Share

124| The Manipulated

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-04-30 23:38:01

Aruna merebahkan kepalanya di sandaran kursi van besar milik Atlas, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam empuknya jok kulit yang terasa terlalu nyaman untuk malam yang melelahkan seperti ini.

Lampu kota berkelebat di balik kaca jendela, memantul samar di wajahnya yang masih dipenuhi sisa riasan dan kelelahan.

Sejak kabar pertunangan itu tersebar, hidupnya berubah dalam hitungan hari. Jadwalnya semakin padat, tuntutan untuk selalu tampil sempurna semakin tinggi, dan setiap senyum yang ia berikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   149| Berhenti

    "Bukannya kamu bilang, kamu merindukan saya?"Dan bisikan itu menjadi pemicu.Bulu kuduk Aruna berdiri seketika dan otaknya yang sudah berantakan mencari jalan keluar, mencari alasan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini."Kalau gitu... Pak Atlas... bersih-bersih dulu... aja." katanya terputus-putus, suaranya nyaris bergetar, dan kembali berniat beranjak dari sana.Namun sekali lagi, tangan Atlas menahan.Bahkan dengan sekali tarikan, tubuh Aruna berbalik sepenuhnya, kini menghadap lelaki itu, dan matanya otomatis menatap turun.Ke arah badan kokoh dengan perut kotak-kotak itu."Saya tidak menempuh perjalanan empat ribu mil," bisik Atlas rendah, matanya menangkap pandangan Aruna dan tak membiarkannya kabur, "hanya untuk membiarkan kamu pergi."Mata Aruna membulat.Belum sempat ia mengatakan apa-apa, bibirnya sudah ditempelkan oleh bibir lelaki itu.Lumatannya datang tanpa aba-aba, tanpa ruang untuk bernapas. Atlas mencium Aruna dengan lapar yang tertahan terlalu

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   148| Kyoto dan Hangatnya

    Aruna merebahkan dirinya di atas ranjang besar itu setelah selesai membersihkan dirinya.Ofuro tadi menjadi penyelamat, air panas yang merendam tubuhnya hampir setengah jam, melarutkan lelah, pegal, dan sisa-sisa makeup yang tak terangkat oleh cleanser. Kini, dengan rambut yang setengah basah dan kimono krem bermotif sakura yang melekat longgar di tubuhnya, Aruna merebahkan dirinya dengan hati yang akhirnya bisa bernapas.Langit-langit kayu di atasnya masih sama. Seni lukisan tradisional yang menghiasi setiap sudut ruangan masih sama. Tapi malam ini, segalanya terasa lebih tenang, mungkin karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan apa pun, atau mungkin karena panggilan telepon itu.See you.See you apa?Aruna menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran itu.Besok masih harus menjalani hari terakhir sebelum ia bisa beristirahat di hari ketiga. Interview lanjutan, fitting akhir, dan satu dua meeting minor yang tak bisa ditunda. Setelah itu, ia bebas.Aruna mengambil ponselnya da

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   147| Panggilan Malam

    Sudah seharian ini Aruna sibuk.Dari pagi buta hingga sore ini, ketika matahari mulai menurun dan langit berubah menjadi kanvas oranye keunguan, Aruna tak punya satu detik pun untuk bernapas.Interview dengan majalah ternama Jepang dimulai jam delapan tepat, di sebuah studio yang disewa khusus di pusat kota Kyoto. Aruna duduk di atas kursi bergaya mid-century yang diposisikan di tengah set bergaya minimalis Jepang, lampu-lampu softbox mengelilinginya seperti matahari buatan, dan di hadapannya, seorang pewawancara wanita berambut bob hitam menatapnya dengan mata yang penuh antusias.Pertanyaan-pertanyaan standar mengalir, soal karier, soal fashion trend tahun ini, soal inspirasi, hingga pewawancara itu menyandarkan dagu di atas tangannya, tersenyum lebih lebar, dan menanyakan sesuatu yang membuat nada suaranya turun menjadi lebih intimate."We all know that you are already engaged with Mr. Atlas Wicaksono," ucapnya, alisnya sedikit terangkat, "and as you know, your fiancé is one of the

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   146| Lost in Japan

    Perjalanan menuju Bandara Internasional Kansai, Tokyo memakan waktu hampir delapan jam.Delapan jam di dalam private jet yang bahkan lebih nyaman daripada apartemen sebagian orang dengan kursi yang bisa direbahkan menjadi bed penuh, cabin yang lega, dan service yang tak perlu diminta dua kali. Aruna menghabiskan sebagian besar perjalanan itu dengan tidur. Ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu, getaran halus itu membangunkannya perlahan.Dan ketika gelap sudah menyerang udara Jepang, Aruna akhirnya melangkah keluar.Udara di sana bukan sekadar dingin, namun menggigit. Angin malam menyerbu seketika begitu pintu jet terbuka, menerpa wajah dan tangan Aruna dengan kepalaman yang membuatnya refleks merapatkan cardigan kremnya ke tubuh.Sebuah mobil hitam sudah terpampang di area private terminal, di sekelilingnya, empat orang pengawal berdiri tegap. Mereka adalah orang-orang Atlas, dikirim lebih dulu, sudah menunggu sebelum Aruna bahkan boarding di Ibu kota.Satu dari mereka segera

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   145| Dominant Effect

    "Can we do it again?"Aruna refleks menjauhkan dirinya, seolah Atlas baru saja menyodorkan bara api dan ia terbakar. Kedua tangannya terlebih dulu menarik turun atasan golfnya yang tergulung ke atas. Lalu di bawah sana, jari-jarinya bekerja cepat, mengaitkan kembali tali pengait seamless bra yang telah dibuka Atlas dengan keahlian yang kini membuatnya geram sendiri. Dan dari posisinya, Atlas kembali terkekeh.Suara tawanya rendah, hangat, dan sangat menyebalkan. Lelaki itu menatap Aruna yang sedang sibuk memperbaiki dirinya dengan ekspresi yang bisa digambarkan sebagai perpaduan antara kepuasan dan hiburan.Aruna melemparkan tatapan geram ke arahnya, tapi Atlas hanya tersenyum lebih lebar.Baru setelah cukup rapi dan layak, Aruna menyadari sekelilingnya.Matanya melirik ke bangunan megah di depan.Villa itu kini terlihat lebih memukau di bawah langit yang sudah berubah warna. Jendela-jendela melengkung berpendar dari dalam. Air mancur di tengah putaran jalan kini memantulkan langit

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   144| Can we do it again?

    "Ingin memegangnya?"Wajah Aruna semakin merah padam, jika sebelumnya ia sudah merah, kini ia merah seluruhnya, dari pipi sampai ke dada, dan matanya membelalak tak percaya mendengar pertanyaan itu. Ia susah payah menelan ludahnya, tenggorokannya kering, dan tak menjawab. Diamnya membuat Atlas memperlahan gerakannya, lalu perlahan menarik tangan Aruna turun. Seakan membimbingnya.Menuntun jari-jari Aruna melewati perutnya yang berkontraksi, melewati pinggang celananya, sampai ke bawah sana dan ketika telapak tangan Aruna akhirnya menggenggam sesuatu di balik kain, mata gadis itu membelalak.Ukurannya.Besar. Sangat besar. Bahkan di balik kain celana, Aruna bisa merasakan bentuknya yang panjang dan tebal, keras seperti batu, dan panas, panas yang menembus kain dan membara di telapak tangannya."Do you think you can handle it?" tanya Atlas, suaranya serak, rendah, dan diiringi senyum yang hampir kejam.Aruna masih tak bereaksi. Ia terlalu kaget, terlalu takjub, terlalu tersihir oleh se

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status