Masuk"Yakin tidak mau ikutan? Di dalam sana banyak wanita cantik, lho."
Sudah dua kali Nyonya Nola mengatakan itu. Seperti tadi juga, aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng, "Aku nunggu di sini saja." Saat ini kami berada di pelataran parkir sebuah klub malam. Lokasinya hanya lima menitan berkendara dari hotel tempat kami menginap. Nyonya Nola bilang, di sinilah tempat berlangsungnya acara khusus, sebuah acara privat yang ternyata adalah 'Party Night'. "Iya, memang ada baiknya kamu di sini saja," katanya lagi. "Daripada kamu diembat jablai di dalam sana, mending aku yang cicipi kamu. Kami sama-sama jablai sih, tapi aku tidak asal embat seperti mereka." Langsung pecah tawaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Nyonya Nola bisa sekonyol ini. Akan tetapi, dia tetap pasang mimik wajah serius. "Kenapa tertawa? Apa kamu pikir aku berbohong?" "Tidak Nola, bukan seperti itu," sangkalku cepat, "justru kamu adalah wanita terjujur yang pernah aku temui." "Oh ya?" katanya juga, "berarti kamu ini playboy dong? Paling tidak, mantan yang berpengalaman. Benar begitu?" "Hais," tepisku sedikit salah tingkah, "kamu bicara apa, sih?" Nyonya Nola membentangkan tapak tangannya, berkata, "Tunggu sebentar!" Pada saat ini, teleponnya berdering. Dia kemudian menerima panggilan masuk. Hanya beberapa patah kata. "Aku tinggal ya. Si jablai kambuhan yang punya acara ini sepertinya sudah tidak sabar. Itu, mereka di depan pintu sana." Reflek kurahkan wajah searah tatapannya. Pada jarak kira-kira dua puluh meter di depan pintu utama klub malam sana, tampak dua orang wanita seperti sedang mencari-cari. "Oke!" Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sedangkan Nyonya Nola, dia langsung keluar dari mobil sebelum kemudian melenggang pergi. Dari bangku kemudi, kuikuti dia dengan tatapan. Wanita itu memang sangat mempesona! Dengan atasan blus tali sepinggang, bawahan rok mini sepaha, ditambah dengan sepatu booth selutut yang menopang tungkai jenjangnya, saat melenggok seperti itu, rasa-rasanya ... sial, lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan air liur. Mereka menghilang dari pandangan, aku kembali pada kesendirianku. Cukup lama aku hanya berteman dengan isapan rokok. Sesekali berselancar di dunia maya. Bosan berada di bangku kemudi, aku keluar lalu duduk di kap Jeep Rubi*** milik Tuan Edy Hidayat kami bawa ini. Sampailah ada seseorang yang datang menghampiri aku. "Permisi, Bung? Apakah Anda yang bernama Bara?" "Ya, saya Bara. Anda siapa ?" Aku sambil diam-diam menjiwai pria tiga puluhan di hadapanku. Dari postur tubuh dan pakaian hitam-hitam yang diakenakan, sangat mungkin dia adalah seorang bodyguard. Orang ini tidak menyebut siapa dirinya, dan hanya berkata, "Anda diminta ke dalam. Bos anda memerlukan bantuan Anda sekarang." "Oke, terima kasih," sambutku dan langsung mengunci pintu mobil, sebelum kemudian membuka langkah. Klub malam ini hanya satu lantai, tapi terbilang cukup luas. Untuk mencapai 'dancing hall' saja, aku harus berjalan kaki sekira empat puluhan meter. "Wow! Ini party-nya kaum borjuis!" decakku kagum, setelah lebih dulu mengamati sekitar. Suasananya luar biasa hingar bingar. Disc jockey dan penari tiang adalah semacam baterai pada suatu perangkat elektronik. Merekalah yang terus-menerus menghidupkan suasana party-nya. Sedangkan busa alkohol dan wanita-wanita cantik berpakaian terbuka, itu semacam letupan-letupan kembang api di malam pergantian tahun, Masih berdiri di ambang dancing hall, aku kembali mencari-cari keberadaan Nyonya Nola. Entah di mana wanita itu. Nantilah kulihat sebuah tangan melambai-lambai, barulah aku maju lagi. Sepuluhan meter darinya, pada akhirnya aku tahu, dia adalah teman senam nyonya Nola. Hanya saja, aku hanya kenal wajahnya, tapi tidak tahu siapa namanya. Di sampingnya, ada Nyonya Nola, tepar di salah satu sofa duduk. Begitu aku berada di hadapannya, wanita ini langsung mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak tahu dia bilang apa. Suaranya kalah nyaring dari suara musik. Aku dekatkan telingaku ke wajahnya, memberi isyarat untuk mengulang perkataannya. Dia langsung paham, keras dia berkata di telingaku, "Langsung bawa pulang saja. Dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain! Badannya penuh muntah tuh!" Aku langsung mengangguk, tapi tidak langsung bertindak. Wanita ini menatapku dan kembali menggerakkan bibirnya. Kali ini aku merasa tahu apa yang dia ucapkan. Untuk itu, giliranku yang mendekatkan bibir ke telinganya, mengatakan bagaimana cara membawa keluar Nyonya Nola yang tidak sadarkan diri begini. "Gendong saja," katanya di telingaku. Gendong? Kembali aku terdiam. Tapi setelah aku pikirkan sebentar, memang hanya ini satu-satunya cara. Aku pun menggendong Nyonya Nola dan langsung membawanya keluar. Sedangkan temannya, dia mengikuti kami. Dia juga yang membantu aku memasukkan Nyonya Nola ke dalam mobil. "Oh ya Mas, kita belum kenalan, ya?" Wanita ini tiba-tiba mengatakan itu, dan menjulurkan tangannya. Ragu-ragu kusambut tangannya. "Aku, Vina," katanya lagi, "kamu Bara, 'kan?" Dia sudah tahu namaku, aku tinggal mengiyakannya. "Oke," sambutnya. "Nanti kamu tolong bantu tukar pakaian Jheng Nola ya. Kasian dia kalau harus tidur dengan muntahnya." Kembali aku mengiyakannya. Aroma tubuh Nyonya Nola memang sedang campur aduk, tapi bau muntahnya yang paling menyengat. "Di hotel nanti, kamu langsung ambil saja upahmu. Biarpun dalam keadaan mabuk begitu, dia tetap ehm, bukan?" katanya dengan ekspresi agak nakal. "Maksud Anda? Oh astaga, hahaha. Tidak, Vina, Nyonya Nola ini majikanku. Maaf, kami harus pulang sekarang." Setelah mengatakannya, aku langsung menghidupkan mesin mobil, dan siap beredar. "Jheng Nola juga butuh itu, Bara, kamu tidak perlu ragu. Kalau dia tidak butuh, kamu boleh cari aku." "Jumpa di lain waktu, Vina." Pedal gas sudah kuinjak, tidak lagi menunggu ocehan Vina. Meskipun tidak memperlihatkan gelagat orang mabuk, tapi napas wanita itu bau alkohol juga. Tiba di tempat parkir hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 02:16 dini hari. Sekitar tampak lengang. Satpam yang berjaga, tampak telungkup di mejanya. Masuk ke lobi hotel, kondisinya kurang lebih sama. Hanya ada seorang pria dua puluhan yang duduk di meja resepsionis. "Sial! Kamu yang pesta, aku yang kerja berat!" Berat badan Nyonya Nola ini aku perkirakan di kisaran 60 kilogram. Menggendongnya dalam kondisi tak sadarkan diri begini, seharusnya aku tidak mengalami masalah sama sekali. Akan tetapi, sekarang aku sedang menapaki anak tangga manual, Bagaimana aku tidak menggerutu? Tiba di kamar, aku langsung mencopot sepatu booth-nya, lalu pakaiannya satu demi satu agar ia dapat tidur lebih nyaman. Hingga tersisa pakaian dalamnya yang minim, gerakanku mendadak terkunci. Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama, menatap sosok di hadapanku dengan napas yang mulai tidak beraturan. "Sial, aku baru sadar kalau kamu bisa semenggoda ini, Nola," gumamku pelan, seperti berbisik pada diri sendiri. "Ta-tapi tidak, aku hanya perlu mengganti pakaiannya..." Saat jemariku hendak mengambil pakaian yang penuh muntahan di samping tubuhnya, tiba-tiba sepasang tangan yang terasa panas melingkar di leherku. Aku tersentak, hampir terjatuh ke tubuhnya. "Kenapa lama sekali..." gumam Nyonya Nola dengan suara parau yang dalam. Kedua matanya terpejam rapat, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis beraroma provokasi. Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, dia menarik tengkukku dengan kekuatan yang mengejutkan, memaksa wajahku mendekat hingga napasnya yang beraroma alkohol terasa hangat di wajahku. "Nola, ka-kamu..." Tangannya mulai merayap nakal di balik kemejaku. Dia menggeliat pelan, seolah baru saja menikmati permainan dalam igauannya. Atau, sebenarnya dia tidak benar-benar tidur?"Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May
Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."
Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan
"Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu
"Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan
"Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek
"Tidak perlu menutupinya, kamu pasti sangat mencintai dia! Kalau tidak, mana mungkin kamu sampai harus menitikkan air mata seperti ini? Atau lihat saja sekelingmu, apa kau lihat ada yang menangisi kepergiannya? Tidak ada seorang pun Bara, kecuali kamu seorang, dan itulah faktanya!" tambahnya panjan
...ponselnya tiba-tiba berdering. Sesaat setelah merogoh ponsel dari tas wanita miliknya, dia pelan-pelan mengkerutkan dahi , dan menatap cermat layar ponselnya. Tapi kemudian, dia terima juga panggilan itu."Iya halo, maaf, ini dengan siapa?""O ... Pak Kades? Maaf Pak, aku kirain siapa. Habisnya,
"Kamu benar, aku sangat kehilangan. Tapi bagaimana tidak, sedangkan kami sudah punya rencana untuk menciptakan surga kecil bersama?"Selain kepalang tanggung, aku juga sudah memutuskan. Selama tidak ada hubungannya dengan urusan pribadi wanita bermata jernih ini, aku tidak akan peduli pada apa pun.
"Tante, nanti kalau ke rumah lagi, ajak sama Ibu ya. Kasian Ibu, Tante, dia pasti sedih sendirian di rumah."Aditia yang kupikir hanya akan lebih banyak diam seperti biasanya, pada akhirnya nimbrung juga. Akan tetapi, apa katanya, ibunya sendirian di sana? Sendirian di mana maksudnya?Lewat kaca ce







