Compartir

165| Kabar Perpisahan

Autor: sidonsky
last update Fecha de publicación: 2026-05-19 23:51:21

Susah payah Aruna berusaha menghilangkan semua pikiran negatif di kepalanya.

Sejak kemarin malam, ia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau Atlas bukan lelaki seperti itu. Mungkin Atlas memang sedang sibuk. Mungkin ia hanya butuh waktu sendiri. Mungkin semuanya memang kebetulan yang terlalu mudah disalahartikan.

Dan seperti orang bodoh, Aruna terus mengamini semua kemungkinan itu sambil memaksa dirinya tetap tenang.

Namun kehadiran Anindhita di mobil Atlas semalam menghancurkan semuanya begit
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Mommyyy
sudahi aja dlu runa, biarin atlas nanti ngejar-ngejar kamu krna selama ini kamu yg berharap sendiri dan kamu yg sakit sendiri
goodnovel comment avatar
eas
Kamu hebat Runa...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   166| Kekuatan Kejujuran

    Sudah sejak tiga jam Aruna mengumumkan kandasnya hubungan mereka di depan puluhan kamera, dan berbagai artikel media langsung mempublikasikan kabar itu dengan headline yang bervariasi mulai dari yang biasa saja sampai yang terkesan dramatis. Ponselnya tak kunjung berhenti bergetar dari panggilan masuk. Bukan hanya dari Atlas yang kalau Aruna hitung sudah lebih dari dua puluh kali mencoba menghubunginya, bahkan Gigi, Lily, Ratna, sampai Amanda juga mengiriminya pesan panjang lebar dan mempertanyakan mengenai kabar yang sudah menyebar secepat itu. Namun tak ada satupun yang Aruna balas, tak ada satu panggilan pun yang Aruna angkat. Ponselnya kini ia letakkan terbalik di atas meja ruang meeting, sementara ia sendiri sibuk membuka laptop dan menatap proyektor.Aruna sedang meeting untuk membahas tema podcast mingguan dengan tim Ruang Rasa, sesuatu yang sudah menjadi rutinitasnya setiap Jumat pagi. Ruangan meeting lantai delapan itu terisi oleh enam orang, termasuk Aruna sendiri yang d

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   165| Kabar Perpisahan

    Susah payah Aruna berusaha menghilangkan semua pikiran negatif di kepalanya. Sejak kemarin malam, ia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau Atlas bukan lelaki seperti itu. Mungkin Atlas memang sedang sibuk. Mungkin ia hanya butuh waktu sendiri. Mungkin semuanya memang kebetulan yang terlalu mudah disalahartikan. Dan seperti orang bodoh, Aruna terus mengamini semua kemungkinan itu sambil memaksa dirinya tetap tenang.Namun kehadiran Anindhita di mobil Atlas semalam menghancurkan semuanya begitu saja.Terutama setelah perempuan itu muncul tepat ketika Aruna mulai percaya kalau hubungan mereka perlahan berubah menjadi nyata.Kepercayaan yang susah payah Aruna bangun setelah hubungannya dengan Agasa hancur dulu, sekarang seperti ditarik paksa sampai runtuh tanpa sisa. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aruna merasa lelah.Benar-benar lelah.Pagi itu, ia bahkan tidak berniat menunggu siapa pun. Aruna berjalan cepat keluar rumah dengan wajah datar, kacamata hitam sudah berteng

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   164| Berhenti Berharap

    Suasana di dalam kabin mobil dua pintu Athar begitu terasa sempit, namun bukan berarti tidak nyaman. Dengung mesinnya halus, jauh lebih tenang dibandingkan mobil sedan Aruna, dan aroma hangat yang bercampur sedikit wangi khas Athar memenuhi ruangan. Dari kursi penumpang, Aruna sesekali mencuri pandang ke arah Athar yang tengah fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang semakin sepi. Tangan lelaki itu di kemudi terlihat sangat terkendali, sama seperti sikapnya yang selalu tenang sepanjang malam ini."Seperti yang sudah kamu tahu, saya, Atlas dan Anin itu bersahabat sejak kita masih kecil," ucap Athar di tengah-tengah heningnya situasi, matanya tetap lurus ke depan.Membuat Aruna langsung memasang telinganya tajam."Dan saat itu, kita berdua menyukai Anindhita," lanjutnya dengan senyuman pahit yang samar di bibirnya. "Tapi Anin memilih Atlas, dan mereka menjalin hubungan cukup lama sampai keduanya pisah, ketika Anin memilih fokus dengan gelar dokternya di London."Tangan Aruna mengep

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   163| Lost & Found

    Dengan sesegukan yang perlahan reda, Aruna mengusap bulir air matanya menggunakan tisu yang tadi Athar berikan. Mereka masih berada di pinggir jalan raya, di tengah kelengangan Ibu kota menjelang tengah malam. Mobil biru tua Athar terparkir tepat di depan mobil pink metallic Aruna, lampu hazardnya berkedip-kedip menari di atas aspal basah, menjadi satu-satunya sumber cahaya selain pendar kuning dari lampu jalan yang berjarak beberapa meter. Kap mobil Aruna terbuka lebar, dan Aruna kini duduk di bagasi mobil Athar yang juga terbuka, kakinya menjuntai sedikit, sementara pemandangan di hadapannya adalah Athar yang sudah melepas kemeja putihnya dan menggulungnya sampai ke siku lengan.Memperlihatkan otot lengan yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalanan. Lelaki itu tengah sibuk mengutak-ngatik mesin mobil Aruna dengan tangan yang sudah kotor terkena noda hitam.Asap sudah berhenti keluar sejak setengah jam lalu, dan Aruna sudah lumayan tenang di posisinya. Sesekali ia menarik na

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   162| Benar-Benar Runtuh

    Tiga hari terakhir terasa jauh lebih panjang daripada tiga hari pada umumnya. Aruna baru menyadarinya ketika malam kembali turun, ketika lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di balik jendela kamarnya, dan ketika untuk kesekian kalinya jemarinya kembali membuka layar ponsel hanya untuk memastikan satu hal yang sama, tidak ada pesan baru dari Atlas. Tidak ada panggilan, tidak ada chat singkat, tidak ada "Sudah makan?" atau "Sedang apa?" yang biasanya datang di sela kesibukan lelaki itu. Tidak ada apa-apa. Dan sialnya, hal itu jauh lebih menyiksa daripada yang Aruna bayangkan.Sejak malam di pesta pernikahan Nadine itu, sejak Atlas meninggalkannya di tengah ballroom mewah di tengah lingkaran orang-orang yang membuat kepercayaan dirinya runtuh sedikit demi sedikit, sejak tatapan Anindhita dan kalimat-kalimatnya yang terus berputar di kepalanya tanpa henti, Aruna memilih diam. Ia pulang, masuk ke rumah, dan menolak berbicara pada siapa pun. Bahkan dua pengawal Atlas yang berdiri

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   161| Belum Sekarang

    "Anindhita?"Aruna tidak tahu, mana yang lebih menyakitkan. Kemunculan wanita itu, atau kenyataan bahwa beberapa menit sebelumnya ia sempat merasa menang.Sempat.Karena baru saja ia berdiri dengan percaya diri di tengah ballroom megah itu, mengenakan cincin berlian yang melingkar manis di jari manisnya, berdiri di samping Atlas dengan kepala tegak, dengan semua mata memandangnya penuh pengakuan. Kini, perlahan, keadaan berbalik tanpa memberi aba-aba.Dan semuanya dimulai ketika Ratna melihat sosok itu."Anin?"Suara Ratna terdengar cukup jelas di tengah alunan saxophone lembut dan denting gelas kristal yang bersahutan. Wanita bersanggul anggun itu bahkan tampak terkejut sebelum senyum hangatnya perlahan merekah. Tanpa pikir panjang, Ratna melangkah mendekat ke arah wanita bergaun putih gading yang baru saja bergabung di area tamu kehormatan.Aruna ikut menoleh.Dan di sanalah Anindhita berdiri.Anggun. Terlalu anggun. Gaun satin putih yang membalut tubuh jenjangnya jatuh sempurna hin

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status