Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 5 – KELUARGA

Share

BAB 5 – KELUARGA

Author: Ough See Usi
last update publish date: 2026-05-08 11:00:28

 

 

 

Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn untuk memeriksa kandungannya.

 

Dia mengikat scarf polkadot kecil di lehernya untuk menyembunyikan lebam ungu kemerahan bekas cetakan tangan kanan Mas Aldi. Dia bisa menyamarkan sembab matanya dengan polesan makeup. Wajahnya yang pucat juga bisa ia tutupi dengan baik.

 

Mas Aldi sudah ada di meja makan saat ia turun. Wajahnya tersenyum menatap layar gawainya. Ia tengah berbalas pesan chat sambil sesekali terkekeh pelan. Dia tidak menyadari kehadiran istrinya. Atau  mungkin dia menyadari tetapi menganggapnya tidak ada.

 

Menarik kursi jauh dari suaminya, dia menunggu Bi Lastri menyajikan teh jahe madu untuknya.

“Selamat pagi, Non…,” Bi Lastri melirik beberapa detik dengan wajah terkejut.

“Pagi Bi. Siang nanti saya mau makan siang di rumah,” dia tersenyum menatap Bi Lastri, “Masakin lodeh kecombrang ya, Bi. Sudah lama saya tidak makan itu.”

 

Alis Bi Lastri naik.

“Non Rani makan siang di rumah?”

 

Mas Aldi mengangkat wajahnya dari gawainya. Menatap Bi Lastri dan istrinya bergantian. Kemudian kembali lagi menekuri layar gawainya sambil menyesap kopinya. Tidak peduli. Siang nanti dia sendiri akan makan siang dengan Cherryl. Dia membayangkan siang yang “panas” setelah makan siang nanti bersama wanita yang selalu menjadi ratu di hatinya.

 

“Iya Bi. Saya makan siang di rumah. Kangen makanan rumahan.”

 

Bi Lastri menatapnya dengan iba. Nonanya pasti kangen dengan masakan Mamanya. Dia mengabdi kepada keluarga Nona Rani sejak Nonanya masih kelas 3 SD. Dia yang menemani keseharian Nona Rani saat pulang sekolah sementara kedua orangtuanya masih sibuk beraktifitas di luar rumah.

 

Suasana hening menyelimuti ruang makan. Tidak ada percakapan seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda dari kedua majikannya. Bahkan tadi ia melihat, Tuan Aldi, keluar dari ruang tidur tamu di lantai bawah.

 

Dia sudah selesai. Sarapan pagi ini dia sangat tidak berselera sama sekali. Bukan karena roti panggangnya yang terlalu kering atau selainya terlalu manis atau telur rebusnya yang terlalu matang. Semuanya perfect seperti yang biasa Bi Lastri siapkan. Tidak, bukan itu. Tetapi karena keberadaan pria yang berstatus sebagai suaminya yang duduk di sana yang tengah asyik berbalas pesan chat. Tanpa sadar, ia mengelus pelan perutnya yang masih rata.

 

Dia melirik arloji Seikonya. Sudah saatnya dia pergi. Janji bertemu dengan dokter Ryn, sudah ia buat. Dan ia tidak mau dokter itu menunggu kedatangannya.

 

“Aku pergi,” mengambil tas tangan dan laptopnya tanpa menoleh kepada Mas Aldi.

“Kita ada meeting dengan klien dari Maldives,” suara Mas Aldi akhirnya terdengar.

“Aku tahu,” dia menjawab acuh.

“Jangan terlambat,” Mas Aldi memasukkan gawainya ke dalam saku jasnya.

“Aku tidak pernah terlambat,” tubuhnya menghilang di balik pintu utama.

 

Mas Aldi menatap kepergiannya dengan geram. Tetapi ia sedikit lega. Istrinya baik-baik saja setelah kejadian semalam. Wajahnya tetap sempurna seperti biasanya. Langkahnya tetap tegas seperti pembawaannya. Suaranya tetap tenang seperti selayaknya seorang Maharani Herlambang. Tidak ada drama pagi ini yang harus ia hadapi. 

 

Lalu lintas pagi ini padat lancar seperti biasa. Dia memasuki areal rumah sakit tempat Dokter Ryn praktek pagi itu. Seorang perawat di area pendaftaran mengantarnya ke ruang tunggu.

 

“Dokter Ryn masih ada pasien di dalam. Bu Rani dicek dulu tekanan darahnya ya sekalian timbang badan…,” perawat mengarahkan ke mejanya.

 

Matanya memanas menatap area ruang tunggu untuk dokter obgyn. Hanya dia yang datang sendirian tanpa ada yang mendampingi. Semuanya didampingi oleh suami atau minimal dengan ibunya. Dia sendirian. Nama besar keluarganya terasa menjadi beban sekarang.

 

Dulu dia begitu keras kepala saat Om Tara dan Om Pram menentang hubungannya dengan Mas Aldi. Bahkan Kak Ishaak pun menentangnya. Om Janu dan Tante Dian sudah meninggal dunia saat itu.  Sepertinya mereka menyelidiki Mas Aldi dan keluarganya. Itulah yang membuat mereka begitu menentang pernikahannya.

 

Dirinya saat itu masih muda. Sedang kasmaran. Hingga tidak mampu menerima nasehat. Tidak bisa menerima kenyataan buruk yang dipaparkan oleh mereka. Dia marah. Merasa dikekang kebebasannya. Merasa diatur hidupnya oleh mereka. Dia tidak terima akan hal itu. Dan memilih menentang mereka.

 

Matanya mengamati kukunya yang terawat baik. Dia sudah menyakiti keluarganya sendiri. Dan sekarang, dia tidak punya siapa-siapa untuk mengadu.

 

Dokter Ryn menatapnya dengan tatapan campuran prihatin dan penuh rasa ingin tahu. Dia sudah menceritakan semuanya kepada Dokter Ryn. Termasuk kejadian semalam yang membuatnya khawatir dengan kondisi janinnya.

 

“Kita lihat apakah dedek di dalam sana baik-baik saja dan sudah sebesar apa janin yang ada ya, Bu.”

 

Pemeriksaan USG Intravaginal membuatnya risih. Walau Dokter Ryn seorang wanita, tetap saja rasa risih itu ada.

 

“Ibu jangan tegang. Rileks supaya alatnya bisa masuk dengan mudah. TIdak apa-apa…,” suaranya lembut membujuk, “Ibu ingin lihat dedeknya kan? Ya… seperti itu… Nah, itu… Ibu bisa lihat sendiri di layar monitor. Ya, memang ada calon dedek di sana. Masih berupa embrio… Yang ini kantong plasentanya. Jumlahnya satu, artinya bukan kehamilan kembar ya Bu. Bentuknya bagus... Yang bentuknya seperti kacang, itu calon dedeknya Bu…”

 

Dia menatap layar monitor dengan mata menghangat. Anaknya. Selamanya akan ia klaim sebagai anaknya sendiri karena tidak ada cinta dari Mas Aldi. Mas Aldi tidak berhak tahu. Mas Aldi tidak berhak melihat anak Maharani Herlambang. Air matanya meleleh di pipinya. Terasa hangat.

 

“Eh, Ibu kenapa menangis?” Dokter Ryn mengeluarkan transvaginal probe.

 

Tangan Dokter Ryn melepas handscoon lalu membuangnya ke tempat sampah medis. Dia kembali ke sisi pasiennya. Mengelus dengan lembut lengannya.

 

“Jangan khawatir. Calon dedeknya itu fighter sejati. Dia kuat. Mungkin seperti mamanya yang juga kuat. Kalian bisa melalui ini, insyaa Allah. Semoga ada arah yang lebih baik dalam hubungan papa dan mamanya,” mata Dokter Ryn menyapu area leher pasiennya.

 

Sebagai perempuan, dia marah. Tidak semestinya perempuan diperlakukan seperti ini. Sebagai dokter kandungan, dia merasa miris. Ibu yang hamil muda mendapat kekerasan dari suaminya yang seharusnya melindungi dan menyayanginya.

 

Pemeriksaan dilanjutkan lagi. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai. Penampilannya sudah rapi saat ia duduk di ruang konsultasi.

 

Dokter Ryn menatapnya lama. Seperti yang sedang menimbang, memilah kalimat sebelum berbicara.  Hingga akhirnya Dokter Ryn bertanya yang membuat dirinya terkejut.

“Kak Ishaak sudah tahu?”

 

Terkejut, dia menatap Dokter Ryn.

“Dokter kenal Kak Ishaak?”

 

Dokter Ryn mengangguk sambil tersenyum.

“Dia sepupu jauh saya. Kita pernah bertemu di pernikahannya Kak Ishaak dengan Kak Gayatri. Tapi mungkin Ibu Rani lupa karena begitu banyaknya keluarga yang harus diingat.”

 

“Saya menghubungi Kak Ishaak begitu saya membaca nama Ibu sebagai pasien. Pesan Kak Ishaak, segera laporkan apapun hasil pemeriksaan Ibu.”

 

Pasien baru obgyn mendaftar dengan memakai nama sendiri dan mencantumkan nama suaminya berikut usia dan lama pernikahannya.

 

“Kerahasiaan pasien…,” dia tidak meneruskan ucapannya melihat Dokter Ryn menggelengkan kepalanya.

 

“Untuk kasus tertentu, saya akan menjaga kerahasiaan pasien saya. Tetapi untuk kasus Ibu, ma’af, saya harus melaporkannya kepada Kak Ishaak. KDRT ini bisa membahayakan Ibu dan calon dedeknya. Pelaku KDRT biasanya akan mengulangi perbuatannya bila ia merasa bahwa korbannya tidak mempunyai pelindung.”

 

“Saya… membuat keluarga saya kecewa dengan pernikahan ini.”

 

“Kak Ishaak sudah cerita. Keluarga memang kecewa. Tetapi keluarga tetaplah keluarga.”

 

“Saya…”

 

“Kalau Ibu membutuhkan visum untuk laporan ke pihak berwajib, saya siap membantu. Laporan medis saya bisa digunakan sebagai visum nantinya.”

 

“Saya… Terima kasih banyak.”

 

“Ibu Rani…”

 

Dia menggeleng.

“Panggil Rani saja. Ternyata kita masih keluarga.”

 

Dokter Ryn menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Tetap kuat. Karena calon dedek di dalam sana butuh kekuatan Mamanya untuk bertahan.”

 

Dadanya terasa sebak. Matanya terasa panas. Kali ini rasa haru menyeruak. Dia terharu karena dia masih mempunyai keluarga yang diam-diam selalu mengawasinya dari jauh. Meskipun ia pernah mengecewakan mereka. Tetapi mereka tidak menutup pintu untuknya.

 

 

 

 

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Swing Partner   BAB 23 – FONT HURUF COURIER NEW

    Kak Ishaak langsung mengambil gawainya.“Halo, Yan. Cari tahu dengan siapa Delta Steel bekerja sama setelah kontrak kerjasamanya dengan Paragon Persada diputus. Cari juga profil perusahaannya ya.”“Ran, lanjutkan,” Om Tara memerintah.Dia mengangguk dan mengarahkan pointer lasernya ke daftar nama perusahaan yang mengajukan proposal kerjasama dengan Paragon Persada.“Dari tujuh perusahaan yang mengajukan proposal, setelah kematian Papa dan Mama, dua perusahaan mengundurkan diri tanpa alasan. Tiga perusahaan diterima proposalnya. Dua perusahaan ditolak proposalnya. Om Pram masih ingat?” ia menatap Om Pram.Om Pram mengangguk. “Aku ingat semuanya. Itu saat-saat aku memegang Paragon Persada. Perusahaan yang ditolak karena tidak sesuai dengan visi keluarga kita yang mengutamakan kerjasama yang adil dan membawa kebaikan bagi orang banyak bukan bagi segelintir orang saja. Yang satu lagi karena scoop perusahaannya terlalu kecil untuk bekerjasama dengan Paragon. Itu akan menjadi beban kerja d

  • Swing Partner   BAB 22 – SKEMA DALAM TABUNG GAMBAR

    Pagi ini dia sudah membuat janji dengan Kak Ishaak untuk mampir di Paragon Persada. Dia sudah pulih. Sudah bisa berjalan dengan normal tanpa harus terbungkuk menahan ngilu di perut bagian bawahnya. Sebelum ke perusahaan milik Papanya, dia berziarah ke makam janin yang belum sempat tumbuh besar di dalam perutnya diantar oleh Tante Laras. Nama Sweatpea Ruby sudah tertulis pada nisannya. Dia sudah mengikhlaskannya. Dia tidak menangis lagi karena tahu, anaknya sudah baik-baik saja di alamnya yang sekarang. Dia meletakkan buket bunga Baby Breath di atas makam kecil Sweetpea. Melafalkan alfatihah sebelum pergi. Tante Laras memayunginya di tengah gerimis halus pagi ini. “Tante mau ikut ke Paragon?” tanyanya saat supir mulai melajukan kendaraan. “Tidak. Tante harus mengecek salon. Kamu yakin tidak mau creambath atau hairspa dulu di tempat Tante?” Tante Laras balik bertanya. Ia menggel

  • Swing Partner   BAB 21 – SERUPA

    14.20Kantor Pusat Sawit Pertiwi CPO CoTubuh sintalnya dibungkus blus kuning berbahan ringan dengan model sabrina. Memamerkan leher jenjang dan sebagain besar bahunya yang putih. Totebag bundar putih dengan gambar Pikachu edisi terbatas menggantung di bahunya. Langkahnya pasti menuju ke lift khusus eksekutif sebelum dihentikan oleh petugas.“Ma’af, Ibu hendak kemana dan bertemu siapa?” tanya petugas dengan santun.Wanita itu mengangkat dagunya. Menatap remeh petugas di hadapannya.“Saya sudah ada janji dengan CEO perusahaan ini.”“Silahkan hubungi frontdesk untuk menulis di buku tamu, Bu.”“Tidak perlu. Saya sudah ditunggu oleh Tuan Ananta di ruangannya. Minggir.”Perempuan itu menarik tubuh petugas itu untuk menepi dari jalannya. Mendorongnya ke samping membuat petugas itu nyaris terjatuh. Tubuh perempuan itu lenyap saat pintu lift menutup.Menggunakan handy talkie-nya, petugas itu melapor kepada atasannya. Sekretaris CEO langsung berdiri begitu melihat perempuan itu keluar dari l

  • Swing Partner   BAB 20 – PESAN CHAT ANCAMAN

    Mertua laki-lakinya  membuat satu pesan chat untuknya. Lainnya adalah pesan chat dari Mama Ratna. Papa Ananta_Aku tidak akan melupakan penghinaan yang dilakukan oleh kedua tantemu itu kepada kami. Apalagi dengan menyebut anak kami laki-laki mokondo. Sepertinya kedua tentemu harus diberi paham siapa kami. Aldi terlahir kaya. Kami punya banyak harta. Kami punya banyak bisnis. Dan anak kami adalah anak yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Dia bekerja mencari nafkah. Bukan bermalas-malasan di rumah.  Jangan kau lupakan itu, Rani. JANGAN JADI ISTRI YANG DURHAKA!_Mama Ratna_Jahat kamu Rani! Kau anggap apa kami? Kamu tidak berterus terang siapa dirimu. Kau bilang, Papamu Bagas adalah pegawai BUMN dan Mamamu Yumna adalah ibu rumah tangga! Kau palsukan identitas mereka untuk bisa masuk ke dalam keluarga kami! Menantu kurang ajar!_Mama Ratna_Cabut gugatanmu di pengadilan agama. Juga tarik kembali BAP Aldi di polda. Kami akan mema’afkanmu

  • Swing Partner   BAB 19 – MEREKA TERLIBAT

    Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. .  Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu, setelah dirinya tidak berada di ruang tunggu itu, Papa Ananta mengancam dua orang petugas yang mengawal Aldi. “Kalau sampai apa yang terjadi di sini sampai bocor keluar, maka aku akan tahu bahwa kalian lah pelakunya. Rahasiakan semua ucapan dan apa yang terjadi barusan!”“Atas dasar apa Bapak mengancam kami?” “Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan!” tangannya meraih dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyodorkannya kepada petugas. Kedua orang petugas itu tampak gusar. Sama sekali tidak menyentuh uang yang disodorkan oleh Papa Ananta.  Mereka menarik tubuh Aldi untuk berdiri dengan kasar. Memasan

  • Swing Partner   BAB 18 – MENGUAK MASA LALU

    “Apa yang dikatakan Papa dan Mamamu saat kamu menanyakan siapa yang membunuh mereka?” tanya Om Pram.Dirinya menggeleng.“Kata Papa, urusan Papa dan Mama di dunia sudah selesai. Kita yang harus menyelesaikannya…” matanya menatap pada satu titik di tembok berwarna krem pucat di depan sana, “Lalu mereka pergi. Sweetpea Ruby dalam gendongan Mama.”Om Pram mengelus punggungnya. Kepalanya mengangguk.“Itu artinya, sekarang adalah tugas kita untuk menguak misteri kecelakaan beruntun itu…”“Om?” masih memandangi titik imajiner pada tembok.“Ya?”“Siapa saja yang duduk semeja dengan Papa dan Mama pada malam itu? Mereka sedang gala dinner untuk acara resmi kan?”Om Pram terperanjat. Om Tara yang sedang berbincang pelan dengan Tante Laras seketika menoleh kepadanya.“Kenapa kamu menanyakan hal itu?” Om Pram mengernyit.“Bisa jadi kan? Otak pembunuhnya duduk semeja dengan Papa dan Mama? Mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status