Home / Male Adult / Swing Partner / BAB 7 – HARI YANG SEMPURNA

Share

BAB 7 – HARI YANG SEMPURNA

Author: Ough See Usi
last update publish date: 2026-05-09 11:00:19

Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.

Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak sirna melihat rancangan-rancangannya juga anak buahnya diterima dengan baik oleh klien. Matanya melirik Mas Aldi yang lebih seperti pendengar karena tidak diberi kesempatan berbicara banyak olehnya.

Hingga akhirnya Mas Aldi mengajukan desain Cherryl di hadapan Client.

“Perusahaan kami mempunyai desainer baru. Dia lulusan luar negeri yang baru saja kami rekrut. Mungkin kalian tertarik melihat desainnya sebagai alternatif?” layar tabletnya menampilkan desain-desain milik Cherryl.

Dia menatap tajam pada Mas Aldi. Tetapi Mas Aldi tidak peduli.

Desain Cherryl bahkan baru kali itu ia lihat. Sama sekali tidak ada ciri khas The Esthetic Jewelry. Tidak terlihat berkelas ataupun mahal. Malah cenderung terlihat umum, biasa saja dan murahan yang sayangnya terlalu banyak memakai materi mahal yang tidak perlu.

Kedua suami istri yang menjadi klien mereka mengerutkan dahi begitu melihat desain Cherryl. Kemudian menggeleng.

“Anda yakin? Ini sama sekali berbeda dari desain-desain sebelumnya. Desain yang ini terkesan bukan dari The Esthetic Jewelry. Tidak ada keanggunannya, tidak ada identitas yang menjadi kekuatan desain-desain sebelumnya. Yang ini terlihat didesain dengan terburu-buru dan ceroboh. Kami tidak akan memakai desain ini…,” tangannya mendorong kembali tablet Mas Aldi.

Mas Aldi tampak canggung. Dia tidak berani bertatapan mata dengan istrinya lagi.

Akhirnya, meeting selesai dengan deal yang memuaskan kedua belah pihak. Dia tersenyum lepas. Mas Aldi terlihat berwajah kaku dengan senyum dipaksakan.

Saat mereka berdua memasuki lift, aroma parfum Cherryl yang menempel di jas yang dikenakan Mas Aldi tercium lagi. Seketika rasa mual itu kembali.

Dia menghentikan lift di lantai yang bukan lantai mereka. Bergegas keluar dari sana sambil menahan mual yang luar biasa. Mas Aldi menatapnya bingung.

“Kau kenapa?!”

Dia tidak menjawab dan memilih segera keluar dari lift untuk ke toilet terdekat. Dia membuka pintu bilik toilet dengan kasar. Rasa mualnya luar biasa. Tetapi anehnya, tidak ada yang keluar dari mulutnya. Matanya sampai berair saat berusaha untuk memuntahkan isi perutnya.

Dia lelah. Dia ingin beristirahat di kamarnya yang nyaman. Tangannya mengelus perutnya yang masih rata.

“Dedek Sayang, kamu kenapa? Jangan menyusahkan Mama ya. Bantu Mama. Dedek juga tidak menyukai bau parfum murahan itu,ya?” bisiknya pelan masih dari dalam bilik toilet.

Tubuhnya menegang saat mendengar suara perempuan yang ia kenali. Sepertinya ia tengah bercakap di gawainya dengan seorang pria.Panggilan video call. Percakapannya berbahasa Inggris. Nada yang dipakai sama dengan nada bila perempuan itu berbicara pada Mas Aldi. Manja, genit, membius, penuh tuntutan.

Dirinya mengeluarkan gawainya. Menggunakan kamera video untuk merekam pembicaraan video call yang ia dengar. Pantulan cermin membantunya merekam kegiatan Cherryl yang tengah berkonsentrasi pada layar gawainya.

“Orion Sayang… Aku juga kangen sekali padamu. Tapi bagaimana lagi. Kondisi Mama sedang tidak baik. Aku harus merawatnya. Nanti kalau kondisi Mama sudah membaik, aku akan langsung terbang ke tempatmu, OK?.... Iya, aku kangen sekali. Nanti kita ke resort di Swiss itu ya. Aku janji, aku akan memberimu malam-malam yang panjang di sana…,” tertawa genit.

“Mama menanyakan hubungan kita. Dia menanyakan keseriusanmu, Orion. Kau adalah calon menantu yang sangat ditunggu olehnya…,” tertawa lagi dengan nada sendu, “Aku sedang berada di rumah sakit sekarang. Mama sebentar lagi menjalani kemoterapinya…”

Suara berat pria terdengar berbicara pada Cherryl. Menanyakan tentang kondisi Mamanya.

Cheerryl menjawab dengan suara sendu.

“Sayang, uang yang kau berikan kepadaku sudah semakin menipis. Pengobatan dan terapi kanker kau tahu sangat mahal sekali kan…,” suaranya merayu kemudian berganti sendu, “Mama menolak operasi. Dokter juga mengatakan peluang keberhasilan operasi 50 : 50…”

Cherryl melakukan trik murahan. Terisak dengan air mata menggantung di pelupuknya.

Suara berat pria itu terdengar menenangkan Cherryl. Pria itu mengeluarkan kalimat sakti yang biasanya akan membuat perempuan-perempuan seperti Cherryl melonjak senang.

“Aku akan mentransfermu. Jangan khawatirkan itu…”

“Orion Sayang, aku sangat berterima kasih. Mama juga sangat berterima kasih kepadamu. Sepertinya aku harus mengakhiri panggilan ini. Aku sudah meninggalkan Mama terlalu lama. Nanti kita sambung lagi ya, Sayang…,” mendekatkan bibirnya ke layar gawainya untuk melakukan kecupan online, “Mmmmuuach. Love you, Baby..Love you more for everyday…”

Suara notifikasi terdengar dari gawai Cherryl. Mata Cheeryl terbelalak melihat layar gawainya kemudian memekik senang.

“Iyyyyeesssh! Banyak banget! Ganteng, kaya, baik tapi ngebosenin. Lagipula gue gak ada rasa dengan dia. Gue cuma ada rasa dengan saldo rekeningnya yang gak habis-habis…,” Cherryl tertawa sambil membubuhkan lipstik lagi di bibirnya.

Dia menunggu 3 menit setelah Cherryl keluar dari toilet sebelum dirinya juga keluar. Matanya menatap pantulan cermin pada dinding washtafel. Dia terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum. Mencuci tangannya dengan sabun. Di kepalanya tersusun rencana.

Dia kembali ke ruangannya sambil mengetik pesan chat kepada Gladys, sepupu tiri Cherryl.

_Apa benar, mamanya Cherryl tengah dirawat di rumah sakit karena kanker?_

Gladys tidak lama untuk membalas chatnya.

_Siapa yang bilang?_

_Cherryl sendiri saat melakukan VC dengan Orion. Mereka masih berhubungan. Kebetulan saya sedang berada di toilet yang sama. Baru saja_

Gladys memberikan banyak emot tawa.

_Akal-akalan Cherryl buat ngeruk duitnya bule tajir. Mamanya sedang berada di Ulu Watu ditemani brondongnya. Gw kirim WA story-nya hari ini ya Mbak…_

Tidak berapa lama, foto-foto dari Gladys masuk. Dia melebarkan senyumnya melihat foto-foto itu. Susunan rencana pembalasan untuk Mas Aldi dan Cherryl semakin rapi tersusun.

Dia mengirimkan teks balasan untuk Gladys.

_Thanks a lot ya, Dys… (emot hati)_

Gladys membalas singkat.

_Don’t mention it. (emot tawa)_

Dia berbicara sebentar di meja Vera. Memberi perintah-perintah terkait hasil rapat.

“Kumpulkan tim produksi di ruang briefing setelah makan siang. Kita briefing untuk memulai produksi desain-desain yang sudah disetujui client.”

Vera mengangguk sambil mencatat hal-hal yang penting.

“Baik Bu Rani.”

“Seperti biasa, berikan bonus untuk desainer yang hasil desainnya disetujui klien.”

Vera mengangguk lagi.

“Baik Bu. Mereka pasti sangat senang sekali,” tersenyum lebar menatap bosnya.

Langkahnya ringan menuju ruangannya. Dia mengabaikan suara-suara mesum dari ruangan Mas Aldi yang pintunya tidak tertutup dengan benar.

Di ruangannya, ia menghubungi pengacara perusahaan.

“Pak Garin, selamat siang. Saya to the point saja ya karena saya tahu Bapak sangat sibuk.”

Lawan bicaranya tertawa.

“Ya, silahkan Bu Rani…”

“Saya ingin menegaskan, tidak akan pernah ada pengalihan saham milik saya kepada siapapun tanpa persetujuan lisan dan tulisan dari saya ya Pak.”

“Tentu saja, Bu Rani.”

“Akhir minggu ini, bisa kita bertemu, Pak? Ada hal-hal urgent yang perlu saya diskusikan terkait masalah legal internal perusahaan.”

“Weekend, Bu? Saya rasa bisa. Di mana dan jam berapa supaya saya bisa menandai di agenda saya.”

“Saya ke tempat Bapak saja nanti. After office hour, bagaimana?”

Dia melingkari tanggal di kalender mejanya. Kemudian tersenyum. Tangannya meraih tas tangan dan laptopnya. Sebentar lagi waktu makan siang. Dia bersiap pulang.

Hari ini terasa sempurna. Dia mengelus perutnya saat berada di dalam lift. Mensyukuri semua nikmat hari ini.

*

🌷

bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Swing Partner   BAB 68 – YANG TAK TERDUGA`

    “TOLONG SAYA, PAK…” teriakannya terdengar panik.“Mbak..tolong. Jangan bergerak terlalu banyak. Roda depan mobil Anda menahan badan mobil supaya tidak terjun bebas ke bawah. Tetap tenang sampai bantuan datang!” suara pria lain terdengar.“Mobil-mobil besar tadi kemana? Bapak lihat kan, mobil-mobil boks besar dan trailer yang tadi?”Hening. Suara pria bercakap-cakap heran dengan sesama mereka di dekat mobilnya.“Kami tidak melihat adanya mobil boks besar satu pun, Mbak. Lagipula jalan layang ini tidak diperuntukkan untuk mobil-mobil besar.”“Mobil besar gak boleh lewat sini, Mbak…”“Apa??” dia keheranan, “Mobil yang terbakar di tengah jalan, Avanza hitam, itu mobil pengawal saya, Pak! Mobil mereka ditabrak keras oleh mobil boks di belakang mereka.”Hening. Kemudian

  • Swing Partner   BAB 67 – SERANGAN BERTUBI

    Dia menurunkan kaca jendelanya. Sekuat tenaga berteriak meminta tolong ke orang-orang yang berada di jalur berlawanan. Badannya dijulurkan keluar dari badan mobil. Kedua tangannya dilambai-lambaikan ke arah mereka. Suaranya pecah tetapi ia terus berteriak seperti orang gila.Perhatian orang-orang di jalur lawan arah masih terfokus kepada mobil yang terbakar di tengah jalan. Suaranya teredam oleh suara deru mesin mobil-mobil besar. Dia menoleh ke belakang. Sebuah mobil boks besar merayap perlahan menyejajari mobilnya. Menutup pandangan orang-orang dari jalur sebelah ke arah mobilnya.Harapannya pupus.Pria di kabin depan mobil besar itu menatapnya sambil tertawa.“Wuihhhh. Bening banget, Cok! Jancok edan tenan! Ayu ne…”Dia ketakutan. Dengan cepat menarik tubuhnya ke dalam mobil. Dia menaikkan kaca mobilnya dengan panik.&ldquo

  • Swing Partner   BAB 66 – NO WAY OUT

    Sudah dua hari sejak peristiwa itu, dia tidak menerima telepon ataupun pesan dari Orion Petralis. Dia terlihat begitu sibuk ataupun berusaha terlihat sibuk seolah sedang mengalihkan pikirannya kepada pekerjaannya. Siang ini, Vera memberitahu ada email dari keluarga Petralis tetapi bukan dari Orion. Brisia Petralis, adik Orion yang memesan satu set perhiasan dengan tema musim panas. Dan dia meminta untuk berkomunikasi langsung dengannya. Sayangnya, jadwalnya sudah padat hingga lusa nanti. “Buatkan jadwal untuknya setelah lusa. Sesuaikan saja dengan jadwal Nona Petralis,” nada suaranya terdengar formal.Vera menatap bosnya. Lalu menganggukkan kepala. Dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Tuan Lintang karena Tuan Lintang sedang dalam perjalanan menuju Milan. Ada hal yang harus ditangani sendiri di sana selama tiga hari.Siang itu, dia menuju Paragon Persada. Kak Ishaak sudah menunggunya di teras lobby. Bahkan yang membukakan pintu mobilnya adalah Kak Ishaak sendiri.“Kamu baik-

  • Swing Partner   BAB 65 – SUAPAN LINTANG

    Lintang langsung mengakhiri panggilan video dari Orion begitu melihat kakak sepupunya bergerak membalikkan tubuhnya ke arahnya. Stoples pilus yang ada dalam dekapannya terguling begitu saja di atas karpet tebal. Untutng tidak pecah.Lintang gegas mengambil stoples yang berhenti bergulir karena tertahan kaki meja kopi. Dia duduk di sofa samping tempat kakak sepupunya tertidur.Kakak sepupunya bergumam. Sesuatu yang tidak jelas. Tapi terdengar “Bodoh!”Alis Lintang naik sebelah. Kakinya disilangkan. Dia masih mengamati kakak sepupunya dengan diam. Tidak biasanya kakak sepupunya merutuki dirinya sendiri.“Eh?” dia terkejut menatap adik sepupunya yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya, “Sedang apa?”“Sedang mengamati Mbak Rani tidur siang,” Lintang berdiri mengambil box makan siang milik kakak sepu

  • Swing Partner   BAB 64 – STOPLES PIL PENAMBAH SEMANGAT

    Lintang membuka kotak makan siang kakak sepupunya yang masih belum tersentuh sama sekali. Makanannya sudah dingin. Tetapi masih sangat layak untuk dimakan. Dan tampilannya masih menggugah selera.Dia menggelengkan kepala lalu menatap sofa. Kakak sepupunya tertidur sambil memeluk stoples cemilan yang sering ia lihat dulu di rumah Om Bagas dan Tante Yumna. Bahkan ia juga melihat cemilan berisi bulat-bulat putih kecil berhiaskan potongan daun kucai di rumah Om Janu dan Tante Desi. Kata Kak Ishaak, cemilan itu adalah pil penambah semangat milik kakak sepupunya itu.Vera menghubunginya saat melihat ada yang tidak beres pada kakak sepupunya. Untuk itu ia kemari. Langsung dari Prisma Glass setelah meeting besar usai ke The Esthetic Jewelry.Tangannya mencoba mengambil stoples cemilan yang masih dipeluk kakak sepupunya itu. Perlahan, menariknya ke bawah. Tapi siapa sangka, kakak se

  • Swing Partner   BAB 63 – LAYU SEBELUM BERKEMBANG

    Notifikasi pesan teksnya berdering, sebuah popup pesan muncul dengan nama Orion.Orion_Di sana pasti sudah masuk waktu makan siang. Kau sudah makan, My Queen?_Maharani_Aku baru saja memesan makanan lewat jasa layanan antar. Bagaimana denganmu?_Orion_ Aku baru saja selesai sarapan. Sedang musim semi di sini. Taman-taman di hotel terlihat luar biasa_Maharani_Tulip?_Orion membuat panggilan video. Wajahnya terlihat segar dengan kemeja putih dengan vest warna navy blue dan dasi bermotif diagonal warna biru dan hijau, tampak serasi dengan warna matanya.Dia tersenyum menatap kamera.“Kau terlihat keren, Orion.”Orion tertawa.“Apakah itu sama dengan kalimat, ‘Kau terlihat tampan, Orion…’?”Dia tertawa dengan pipi bersemu.“Kurang lebih seperti itu,” kepalanya menga

  • Swing Partner   BAB 4 – CINTA YANG BUKAN UNTUKNYA

    Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu

  • Swing Partner   BAB 3 – AWAL YANG INDAH

    “Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung

  • Swing Partner   BAB 2 – DIA SEORANG HERLAMBANG

    Dia, Maharani Ruby Herlambang. Dia memang yatim piatu tanpa saudara kandung lagi. Tetapi ia adalah salah satu pewaris dari keluarga Herlambang. Papanya, Bagaskara Herlambang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara Herlambang. Semuanya sukses memimpin perusahaannya masin

  • Swing Partner   BAB 1 – RETAK

    Di usia pernikahannya yang kedua, suaminya selingkuh. Perempuan masa lalu suaminya yang datang kembali sebagai desainer perhiasan untuk perusahaan yang dibangun olehnya tetapi dikelola oleh suaminya. Penunjukannya sebagai desainer perusahaan miliknya murni atas inisiatif suaminy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status