecupan dan gigitan ringan. Sementara tangannya sibuk menyentuh titik sensitif wanita itu dibawah sana. Tubuh Arina tak bisa menolak sentuhan Gavin, tapi dia masih bisa berpikir waras saat ini. "Gavin, please berhenti!" "Nggak bisa Arina. Aku sudah nggak tahan lagi." Gavin melanjutkan gerakan bibir dan hatinya di tubuh Arina. Sampai akhirnya Arina mencapai pelepasannya untuk yang pertama. Tubuh Arina lemas. Gavin menjauh sedikit untuk melepaskan baju di tubuhnya dan tubuh Arina. Dia langsung menggendong Arina dan membawanya ke kamar. Mereka mengulanginya lagi, aktivitas panas di atas ranjang yang membuat Gavin candu dan tak ingin cepat berlalu. Tubuh Gavin akhirnya benar-benar lemas. Setelah beberapa saat, laki-laki itu ambruk di samping Ari

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 65 Ciuman

    "Dari mana, Arina?"Nada suara Gavin terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.Arina yang baru saja masuk ke apartemen langsung menoleh. Tatapan laki-laki itu membuat langkahnya terhenti. Gavin berdiri di dekat sofa dengan wajah tegang, seolah-olah dialah yang berhak marah.Arina menghela napas pelan. Bukannya menjawab, dia justru memalingkan wajah.Aneh.Seharusnya dia yang marah.Bukankah Gavin yang sudah berbohong kepadanya?Beberapa hari lalu, Arina bahkan pernah bertanya dengan jelas apakah Gavin memiliki pacar, tunangan, atau bahkan istri. Saat itu, Gavin dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak sedang memiliki hubungan dengan wanita mana pun.Namun, apa yang Arina lihat di lobby tadi?Seorang wanita datang ke apartemen Gavin. Mereka bahkan berpelukan begitu dekat. Wanita itu terus menempel pada Gavin seolah keduanya memiliki hubungan yang jauh lebih dari sekadar teman.Dan sekarang Gavin justru bertanya kepadanya dari mana dia pergi?Arina melipat kedua tangannya di dada.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status