Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 3 – AWAL YANG INDAH

Share

BAB 3 – AWAL YANG INDAH

Author: Ough See Usi
last update publish date: 2026-05-07 11:00:36

“Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung untuk bangunan, karena menginduk dari perusahaan yang dibangun oleh kakek kami, kakek buyutmu, Rani. Bisnis konstruksi dan manufaktur,” Om Tara berbicara, semuanya memperhatikan.

“Musuh sudah pasti ada. Karena persaingan bisnis ataupun karena keserakahan seseorang. Untuk kasus Papamu, kami belum bisa menyimpulkan siapa yang sedang bermain, siapa yang mengatasi dan kenapa...”

“Orang-orang terbaik yang kami kerahkan tidak berhasil membuka tabir itu semua. Mereka bermain rapi. Sangat rapi...”

Dia menatap Om Tara, Om Pram, Om Janu dan Tante Dian dengan hati-hati.

“Berarti kasus ini buntu? Masuk ke kotak X Files?”

Mereka terdiam.

Kak Ishaak yang duduk di sebelahnya menatap dirinya dengan keyakinan yang entah atas dasar apa.

“Untuk saat ini, iya. Tapi aku berharap, Tuhan akan membukakan apa yang selama ini tersembunyi dan disembunyikan mereka kepada kita. Karena setiap kejahatan pasti akan terkuak.”

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi pembicaraan tentang kecelakaan Papa dan Mama. Karena memang tidak ada perkembangan baru.

Umur 18 tahun, di awal ia masuk perkuliahan, rapat keluarga Herlambang diadakan setelah makan malam. Perusahaan Om Pram tengah membutuhkan perhatian penuh. Anak-anak Om Pram belum ada yang bisa diandalkan untuk memimpin perusahaan sebesar itu.

Om Pram meminta ijin untuk mundur dari perusahaan Papa. Semua mata menatap dirinya. Tetapi ia menggeleng. Dirinya masih belum cukup mampu memimpin Paragon Persada.

Malam itu juga, Ishaak dipanggil ke rumah utama Keluarga Herlambang. Rumah Kakek yang kini ditempati oleh Keluarga Om Tara.

Ishaak dipercaya untuk menjadi pemimpin baru dari Paragon Persada meskipun dia bukan seorang Herlambang. Kedudukannya sebagai Chief Executive Officer atau Direksi Utama Paragon Persada. Kedudukannya di bawah Dewan Komisaris, yaitu Keluarga Herlambang.

Selama ini Kak Ishaak memang sudah bergabung dengan Paragon Persada sejak pertengahan kuliah sebagai tax officer.

Ditahun yang sama, dirinya mulai minat pada hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan Paragon Persada. Dia belajar secara otodidak tentang perhiasan, tentang logam-logam mulia juga batu-batu mulia. Kesenangan Mamanya rupanya menurun kepadanya.

Pergaulannya lebih terbuka, lebih luas. Tetapi ia menyembunyikan dengan baik nama belakangnya. Semua temannya tidak menghubungkan dengan nama keluarga Herlambang “yang itu”.

Dia mulai mengikuti lomba desain perhiasan tingkat internasional. Beberapa kali ia memenangkan lomba, membuat keluarga besar Herlambang dan keluarga Om Januar mendukungnya.

Saat dia mengemukakan ingin mendirikan perusahaan perhiasan, semua pihak merestui. Tetapi ia menolak bantuan finansial dari Keluarga Herlambang ataupun bantuan dari Om Januar.

“Rani ingin memulainya dengan usahaku sendiri, Om. Rani ingin menguji apakah Rani setangguh Papa? Apakah Rani memang pantas menyandang nama Herlambang di belakang namaku?”

Mereka membiarkan dirinya mewujudkan impiannya.

Dia menolak bantuan bahkan disaat terpuruk. Ditipu oleh penjual batu mulia. Ratusan juta uangnya ludes tak bersisa.

“Tidak apa-apa. Ini bagian dari proses. Ini kesalahan Rani sendiri yang terlena dengan harga miring, terlena dengan indahnya gambar pada katalog,” dia menggeleng menatap Om Tara yang menawarkan bantuan finansial.

“Kamu tidak pernah mengambil rekening deviden kamu, Rani. Gunakan uang itu untuk usahamu.”

Ia menggeleng lagi.

“Rani rasa, Rani bisa melewati ini semua. Rani hanya perlu mencoba lagi kali ini lebih berhati-hati. Pelajaran yang sangat mahal bagi Rani,” dia tersenyum menenangkan Om Tara.

Dan dia membuktikannya. Perlahan namun pasti, The Esthetic Jewel bangkit. Bersamaan dengan wisudanya di kampus.

Dari pihak keluarga, hanya Kak Ishaak dan Tante Dian yang menemaninya. Om Janu meninggal akibat jatuh di kamar mandi, 3 bulan sebelum dirinya wisuda.

Om Tara dan Om Pram menghadiri wisuda bukan sebagai keluarga pendamping melainkan sebagai tamu VIP. Itu salah satu cara agar mereka bisa menghadiri wisuda keponakan tersayang tanpa harus publik tahu hubungan kekeluargaan mereka.

Dia bukan lulusan cum laude. Namun pihak kampus terkesan dengan prestasi-prestasinya juga pencapaiannya. Dia menjadi pembicara saat acara wisuda. Itu yang membuat keluarganya sangat bangga kepadanya.

Dari podium, dia melihat, berkali-kali Om Tara dan Om Pram juga Tante Dian menyeka sudut mata mereka berkali-kali. Di podium, dia merasakan kehadiran Papa dan Mama yang bangga kepadanya.

The Esthetic Jewelry makin meroket. Keanggunan dan desain yang classy namun tidak berlebihan menjadi kekuatannya. Entah itu gaya etnik, klasik, barok atau abstrak sekalipun, perhiasannya terlihat sangat berkelas, sangat eksklusif.

Pesanan-pesanan khusus datang dari internasional. Beberapa keluarga kerajaan memakai jasanya untuk mendesain perhiasan untuk lamaran ataupun hantaran keluarga kerajaan.

Selebriti dunia lainnya juga menyukai karyanya. Kantornya yang awalnya berupa kantor kecil, ia pindahkan ke kawasan pinggiran untuk mengejar harga tanah yang jauh lebih murah dan mendapat lansekap yang asri.

Para tamu ataupun klien-kliennya menyukai lansekap kawasan kantornya. Ia tidak membuka cabang di tempat lain. Karena ia ingin fokus di satu titik. Biarkan mereka yang membutuhkan perhiasannya yang mendatangi tempatnya.

Tahun pertama The Esthetic Jewelry, Mas Aldi datang sebagai klien. Dia masih menjadi CEO perusahaan advertising miliknya. Memesan kalung cantik untuk ibunya dan jepitan dasi untuk ayahnya. Dia terkesan melihat besarnya kasih sayang pria itu kepada kedua orang tuanya.

Dari anak buahnya, dia tahu tentang Mas Aldi. Pria yang gagal menikah karena tunangannya kabur ke luar negeri. Dia semakin bersimpati kepadanya.

Diskusi-diskusi tentang desain kalung dan penjepit dasi yang diinginkan oleh Mas Aldi membuat mereka sering bertemu. Pada saat itulah, Mas Aldi menyatakan perasaannya.

“Aku sudah pernah hampir menikah. Tetapi gagal. Itu sebabnya, aku tidak ingin berlama-lama menjalin hubungan dengan perempuan yang aku rasa bisa cocok denganku. Aku ingin langsung saja melangkah ke jenjang yang lebih serius. Toh sebagai sesama orang dewasa bisa saling lebih mengenal lagi setelah menikah. Sama-sama belajar menyesuaikan diri,” Mas Aldi berkata sambil menatap wajahnya dalam cahaya lampu temaram di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu banyak pengunjungnya.

Dia terdiam. Dia terpaku. Dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Mas Aldi, apakah hanya sekedar bercerita tentang impiannya ataukah ada maksud lain.

Tetapi dia berharap. Sangat berharap bahwa perempuan yang dibicarakan oleh Mas Aldi adalah dirinya.

Dia hanya terdiam. Menunggu Mas Aldi melanjutkan ucapannya.

Mas Aldi terus menatapnya sambil menyesap cangkir black americano-nya.

Sementara dirinya, ditatap seperti itu membuat degup jantungnya menggila. Perutnya terasa ada yang menggelitiki.

Tangannya gemetar saat membereskan sketsa-sketsa desainnya ke dalam map khusus. Dia harus bergerak agar pikirannya tetap waras. Tetap pada jalurnya.

Dia berdehem untuk mengusir rasa yang aneh ini. Dia berusaha untuk tetap profesional.

“Nona Maharani,” suara Mas Aldi bernada rendah, matanya tetap lekat menatap wajahnya.

“Ya, Mas Aldi?” dia mendongak membalas tatapan mata Mas Aldi.

“Ayo kita menikah.”

Tubuhnya mematung. Mulutnya terkunci. Di matanya, jarak sebatas meja kafe di antara mereka, tengah berlangsung perayaan Holi, festival warna tradisional Hindu yang meriah di India, menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan dan datangnya musim semi. Bubuk warna yang disebut gulal berhamburan ke semua arah. Orang-orang bersukaria melemparkan gulal warna-warni. Juga dengan semprotan air warna-warni.

Di matanya, kafe tempat mereka berubah menjadi suasana musim semi di Jepang dengan bermekarannya bunga Sakura atau Cherry Blossom. Meja kafe berubah menjadi tempat untuk hanami, piknik sakura, di taman Shinjuku Gyoen.

Dia jatuh cinta.

Selama seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa jatuh cinta.

Dia tidak siap untuk itu. Belum siap untuk itu. Tapi dia jatuh cinta.

Kelembutan pria di hadapannya. Halus tutur bahasanya. Kasih sayangnya kepada kedua orangtuanya. Komitmen tanpa basa-basinya. Semua membuat hatinya meleleh.

Mas Aldi masih menatapnya. Kali ini tatapannya penuh harap. Wajahnya menegang. Kedua tangannya terkepal di atas meja.

Dia tersenyum menatap pria yang membuat jantungnya berdegup dengan irama samba.

“Saya... Perlu waktu untuk menjawabnya.”

“Berapa lama?” sorot kecewa terlihat, “Tolong jangan lama-lama. Dan tolong, berikan jawaban yang positif.”

Dia tertawa.

“Berikan saya waktu 7 hari.”

Mas Aldi menggeleng.

“3 hari. Berikan aku jawaban positif 3 hari dari sekarang.”

“Anda seorang pemaksa...,” dia terkekeh kecil. Masih menggunakan saya-anda dalam percakapan mereka.

“Aku tidak mau menunggu lama. Aku rasa kita selevel. Itu yang membuatku begitu yakin kita bisa bersama selamanya. Membesarkan anak-anak kita bersama. Menua bersama.”

Dirinya yang baru pertama kalinya jatuh cinta, polos dan naif semakin meleleh dengan kalimat penuh madu dari Mas Aldi.

Saat memberitahukan kepada Om Tara dan Om Pram, mereka marah besar. Tidak lama kemudian Kak Ishaak masuk ke dalam ruangan membawa amplop besar berwarna cokelat. Wajahnya masih menyiratkan duka karena mamanya, Tante Dian, menyusul Om Janu sebulan yang lalu.

“Kau harus lihat ini, Rani. Menikah bukan keputusan kecil. Dia tidak tahu tentang latar belakang keluargamu. Baca ini. Kami mengumpulkan ini begitu kami tahu kau sering bepergian dengan CEO Trend Advertising itu,” Kak Ishaak menyodorkan amplop itu.

“Kalian memata-mataiku?” dia merasa disepelekan.

“Kami melindungimu, Rani.”

“Kalian melanggar privasiku! Aku sudah dewasa. Aku bukan remaja lagi yang butuh pengawasan!”

Pertengkaran di antara mereka tak terelakkan. Kata-kata yang menyakiti hati telah diucapkan satu sama lainnya.

“Baik,” Om Tara berdiri, “Terserah padamu, Rani. Aku tidak bersedia menjadi wali nikahmu. “

“Aku juga,” Om Pram juga berdiri.

“Kak Ishaak,” ia memanggil kakak sepupunya.

Kak Ishaak menggeleng. Raut kecewa tergambar jelas di wajahnya.

“Kita keluarga dari garis Mamamu. Aku tidak bisa menjadi wali nikahmu. Meskipun bila kita bersaudara dari garis Papamu, aku tetap tidak akan mau menjadi wali nikahmu. Aku tidak menyetujui kau menikah dengannya, Rani. Dia tidak sepadan denganmu.”

Tante Laras menepuk-nepuk dada suaminya, Om Tara. Sementara Tante Amara memeluk lengan Om Pram. Kedua tantenya juga tampak kecewa kepadanya.

“Maharani Ruby Herlambang,” suara Om Tara bergetar, “Sebaiknya tetap seperti ini. Jangan pernah menyebut nama kami di hadapan Aldi ataupun keluarganya. Jangan pernah.”

“Baik!” dia yang merasa tertantang berdiri menatap Omnya yang bersiap meninggalkan ruang tengah mansion Herlambang, “Aku tidak akan pernah menyebut nama kalian kepada siapapun yang aku temui!”

Dia mendongakkan dagunya, meraih clutch-nya dan pergi meninggalkan rumah utama dengan langkah tegas.

7 hari setelah itu, dirinya tetap mengirimkan undangan ke keluarga Herlambang dan Kak Ishaak.

Hanya Kak Ishaak yang datang menjelang akad. Itu pun hanya untuk menyerahkan surat kuasa dari Om Tara kepada Penghulu, menyerahkan kuasa wali nikahnya kepada wali hakim. Kak Ishaak memeluknya dengan mata basah tanpa berkata apapun. Lalu pergi lagi tanpa menyalami Mas Aldi ataupun keluarganya.

Di pernikahannya, tidak ada keluarganya yang hadir. Semua menyebut bahwa ia yatim piatu, sudah tidak mempunyai keluarga lagi.

Dan malam ini, ia menyesali keputusannya dulu. Menyesali keangkuhannya kepada keluarganya yang tersisa. Menyesali semua kalimat dan perilakunya pada malam itu.

Dia malu.

Malu karena bersikap kurang ajar. Malu karena begitu arogan. Malu karena membangkang.

Dan lebih malu lagi karena dia gagal. Pernikahannya kandas. Tidak pernah ada cinta dari Mas Aldi untuknya. Semua hanya pura-pura untuk menguasai hartanya.

Masih pantaskah ia untuk kembali ke keluarganya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Swing Partner   BAB 68 – YANG TAK TERDUGA`

    “TOLONG SAYA, PAK…” teriakannya terdengar panik.“Mbak..tolong. Jangan bergerak terlalu banyak. Roda depan mobil Anda menahan badan mobil supaya tidak terjun bebas ke bawah. Tetap tenang sampai bantuan datang!” suara pria lain terdengar.“Mobil-mobil besar tadi kemana? Bapak lihat kan, mobil-mobil boks besar dan trailer yang tadi?”Hening. Suara pria bercakap-cakap heran dengan sesama mereka di dekat mobilnya.“Kami tidak melihat adanya mobil boks besar satu pun, Mbak. Lagipula jalan layang ini tidak diperuntukkan untuk mobil-mobil besar.”“Mobil besar gak boleh lewat sini, Mbak…”“Apa??” dia keheranan, “Mobil yang terbakar di tengah jalan, Avanza hitam, itu mobil pengawal saya, Pak! Mobil mereka ditabrak keras oleh mobil boks di belakang mereka.”Hening. Kemudian

  • Swing Partner   BAB 67 – SERANGAN BERTUBI

    Dia menurunkan kaca jendelanya. Sekuat tenaga berteriak meminta tolong ke orang-orang yang berada di jalur berlawanan. Badannya dijulurkan keluar dari badan mobil. Kedua tangannya dilambai-lambaikan ke arah mereka. Suaranya pecah tetapi ia terus berteriak seperti orang gila.Perhatian orang-orang di jalur lawan arah masih terfokus kepada mobil yang terbakar di tengah jalan. Suaranya teredam oleh suara deru mesin mobil-mobil besar. Dia menoleh ke belakang. Sebuah mobil boks besar merayap perlahan menyejajari mobilnya. Menutup pandangan orang-orang dari jalur sebelah ke arah mobilnya.Harapannya pupus.Pria di kabin depan mobil besar itu menatapnya sambil tertawa.“Wuihhhh. Bening banget, Cok! Jancok edan tenan! Ayu ne…”Dia ketakutan. Dengan cepat menarik tubuhnya ke dalam mobil. Dia menaikkan kaca mobilnya dengan panik.&ldquo

  • Swing Partner   BAB 66 – NO WAY OUT

    Sudah dua hari sejak peristiwa itu, dia tidak menerima telepon ataupun pesan dari Orion Petralis. Dia terlihat begitu sibuk ataupun berusaha terlihat sibuk seolah sedang mengalihkan pikirannya kepada pekerjaannya. Siang ini, Vera memberitahu ada email dari keluarga Petralis tetapi bukan dari Orion. Brisia Petralis, adik Orion yang memesan satu set perhiasan dengan tema musim panas. Dan dia meminta untuk berkomunikasi langsung dengannya. Sayangnya, jadwalnya sudah padat hingga lusa nanti. “Buatkan jadwal untuknya setelah lusa. Sesuaikan saja dengan jadwal Nona Petralis,” nada suaranya terdengar formal.Vera menatap bosnya. Lalu menganggukkan kepala. Dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Tuan Lintang karena Tuan Lintang sedang dalam perjalanan menuju Milan. Ada hal yang harus ditangani sendiri di sana selama tiga hari.Siang itu, dia menuju Paragon Persada. Kak Ishaak sudah menunggunya di teras lobby. Bahkan yang membukakan pintu mobilnya adalah Kak Ishaak sendiri.“Kamu baik-

  • Swing Partner   BAB 65 – SUAPAN LINTANG

    Lintang langsung mengakhiri panggilan video dari Orion begitu melihat kakak sepupunya bergerak membalikkan tubuhnya ke arahnya. Stoples pilus yang ada dalam dekapannya terguling begitu saja di atas karpet tebal. Untutng tidak pecah.Lintang gegas mengambil stoples yang berhenti bergulir karena tertahan kaki meja kopi. Dia duduk di sofa samping tempat kakak sepupunya tertidur.Kakak sepupunya bergumam. Sesuatu yang tidak jelas. Tapi terdengar “Bodoh!”Alis Lintang naik sebelah. Kakinya disilangkan. Dia masih mengamati kakak sepupunya dengan diam. Tidak biasanya kakak sepupunya merutuki dirinya sendiri.“Eh?” dia terkejut menatap adik sepupunya yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya, “Sedang apa?”“Sedang mengamati Mbak Rani tidur siang,” Lintang berdiri mengambil box makan siang milik kakak sepu

  • Swing Partner   BAB 64 – STOPLES PIL PENAMBAH SEMANGAT

    Lintang membuka kotak makan siang kakak sepupunya yang masih belum tersentuh sama sekali. Makanannya sudah dingin. Tetapi masih sangat layak untuk dimakan. Dan tampilannya masih menggugah selera.Dia menggelengkan kepala lalu menatap sofa. Kakak sepupunya tertidur sambil memeluk stoples cemilan yang sering ia lihat dulu di rumah Om Bagas dan Tante Yumna. Bahkan ia juga melihat cemilan berisi bulat-bulat putih kecil berhiaskan potongan daun kucai di rumah Om Janu dan Tante Desi. Kata Kak Ishaak, cemilan itu adalah pil penambah semangat milik kakak sepupunya itu.Vera menghubunginya saat melihat ada yang tidak beres pada kakak sepupunya. Untuk itu ia kemari. Langsung dari Prisma Glass setelah meeting besar usai ke The Esthetic Jewelry.Tangannya mencoba mengambil stoples cemilan yang masih dipeluk kakak sepupunya itu. Perlahan, menariknya ke bawah. Tapi siapa sangka, kakak se

  • Swing Partner   BAB 63 – LAYU SEBELUM BERKEMBANG

    Notifikasi pesan teksnya berdering, sebuah popup pesan muncul dengan nama Orion.Orion_Di sana pasti sudah masuk waktu makan siang. Kau sudah makan, My Queen?_Maharani_Aku baru saja memesan makanan lewat jasa layanan antar. Bagaimana denganmu?_Orion_ Aku baru saja selesai sarapan. Sedang musim semi di sini. Taman-taman di hotel terlihat luar biasa_Maharani_Tulip?_Orion membuat panggilan video. Wajahnya terlihat segar dengan kemeja putih dengan vest warna navy blue dan dasi bermotif diagonal warna biru dan hijau, tampak serasi dengan warna matanya.Dia tersenyum menatap kamera.“Kau terlihat keren, Orion.”Orion tertawa.“Apakah itu sama dengan kalimat, ‘Kau terlihat tampan, Orion…’?”Dia tertawa dengan pipi bersemu.“Kurang lebih seperti itu,” kepalanya menga

  • Swing Partner   BAB 6 – FIGHT BACK!

    Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka

  • Swing Partner   BAB 5 – KELUARGA

       Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt

  • Swing Partner   BAB 4 – CINTA YANG BUKAN UNTUKNYA

    Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu

  • Swing Partner   BAB 2 – DIA SEORANG HERLAMBANG

    Dia, Maharani Ruby Herlambang. Dia memang yatim piatu tanpa saudara kandung lagi. Tetapi ia adalah salah satu pewaris dari keluarga Herlambang. Papanya, Bagaskara Herlambang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara Herlambang. Semuanya sukses memimpin perusahaannya masin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status