Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 27 - PENGUNTIT

Share

BAB 27 - PENGUNTIT

Author: Ough See Usi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-12 15:46:54

Sarapan di rumah utama bersama Om Tara, Tante Laras dan Lintang terasa hening setelah keputusan yang diambil semalam. Semua dengan berat hati menyetujui karena memang tidak ada cara lain untuk memancing Arya Surya keluar dari tirainya.

“Kamu serius, Ran?” Om Tara menanyakan lagi.

Dia mengangguk.

“Aku serius, Om. Aku anak dari Papa Bagaskara Herlambang. Sosok yang dikenal lugas dan pemberani. Aku sebagai anaknya bangga pada Papa. Dan ingin seperti Papa.”

“Tapi tidak dengan gegabah, Sayang,” Tant
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Swing Partner   BAB 37 – BANGKAI YANG TERCIUM AROMANYA

    Menjelang sore, semua kegiatannya memeriksa kafe miliknya di beberapa daerah elit Jakarta selesai. Hanya beberapa tempat yang memberi keuntungan. Beberapa tempat impas antara pemasukan dan pengeluarannya. Dan banyak yang sepi dari pengunjung.Bagi dia dan suami, tempat-tempat miliknya yang sepi dari pengunjung bukanlah kerugian. Toh mekanismenya, mereka mendapatkan untung dari mengelola tempat usaha yang seolah adalah milik mereka. Padahal, semua operasional ada yang membiayainya. Tempat yang sepi dan jauh dari keuntungan tetap terlihat keren, bersinar dan berkelas karena ada transaksi yang tak terlihat di permukaan. Transaksi besar. Permainan kakap dan kelas tinggi yang tidak semua orang bisa melihatnya. Uang bernilai milyaran berputar di tempat-tempat yagn terlihat sepi pengunjung itu. Arus cash flow-nya cepat hingga tak terlacak siapapun.Dan dirinya sebagai pengelola, mendapatkan fee 2% dari seti

  • Swing Partner   BAB 36 – MALL SIANG ITU

    Nyonya Ratna baru saja keluar dari kafe miliknya. Kafe dengan konsep keluarga yang berada di kawasan mall modern di Jakarta Selatan. Di kafe milik ini, perputaran uang lumayan menggairahkan daripada di kafe miliknya di tempat lain.Dia baru saja memeriksa laporan keuangan mingguan di sana. Semua berjalan lancar. Semua terlihat memuaskan. Semuanya terasa lancar kecuali tadi saat suaminya memberitahu bahwa orang yang diutus untuk menguntit menantunya tidak bisa dihubungi dan belum memberi laporan.Geram. Kenapa yang berhubungan dengan menantunya itu selalu menjadi berantakan urusannya? Sebelum nama belakang menantunya terkuak sebagai “Herlambang yang itu” urusan dengan menantunya selalu lancar dan baik-baik saja. Bahkan saat dia meminta liburan ke Pattaya pun tanpa banyak bicara, menantunya memberi tiket dan akomodasi plus uang saku selama seminggu di sana bersama suaminya.Menantunya yang ia nilai kaya

  • Swing Partner   BAB 35 – DEEP TALK

    Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan santun.Dia terdiam. Kedua tangannya saling meremat di atas pangkuannya. Sementara Orion sesekali melirik ke arahnya.Mobilnya yang dikemudikan Lintang berada di depan mereka. Sementara mobil paling depan adalah mobil pengawalnya sebagai pembuka dan pemandu jalan, sementara mobil paling belakang adalah mobil pengawal Orion.Pak Darwis tidak berada di rombongan mereka. Dia harus berada di Prisma Glass karena dipanggil oleh Om Tara.Siang itu cuaca cerah. Langitnya begitu biru begitu mereka memasuki areal pemakaman.“Sudah?” suara berat Orion membuatnya tersentak.

  • Swing Partner   BAB 34 – TERUS MEMBAYANG

    “Maharani?” suara Orion terdengar berat tetapi menenangkan.“Ya?” dia yang berjalan di sampingnya menoleh.“Kau sudah tidak apa-apa? Kau sudah baik-baik saja?” Orion meneliti matanya.“Aku… sepertinya begitu,” dia mengangguk, mencoba tersenyum dengan canggung.Pak Darwis dan Mr. Binochi mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan memberi privacy time kepada mereka berdua.Orion Petralis dan dirinya menuruni tangga. Orion bertindak sangat menjaganya.“Aku senang kau sudah baik-baik saja. Kau membuat kami semua cemas. Ma’afkan aku karena membuat kita semua berhenti di depan pintu kamar itu. Aku lupa…,” Orion Petralis mengusap tengkuknya.Begitu tangannya menyentuh susuran tangga yang melengkung, suara Orion lenyap. Kenangan malam itu datang kembali. Kali ini lebih tajam.&nbs

  • Swing Partner   BAB 33 – FEELS LIKE HOME

    “Bukan begitu… Ini tidak seperti itu…,” gugup.“Ini tidak seperti itu?” alis Orion terangkat sebelah.“Maksudku, ini tidak seperti yang kau bayangkan…,” matanya mengerjap lagi.“Jadi… kau tahu apa yang sedang kubayangkan? Memangnya apa yang sedang kubayangkan?” suara Orion terdengar rendah dan berat.Dahinya berkerut. Bingung hendak menjawab apa. Karena setiap ia menjawab pertanyaan Orion, jawabannya akan dilemparkan lagi kepadanya dalam bentuk pertanyaan yang mendesak.“Well?” Orion lagi-lagi mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban.“Mana kutahu apa yang sedang kau bayangkan, Mr. Petralis,” akhirnya dirinya gusar karena terus didesak pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.Tanpa sadar, dia mendorong dada Orion untuk menjauh. Tetapi kedua tangannya masih berada dalam genggaman Orion.Orion menyentak pelan cekalan tangannya. Dia yang sudah mundur setengah langkah mendadak maju karena sentakan pada tangannya. Kedua alisnya terangkat dengan wajah mendengak menatap wajah bertubuh

  • Swing Partner   BAB 32 – PERINGATAN YANG TAK DIDENGAR DENGAN BAIK

    Mereka semua sampai di kamar utama. Pelayan membersihkan kamar ini dengan baik. Tidak ada debu, jendela besar juga dibuka untuk menukar hawa selama AC tidak dinyalakan. Balkon yang menghadap kolam renang di bawahnya juga terlihat rapi dengan tanaman-tanaman sukulen juga pakis yang terawat dengan baik. “Kamar kalian menarik,” mata Orion menatap sekelilingnya.“Yang mana, Mbak?” Lintang terlihat kebingungan.“Dinding yang itu. Tekan dan geser. Itu walk in closet-nya Aldi. Terhubung dengan area toilet,” dia menjelaskan.“Wow, dinding ini ternyata pintu rahasia?” Lintang tertawa. Tawanya kemudian berhenti saat lampu di dalam menyala otomatis begitu pintu terbuka.“Ini serius, Mbak? Ini sih sudah seperti butik yang dipindah ke dalam kamar,” Lintang melangkah ke dalam, “Apa ini tidak berlebihan, Mbak?”“Seleranya dia seperti itu. Mana mau dia memakai baju yang bukan brand yang ada di majalah mode?”

  • Swing Partner   BAB 22 – SKEMA DALAM TABUNG GAMBAR

    Pagi ini dia sudah membuat janji dengan Kak Ishaak untuk mampir di Paragon Persada. Dia sudah pulih. Sudah bisa berjalan dengan normal tanpa harus terbungkuk menahan ngilu di perut bagian bawahnya. Sebelum ke perusahaan milik Papanya, dia berziarah ke makam ja

  • Swing Partner   BAB 21 – SERUPA

    14.20Kantor Pusat Sawit Pertiwi CPO CoTubuh sintalnya dibungkus blus kuning berbahan ringan dengan model sabrina. Memamerkan leher jenjang dan sebagain besar bahunya yang putih. Totebag bundar putih dengan gambar Pikachu edisi terbatas menggantung di bahunya. Langkahnya pasti menuju ke lift khusu

  • Swing Partner   BAB 20 – PESAN CHAT ANCAMAN

    Mertua laki-lakinya  membuat satu pesan chat untuknya. Lainnya adalah pesan chat dari Mama Ratna. Papa Ananta_Aku tidak akan melupakan penghinaan yang dilakukan oleh kedua tantemu itu kepada kami. Apalagi dengan menyebut anak kami laki-laki mokondo. Sepertinya kedua

  • Swing Partner   BAB 19 – MEREKA TERLIBAT

    Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. .  Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status