LOGIN
“Sudah satu tahun menikah, tapi kalian belum juga punya anak! Gimana sih? Atau jangan-jangan kamu mandul, Arina?”
Jleb. Ucapan Rahma—ibu mertuanya—terasa seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke jantung Arina. Sakitnya tak berdarah, tapi mampu membuat napasnya sesak seketika. Arina hanya diam sambil menundukkan kepala. Kedua tangannya saling meremas di atas paha, basah oleh keringat dingin. Bibirnya bergetar kecil menahan emosi yang sejak tadi dipaksa tetap terkunci rapat. Sayabgnya, dia tak punya kuasa untuk membantah ucapan ibu mertuanya itu. Walaupun sebenarnya, dia ingin mengatakan yang sebenarnya agar wanita di depannya itu tahu kalau dirinya tidak pernah bermasalah. Rahimnya sehat. Tubuhnya baik-baik saja. Tapi bagaimana dia bisa hamil kalau selama satu tahun menikah, suaminya sendiri bahkan tak pernah menyentuhnya? Ya, begitulah kehidupan rumah tangga Arina. Di mata orang lain, dia adalah istri sempurna dari Aryo Mahardika—putra tunggal keluarga kaya raya yang tampan, sukses, dan berpendidikan. Pernikahan mereka terlihat mewah dan harmonis di luar. Namun kenyataannya, semua hanya sandiwara. Aryo tidak pernah mencintainya. Pernikahan itu terjadi karena perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua Arina dan Aryo---yang telah lama berteman. Orang tua Arina menyambut pernikahan tersebut dengan penuh kebahagiaan karena Aryo berasal dari keluarga kaya raya. Sayangnya, sejak awal Aryo menentang perjodohan itu, sementara Arina sama sekali tidak pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau menentukan pilihan hidupnya sendiri. Selama satu tahun ini, Aryo bersikap dingin dan cuek. Laki-laki itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Davina, dibanding pulang ke rumah. Bahkan terkadang Aryo sengaja pulang larut malam hanya agar tidak perlu bertemu Arina terlalu lama. Tatapan Aryo terhadapnya pun selalu sama. Dingin. Muak. Seolah Arina hanyalah beban menjijikkan yang dipaksakan hadir dalam hidupnya. Menyentuh Arina saja Aryo enggan. Jangankan tidur satu ranjang, berbicara baik-baik pun hampir tidak pernah. “Arina memang mandul, Bu,” ucap Aryo santai sambil menyeruput kopi. “Dia nggak bisa punya anak.” Deg. Tubuh Arina langsung menegang. Matanya membulat tak percaya menatap laki-laki yang duduk di seberangnya. Aryo bahkan tidak terlihat bersalah sedikitpun setelah mengucapkan kebohongan besar itu. “Mas Aryo…” suara Arina lirih, bergetar. Rahma langsung menatap menantunya dengan wajah terkejut. “Astaga! Jadi benar kamu mandul, Arina?” “Nggak, Bu. Aku—” “Arina nggak berani ngomong dari awal sama ibu, ayah, bahkan orang tuanya sendiri,” potong Aryo cepat. Nada suaranya tenang, seolah sedang membicarakan hal biasa. “Dia malu. Selama ini aku yang berusaha nutupin semuanya karena nggak mau dia dipermalukan.” Arina mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ditahan mulai menggenang di pelupuk mata. Fitnah. Aryo baru saja memfitnahnya tanpa rasa bersalah. “Mas Aryo, kenapa kamu bilang begitu?” tanya Arina pelan. Suaranya nyaris pecah. Aryo menoleh sekilas. Tatapannya datar tanpa emosi. “Memangnya salah? Cepat atau lambat ibu juga bakal tahu.”Aryo menatap Arina malas. “Tapi aku nggak mandul!” Suasana ruang tamu langsung hening. Rahma yang tadi sempat menjauh dari ruang tamu karena syok akhirnya kembali. Dia mengerutkan dahi melihat putra dan menantunya itu. “Kamu tadi bilang apa, Arina? Tidak mandul?" Arina mengangguk yakin. Dia tak mau disalahkan dalam hal ini, padahal Aryo lah yang selama ini tak mau menyentuhnya. "Kalau kamu nggak mandul, lalu kenapa sampai sekarang belum hamil?” Pertanyaan itu membuat tenggorokan Arina tercekat. Dia ingin jujur. Ingin mengatakan kalau putra kesayangan Rahma tak pernah menyentuhnya sama sekali. Tapi harga diri Aryo dipertaruhkan di sana. Dan entah kenapa, meski berkali-kali disakiti, Arina masih mencoba menjaga nama baik laki-laki itu. Dia mencoba menjaga martabat rumah tangganya. Bahkan di depan semua orang dia menyembunyikan perselingkuhan antara Aryo dan Davina. “Kamu diam saja? Kenapa tidak jawab?” Rahma kembali bicara dengan nada tajam. “Ibu wanita, Arina. Ibu tahu biasanya wanita lah yang bermasalah, kalau terlalu lama belum punya anak.” Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Pemikiran kolot orang tua. Padahal belum tentu dari pihak wanita. Bisa saja dari pihak laki-laki yang kurang atau tidak subur. Arina yakin dirinya baik-baik saja meskipun belum periksa ke dokter. Dia pernah mengajak Aryo untuk tes keseburun setelah menikah, namun Aryo menolak ajakannya. Arina menunduk makin dalam. Bahunya bergetar kecil. Sementara Aryo justru terlihat santai. Bahkan laki-laki itu memainkan ponselnya seolah tak peduli dengan keadaan istrinya. “Kasihan Aryo,” lanjut Rahma. “Masih muda tapi harus punya istri mandul. Coba dari awal jujur, mungkin ibu tidak akan setuju pernikahan ini.” "Sudah ya Aryo, ibu capek. Mau istirahat." "Baik, Bu." Rahma berdiri kemudian meninggalkan ruang tamu. Kedatangan ke rumah Aryo untuk berkunjung sekaligus membawakan masakan favorit putranya itu, namun justru kabar buruk yang dia terima. Tubuhnya mendadak lemas dan butuh istirahat. Air mata Arina akhirnya jatuh. Setetes. Lalu semakin banyak. Namun Aryo tetap diam tanpa rasa iba sedikit pun. Hingga akhirnya Arina mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah penuh luka. “Kenapa kamu tega bohong seperti ini sama ibu, Mas?” tanyanya lirih. Aryo tersenyum tipis, tapi senyum itu sama sekali tidak hangat. “Karena lebih gampang nyalahin kamu daripada harus jelasin semuanya.” Hancur sudah pertahanan Arina saat itu juga. Air matanya berjatuhan. "Aku tak mungkin bilang belum menyentuhmu karena aku jijik. Aku juga nggak mungkin bilang pada ibu kalau aku sudah punya pacar. Masalahnya akan semakin rumit," ucap Aryo. Arina mengusap air matanya. Dia tidak boleh menangis. Dia harus kuat demi kesehatan mental dirinya sendiri. "Terus, harus alasannya memfitnah ku begitu?" tanya Arina. "Lalu mau alasan apa lagi? Kalau alasan menundanya ibu akan bertanya lagi dan lagi. Tapi kalau alasan kamu mandul, sudah selesai. Ibu tak akan bertanya lagi," jawab Aryo. Arina mengepalkan tangannya. "Terus kenapa harus aku? Kenapa nggak bilang kalau kamu saja yang nggak subur, Mas?" "Kamu pikir ibu aku percaya? Aku sehat dan bugar Arina. Tak mungkin aku tak subur! Ah sudahlah. Jangan dibahas lagi. Kamu harus terima alasannya. Setelah ini orang tuamu dan seluruh keluarga akan tahu kalau kamu itu mandul. Terima saja. Karena itu alasan yang masuk akal," ucap Aryo sambil berdiri. "Kalau begitu. Lebih baik kita cerai saja."Arina segera berdiri. Dia mengambil baskom kecil dan handuk dari kamar mandi. Setelah mengisinya dengan air dingin, dia kembali ke kamar.Dengan hati-hati, Arina mengompres dahi Gavin. Beberapa menit kemudian, dia menyadari baju yang dikenakan Gavin cukup tebal."Kalau pakai baju seperti ini, panas tubuhmu susah turun."Arina membuka lemari dan mengambil kaus tipis milik Gavin."Gavin, aku ganti bajumu ya."laki-laki itu hanya mengangguk lemah.Dengan gerakan hati-hati, Arina membantu melepaskan kemeja yang dikenakan Gavin. Setelah itu dia memakaikan kaos tipis yang lebih nyaman agar tubuh Gavin tidak semakin gerah.Selesai mengganti pakaian, Arina kembali mengompres dahinya beberapa saat.Melihat Gavin mulai sedikit lebih tenang, Arina menghela napas lega.Namun dia belum selesai. Tatapannya beralih ke kotak obat di atas meja."Kamu harus makan dulu sebelum minum obat."Arina berdiri lalu berjalan menuju dapur.Dia membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Untungnya
Arina menoleh ke arah Gavin, lalu tanpa ragu memeluk laki-laki itu dengan erat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kemeja Gavin sedikit demi sedikit."Makasih ya," ucap Arina dengan suara bergetar. "Kamu udah bantu aku banyak. Kalau waktu itu aku nggak datang ke rumah sakit buat tes kesuburan dan nggak ketemu kamu, mungkin nasibku masih ada di tangan Aryo dan orang tua angkatku yang serakah."Pelukan Arina semakin erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa aman berada di dekat seseorang. Semua masalah yang menimpanya seolah sedikit lebih ringan karena ada Gavin yang selalu muncul saat dia membutuhkan bantuan.Dia tak lagi peduli bagaimana hubungan mereka akan berjalan ke depannya. Meski jauh di dalam hatinya, Arina masih menginginkan hubungan yang jelas, bukan sekadar perjanjian hitam di atas putih seperti yang selama ini terjadi."Kamu pantas hidup lebih baik, Arina," ucap Gavin pelan.Tangannya terangkat mengusap lembut rambut wanita itu. Tatapannya kemudian turun
Tatapan Rumi bergerak dari ujung kepala hingga kaki Gavin.Kemeja mahal, jam tangan elegan, rambut tertata rapi, dan postur tegap laki-laki itu sama sekali berbeda dari sosok gelandangan yang pernah ditemuinya sebelumnya.Beberapa detik Rumi hanya menatap tanpa berkedip. Lalu sudut bibirnya terangkat sinis."Wah, hebat juga."Arina langsung tahu nada bicara itu bukan pujian.Rumi menyandarkan tubuhnya ke kursi."Jadi ini hasilnya setelah dapat uang?" ejeknya. "Sampai sewa baju bagus begini buat mengelabui orang."Gavin tidak bereaksi. Dia tetap berdiri tenang seolah tidak mendengar apa pun.Rumi malah semakin bersemangat. "Padahal waktu itu penampilanmu seperti gelandangan yang baru keluar dari tempat sampah."Arina langsung mengernyit."Tante Rumi! Jangan keterlaluan!""Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya.""Sudah cukup."Nada suara Arina terdengar lebih tegas dari biasanya.Rumi menatapnya."Kita datang ke sini bukan untuk membahas penampilan Gavin."Arina menarik kursi lalu duduk
"Apa?" tanya Arina pelan.Dia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran sofa. Kedua matanya menatap Gavin penuh kebingungan, seolah memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya.Arina memang membutuhkan uang itu. Bahkan bisa dibilang dia sedang berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Namun, menerima bantuan dari Gavin bukanlah keputusan yang mudah. Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu, apalagi menambah utang budi yang suatu hari mungkin harus dibayarnya.Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya kembali muncul.Arina menggeleng pelan. "Nggak, Gavin. Aku nggak mau ngerepotin kamu."Gavin yang duduk di hadapannya langsung menggeleng."Aku anggap itu bukan merepotkan."Arina menundukkan kepala sesaat. Jarinya saling meremas di atas pangkuan. Setelah beberapa detik terdiam, dia kembali mengangkat wajahnya."Lalu?" tanyanya dengan suara pelan. "Aku harus membayarnya dengan apa? Tubuhku?"Kalimat itu keluar begitu saja.Begitu mengucapkannya,
"Astaga..." gumamnya pelan.Karena masih ragu, Arina menggunakan beberapa aplikasi untuk memeriksa keaslian foto itu. Dia mengunggah gambar itu dan menunggu hasil analisisnya.Beberapa menit kemudian hasilnya muncul.Arina terdiam.Foto itu dinyatakan asli. Tidak ada tanda-tanda manipulasi digital ataupun rekayasa AI.Dadanya langsung berdebar semakin kencang.Kalau foto itu benar-benar asli...Kalau bayi dalam foto itu benar-benar dirinya...Maka kalung itu memang memiliki hubungan dengan masa lalunya.Masa lalu yang selama ini tidak pernah dia ketahui.Arina menggigit bibir bawahnya.Perlahan dia kembali membuka ruang obrolan dengan Rumi.Jarinya bergerak cepat mengetik pesan."Aku mau lihat langsung kalungnya. Sebelum memutuskan apapun, aku harus memastikan semuanya sendiri."Pesan itu terkirim.Tak lama kemudian balasan dari Rumi masuk.Rumi setuju.Bahkan wanita itu langsung menentukan tempat dan waktu pertemuan.Besok sore.Di sebuah kedai kopi kecil yang berada tidak jauh dari
Arina bernapas lega. Akhirnya Rahma meninggalkannya sendiri di kafe itu. Niatnya datang ke tempat itu untuk melupakan sejenak perceraian dengan Aryo, tetapi takdir justru mempertemukannya dengan mantan mertuanya. Obrolan yang seharusnya sudah terkubur kembali diungkit, membuat luka lama yang mulai mengering terasa perih lagi."Hidupku nggak akan tenang kalau sering ketemu sama mereka."Arina menggeleng pelan. Dia meraih cangkir kopi di hadapannya dan menyeruput isinya. Kopi itu sudah dingin, tetapi dia terlalu malas memesan yang baru. Kepalanya terasa penuh setelah percakapan panjang dengan Rahma.Pandangannya menerobos jendela kafe. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar tanpa memperdulikan siapapun. Betapa enaknya hidup jika semua masalah bisa ditinggalkan begitu saja seperti orang-orang yang berjalan pergi itu.Namun, hidupnya tidak sesederhana itu.Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.Nama pengirimnya membuat waja







