LOGIN"Tapi saya mau."Ucapnya, lalu kembali menciumi Atlas. Kali ini tak memberikan waktu untuk Atlas melayangkan protesnya, bibir Aruna mendarat di dada lelaki itu, lidahnya menyapu, dan giliran Aruna yang menjilat puting Atlas.Efeknya seketika.Tubuh Atlas menegang seluruhnya, otot-otot di perutnya berkontraksi, bahunya tertarik ke belakang, dan dari atasnya, Aruna bisa mendengar hembusan napas berat yang Atlas keluarkan, napas yang seolah lupa bagaimana cara keluar secara perlahan. Tangannya masih di bahu Aruna, tapi kini berubah, bukan lagi menahan, melainkan mencengkeram. Jari-jarinya menggali ke dalam kulit gadis itu, dan itu bukan tolakan, itu adalah cengkeraman seorang lelaki yang sedang berjuang untuk tidak kehilangan akalnya.Lalu Aruna tak kehilangan akal.Tangannya turun ke bawah, melewati perut kotak-kotak Atlas yang berkontraksi di bawah sentuhannya, melewati pinggang celana yang masih tertutup, sampai akhirnya telapak tangannya mendarat tepat di atas sesuatu yang sudah kem
"Saya... belum pernah."Tiga kata itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang.Riaknya terasa seketika.Atlas berhenti. Benar-benar berhenti. Tangannya tak bergerak lagi, tubuhnya tak menekan lagi, dan matanya yang tadinya gelap dan lapar kini berubah perlahan menjadi lebih lembut, menjadi sesuatu yang Aruna tak pernah lihat di mata lelaki itu sebelumnya. Bukan keinginan, bukan kesabaran, bukan kemenangan, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu semua.Ia menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di kening Aruna, dan napasnya yang tadinya berat dan rakus kini lebih lambat, lebih teratur, seolah ia sedang menenangkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Aruna."Baik." bisiknya, dan satu kata itu tak menyimpan kekecewaan, tak menyimpan tekanan, hanya penerimaan yang murni.Tangannya bergerak, bukan ke bawah, melainkan ke atas. Menarik kembali sisi-sisi kimono Aruna, menutupinya dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk tangan yang baru saja meremas
"Bukannya kamu bilang, kamu merindukan saya?"Dan bisikan itu menjadi pemicu.Bulu kuduk Aruna berdiri seketika dan otaknya yang sudah berantakan mencari jalan keluar, mencari alasan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini."Kalau gitu... Pak Atlas... bersih-bersih dulu... aja." katanya terputus-putus, suaranya nyaris bergetar, dan kembali berniat beranjak dari sana.Namun sekali lagi, tangan Atlas menahan.Bahkan dengan sekali tarikan, tubuh Aruna berbalik sepenuhnya, kini menghadap lelaki itu, dan matanya otomatis menatap turun.Ke arah badan kokoh dengan perut kotak-kotak itu."Saya tidak menempuh perjalanan empat ribu mil," bisik Atlas rendah, matanya menangkap pandangan Aruna dan tak membiarkannya kabur, "hanya untuk membiarkan kamu pergi."Mata Aruna membulat.Belum sempat ia mengatakan apa-apa, bibirnya sudah ditempelkan oleh bibir lelaki itu.Lumatannya datang tanpa aba-aba, tanpa ruang untuk bernapas. Atlas mencium Aruna dengan lapar yang tertahan terlalu
Aruna merebahkan dirinya di atas ranjang besar itu setelah selesai membersihkan dirinya.Ofuro tadi menjadi penyelamat, air panas yang merendam tubuhnya hampir setengah jam, melarutkan lelah, pegal, dan sisa-sisa makeup yang tak terangkat oleh cleanser. Kini, dengan rambut yang setengah basah dan kimono krem bermotif sakura yang melekat longgar di tubuhnya, Aruna merebahkan dirinya dengan hati yang akhirnya bisa bernapas.Langit-langit kayu di atasnya masih sama. Seni lukisan tradisional yang menghiasi setiap sudut ruangan masih sama. Tapi malam ini, segalanya terasa lebih tenang, mungkin karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk memikirkan apa pun, atau mungkin karena panggilan telepon itu.See you.See you apa?Aruna menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran itu.Besok masih harus menjalani hari terakhir sebelum ia bisa beristirahat di hari ketiga. Interview lanjutan, fitting akhir, dan satu dua meeting minor yang tak bisa ditunda. Setelah itu, ia bebas.Aruna mengambil ponselnya da
Sudah seharian ini Aruna sibuk.Dari pagi buta hingga sore ini, ketika matahari mulai menurun dan langit berubah menjadi kanvas oranye keunguan, Aruna tak punya satu detik pun untuk bernapas.Interview dengan majalah ternama Jepang dimulai jam delapan tepat, di sebuah studio yang disewa khusus di pusat kota Kyoto. Aruna duduk di atas kursi bergaya mid-century yang diposisikan di tengah set bergaya minimalis Jepang, lampu-lampu softbox mengelilinginya seperti matahari buatan, dan di hadapannya, seorang pewawancara wanita berambut bob hitam menatapnya dengan mata yang penuh antusias.Pertanyaan-pertanyaan standar mengalir, soal karier, soal fashion trend tahun ini, soal inspirasi, hingga pewawancara itu menyandarkan dagu di atas tangannya, tersenyum lebih lebar, dan menanyakan sesuatu yang membuat nada suaranya turun menjadi lebih intimate."We all know that you are already engaged with Mr. Atlas Wicaksono," ucapnya, alisnya sedikit terangkat, "and as you know, your fiancé is one of the
Perjalanan menuju Bandara Internasional Kansai, Tokyo memakan waktu hampir delapan jam.Delapan jam di dalam private jet yang bahkan lebih nyaman daripada apartemen sebagian orang dengan kursi yang bisa direbahkan menjadi bed penuh, cabin yang lega, dan service yang tak perlu diminta dua kali. Aruna menghabiskan sebagian besar perjalanan itu dengan tidur. Ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu, getaran halus itu membangunkannya perlahan.Dan ketika gelap sudah menyerang udara Jepang, Aruna akhirnya melangkah keluar.Udara di sana bukan sekadar dingin, namun menggigit. Angin malam menyerbu seketika begitu pintu jet terbuka, menerpa wajah dan tangan Aruna dengan kepalaman yang membuatnya refleks merapatkan cardigan kremnya ke tubuh.Sebuah mobil hitam sudah terpampang di area private terminal, di sekelilingnya, empat orang pengawal berdiri tegap. Mereka adalah orang-orang Atlas, dikirim lebih dulu, sudah menunggu sebelum Aruna bahkan boarding di Ibu kota.Satu dari mereka segera
Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole
Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A
Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap
Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h







