LOGIN“Lalu darimana kau mendapatkan info?” Ananta memicingkan matanya.“Aku menugaskan Agung masuk ke tempat mereka berkumpul untuk mencuri dengar. Warung nasi di belakang mabes.”“GILA KAU, MA! AGUNG MASIH KECIL.”“Dia bukan anak kecil lagi, Pa! Dia tahu tanggung jawab. Dia tahu kalau setiap orang harus andil berperan dengan kondisi seperti ini. Wajahnya tidak dikenali oleh siapapun. Dan dia berhasil menghimpun banyak informasi di sana.”Jeda lagi.“Dia lebih berguna daripada Aldi…,” suara Ananta terdengar aneh bahkan untuk dirinya sendiri, seperti penuh kerinduan terhadap anak yang selalu tidak dihiraukan olehnya karena kesibukannya.“Tentu saja. Dito dan Agung adalah anak hasil didikanku. Sedangkan Aldi adalah anak hasil didikanmu. Kasih sayangmu tercurah hanya kepada Aldi. Sedangkan kepada kedua adiknya, kau seperti setengah hati menyayanginya.”“Bukan begitu, Ma. Aku tidak pernah ber…”“Diamlah, Pa. Simpan kalimat pembelaanmu itu. Kami tidak membutuhkannya!”Mereka terdiam lagi. Kali
“Nona, ma’afkan kami tidak bisa menjaga Nona dengan baik,” Anwar menunduk.Umar di sampingnya, dengan tangan dalam balutan gips, menganggukkan kepalanya.“Seharusnya, saat saya memberitahukan Nona tentang mobil-mobil besar di belakang kita, seharusnya kita bertukar posisi. Seharusnya, Nona berada di depan kami.”Dia mengeleng.“Nggak, Wan. Ada mobil pickup putih yang langsung memotong jalurku. Diikuti dengan mobil boks besar yang ikut memotong jalur. Kita berada di kawasan satu arah jalan. Tidak ada tempat putar balik di kawasan itu. Sengaja mereka memilih tempat eksekusi kematianku berada di kawasan satu arah agar lebih mudah pelaksanaannya dan ditutupi dari para saksi mata dengan menggunakan mobil-mobil boks besar yang menghalangi pandangan pengguna jalan dari jalur sebelah.”Dia melanjutkan lagi.“Berhenti menyalahkan diri kalian. Situasi kita saat itu terdesak. Tidak ada jalan keluar. Jalan di depanku dihadang oleh pickup putih dan mobil boks besar yang sengaja berjalan di jalur k
BAB 80 – PEMBALASAN Tapi temannya tidak tertawa. Mata temannya menatap lurus pada matanya. Telunjuknya terarah kepadanya.“Para pria dari Italia itu tidak akan memakaikanmu ‘Kutang Dari Neraka’ seperti yang dipakai oleh Wawan. Khusus untukmu ada perlakuan khusus. Spesial untuk algojo yang dikirim untuk Nona Maharani. Julukanmu ‘Hantu Bayangan’, kan?” dia berhenti sejenak untuk menikmati kilatan terkejut dari mata dan wajah Toni.“Kami sudah mengetahuinya. Catatan-catatan tentangmu baru saja masuk. Info-info hasil ‘prestasimu’ juga baru masuk. Ada salam dari keluarga yang anak perempuannya kau buat cacat seumur hidup agar permintaan Ananta dituruti oleh ayah anak itu. Alih nama lahan di Agam, Sumatera Barat.”Tengkuknya merinding. Dia ingat. Ingat semuanya. Keluarga sederhana dengan tanah luas di Kabupaten Agam. Pekerjaan kotornya untuk memuluskan kepemilikan lahan sawit untuk Arya Surya lewat Ananta. Anak perempuan umur 8 tahun yang ia culik dari sekolahnya. Ia buat panggilan video
Semua Keluarga Herlambang dan Kak Ishaak berkumpul di ruang rawat inap yang baru. Pihak rumah sakit memindahkannya ke ruang rawat inap di ruangan seberang yang kebetulan kosong. Tante Amara dan Embun sibuk memindahkan barang-barangnya. Dia dikelilingi oleh para wanita Herlambang. Sementara para Herlambang pria dan Orion tengah menonton rekaman CCTV rumah sakit yang mengikuti alur Toni. Lorenzo mendapatkannya setelah ia meminta kepada direktur rumah sakit. Berdua dengan Lintang mereka menuju ruang kendali CCTV. Sekarang, salinan itu sudah ada dalam bentuk flashdisk dan sedang diputar di layar TV. “That’s him,” Lorenzo menunjuk layar TV yang menampakkan seorang pria bertopi hitam dan berjaket hitam seperti sedang menunggu di kursi tunggu di dekat loket pendaftaran. “Penyamarannya hebat…,” Om Tara menggelengkan kepalanya.“Itu para istri dan Embun keluar dari lift. Dia menatap
Dia berjalan sambil melirik ke arah CCTV. Kemudian menatap pantulannya dirinya di pilar lobby yang dilapisi metal chrome. Penampilannya terlihat meyakinkan sebagai perawat rumah sakit elit. Terlihat profesional, berdedikasi dan cekatan. Dia tersenyum pada pantulannya pada pilar. Untuk tugas ini, selama dua jam terakhir, sementara Nyonya Ratna dan Tuan Ananta mempersiapkan keperluan tugas ini, dia menghabiskan waktu untuk menonton cuplikan film ataupun drama tentang rumah sakit hanya untuk melihat bagaimana perawat pria bertingkah laku di koridor ataupun di kamar pasien.Dirinya selalu totalitas dalam berperan. Itu sebabnya, kegagalannya 0%. Dia selalu berhasil menjalankan misi. Uang di rekeningnya semakin gendut. Dia mengakui kecerdasan otak Nyonya Ratna dalam merancang adegan, merencanakan detil. Tanpa Nyonya Ratna, Tuan Ananta bukanlah apa-apa. Karena memang dia tidak bisa apa-apa. Yang dia lihai hanya urusan bertukar peluh dan lendir dengan para daun muda.Dia tidak mau menbantu A
Lintang tampak terkejut.“Aku? Kok bisa? Aku tidak pernah membocorkan rencana keberangkatanku ke Milan dengan siapapun,” Lintang menatap semua orang.”“Kamu yakin, Lin?” tanya Tante Laras.“Yakin, Ma. Lintang nggak membicarakan rencanan keberangkatan Lintang ke siapa pun.”Orion menepuk lengan Lintang yang duduk di sebelahnya.“Tidak perlu memberitahukan ke siapapun tentang rencana keberangkatanmu pun orang-orang tertentu yang memang sudah mengincar Keluarga Herlambang untuk mencari celah kelengahan kalian, akan bisa dilakukan. Kau berangkat dengan pesawat komersil kan? Walaupun kau memilih menggunakan penerbangan first class tapi namamu tetap akan tercatat di daftar manifest maskapai yang bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Ananta mampu melakukannya. Apalagi dia dibekingi oleh Arya Surya. Jelas, mereka mampu untuk mengintip nama Herlambang di maskapai manapun.”Wajah Lintang menegang.“Aku memesan tiket sehari sebelum rencana keberangkatanku.”“Binggo!” Orion menepuk peg
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu
“Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka







