Share

059

Author: Thato Kent
last update publish date: 2026-02-20 16:08:53

"Jadi, Zaitun tidak terlihat di meja makan ini karena dia sudah pergi? Kapan perginya, Bu? Kok kayak mendadak gitu? Tadi malam kami sempat ngobrol-ngobrol, lho. Lama, sampai jam sebelasan, lho kami ngobrolnya. Tidak ada tuh dia singgung-singgung mau keluar dari rumah ini." sambung Bu Rafni panjang lebar, ada sirat tak percaya terpancar dari sorot matanya.

"Lha, namanya juga minggat? Iya, tidak ada yang tahu kapan dia pergi, tapi mungkin sebelum waktu sholat subuh tadi," timpal Bik Minah.

Setela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   207

    "Anu, Paman, kami datang terlambat," sahut Rifa'i kalem."Terlambat bagaimana?" Tapi Pak Baharudin justru membalas dengan agak ketus seperti itu."Tadi pas kami tiba di rumah Pak Camat, orang di sana bilang, Bang Yayat ba--ru saja juga pergi."Rifa'i terlihat tenang-tenang saja, dia seakan-akan sudah terbiasa dengan watak keras lawan bicaranya.Di lain pihak, justru lingkaran mata Pak Baharudin yang kembali pelan-pelan menyempit. Kesan tak mengerti masih terpampang dengan terang di sana. Sedangkan Rifa'i, sepertinya dia pun cukup paham akan hal itu. Sebelum Pak Baharudin mengatakan apa-apa, secepat itu juga pemuda yang aku ketahui ramah pada siapapun ini mengimbuhi kalimatnya; "Bang Yayat sudah kembali ke Morowali, Paman, begitu maksudku.""Sama satu lagi, Paman. Ah aku hampir lupa. Ini satpam di rumah pak camat sana yang kasih info, katanya, anak-anak Mariana sudah dibawa pergi Bang Yayat juga."Pak Baharudin pada akhirnya tidak lagi bertanya. Raut kecewa di wajahnya semakin tidak

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   206

    Alih-alih seperti yang kusangkakan, Pak Baharudin justru semakin menatap tajam. "Kamarudin?" Pak Baharudin menyeru setengah berteriak."Iya Pak, aku," sahut Pak Kamarudin, tetap dengan ekspresi patuh sebagaimana yang lainnya. Padahal, kalau dipikir-pikir, walau bagaimanapun juga dia ini seorang kepala desa."Kenapa anak ini masih bertanya? Apakah dia tidak tahu kenapa kita biarkan dia tinggal di rumah Yayat sana?" Pak Kamarudin tiba-tiba terdiam. Dia lalu menatap was-was beberapa orang di kiri dan kanannya. Pada saat yang sama, orang-orang yang mendapatkan tatapan Pak Kamarudin pelan-pelan menjatuhkan pandang, gestur seseorang yang ingin lari dari kenyataan."Ada apa dengan kalian semua, ha?" bentak Pak Baharudin kemudian. "Kenapa kalian tiba-tiba seperti kucing basah seperti itu?" tambahnya tanpa kompromi sama sekali.Tapi benar, pertanyaan itu juga yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Sebab secara, yang tiba-tiba seperti kucing basah ini mereka adalah Pak Nasrullah, Pak Ridwan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   205

    "Sumpah demi Tuhan, Pak, tidak ada yang berbuat mesum, Bang Rifa'i dan teman-temannya itu sudah salah paham," sahutku mulai sedikit frustrasi."Kenapa masih menyangkal juga, ha? Sedangkan Rifa'i dan lainnya menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri?" balas Pak Baharudin sang pemimpin sidang adat dadakan ini."Begini kejadiannya tadi itu, Pak. Jadi, Rafika ini tiba-tiba pingsan. Aku terlalu panik, sampai tanpa pikir panjang lagi, cepat-cepat aku kasih dia nafas buatan supaya dia sadarkan diri. Tapi hanya sebatas itu saja kok, tidak lebih. Mohon bapak-bapak tidak menciptakan fitnah!"Hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit, sudah tiga kali aku mengulang-ulang perkataan yang kurang lebih sama seperti itu, coba menjelaskan duduk perkara sebagaimana faktanya, sekaligus coba menepis semua dakwaan yang mereka alamatkan pada aku dan Rafika.Aku tahu, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pulalah ikannya. Namun begitu, andai tidak berpikir bahwa, di mana bumi dipijak maka di sit

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   204

    Dialog sukma yang kubangun pada akhirnya berhasil membuat Bu Saodah buka mulut, membuatnya mengakui apa yang telah dia lakukan pada Mariana. Aku tinggal membuatnya untuk menyebut nama Mariana secara langsung, bukan hanya sebatas menggunakan kata ganti orang kedua.Tapi sekarang Bu Saodah sedang terbatuk-batuk. Cara batuknya, itu seperti yang dibilang orang batuk kering. Dadanya yang hampir rata itu bahkan sampai terangkat-angkat, leher seakan-akan bertambah panjang. Bu Saodah tampak menderita. Akan tetapi, ternyata masih ada selain aku yang tidak seberapa mempedulikan itu."Siapa yang kau maksudkan, Saodah? Cepat katakan padaku, apakah dia Mariana?"Pertanyaan yang diajukan Edy Hidayat sekarang, sedianya ini juga yang akan kuajukan pada Bu Saodah."Aku mengaku salah, Yayat, aku sungguh-sungguh khilaf saat itu, aku akan membayarnya dengan nyawaku, mohon kalian memaafkan aku..""Setelah apa yang ibu saya berikan pada kalian selama ini, dan kau? Oh, saya benar-benar tidak menyangka kau

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   203

    "Benar, Bu Saodah. Tolong cepat masuk temui dia. Kasian, dia sudah terlalu lama menahan rasa sakitnya."Sedari barusan, Pak Nasrullah ini sudah sangat menjiwai setiap kekata yang dia ucapkan. Jelas ada empati mendalam di sana. Namun, sayang sekali, beliau tidak tahu bahwa saat ini aku justru sedang dirundung tetanyaan.Sejak mula aku sudah menanam keyakinan bahwa, demi membalaskan dendam Mariana, Bu Saodah wajib merasakan penderitaan panjang yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang diderita oleh Mariana.Malam ini adalah malam ke-40 yang berarti akan menjadi hari terakhir bagi Bu Saodah! Satu hal yang juga sangat aku yakini, paling lambat pukul delapan malam ini Bu Saodah akan 'melunasi' hutang-hutangnya pada Mariana.Akan tetapi, sekarang sudah pukul berapa, kenapa Bu Saodah belum 'pergi-pergi' juga?"Bara, ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat tegang seperti ini? Apakah kamu benar-benar mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kejadian yang menimpa Bu Saodah?"Aku sudah menduga

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   202

    Aku mengumpat frustrasi seraya spontan mengayun tinju siku. Dikarenakan Edy Hidayat mengekor di sisi kiriku, sejatinya rusuk kanannya yang akan menjadi sasaran. Namun, si Edi Tansil ini ternyata dapat menangkisnya dengan mudah. "Gerakanmu terlalu lamban, brother," ejeknya dan menggerak-gerakkan bahu, membetulkan posisi jas yang tampaknya barusan sedikit berantakan. Tampak pula ia menepis-tepis lengan jasnya.Aku tahan napas sejenak.Hanya dengan melihat ketenangannya, orang bisa langsung mengambil kesimpulan kalau laki-laki ini punya kemampuan beladiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata!Ah aku hampir lupa, kalau suatu ketika dulu Nola sudah pernah bercerita tentang kemampuan beladiri si laki-laki tulen tapi 'kasim' ini.Akan tetapi, sekarang dia sedang berhadapan dengan Bara Maradika, seseorang yang juga pernah dilatih secara khusus untuk melumpuhkan lawan-lawannya!"Bagaimana dengan ini?" Kali ini aku melompat lalu memberinya tendangan salto, seperti pukulan smes dalam permain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status