ホーム / Male Adult / Swing Partner / BAB 2 – DIA SEORANG HERLAMBANG

共有

BAB 2 – DIA SEORANG HERLAMBANG

作者: Ough See Usi
last update 公開日: 2026-05-06 11:00:30

Dia, Maharani Ruby Herlambang. Dia memang yatim piatu tanpa saudara kandung lagi. Tetapi ia adalah salah satu pewaris dari keluarga Herlambang.

Papanya, Bagaskara Herlambang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara Herlambang. Semuanya sukses memimpin perusahaannya masing-masing. Bakat yang diturunkan dari Cakra Herlambang, ayah mereka dan juga Hardikusuma Herlambang, kakek mereka.

Perusahaan Papa sedang pesat-pesatnya saat kecelakaan itu terjadi. Dirinya di rumah. Papa dan Mama menghadiri gala dinner di sebuah hotel bintang lima di kawasan Kuningan. Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras.

Dia sudah tertidur lelap saat Tante Dian dan suaminya, Om Januar masuk ke kamarnya. Membangunkannya sambil terisak dan langsung memeluknya.

Papa dan Mamanya tewas di tempat bersama supir mereka. Mercedes-Benz silver warna silver metalik, favoritnya, tidak berbentuk seperti mobil saat dirinya ke TKP pukul 2 dini hari. Mobil bukan sekedar ringsek melainkan juga terlipat.

Tabrakan beruntun di jalan tol dalam kota karena jalanan yang licin dan jarak pandang yang pendek menjadi penyebabnya. Mobil silver itu berada di antara dua truk trailer. Di depannya truk trailer pengangkut benang. Sementara di belakangnya truk trailer pengangkut gulungan baja.

Perusahaan Papa langsung di-handle oleh keluarga dari Papa. Sementara dirinya diasuh oleh Tante Dian dan Om Janu. Tante Dian merupakan adik kandung Mama. Satu-satunya keluarga Mama.

Jenazah ketiganya sulit untuk dievakuasi. Itu sebabnya, menjadi jenazah terakhir yang dibawa ke rumah sakit Polri. Dirinya bersikeras menunggui jenazah kedua orangtuanya. Menolak untuk pulang. Menolak untuk beristirahat di kamar yang sudah dibooking oleh Om Janu untuknya di rumah sakit.

Pemakaman kedua orangtuanya adalah saat-saat yang sangat menyakitkan. Kondisi jenazah keduanya tidak utuh lagi. Peti mati tidak boleh dibuka. Dia tidak bisa melihat wajah Papa dan Mama untuk terakhir kalinya.

“Kenang selalu wajah mereka dalam keadaan terbaiknya, Rani. Mereka pasti tidak mau kamu mengenang wajah mereka yang tidak utuh lagi. Jangan bersedih. Kami bersamamu,” itu yang dibisikkan oleh Tante Dian saat dia meraung meminta peti keduanya dibuka.

Seminggu kemudian, dengan baju seragam sekolahnya, dia mendatangi kantor pusat perusahaan Papa diantar oleh asisten pribadi dan sekretaris Papa.

Pintu ganda kayu berukir membentuk tenunan tambang yang terlihat sangat mewah itu terbuka. Om Pram, adik Ayah, yang duduk di kursi kepala meja, langsung berdiri. Para pemegang saham ikut berdiri. Semua menatap dirinya.

“Nona Maharani Ruby Herlambang,” Om Pram memperkenalkan dirinya kepada yang lainnya, “Pewaris utama Paragon Persada. Akan mulai memegang kendali di bawah pengawasan Keluarga Herlambang saat memasuki usia 21 tahun. Dan akan memegang kendali penuh saat Keluarga Herlambang merasa dia sudah mampu untuk itu.”

Semua orang dalam ruangan rapat tertutup itu bertepuk tangan. Tatapan mata mereka adalah tatapan menilai akan kemampuan anak kecil berseragam SD swasta yang terkenal di Jakarta. Dan dirinya membalas menatap mereka dengan tatapan polosnya.

“Selalu berpura-pura untuk tidak tahu apapun agar kamu bisa menyerap ilmu, bisa mempelajari sesuatu, mengetahui karakter orang,” nasehat Papanya suatu sore di gazebo depan, sebulan sebelum kecelakaan, “Itu akan menjadikanmu kuat. Menjadikanmu sukses. Dan tidak mudah dijatuhkan.”

Mama mengepang rambut panjangnya.

“Cantiknya Mama…,” Mama mengecup rambutnya, “Selalu turun tangan langsung dengan apa yang kamu rencanakan, apa yang kamu buat. Selalu jalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang membantumu. Maka kelak nanti kamu akan mempunyai orang-orang yang loyal kepadamu. Membantumu tanpa pamrih bahkan disaat kamu tidak punya apa-apa lagi…”

Dia mengangguk. Tahu betul karena Mama pernah bercerita bahwa dulu Mama tidak punya apa-apa. Mama dari keluarga biasa di desa saat bertemu Papa yang saat itu sedang mencari lahan luas untuk dibeli.

Saat SMA, Keluarga Herlambang memintanya untuk home schooling yang langsung disetujui oleh Om Janu dan Tante Dian, alasannya agar bisa lebih fokus ke Paragon Persada.

Usia 16 tahun, dia mulai belajar manajerial Paragon Persada. Asisten Papa dan sekretaris Papa menjadi tutornya. Keluarga Herlambang menyemangatinya. Dan dia menyerap dengan baik, belajar dengan cepat.

Umur 17 tahun, Om Pram mengajaknya untuk mengikuti rapat-rapat penting perusahaan. Keluarga Herlambang melindungi dirinya dari publikasi media. Wajahnya tidak pernah tampil di media manapun. Sosial medianya juga dibatasi, tidak boleh memposting foto-foto saat bersama anggota Keluarga Herlambang.

“Kami tidak mau kamu jadi sasaran kejahatan karena tahu bahwa kamu berkaitan dengan Keluarga Herlambang, Rani.”

Penjelasan yang masuk akal baginya. Karena memang, banyak orang yang silau dengan nama besar Herlambang.

“Kecelakaan Papa dan Mama, apakah bukan suatu kebetulan akibat jalanan licin?” pertanyaan yang selalu menghantuinya baru ia ajukan saat ini di depan keluarga Herlambang setelah acara makan malam.

Om Pram menatap Om Janu, meminta persetujuannya. Om Janu menganggukkan kepala.

“Maharani sudah besar, Mas. Aku rasa tidak apa-apa kalau kita memberitahukannya sekarang. Iya kan, Ma?” Om Janu meminta persetujuan Tante Dian.

Tante Dian menatap dirinya lama. Seolah menimbang sesuatu.

“Kamu yakin kamu akan baik-baik saja setelah mengetahui apa yang sudah kami kumpulkan?” tanya Tante Dian.

Dirinya mendadak merasa dadanya terhimpit. Jadi, apa yang ia rasakan itu benar. Kecelakaan Papa dan Mama bukan semata karena cuaca buruk dan jalanan licin yang memacu tabrakan beruntun.

“Kepingan puzzle yang kami kumpulkan belum cukup, Rani. Masih banyak yang harus dilengkapi. Butuh waktu untuk mengungkap semuanya,” Om Tara, kakak Papa berbicara dengan nada prihatin, “Meskipun kami mengerahkan tenaga penyidik profesional terlatih, kepingan puzzle itu masih belum sepenuhnya terkumpul.

“Katakan saja kepada Rani apa yang sudah Om ketahui. Rani tidak apa-apa,” dirinya mempersiapkan hati untuk menerima kabar buruk.

“Pak Edi, supir Papa kamu itu bukan supir sembarangan. Keluarga kita tidak pernah merekrut orang-orang yang bekerja dekat dengan kita secara random. Dia terlatih. Mempunyai kemampuan bela diri yang bagus. Driver dengan kemampuan mengemudi di atas rata-rata,” Om Tara memulai.

Dirinya menatap Om Tara tanpa kedip. Di sampingnya, Kak Ishaak, anak Om Janu dan Tante Dian, menepuk-nepuk pelan punggungnya.

“Dia tahu betul, menempatkan mobil dengan penumpang VVIP di antara dua kendaraan besar adalah sesuatu yang fatal,” suara Om Tara terhenti sejenak, “Saksi mata yang juga korban kecelakaan beruntun mengatakan, mobil Papa kamu sejak di pertengahan tol, beberapa kali melakukan manuver zig zag. Seperti menghindari kejaran kendaraan lain.”

Raut wajahnya menegang. Dadanya semakin terasa sesak.

“Mobil pengejarnya, dia mengatakan jenis mobil itu?” suaranya pelan saat bertanya.

Om Tara dan Om Pram menggelengkan kepalanya.

“Dia tidak tahu karena fokus dengan kemudinya,” Om Pram menggelengkan kepala.

“Saksi mata melihat, mobil Papa kamu digiring tanpa bisa melakukan manuver zig zag lagi oleh mobil box kargo,” Om Tara melanjutkan lagi, “Pada saat itulah, mobil pick up yang berjarak 3 mobil di depan mobil Papa kamu, mendadak mengerem di jalanan yang licin. Membuat mobil itu berputar di tengah ruas sebelum akhirnya terguling menutup ruas jalan. Saat itulah kecelakaan beruntun terjadi.”

“Sopir pick up selamat. Saat diinterogasi, dia bilang pecah ban. Tetapi kondisi keempat ban mobilnya baik-baik saja. Tidak kempes apalagi pecah,” kali ini Om Pram yang berbicara sambil mengusap wajahnya.

“Dia hanya dikenai wajib lapor. Aneh. Untuk kasus kelalaian yang menyebabkan kecelakaan beruntun dan adanya korban jiwa juga luka-luka,” Om Janu mengusap dagunya.

“Jelas-jelas ada persekongkolan jahat,” susah payah ia menelan air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa berpasir.

“Semua bukti menunjukkan bahwa dia dibayar oleh seseorang. Sayangnya pembayarannya dilakukan cash. Kita tidak bisa melacaknya. Ada peningkatan jumlah rekening yang disetorkan olehnya sehari sebelum kejadian dan dua hari setelah kejadian. Total jumlahnya 250 juta,” Om Tara mengerutkan keningnya.

“Dia menjadi korban tabrak lari, sebulan setelah peristiwa. Meninggal di tempat,” Om Tara menggeleng, “Istrinya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang uang itu.”

“Bagaimana dengan saksi mata yang tadi Om ceritakan?” Dia menatap Om Tara, tatapannya lelah.

“Dia meninggal mendadak setelah orang kita mengumpulkan keterangannya. Jantung koroner,” Om Pram mengusap wajahnya, “Sejak saat itu, kita menemui jalan buntu.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Swing Partner   BAB 68 – YANG TAK TERDUGA`

    “TOLONG SAYA, PAK…” teriakannya terdengar panik.“Mbak..tolong. Jangan bergerak terlalu banyak. Roda depan mobil Anda menahan badan mobil supaya tidak terjun bebas ke bawah. Tetap tenang sampai bantuan datang!” suara pria lain terdengar.“Mobil-mobil besar tadi kemana? Bapak lihat kan, mobil-mobil boks besar dan trailer yang tadi?”Hening. Suara pria bercakap-cakap heran dengan sesama mereka di dekat mobilnya.“Kami tidak melihat adanya mobil boks besar satu pun, Mbak. Lagipula jalan layang ini tidak diperuntukkan untuk mobil-mobil besar.”“Mobil besar gak boleh lewat sini, Mbak…”“Apa??” dia keheranan, “Mobil yang terbakar di tengah jalan, Avanza hitam, itu mobil pengawal saya, Pak! Mobil mereka ditabrak keras oleh mobil boks di belakang mereka.”Hening. Kemudian

  • Swing Partner   BAB 67 – SERANGAN BERTUBI

    Dia menurunkan kaca jendelanya. Sekuat tenaga berteriak meminta tolong ke orang-orang yang berada di jalur berlawanan. Badannya dijulurkan keluar dari badan mobil. Kedua tangannya dilambai-lambaikan ke arah mereka. Suaranya pecah tetapi ia terus berteriak seperti orang gila.Perhatian orang-orang di jalur lawan arah masih terfokus kepada mobil yang terbakar di tengah jalan. Suaranya teredam oleh suara deru mesin mobil-mobil besar. Dia menoleh ke belakang. Sebuah mobil boks besar merayap perlahan menyejajari mobilnya. Menutup pandangan orang-orang dari jalur sebelah ke arah mobilnya.Harapannya pupus.Pria di kabin depan mobil besar itu menatapnya sambil tertawa.“Wuihhhh. Bening banget, Cok! Jancok edan tenan! Ayu ne…”Dia ketakutan. Dengan cepat menarik tubuhnya ke dalam mobil. Dia menaikkan kaca mobilnya dengan panik.&ldquo

  • Swing Partner   BAB 66 – NO WAY OUT

    Sudah dua hari sejak peristiwa itu, dia tidak menerima telepon ataupun pesan dari Orion Petralis. Dia terlihat begitu sibuk ataupun berusaha terlihat sibuk seolah sedang mengalihkan pikirannya kepada pekerjaannya. Siang ini, Vera memberitahu ada email dari keluarga Petralis tetapi bukan dari Orion. Brisia Petralis, adik Orion yang memesan satu set perhiasan dengan tema musim panas. Dan dia meminta untuk berkomunikasi langsung dengannya. Sayangnya, jadwalnya sudah padat hingga lusa nanti. “Buatkan jadwal untuknya setelah lusa. Sesuaikan saja dengan jadwal Nona Petralis,” nada suaranya terdengar formal.Vera menatap bosnya. Lalu menganggukkan kepala. Dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Tuan Lintang karena Tuan Lintang sedang dalam perjalanan menuju Milan. Ada hal yang harus ditangani sendiri di sana selama tiga hari.Siang itu, dia menuju Paragon Persada. Kak Ishaak sudah menunggunya di teras lobby. Bahkan yang membukakan pintu mobilnya adalah Kak Ishaak sendiri.“Kamu baik-

  • Swing Partner   BAB 65 – SUAPAN LINTANG

    Lintang langsung mengakhiri panggilan video dari Orion begitu melihat kakak sepupunya bergerak membalikkan tubuhnya ke arahnya. Stoples pilus yang ada dalam dekapannya terguling begitu saja di atas karpet tebal. Untutng tidak pecah.Lintang gegas mengambil stoples yang berhenti bergulir karena tertahan kaki meja kopi. Dia duduk di sofa samping tempat kakak sepupunya tertidur.Kakak sepupunya bergumam. Sesuatu yang tidak jelas. Tapi terdengar “Bodoh!”Alis Lintang naik sebelah. Kakinya disilangkan. Dia masih mengamati kakak sepupunya dengan diam. Tidak biasanya kakak sepupunya merutuki dirinya sendiri.“Eh?” dia terkejut menatap adik sepupunya yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya, “Sedang apa?”“Sedang mengamati Mbak Rani tidur siang,” Lintang berdiri mengambil box makan siang milik kakak sepu

  • Swing Partner   BAB 64 – STOPLES PIL PENAMBAH SEMANGAT

    Lintang membuka kotak makan siang kakak sepupunya yang masih belum tersentuh sama sekali. Makanannya sudah dingin. Tetapi masih sangat layak untuk dimakan. Dan tampilannya masih menggugah selera.Dia menggelengkan kepala lalu menatap sofa. Kakak sepupunya tertidur sambil memeluk stoples cemilan yang sering ia lihat dulu di rumah Om Bagas dan Tante Yumna. Bahkan ia juga melihat cemilan berisi bulat-bulat putih kecil berhiaskan potongan daun kucai di rumah Om Janu dan Tante Desi. Kata Kak Ishaak, cemilan itu adalah pil penambah semangat milik kakak sepupunya itu.Vera menghubunginya saat melihat ada yang tidak beres pada kakak sepupunya. Untuk itu ia kemari. Langsung dari Prisma Glass setelah meeting besar usai ke The Esthetic Jewelry.Tangannya mencoba mengambil stoples cemilan yang masih dipeluk kakak sepupunya itu. Perlahan, menariknya ke bawah. Tapi siapa sangka, kakak se

  • Swing Partner   BAB 63 – LAYU SEBELUM BERKEMBANG

    Notifikasi pesan teksnya berdering, sebuah popup pesan muncul dengan nama Orion.Orion_Di sana pasti sudah masuk waktu makan siang. Kau sudah makan, My Queen?_Maharani_Aku baru saja memesan makanan lewat jasa layanan antar. Bagaimana denganmu?_Orion_ Aku baru saja selesai sarapan. Sedang musim semi di sini. Taman-taman di hotel terlihat luar biasa_Maharani_Tulip?_Orion membuat panggilan video. Wajahnya terlihat segar dengan kemeja putih dengan vest warna navy blue dan dasi bermotif diagonal warna biru dan hijau, tampak serasi dengan warna matanya.Dia tersenyum menatap kamera.“Kau terlihat keren, Orion.”Orion tertawa.“Apakah itu sama dengan kalimat, ‘Kau terlihat tampan, Orion…’?”Dia tertawa dengan pipi bersemu.“Kurang lebih seperti itu,” kepalanya menga

  • Swing Partner   BAB 5 – KELUARGA

       Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt

  • Swing Partner   BAB 4 – CINTA YANG BUKAN UNTUKNYA

    Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu

  • Swing Partner   BAB 3 – AWAL YANG INDAH

    “Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung

  • Swing Partner   BAB 1 – RETAK

    Di usia pernikahannya yang kedua, suaminya selingkuh. Perempuan masa lalu suaminya yang datang kembali sebagai desainer perhiasan untuk perusahaan yang dibangun olehnya tetapi dikelola oleh suaminya. Penunjukannya sebagai desainer perusahaan miliknya murni atas inisiatif suaminy

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status