مشاركة

059

مؤلف: Thato Kent
last update تاريخ النشر: 2026-02-20 16:08:53

"Jadi, Zaitun tidak terlihat di meja makan ini karena dia sudah pergi? Kapan perginya, Bu? Kok kayak mendadak gitu? Tadi malam kami sempat ngobrol-ngobrol, lho. Lama, sampai jam sebelasan, lho kami ngobrolnya. Tidak ada tuh dia singgung-singgung mau keluar dari rumah ini." sambung Bu Rafni panjang lebar, ada sirat tak percaya terpancar dari sorot matanya.

"Lha, namanya juga minggat? Iya, tidak ada yang tahu kapan dia pergi, tapi mungkin sebelum waktu sholat subuh tadi," timpal Bik Minah.

Setela
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   212

    Dompet ini tidak mungkin langsung ada begitu saja di sini, pasti ada yang sudah sengaja menaruhnya.Tapi siapa yang menaruhnya? Tidak mungkin Rafika, 'kan?Apa jangan-jangan... oh bisa jadi!Setelah bertanya-tanya panjang lebar seperti itu, aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Cepat aku berlari ke jalan raya. Benar, tampak bayangan seorang anak kecil di kejauhan sana. Dia kini berada pada arah menuju jalan poros. Cepat aku berteriak memanggilnya; "Hei tunggu, tunggu aku, jangan pergi dulu...""Sial, kok dia malah kabur sih?""Huh! Siapa sih anak itu?""Brengsek, kecil-kecil sudah pintar mempermainkan orang? Dasar anak sialan!"Pada akhirnya aku hanya bisa mengomel seorang diri, apabila anak sepuluh tahunan itu alih-alih berhenti, malah justru melesat seperti anak panah yang lesat dari busurnya. Dia benar-benar sudah sangat jauh dan tidak mungkin lagi sanggup kukejar.Dompet yang kutemukan tergeletak di depan pintu ini ternyata adalah dompetku sendiri. Di dalamnya ada Kartu Tanda Pendudu

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   211

    Dia berjalan menuju mobilnya, aku juga langsung masuk kembali ke dalam rumah. Lalu, entah apa yang dia lakukan setelah itu, tapi ada jeda kira-kira lima menit atau lebih barulah terdengar bunyi mesin mobil dihidupkan.Yakin dia akan segera beredar, barulah aku bergeser ke dinding, lalu diam-diam mengintip dari celah jendela depan. Aku terus begitu, memastikan sampai mobilnya pelan-pelan merayap di jalan raya sana."Memangnya mau ngapain lagi di desa ini sampai dia berpikir aku belum akan ke mana-mana? Sial, perempuan itu pasti berpikir aku akan memanfaatkan dia." "Maaf ya Rafika, biar miskin melarat begini, aku bukan tipe orang yang sudi hidup dari belas kasih orang! Ah, andai kau tahu kalau aku lebih baik melakukan tindak kriminal daripada harus mengemis?Aku bermonolog, tidak terima dengan perkataan Rafika barusan. Sayang sekali dia tidak akan pernah tahu bagaimana aku sedang tersenyum sinis di ketika ini.Dalam empat puluh hari terakhir, khususnya setelah kepergian Mariana, setid

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   210

    Malam berganti siang."Ada yang datang? Tapi siapa yang datang di pagi buta begini?" Aku bermonolog seraya mempertajam pendengaran.Saat ini mungkin belum pukul tujuh pagi. Bahkan baru sekitar lima belasan menit yang lalu aku membasuh muka. Tapi sedini ini sudah terdengar bunyi mesin mobil yang masuk ke halaman."Lha, itu kan kayak mobilnya Rafika ya? Ada urusan apa lagi wanita itu sampai nekat datang kesini?" Dari bunyinya saja aku langsung bisa menebak bahwa itu adalah mobil Rafika. Lagipula, siapa lagi yang sudi datang ke tempat 'sunyi' ini selain wanita itu?Tidak ingin mengulang kejadian tadi malam, aku cepat-cepat keluar rumah untuk menemui dia. Begitu berada di ambang pintu, kudapati dia juga sedang menuju sini. Memperhatikan dia sebentar, coba memastikan apakah dia datang sendirian atau bersama orang lain, aku justru langsung terpaku di tempat hingga beberapa saat lamanya. Entah karena kurang tidur atau apa, tapi wajah Rafika sangat kentara sekali kalau dia sedang kelelahan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   209

    "Rafika bilang begitu?" ulangku tajam.Aku sangat serius ingin memastikan, tapi pemuda delapan belasan yang biasa disapa Zakir ini menyahut secara spontan; "Iya Bang."Kali ini, ketika aku tidak langsung menanggapi seperti barusan, dia yang menambahkan, "Kenapa Bang? Kok Abang kayak kurang yakin gitu?""Tidak kenapa-kenapa sih, aku hanya ingin memastikan saja. Siapa tahu saja kamu salah kasih informasi," jawabku kurang semangat, tapi tetap tanpa basa-basi."Tidak Bang," tepisnya juga. "Intinya, apa yang diucapkan Rafika, itu jugalah yang aku sampaikan ke Abang. Aku mana berani karang cerita, Bang!'" imbuhnya serius.Kembali aku terdiam. Tapi tidak terlalu lama, hanya sekedar mengambil jeda, untuk diam-diam menjiwai pemuda bertubuh lumayan jangkung di hadapanku.Dan, aku berkesimpulan; Biarpun dia lumayan sensitif, tapi keseluruhan pemuda yang kutahu sangat akrab dengan Mariana, dia nampak polos. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kalau dia sedang mengarang cerita atau semacamnya. Tapi

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   208

    Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Rafika, tapi kalau aku pribadi, mengikuti ketentuan adat yang berlaku ini, sungguh sangat berat sekali.Ada beberapa hal yang menjadikan aku seperti itu, tapi yang paling mendasar, alih-alih menikah, untuk biaya hidup saja, aku perkirakan paling lama bisa bertahan kira-kira dua mingguan ke depan! Itupun kalau dengan catatan aku harus berhemat secermat mungkin."Kamu tidak ingin memberi tahu kami dulu keputusan apa yang kau pilih, Lutfi?" Pak Baharudin bertanya lagi, tapi mungkin sekarang karena dia melihat Pak Lutfi berdiri dari duduknya.Pak Lutfi yang sedari tadi hanya lebih banyak diam, dan terus saja menekuk wajah, berkata, "Besok kalian akan segera tahu apa jawabanku, Pak Ketua."Setelah mengatakan itu, Pak Lutfi tidak lagi menahan langkah. Air muka orang tua ini entahlah, terlalu sulit untuk ditebak. Begitu juga dengan nada bicaranya, sangat kentara sarat beban.Hanya selang beberapa saat setelah Pak Lutfi meninggalkan aula balai adat i

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   207

    "Anu, Paman, kami datang terlambat," sahut Rifa'i kalem."Terlambat bagaimana?" Tapi Pak Baharudin justru membalas dengan agak ketus seperti itu."Tadi pas kami tiba di rumah Pak Camat, orang di sana bilang, Bang Yayat ba--ru saja juga pergi."Rifa'i terlihat tenang-tenang saja, dia seakan-akan sudah terbiasa dengan watak keras lawan bicaranya.Di lain pihak, justru lingkaran mata Pak Baharudin yang kembali pelan-pelan menyempit. Kesan tak mengerti masih terpampang dengan terang di sana. Sedangkan Rifa'i, sepertinya dia pun cukup paham akan hal itu. Sebelum Pak Baharudin mengatakan apa-apa, secepat itu juga pemuda yang aku ketahui ramah pada siapapun ini mengimbuhi kalimatnya; "Bang Yayat sudah kembali ke Morowali, Paman, begitu maksudku.""Sama satu lagi, Paman. Ah aku hampir lupa. Ini satpam di rumah pak camat sana yang kasih info, katanya, anak-anak Mariana sudah dibawa pergi Bang Yayat juga."Pak Baharudin pada akhirnya tidak lagi bertanya. Raut kecewa di wajahnya semakin tidak

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status