LOGINPerjalanan ke gedung The Esthetic Jewelry lancar tanpa hambatan apapun. Dia sudah menerima laporan tentang progress pembuatan reproduksi bross milik Keluarga Petralis. Beberapa bagian sudah diselesaikan. Logo Petralis dengan ukiran pada huruf P-nya adalah bagian yang terumit. Belum selesai prosesnya hingga saat mereka tiba.“Aku sangat terkesan dengan proses pembuatannya yang cepat dan sangat presisi per bagiannya,” Orion Petralis menyingkirkan kaca pepbesar berbentuk persegi panjang untuk memudahkannya melihat detil pengerjaan divisi produksi.“Kau benar. Aku bisa betah duduk berjam-jam hanya untuk mengamati bagaimana mereka bekerja. Memanaskan logam-logam mulia itu lalu membentuknya menjadi beberapa bagian kecil. Digiling, dipukul. Digiling lagi hingga mendapat ukuran diameter yang diinginkan. Kemudian mulai dibentuk dengan hati-hati,” Lintang tersenyum lebar.“Kakak Se
Menjelang sore, semua kegiatannya memeriksa kafe miliknya di beberapa daerah elit Jakarta selesai. Hanya beberapa tempat yang memberi keuntungan. Beberapa tempat impas antara pemasukan dan pengeluarannya. Dan banyak yang sepi dari pengunjung.Bagi dia dan suami, tempat-tempat miliknya yang sepi dari pengunjung bukanlah kerugian. Toh mekanismenya, mereka mendapatkan untung dari mengelola tempat usaha yang seolah adalah milik mereka. Padahal, semua operasional ada yang membiayainya. Tempat yang sepi dan jauh dari keuntungan tetap terlihat keren, bersinar dan berkelas karena ada transaksi yang tak terlihat di permukaan. Transaksi besar. Permainan kakap dan kelas tinggi yang tidak semua orang bisa melihatnya. Uang bernilai milyaran berputar di tempat-tempat yagn terlihat sepi pengunjung itu. Arus cash flow-nya cepat hingga tak terlacak siapapun.Dan dirinya sebagai pengelola, mendapatkan fee 2% dari seti
Nyonya Ratna baru saja keluar dari kafe miliknya. Kafe dengan konsep keluarga yang berada di kawasan mall modern di Jakarta Selatan. Di kafe milik ini, perputaran uang lumayan menggairahkan daripada di kafe miliknya di tempat lain.Dia baru saja memeriksa laporan keuangan mingguan di sana. Semua berjalan lancar. Semua terlihat memuaskan. Semuanya terasa lancar kecuali tadi saat suaminya memberitahu bahwa orang yang diutus untuk menguntit menantunya tidak bisa dihubungi dan belum memberi laporan.Geram. Kenapa yang berhubungan dengan menantunya itu selalu menjadi berantakan urusannya? Sebelum nama belakang menantunya terkuak sebagai “Herlambang yang itu” urusan dengan menantunya selalu lancar dan baik-baik saja. Bahkan saat dia meminta liburan ke Pattaya pun tanpa banyak bicara, menantunya memberi tiket dan akomodasi plus uang saku selama seminggu di sana bersama suaminya.Menantunya yang ia nilai kaya
Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan santun.Dia terdiam. Kedua tangannya saling meremat di atas pangkuannya. Sementara Orion sesekali melirik ke arahnya.Mobilnya yang dikemudikan Lintang berada di depan mereka. Sementara mobil paling depan adalah mobil pengawalnya sebagai pembuka dan pemandu jalan, sementara mobil paling belakang adalah mobil pengawal Orion.Pak Darwis tidak berada di rombongan mereka. Dia harus berada di Prisma Glass karena dipanggil oleh Om Tara.Siang itu cuaca cerah. Langitnya begitu biru begitu mereka memasuki areal pemakaman.“Sudah?” suara berat Orion membuatnya tersentak.
“Maharani?” suara Orion terdengar berat tetapi menenangkan.“Ya?” dia yang berjalan di sampingnya menoleh.“Kau sudah tidak apa-apa? Kau sudah baik-baik saja?” Orion meneliti matanya.“Aku… sepertinya begitu,” dia mengangguk, mencoba tersenyum dengan canggung.Pak Darwis dan Mr. Binochi mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan memberi privacy time kepada mereka berdua.Orion Petralis dan dirinya menuruni tangga. Orion bertindak sangat menjaganya.“Aku senang kau sudah baik-baik saja. Kau membuat kami semua cemas. Ma’afkan aku karena membuat kita semua berhenti di depan pintu kamar itu. Aku lupa…,” Orion Petralis mengusap tengkuknya.Begitu tangannya menyentuh susuran tangga yang melengkung, suara Orion lenyap. Kenangan malam itu datang kembali. Kali ini lebih tajam.&nbs
“Bukan begitu… Ini tidak seperti itu…,” gugup.“Ini tidak seperti itu?” alis Orion terangkat sebelah.“Maksudku, ini tidak seperti yang kau bayangkan…,” matanya mengerjap lagi.“Jadi… kau tahu apa yang sedang kubayangkan? Memangnya apa yang sedang kubayangkan?” suara Orion terdengar rendah dan berat.Dahinya berkerut. Bingung hendak menjawab apa. Karena setiap ia menjawab pertanyaan Orion, jawabannya akan dilemparkan lagi kepadanya dalam bentuk pertanyaan yang mendesak.“Well?” Orion lagi-lagi mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban.“Mana kutahu apa yang sedang kau bayangkan, Mr. Petralis,” akhirnya dirinya gusar karena terus didesak pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.Tanpa sadar, dia mendorong dada Orion untuk menjauh. Tetapi kedua tangannya masih berada dalam genggaman Orion.Orion menyentak pelan cekalan tangannya. Dia yang sudah mundur setengah langkah mendadak maju karena sentakan pada tangannya. Kedua alisnya terangkat dengan wajah mendengak menatap wajah bertubuh
Usai makan malam, Lintang tampak berbeda. Menuruni tangga dengan berpakain batik slim fit lengan pendek. “Kemana?” tanyanya sambil menyelonjorkan kakinya di sofa. “Ke bandara. Jemput Orion dan rombongannya. Mau ikut?” tanya Lintang.“Jan
Sarapan di rumah utama bersama Om Tara, Tante Laras dan Lintang terasa hening setelah keputusan yang diambil semalam. Semua dengan berat hati menyetujui karena memang tidak ada cara lain untuk memancing Arya Surya keluar dari tirainya.“Kamu serius, Ran?” Om Tara menanyakan lagi.Dia mengangguk.“A
Suasana makan malam di rumah utama meriah dengan adanya Lintang. Kak Ishaak dan Kak Gayatri datang terlambat karena kemacetan lalu lintas akibat hujan deras malam ini.Papan tempat skema yang dibuatnya dikeluarkan lagi dari ruang kerja Om Tara ke ruang tengah. Banyu yang mengawali pembicaraan seri
Piring-piring kotor sudah disingkirkan. Makanan penutup terhidang di hadapan mereka. Musik dengan nada lambat mendayu menjadi latar ruangan.“Mbak Rani,” Lintang memanggilnya saat dirinya tengah serius menatap garnish







