LOGINRUANG RAWAT INAP VIPSuasana di ruang tengah terasa menegangkan. Pak Sigit duduk di kursi yang menghadap mereka semua.“Kami sudah menggunakan lie detector untuk memeriksa para petugas yang berjaga malam itu. Petugas piket di depan, alat detektornya tidak berbunyi saat mereka memberikan keterangan. Berbeda dengan para petugas yang ada di dalam,” Pak Sigit menatap mereka semua, “Salah satu dari mereka, saya bawa kemari.”“Minta dia masuk, Pak. Biar dia ceritakan sendiri kronologi versinya,” Kak Abdi menatap Pak Sigit.Pak Sigit mengangguk lalu mengambil gawainya.“Dia petugas piket depan atau piket dalam?” tanya Om Tara untuk memperjelas.“Piket luar,” tangan Pak Sigit merogoh sakunya, “Ini flashdisk dari CCTV di areal TKP. Semuanya disemprot cat hitam. Tidak ada gambar, hanya suara saja. Bahkan areal parkir dan taman pun tak luput dari semprotan cat hitam pada bagian lensa kameranya.”Suara pintu geser dibuka. Seorang pria berbaju kaos seragam cokelat dengan wajah kuyu, lingkar mata s
Cherryl mulai mengerti. Bagi Jenderal, dia adalah barang titipan berharga yang diinginkan Tuan Besar entah siapa. Itu sebabnya, Jenderal mengerahkan orang-orang kepercayaannya yang bisa bebas bergerak di dalam rumah tahanan yang dijaga ketat.Taruhannya, selain reputasi Jenderal juga pasti nyawa Jenderal itu sendiri. Sepertinya, Tuan Besar memegang kartu as si Jenderal sehingga permintaannya yang sangat sulit pun harus diwujudkan.Dia mulai merasa dirinya istimewa. Sampai Cherryl melihat sendiri kamarnya di rumah besar itu. Dia salah besar.Dia kira dia istimewa ternyata tidak seistimewa itu.Dia pikir, dia akan ditempatkan di salah satu ruang tidur tamu yang sesuai dengan kemewahan rumah ini, dengan view kamar yang menghadap ke arah taman yang indah. Ternyata dia ditempatkan di area belakang rumah. Area servis. Area kerja para pelayan dan pekerja di rumah ini. Dia disamakan dengan para pembantu, supir dan tukang kebun! Kurang ajar betul!Kamarnya hanya 3x3 m2. Hanya ada jendela a
Orion masih memegangi selimut linennya sambil menatap Lintang. Dia berbicara dengan Bahasa Italia.“Ide siapa yang menyuruh kakak sepupumu membangunkanku?”Lintang mengangkat kedua bahunya.“Dia sendiri.”“Benarkah?” senyum lebar tampak pada wajah bangun tidurnya.“Hmm.”Orion meliriknya.“Maharani, terima kasih ya sudah bangunkan aku.”Dia mengangguk canggung.“Cih!” Lintang berdecih.“Kenapa sih?” Orion meantap jengkel.“Cepat mandi. Lorenzo sudah menyiapkan air mandimu. Kita sarapan. Ada sesuatu yan harus kita bahas,” raut wajah Lintang serius.Orion menatap Lintang. Dia merasakan sesuatu yang genting pada raut wajahnya. Juga pada sepupunya yang terlihat gelisah.“Maharani, bisakah kau menungguku di ruang tengah. Aku akan bersiap.”“Aku akan menunggu di kamarku saja.”Orion mengangguk.30 menit kemudian, suara Orion mengucap salam diikuti Lorenzo memasuki ruangannya. Langkahnya lebar, terlihat gusar. Di ahendak berbicara saat Lintang mengarahkan telapak tangannya kepadanya.“Tidak,
KEDIAMAN UTAMA HERLAMBANGSemalam mereka pulang larut dari rumah sakit. Kak Abdi dan Kak Anggita menginap di rumah utama. Begitu juga dengan Kak Ishaak dan Kak Gayatri. Semua untuk membahas ucapan OrionPetralis sesaat sebelum semua membubarkan diri.Dan pagi itu, tepatnya pukul 05.48, Pak Sigit menghubungi Kak Abdi. Mengabarkan bahwa Cherryl tidak ada di rumah tahanan. Kak Abdi berteriak keras untuk meluapkan kekesalannya membuat semua orang berkumpul di ruang gym.“Ada apa?”“Cherryl kabur,” Kak Abdi meninju udara dengan raut kesal.“APA???”“Dia tidak mungkin kabur begitu saja kan?” Kak Ishaak tampak begitu geram.Kak Abdi menggeleng.“Dia dijemput. Memakai istilah “dipinjam” oleh “orang besar”. Pak Sigit dan teman-temannya tengah mendalami kasus ini sejak subuh tadi. Seluruh petugas yang berjaga di tempat Cherryl, dikarantina dan diinterogasi. Semua CCTV, hanya bisa merekam audio saja. Lensanya disemprot cat hitam,” dua kali Kak Abdi membuat tanda kutip dengan kedua jari telunjuk
RUANG RAWAT INAP VIP Semua menatap tegang pada layar TV yang sedang memuat rekaman video CCTV dari taman yang mengarah ke kamar mandi tahanan.“That’s him. Toni. Same black pants, same black t-shirt. Look, he wasn’t wearing the belt, right?” Lorenzo menunjuk gambar buram pada layar TV.Hasil rekaman CCTV luar terlihat buram. Bisa jadi karena lensanya kotor terkena percikan hujan dan debu. Bisa pula karena kualitas CCTV-nya kurang bagus.Toni terlihat masuk ke kamar mandi, pintu paling kanan. Seorang pria berjaket kulit hitam dengan celana cokelat tua, celana seragam, menahan pintu kamar mandi agar tidak tertutup. Seperti terjadi dorong-dorongan pintu. Pria berkaus cokelat muda berlari ke arah pintu. Kaos cokelat seragam. Gerakannya cepat, mendobrak pintu kamar mandi yang ditahan Toni dengan bahunya. Pintu terbuka paksa, sepertinya Toni terjatuh. Keduanya dengan cepat masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Mereka bertiga berada di kamar mandi yang sempit.Mereka tidak lama berada d
Ruang tengah terasa begitu hening. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Orion menggenggam jemarinya.Ketika tiba-tiba Kak Gayatri berbicara dengan nada mengejutkan semua orang.“Ini denah area tahanan di kantor Pak Sigit berikut layout peletakan CCTV,” Kak Gayatri memutar laptopnya, “Ada satu CCTV yang bisa dijadikan acuan kalau semua CCTV yang ada ataupun mengarah ke area kamar mandi tahanan mati pada saat kejadian,” Kak Gayatri menunjuk letak CCTV yang dimaksud.“My God. Itu di luar ruangan. CCTV taman?” Lintang terkejut.“Terlalu jauh, kan?” dia memicingkan matanya melihat layar laptop Kak Gayatri.“Ahli IT di laboratorium Petralis mempunyai alat untuk memperbaiki pixel yang pecah kan?” Embun berbicara seperti sambil melamun.Kak Abdi menatap Orion.“Orangmu bisa memperbaiki gambar dari rekaman CCTV yang kurang bagus?”“Tergantung. Kalau kameranya terlalu burik, ya… mau bagaimana lagi,” Orion mengangkat kedua bahunya.“Setidaknya, gambarnya lebih baik daripada gambar se
Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan sant
Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. . Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka