Share

Bab 42 Di Paksa

Author: Ichira Sherry
last update publish date: 2026-08-01 04:40:57

Arina masih mematung. Jarinya yang mencengkeram lengan Rumi perlahan melemah. Air matanya menggenang, tetapi dia menahannya agar tidak jatuh.

"Jadi ... benar?" suaranya bergetar. "Aku bukan anak kandungmu?"

Rumi mendengus pelan, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Sudah kubilang, kan? Memangnya aku harus mengulanginya lagi?" katanya ketus. "Aku menemukanmu di dekat tempat sampah. Waktu itu niatku cuma membawamu pulang sebagai pancingan. Siapa tahu setelah mengurus bayi, aku cepat hami
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 77 Minum Obat

    Arina mendorong pintu kamar perlahan sambil membawa nampan berisi semangkuk sup hangat, segelas air putih, dan obat penurun demam. Aroma sup memenuhi ruangan yang masih remang-remang oleh cahaya pagi.Namun, baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar, Arina mendapati Gavin sudah tidak lagi terbaring seperti saat dia tinggalkan.Laki-laki itu baru saja bangun. Punggungnya bersandar lemah pada kepala ranjang, rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya masih tampak pucat karena demam yang belum sepenuhnya turun."Kamu kenapa sudah duduk?" tanya Arina cepat.Dia segera meletakkan nampan di atas meja samping ranjang, lalu menghampiri Gavin."Aku cuma bangun tidur, bukan pasien kritis," jawab Gavin sambil tersenyum tipis.Arina mendecih pelan."Bahkan pasien kritis pun kadang lebih patuh daripada kamu."Tanpa menunggu jawaban, Arina meraih bahu Gavin dan membantunya duduk lebih nyaman. Dia menyusun bantal di belakang punggung laki-laki itu agar bisa bersandar dengan baik."Jangan dipa

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 76 Skin To Skin

    Arina segera berdiri. Dia mengambil baskom kecil dan handuk dari kamar mandi. Setelah mengisinya dengan air dingin, dia kembali ke kamar.Dengan hati-hati, Arina mengompres dahi Gavin. Beberapa menit kemudian, dia menyadari baju yang dikenakan Gavin cukup tebal."Kalau pakai baju seperti ini, panas tubuhmu susah turun."Arina membuka lemari dan mengambil kaus tipis milik Gavin."Gavin, aku ganti bajumu ya."laki-laki itu hanya mengangguk lemah.Dengan gerakan hati-hati, Arina membantu melepaskan kemeja yang dikenakan Gavin. Setelah itu dia memakaikan kaos tipis yang lebih nyaman agar tubuh Gavin tidak semakin gerah.Selesai mengganti pakaian, Arina kembali mengompres dahinya beberapa saat.Melihat Gavin mulai sedikit lebih tenang, Arina menghela napas lega.Namun dia belum selesai. Tatapannya beralih ke kotak obat di atas meja."Kamu harus makan dulu sebelum minum obat."Arina berdiri lalu berjalan menuju dapur.Dia membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Untungnya

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 75 Gavin Bandel

    Arina menoleh ke arah Gavin, lalu tanpa ragu memeluk laki-laki itu dengan erat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kemeja Gavin sedikit demi sedikit."Makasih ya," ucap Arina dengan suara bergetar. "Kamu udah bantu aku banyak. Kalau waktu itu aku nggak datang ke rumah sakit buat tes kesuburan dan nggak ketemu kamu, mungkin nasibku masih ada di tangan Aryo dan orang tua angkatku yang serakah."Pelukan Arina semakin erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa aman berada di dekat seseorang. Semua masalah yang menimpanya seolah sedikit lebih ringan karena ada Gavin yang selalu muncul saat dia membutuhkan bantuan.Dia tak lagi peduli bagaimana hubungan mereka akan berjalan ke depannya. Meski jauh di dalam hatinya, Arina masih menginginkan hubungan yang jelas, bukan sekadar perjanjian hitam di atas putih seperti yang selama ini terjadi."Kamu pantas hidup lebih baik, Arina," ucap Gavin pelan.Tangannya terangkat mengusap lembut rambut wanita itu. Tatapannya kemudian turun

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 74 Bantuan Gavin

    Tatapan Rumi bergerak dari ujung kepala hingga kaki Gavin.Kemeja mahal, jam tangan elegan, rambut tertata rapi, dan postur tegap laki-laki itu sama sekali berbeda dari sosok gelandangan yang pernah ditemuinya sebelumnya.Beberapa detik Rumi hanya menatap tanpa berkedip. Lalu sudut bibirnya terangkat sinis."Wah, hebat juga."Arina langsung tahu nada bicara itu bukan pujian.Rumi menyandarkan tubuhnya ke kursi."Jadi ini hasilnya setelah dapat uang?" ejeknya. "Sampai sewa baju bagus begini buat mengelabui orang."Gavin tidak bereaksi. Dia tetap berdiri tenang seolah tidak mendengar apa pun.Rumi malah semakin bersemangat. "Padahal waktu itu penampilanmu seperti gelandangan yang baru keluar dari tempat sampah."Arina langsung mengernyit."Tante Rumi! Jangan keterlaluan!""Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya.""Sudah cukup."Nada suara Arina terdengar lebih tegas dari biasanya.Rumi menatapnya."Kita datang ke sini bukan untuk membahas penampilan Gavin."Arina menarik kursi lalu duduk

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 73 Bukan Gelandangan

    "Apa?" tanya Arina pelan.Dia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran sofa. Kedua matanya menatap Gavin penuh kebingungan, seolah memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya.Arina memang membutuhkan uang itu. Bahkan bisa dibilang dia sedang berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Namun, menerima bantuan dari Gavin bukanlah keputusan yang mudah. Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu, apalagi menambah utang budi yang suatu hari mungkin harus dibayarnya.Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya kembali muncul.Arina menggeleng pelan. "Nggak, Gavin. Aku nggak mau ngerepotin kamu."Gavin yang duduk di hadapannya langsung menggeleng."Aku anggap itu bukan merepotkan."Arina menundukkan kepala sesaat. Jarinya saling meremas di atas pangkuan. Setelah beberapa detik terdiam, dia kembali mengangkat wajahnya."Lalu?" tanyanya dengan suara pelan. "Aku harus membayarnya dengan apa? Tubuhku?"Kalimat itu keluar begitu saja.Begitu mengucapkannya,

  • Suntikan Candu Mas Dokter   Bab 72 Bantuan

    "Astaga..." gumamnya pelan.Karena masih ragu, Arina menggunakan beberapa aplikasi untuk memeriksa keaslian foto itu. Dia mengunggah gambar itu dan menunggu hasil analisisnya.Beberapa menit kemudian hasilnya muncul.Arina terdiam.Foto itu dinyatakan asli. Tidak ada tanda-tanda manipulasi digital ataupun rekayasa AI.Dadanya langsung berdebar semakin kencang.Kalau foto itu benar-benar asli...Kalau bayi dalam foto itu benar-benar dirinya...Maka kalung itu memang memiliki hubungan dengan masa lalunya.Masa lalu yang selama ini tidak pernah dia ketahui.Arina menggigit bibir bawahnya.Perlahan dia kembali membuka ruang obrolan dengan Rumi.Jarinya bergerak cepat mengetik pesan."Aku mau lihat langsung kalungnya. Sebelum memutuskan apapun, aku harus memastikan semuanya sendiri."Pesan itu terkirim.Tak lama kemudian balasan dari Rumi masuk.Rumi setuju.Bahkan wanita itu langsung menentukan tempat dan waktu pertemuan.Besok sore.Di sebuah kedai kopi kecil yang berada tidak jauh dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status