LOGIN“Maharani?” suara Orion terdengar berat tetapi menenangkan.
“Ya?” dia yang berjalan di sampingnya menoleh.
“Kau sudah tidak apa-apa? Kau sudah baik-baik saja?” Orion meneliti matanya.
“Aku… sepertinya begitu,” dia mengangguk, mencoba tersenyum dengan canggung.
Pak Darwis dan Mr. Binochi mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan memberi privacy time kepada mereka
Nyonya Ratna baru saja keluar dari kafe miliknya. Kafe dengan konsep keluarga yang berada di kawasan mall modern di Jakarta Selatan. Di kafe milik ini, perputaran uang lumayan menggairahkan daripada di kafe miliknya di tempat lain.Dia baru saja memeriksa laporan keuangan mingguan di sana. Semua berjalan lancar. Semua terlihat memuaskan. Semuanya terasa lancar kecuali tadi saat suaminya memberitahu bahwa orang yang diutus untuk menguntit menantunya tidak bisa dihubungi dan belum memberi laporan.Geram. Kenapa yang berhubungan dengan menantunya itu selalu menjadi berantakan urusannya? Sebelum nama belakang menantunya terkuak sebagai “Herlambang yang itu” urusan dengan menantunya selalu lancar dan baik-baik saja. Bahkan saat dia meminta liburan ke Pattaya pun tanpa banyak bicara, menantunya memberi tiket dan akomodasi plus uang saku selama seminggu di sana bersama suaminya.Menantunya yang ia nilai kaya
Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan santun.Dia terdiam. Kedua tangannya saling meremat di atas pangkuannya. Sementara Orion sesekali melirik ke arahnya.Mobilnya yang dikemudikan Lintang berada di depan mereka. Sementara mobil paling depan adalah mobil pengawalnya sebagai pembuka dan pemandu jalan, sementara mobil paling belakang adalah mobil pengawal Orion.Pak Darwis tidak berada di rombongan mereka. Dia harus berada di Prisma Glass karena dipanggil oleh Om Tara.Siang itu cuaca cerah. Langitnya begitu biru begitu mereka memasuki areal pemakaman.“Sudah?” suara berat Orion membuatnya tersentak.
“Maharani?” suara Orion terdengar berat tetapi menenangkan.“Ya?” dia yang berjalan di sampingnya menoleh.“Kau sudah tidak apa-apa? Kau sudah baik-baik saja?” Orion meneliti matanya.“Aku… sepertinya begitu,” dia mengangguk, mencoba tersenyum dengan canggung.Pak Darwis dan Mr. Binochi mengikuti dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Seakan memberi privacy time kepada mereka berdua.Orion Petralis dan dirinya menuruni tangga. Orion bertindak sangat menjaganya.“Aku senang kau sudah baik-baik saja. Kau membuat kami semua cemas. Ma’afkan aku karena membuat kita semua berhenti di depan pintu kamar itu. Aku lupa…,” Orion Petralis mengusap tengkuknya.Begitu tangannya menyentuh susuran tangga yang melengkung, suara Orion lenyap. Kenangan malam itu datang kembali. Kali ini lebih tajam.&nbs
“Bukan begitu… Ini tidak seperti itu…,” gugup.“Ini tidak seperti itu?” alis Orion terangkat sebelah.“Maksudku, ini tidak seperti yang kau bayangkan…,” matanya mengerjap lagi.“Jadi… kau tahu apa yang sedang kubayangkan? Memangnya apa yang sedang kubayangkan?” suara Orion terdengar rendah dan berat.Dahinya berkerut. Bingung hendak menjawab apa. Karena setiap ia menjawab pertanyaan Orion, jawabannya akan dilemparkan lagi kepadanya dalam bentuk pertanyaan yang mendesak.“Well?” Orion lagi-lagi mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban.“Mana kutahu apa yang sedang kau bayangkan, Mr. Petralis,” akhirnya dirinya gusar karena terus didesak pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.Tanpa sadar, dia mendorong dada Orion untuk menjauh. Tetapi kedua tangannya masih berada dalam genggaman Orion.Orion menyentak pelan cekalan tangannya. Dia yang sudah mundur setengah langkah mendadak maju karena sentakan pada tangannya. Kedua alisnya terangkat dengan wajah mendengak menatap wajah bertubuh
Mereka semua sampai di kamar utama. Pelayan membersihkan kamar ini dengan baik. Tidak ada debu, jendela besar juga dibuka untuk menukar hawa selama AC tidak dinyalakan. Balkon yang menghadap kolam renang di bawahnya juga terlihat rapi dengan tanaman-tanaman sukulen juga pakis yang terawat dengan baik. “Kamar kalian menarik,” mata Orion menatap sekelilingnya.“Yang mana, Mbak?” Lintang terlihat kebingungan.“Dinding yang itu. Tekan dan geser. Itu walk in closet-nya Aldi. Terhubung dengan area toilet,” dia menjelaskan.“Wow, dinding ini ternyata pintu rahasia?” Lintang tertawa. Tawanya kemudian berhenti saat lampu di dalam menyala otomatis begitu pintu terbuka.“Ini serius, Mbak? Ini sih sudah seperti butik yang dipindah ke dalam kamar,” Lintang melangkah ke dalam, “Apa ini tidak berlebihan, Mbak?”“Seleranya dia seperti itu. Mana mau dia memakai baju yang bukan brand yang ada di majalah mode?”
Mereka makan setelah dia menyuruh pelayan untuk menyingkirkan kursi yang biasa diduduki Aldi jauh-jauh dari pandangannya. Dia juga memerintahkan untuk menurunkan dan membuang semua foto-fotonya bersama Aldi yang ada di ruang tengah.“Mengubur masa lalu?” Lintang tersenyum.“Mengubur dan melupakan masa lalu.”“Kedengarannya hebat. Tapi rasanya masih terasa menyakitkan kan? Aku saja sampai detik ini masih merasa nyeri yang tiba-tiba saja hadir begitu saja,” Orion Petralis tanpa malu berkata jujur.“Wajar. Namanya juga patah hati,” Mr. Binochi mengambil lagi gulai cumi, “My God. Kenapa makanan ini terasa enak sekali? Aku belum pernah merasakan rasa dan aroma seperti ini sebelumnya.”“Apalagi karena sudah ditipu habis-habisan…,” Lintang tanpa merasa berdosa sama sekali berucap seperti itu.Dia dan Orion Petralis menatap sebal kepad







