Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 6 – FIGHT BACK!

Share

BAB 6 – FIGHT BACK!

Author: Ough See Usi
last update publish date: 2026-05-08 16:00:26

Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat.

 

“Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afkan untuk semuanya. Ma’afkan Rani…”

“Kami semua memaklumi. Kamu saat itu masih terlalu muda untuk menikah. Kamu baru mengenal dunia setelah sekian lama dalam perlindungan keluarga. Dan kamu sedang jatuh cinta…,” suara Kak Ishaak terdengar begitu pengertian dan menenangkan.

“Rani malu. Malu, Kak. Malu kepada kalian semua…,” dia memastikan pintu ruangannya tertutup rapat.

“Semua orang berbuat kesalahan, Rani. Semua orang. Karena kita bukan manusia yang sempurna.”

“Tapi Rani menyakiti hati Om Tara dan Om Pram…”

“Aku sudah menceritakan apa yang Ryn dapat dari kamu kepada mereka. Mereka sangat marah mengetahui keponakannya mengalami KDRT oleh suaminya sendiri.”

“Kakak memberitahu mereka?” dirinya bertanya dengan nada tak percaya.

“Ya.”

 

Hening.

 

“Lalu rencanamu bagaimana, Rani? Papa dan Mamaku sudah tidak ada. Kalau mereka masih ada, mereka pasti sedih melihatmu seperti ini. Om Tara dan Om Pram tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian selama kamu belum memberi lampu hijau untuk mereka. Mereka tidak mau lagi dituding mengekang kebebasanmu.”

 

Rasa bersalah menghantam begitu keras. Dia terisak.

“Ma’afkan aku…Ma’afkan Rani…”

 

Hening lagi.

 

“Hubungi mereka. Mereka sudah menyiapkan pengacara terbaik bila kau mau berpisah dengan si brengsek itu.”

 

“Aku akan menemui mereka langsung. Sikap kurang ajarku kepada mereka tidak cukup dibicarakan lewat telepon. Tapi aku malu untuk berhadapan dengan mereka lagi…”

 

“Baiklah. Kita bicara lagi nanti. Aku ada meeting.”

 

“Ya, Kak. Aku juga sebentar lagi ada meeting. Nanti malam aku akan menghubungi Kakak.”

 

Baru saja ia mengakhiri panggilan dari Kak Ishaak, divisi logam mulia mengirimkan pesan chat kepadanya. Disusul dengan divisi batu mulia. Isi pesan chat-nya sama. Sama-sama membuatnya geram.

 

Divisi Logam Mulia_Nona Cherryl meminta beberapa jenis logam mulia. Masing-masing 50 gram. Katanya untuk membuat perhiasan hasil desainnya, Bu._

 

Divisi  Batu Mulia_Nona Cherryl meminta berlian round cut 0.5 carrat ukuran 0,03 mm sebanyak 50 pc; berlian marquise cut  0.7 carrat ukuran 5 mm warna pink sebanyak 3 pc; dan emerald, emerald cut, dimensi  3/7 mm sebanyak 5 pc. Nona Cherryl tidak menyertakan berat carrat emerald-nya. Bagaimana, Bu Rani?_

 

Jarinya langsung menekan tombol panggilan.

“Tahan dulu. Jangan berikan apapun untuknya. Kalian berdua naik ke ruangan saya. Minta divisi produksi dan finance juga ke ruangan saya. Sekarang juga. Waktu saya tidak banyak karena sebentar lagi saya ada meeting.”

 

5 menit, semua yang dipanggil sudah berada di dalam ruangannya. Briefing darurat dilakukan.

 

“Aturan di The Esthetic Jewelry sudah jelas. Tidak ada bahan-bahan yang diserahkan kepada desainer. Karena bahan yang kita miliki bukan bahan-bahan murah dan kualitas abal-abal. Hasil karya desainer harus disetujui dulu oleh saya selaku desainer utama di sini untuk bisa diproduksi. Jelas ya?” matanya menatap wajah mata mereka.

 

“Tuan Aldi mengangkat Nona Cherryl sebagai desainer utama, Bu. Bagaimana ini? Kami jadi bingung karena ada dua desainer utama,” Robert bertanya dengan nada hati-hati.

 

“Pengangkatannya tidak sah. Tanpa pemberitahuan dan persetujuan saya selaku komisaris ataupun kepada para pemegang saham. Abaikan status Nona Cherryl.”

 

Dia memelankan suaranya.

“Ganti angka sandi ruang penyimpanan logam mulia dan batu mulia. Rahasiakan dari Tuan Aldi.”

 

Ekspresi terkejut tampak pada wajah mereka semua.

 

Tatapannya beralih ke Finance Head Division.

“Tutup kas kantor untuk Tuan Aldi mulai sekarang. Pengeluaran-pengeluaran di luar jam kantor ataupun di luar keperluan perusahaan, maka tidak ada lagi reimbursement. Sekali lagi, tutup kas kantor untuk hal-hal di luar kepentingan perusahaan,” suaranya tegas, “Bilang saja, perintah langsung dari saya.”

 

Pria di hadapannya menganggukkan kepala.

 

“Satu lagi. Ubah nomor sandi brankas kantor. Pastikan CCTV selalu mengawasi area brankas dan ruang penyimpanan bahan-bahan produksi. Paham?” suaranya tegas.

 

“Baik, Bu Rani,” semuanya kompak menjawab.

 

Tanpa mereka bertanya, mereka tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka.

 

“Kalian bisa kembali. Minta Vera ke ruangan saya.”

 

Baru saja ia selesai bicara, pintu dibuka dari luar. Mas Aldi mengerutkan kening melihat kepala divisi berada di ruangan kerja istrinya.

“Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?”

 

Dia berdiri, merapikan bajunya. Berbicara tanpa menatap Mas Aldi.

“Briefing untuk desain terbaru. Persiapan permintaan untuk klien dari Maldives. Briefing selesai. Kalian lanjutkan lagi pekerjaan kalian.”

 

Para kepala divisi meninggalkan ruangan.

“Baik Bu.”

 

Mas Aldi menyingkir dari pintu membiarkan mereka lewat. Mas Aldi masuk tepat saat dirinya mengambil tabletnya.

 

“Cherryl sudah merancang beberapa desain untuk klien Maldives.”

 

“Aku belum pernah melihat satu pun gambar desainnya,” dia menatap dingin, “Kita ke ruang meeting sekarang. Jangan biarkan klien menunggu.”

 

“Tapi tadi Cherryl mengatakan…,” Mas Aldi tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena langsung dipotong.

 

“Klien Maldives sudah tiba di lobby. Vera sedang mengarahkan mereka ke ruang meeting. Ayo!” dia berjalan mendahului suaminya menuju lift.

 

Hal yang sekarang paling dibencinya sekarang ini adalah berada satu lift bersama Mas Aldi. Parfum suaminya bercampur dengan parfum menyengat dari perempuan itu. Jujur, dia mual. Sangat mual. Dokter Ryn tidak menyertakan obat anti mual karena kehamilan dan rasa mual itu adalah hal yang wajar. Tetapi ia tidak ingin suaminya tahu kondisi tubuhnya saat ini.

 

“Kau kenapa?” suara Mas Aldi meninggi.

 

Sepertinya dia tersinggung melihat istrinya menutup hidung dengan tangannya.

 

Dia tidak menjawab, matanya menatap perubahan angka di atas pintu lift.

 

Mas Aldi mengendus jasnya. Menyangka dirinya berbau tidak sedap.

“Aku tidak bau…”

 

“Kau bau. Bau parfum murahan. Membuatku mual… ”

 

TING

 

Kakinya langsung melangkah keluar begitu pintu lift terbuka meninggalkan Mas Aldi yang hampir meledak. Senyum profesionalnya langsung terpasang begitu melihat pasangan suami istri dari Maldives, klien mereka.

 

“Good morning, Mr. & Mrs. Campbell. Welcome to Jakarta. Welcome to The Esthetic Jewelry Office.”

 

Ekor matanya menatap pergerakan di sudut ruangan, Cherryl dengan rambut tergerai dan corak baju yang menyakitkan mata mendekat. Dengan cepat, dia mengarahkan kedua tamunya ke ruang meeting sambil terus mengajak bicara hal-hal yang ringan.

 

Matanya menatap Vera yang tersenyum namun terlihat canggung saat melihat kehadiran Cherryl di sini. Menggunakan dagunya yang mengarah ke Cherryl, sorot matanya memerintah untuk menjauhkan perempuan yang tidak tahu diri itu dari area itu. Untung saja, Vera tanggap dengan isyaratnya.

 

Mas Aldi tampak tidak bisa berbuat banyak untuk mengajak Cherryl bergabung bersama mereka di ruang meeting. Rupanya, Mas Aldi sadar, akan menjadi insiden memalukan bila ia bersikeras mengajak Cherryl mengikuti meeting ini.

 

Dirinya tersenyum lega saat menutup pintu ruang meeting. Pagi ini terasa ringan setelah peristiwa buruk semalam.

*

🌷

bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Swing Partner   BAB 23 – FONT HURUF COURIER NEW

    Kak Ishaak langsung mengambil gawainya.“Halo, Yan. Cari tahu dengan siapa Delta Steel bekerja sama setelah kontrak kerjasamanya dengan Paragon Persada diputus. Cari juga profil perusahaannya ya.”“Ran, lanjutkan,” Om Tara memerintah.Dia mengangguk dan mengarahkan pointer lasernya ke daftar nama perusahaan yang mengajukan proposal kerjasama dengan Paragon Persada.“Dari tujuh perusahaan yang mengajukan proposal, setelah kematian Papa dan Mama, dua perusahaan mengundurkan diri tanpa alasan. Tiga perusahaan diterima proposalnya. Dua perusahaan ditolak proposalnya. Om Pram masih ingat?” ia menatap Om Pram.Om Pram mengangguk. “Aku ingat semuanya. Itu saat-saat aku memegang Paragon Persada. Perusahaan yang ditolak karena tidak sesuai dengan visi keluarga kita yang mengutamakan kerjasama yang adil dan membawa kebaikan bagi orang banyak bukan bagi segelintir orang saja. Yang satu lagi karena scoop perusahaannya terlalu kecil untuk bekerjasama dengan Paragon. Itu akan menjadi beban kerja d

  • Swing Partner   BAB 22 – SKEMA DALAM TABUNG GAMBAR

    Pagi ini dia sudah membuat janji dengan Kak Ishaak untuk mampir di Paragon Persada. Dia sudah pulih. Sudah bisa berjalan dengan normal tanpa harus terbungkuk menahan ngilu di perut bagian bawahnya. Sebelum ke perusahaan milik Papanya, dia berziarah ke makam janin yang belum sempat tumbuh besar di dalam perutnya diantar oleh Tante Laras. Nama Sweatpea Ruby sudah tertulis pada nisannya. Dia sudah mengikhlaskannya. Dia tidak menangis lagi karena tahu, anaknya sudah baik-baik saja di alamnya yang sekarang. Dia meletakkan buket bunga Baby Breath di atas makam kecil Sweetpea. Melafalkan alfatihah sebelum pergi. Tante Laras memayunginya di tengah gerimis halus pagi ini. “Tante mau ikut ke Paragon?” tanyanya saat supir mulai melajukan kendaraan. “Tidak. Tante harus mengecek salon. Kamu yakin tidak mau creambath atau hairspa dulu di tempat Tante?” Tante Laras balik bertanya. Ia menggel

  • Swing Partner   BAB 21 – SERUPA

    14.20Kantor Pusat Sawit Pertiwi CPO CoTubuh sintalnya dibungkus blus kuning berbahan ringan dengan model sabrina. Memamerkan leher jenjang dan sebagain besar bahunya yang putih. Totebag bundar putih dengan gambar Pikachu edisi terbatas menggantung di bahunya. Langkahnya pasti menuju ke lift khusus eksekutif sebelum dihentikan oleh petugas.“Ma’af, Ibu hendak kemana dan bertemu siapa?” tanya petugas dengan santun.Wanita itu mengangkat dagunya. Menatap remeh petugas di hadapannya.“Saya sudah ada janji dengan CEO perusahaan ini.”“Silahkan hubungi frontdesk untuk menulis di buku tamu, Bu.”“Tidak perlu. Saya sudah ditunggu oleh Tuan Ananta di ruangannya. Minggir.”Perempuan itu menarik tubuh petugas itu untuk menepi dari jalannya. Mendorongnya ke samping membuat petugas itu nyaris terjatuh. Tubuh perempuan itu lenyap saat pintu lift menutup.Menggunakan handy talkie-nya, petugas itu melapor kepada atasannya. Sekretaris CEO langsung berdiri begitu melihat perempuan itu keluar dari l

  • Swing Partner   BAB 20 – PESAN CHAT ANCAMAN

    Mertua laki-lakinya  membuat satu pesan chat untuknya. Lainnya adalah pesan chat dari Mama Ratna. Papa Ananta_Aku tidak akan melupakan penghinaan yang dilakukan oleh kedua tantemu itu kepada kami. Apalagi dengan menyebut anak kami laki-laki mokondo. Sepertinya kedua tentemu harus diberi paham siapa kami. Aldi terlahir kaya. Kami punya banyak harta. Kami punya banyak bisnis. Dan anak kami adalah anak yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Dia bekerja mencari nafkah. Bukan bermalas-malasan di rumah.  Jangan kau lupakan itu, Rani. JANGAN JADI ISTRI YANG DURHAKA!_Mama Ratna_Jahat kamu Rani! Kau anggap apa kami? Kamu tidak berterus terang siapa dirimu. Kau bilang, Papamu Bagas adalah pegawai BUMN dan Mamamu Yumna adalah ibu rumah tangga! Kau palsukan identitas mereka untuk bisa masuk ke dalam keluarga kami! Menantu kurang ajar!_Mama Ratna_Cabut gugatanmu di pengadilan agama. Juga tarik kembali BAP Aldi di polda. Kami akan mema’afkanmu

  • Swing Partner   BAB 19 – MEREKA TERLIBAT

    Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. .  Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu, setelah dirinya tidak berada di ruang tunggu itu, Papa Ananta mengancam dua orang petugas yang mengawal Aldi. “Kalau sampai apa yang terjadi di sini sampai bocor keluar, maka aku akan tahu bahwa kalian lah pelakunya. Rahasiakan semua ucapan dan apa yang terjadi barusan!”“Atas dasar apa Bapak mengancam kami?” “Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan!” tangannya meraih dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyodorkannya kepada petugas. Kedua orang petugas itu tampak gusar. Sama sekali tidak menyentuh uang yang disodorkan oleh Papa Ananta.  Mereka menarik tubuh Aldi untuk berdiri dengan kasar. Memasan

  • Swing Partner   BAB 18 – MENGUAK MASA LALU

    “Apa yang dikatakan Papa dan Mamamu saat kamu menanyakan siapa yang membunuh mereka?” tanya Om Pram.Dirinya menggeleng.“Kata Papa, urusan Papa dan Mama di dunia sudah selesai. Kita yang harus menyelesaikannya…” matanya menatap pada satu titik di tembok berwarna krem pucat di depan sana, “Lalu mereka pergi. Sweetpea Ruby dalam gendongan Mama.”Om Pram mengelus punggungnya. Kepalanya mengangguk.“Itu artinya, sekarang adalah tugas kita untuk menguak misteri kecelakaan beruntun itu…”“Om?” masih memandangi titik imajiner pada tembok.“Ya?”“Siapa saja yang duduk semeja dengan Papa dan Mama pada malam itu? Mereka sedang gala dinner untuk acara resmi kan?”Om Pram terperanjat. Om Tara yang sedang berbincang pelan dengan Tante Laras seketika menoleh kepadanya.“Kenapa kamu menanyakan hal itu?” Om Pram mengernyit.“Bisa jadi kan? Otak pembunuhnya duduk semeja dengan Papa dan Mama? Mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status