Share

6| Ruang Rasa

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-03-05 01:13:15

Aruna sempat berpikir ucapan Atlas pagi tadi hanyalah kalimat formal yang diucapkan tanpa makna lebih.

"Setelah ini, keadaan akan semakin ramai."

Baginya itu terdengar seperti peringatan generik dari seseorang yang hidupnya selalu dikelilingi perhatian. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa kata ramai itu akan berarti kerumunan kamera, mikrofon, dan mata-mata asing yang menuntut jawabannya bahkan sebelum ia sempat menarik napas.

Pagi itu, Aruna sudah mengabari Kelly bahwa ia akan pergi ke kantor radio seorang diri. 

Tidak perlu diantar, tidak perlu ditemani. Jadwalnya padat dan ia hanya ingin bergerak cepat tanpa banyak suara di sekelilingnya. Ia sempat pulang ke rumah sebentar, mandi, mengganti pakaian, merapikan rambut, lalu langsung bergegas pergi lagi. Semua terasa biasa. Normal. Seolah hidupnya masih berada di jalur yang ia kenal.

Namun seluruh pemahaman itu runtuh begitu sedan pink miliknya melambat di depan gedung tua tempat kantor radio itu berdiri.

Aruna mengerutkan kening.

Dari balik kaca mobil, ia melihat kerumunan yang tidak seharusnya ada di jam kerja pagi. Beberapa orang berdiri berdesakan di depan pintu masuk, kamera terangkat, lampu kilat menyala sesekali, suara gaduh saling bertumpuk tanpa arah. Para penggemar berkumpul di sisi pagar, sementara para wartawan mengambil posisi paling depan, seolah menunggu seseorang yang penting.

Dan sialnya, seseorang itu adalah dirinya.

Begitu ia membuka pintu mobil dan menurunkan satu kakinya ke aspal, beberapa kepala langsung menoleh bersamaan. Seorang satpam bergerak cepat menghampiri, berdiri di depan Aruna dan membuka jalan dengan bahunya.

"Lewat sini, Nona," ucapnya singkat namun sigap.

Belum sempat Aruna mencerna apa yang sedang terjadi, sebuah mikrofon sudah menyodok terlalu dekat ke wajahnya.

"Nona Aruna, bagaimana perasaan Anda menjadi pasangan dari pengusaha terkaya di negeri ini?"

Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba, memecah udara pagi.

Belum sempat Aruna membuka mulut, suara lain menyusul. "Katanya hubungan kalian sudah berlangsung lama, apakah Nona Aruna sudah mengenal keluarga Pak Atlas?"

"Nona Aruna, sebelah sini!" teriak seorang wartawan dari sisi kanan. "Orang tua Pak Atlas juga pengusaha besar. Bagaimana rasanya menjadi calon menantu satu-satunya keluarga Wicaksono?"

Aruna mengerjap.

Ia tidak menjawab satu pun.

Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena otaknya masih berusaha mengejar kenyataan bahwa hidup pribadinya kini bukan lagi miliknya sendiri. Ia tahu betul bagaimana publik bekerja. 

Ia tahu betapa dunia selalu haus pada kisah cinta yang dibungkus kekayaan dan kekuasaan. Dan kini, ia berada tepat di tengah pusaran itu.

Begitu berhasil melewati pintu utama gedung, Aruna membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan. Jantungnya berdetak terlalu cepat, telapak tangannya dingin, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Namun bahkan sebelum ketegangan itu benar-benar reda, sosok yang paling ia hindari pagi ini sudah berdiri di hadapannya.

Kelly, sang manajer berdiri dengan tangan bertolak pinggang, tablet di tangan kirinya, tatapannya tajam dan penuh tuntutan. Campuran bingung, kesal, dan rasa dikhianati jelas terpampang di wajahnya.

Aruna menegakkan bahu, memilih berjalan melewatinya menuju lift.

"Kekasih anak konglomerat?" suara Kelly menyambar dari belakang, membaca headline di tabletnya. "Kak... what is going on?"

Aruna hanya melirik sekilas sebelum membuang wajah, seolah belum siap membuka percakapan itu.

"Sejak kapan?" Kelly mengekor, suaranya makin meninggi. "Dan ini apa lagi?"

Tablet itu disodorkan ke arah Aruna, menampilkan berita lain yang tak kalah menusuk.

AKTOR PAPAN ATAS, AGASA, MENGONFIRMASI HUBUNGAN DENGAN LAWAN MAINNYA DALAM FILM TERBARU, AZALEA.

"Kak Agasa... punya pacar baru?" Kelly terdiam sepersekian detik sebelum kembali bersuara. "Kak Runa, kalian beneran udah putus? Kapan? Kenapa? Bukannya—"

Tangan Aruna terangkat, satu gerakan kecil namun tegas.

Kelly langsung terdiam, meski napasnya masih memburu.

"Jangan bahas dia lagi," kata Aruna akhirnya, suaranya tenang namun tidak membuka ruang tawar. "Dan iya, aku sekarang punya pacar baru. Udah lumayan lama. Sengaja aku sembunyiin karena gak mau bikin skandal."

Ia tidak menambahkan penjelasan lain. Tidak perlu.

Aruna tahu, semakin banyak ia bicara, semakin besar peluang kebohongan tumbuh. Dan ia bukan orang yang pandai mempertahankan dusta panjang.

Lift terbuka. Aruna melangkah masuk, Kelly ikut masuk tepat sebelum pintu tertutup. Ponsel di tangan Kelly bergetar.

"Tantemu nelpon."

Napas Aruna terhenti sesaat. Matanya jatuh ke layar ponsel itu, dadanya mengencang. Ia lupa kalau ada lagi seseorang yang harus ia bohongi.

"Bilang aku lagi meeting," ucapnya pelan setelah menarik napas. "Nanti kalau ada waktu, aku mampir."

Bukan penolakan. Hanya penundaan.

Pintu lift terbuka di lantai kantor. Ruang meeting sudah menunggu. Beberapa orang duduk mengelilingi meja panjang, seorang produser, editor, tim konten. Laptop-laptop terbuka, grafik statistik terpampang di layar besar.

"Hari ini email kantor meledak," ujar salah satu produser tanpa basa-basi. "Pendengar gak sabar Ruang Rasa tayang, mereka bahkan request jam siarannya diperpanjang."

Aruna duduk dan menegakkan punggungnya. "Maaf kalau urusan pribadi aku bikin kantor jadi berisik."

"Justru sebaliknya," sahut editor senior sambil menunjuk grafik. "Traffic naik hampir lima puluh persen. Mereka penasaran sama kamu."

"Penasaran gimana caranya—" seorang staf berhenti sejenak, lalu terkekeh, "—punya pacar kayak Pak Atlas. Mereka mau tau tips dan trick dari sang pakar cinta."

Ruangan hening sesaat, lalu tawa kecil menyebar.

Aruna tersenyum kecut, menyeruput americano hangat yang sudah disediakan untuknya. Ia menimbang cepat di kepalanya, bagaimana risiko, keuntungan, dan konsekuensi yang akan ia hadapi setelah ini. 

Ia memang merupakan publik figure, Aruna juga sudah biasa dengan sorotan dan media, hanya saja, ia tidak pernah menyangka kalau sorotan yang akan ia dapati dari hubungan palsunya akan sebesar ini.

Dan apabila ia harus mengambil keuntungan dari hal ini, Aruna rasa, tak ada yang salah dengan itu. Toh dunia ini sudah terlanjur  heboh dengan beritanya.

"Oke," katanya akhirnya. "Kita kasih apa yang publik mau."

Semua kepala menoleh ke arahnya.

"Mereka mau tips, kan?" lanjut Aruna, senyum kecilnya kini mantap. "Aku akan kasih. Kita mulai episode baru dengan warna baru."

Karna hidupnya sudah terlanjur jadi sorotan, maka ia tidak akan lari.


Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   105| Selamat Datang, Aruna.

    Kadang, kejadian buruk dan baik memang datang dalam satu waktu yang bersamaan. Seolah semesta memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan segalanya, memberi sedikit kebahagiaan, lalu menyelipkan kegelisahan di sela-selanya. Di satu sisi, semuanya tampak berjalan sesuai rencana, bahkan nyaris sempurna. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang diam-diam bergeser, membuat semuanya terasa rapuh jika disentuh terlalu dalam.Aruna berdiri di depan rumah itu, menatap bangunan besar yang pernah ia tinggalkan dengan langkah berat. Ingatan itu masih terlalu jelas. Bagaimana waktu itu ia melangkah pergi dengan dada sesak, menahan perasaan yang bahkan tak sempat ia akui sepenuhnya. Pintu itu tertutup di belakangnya, seolah menandai bahwa ia bukan bagian dari dunia itu.Namun sekarang, ia kembali.Dua koper besar berada di sampingnya, roda kecilnya berdecit pelan saat dua orang pengawal Atlas menyeretnya melewati halaman yang rapi dan terlalu sempurna untuk terlihat nyata.Langkahnya tidak lagi se

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   104| Panggilan Anonim

    "Jadi, kalian sudah menjadi pasangan kekasih betulan, sekarang?"Suara itu muncul tiba-tiba dari ponsel Aruna, memecah keheningan yang masih menggantung setelah kejadian beberapa detik lalu. Nada bicaranya santai, bahkan cenderung ringan, tapi justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih mengganggu.Sontak, mata Aruna membulat sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara dahinya mengernyit dalam kebingungan dan ketakutan yang datang bersamaan. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia membuka panggilan—atau bagaimana bisa ada seseorang di ujung sana yang mendengar cukup banyak untuk menyimpulkan hal seperti itu.Dalam hitungan detik, Atlas menyadari perubahan ekspresi itu.Tanpa bertanya, tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dari tangan Aruna yang masih kaku. Layarnya masih menyala, menampilkan nomor tak dikenal. Rahangnya mengeras saat ia langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya."Jadi ini, Pak Atlas yang terkenal itu?"Nada suara di seberang terdengar penuh mi

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   103| Di Bawah Sentuhan

    Tak ada gerakan mundur dari Atlas setelah lima belas detik menempelkan bibirnya pada bibir Aruna.Lima belas detik yang terasa seperti lima belas menit. Limabelas detik di mana di luar sana, sebuah kamera paparazzi masih memantau, siap mencernakan apa pun yang mereka tangkap menjadi bahan pemuasan rasa ingin tahu publik.Kedua mata lelaki itu juga masih terbuka. Sama dengan miliknya.Dan itu yang membuat Aruna tidak bisa berpikir jernih. Mata Atlas tidak pernah sehitam ini, bukan dalam arti warna, melainkan dalam arti bobot. Seolah ada gravitasi tambahan yang tertarik di dalam kedua manik itu.Sorot lampu jalanan yang menembus kaca mobil memantul di iris hitam Atlas, menciptakan kilatan kecil yang membuat Aruna lupa bahwa di luar sana, reputasinya sedang dijadikan santapan.Awalnya hanya sebuah kecupan. Tapi Atlas tidak mundur.Dan detik-detik itu berubah dari sekadar akting menjadi sesuatu yang Aruna tidak punya nama untuknya.Aruna mengerjap.Seolah baru tersadar dari suatu, Aruna m

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   102| Paparazzi

    "Wow!"Suara Athar menggema di lapangan, diikuti pantulan bola tenis yang terakhir kali memantul di sisi lapangan Atlas sebelum akhirnya keluar garis. Skor di papan kecil di pinggir lapangan menunjukkan angka akhir set itu. Dalam permainan tenis, siapa yang lebih dulu mencapai enam poin dengan selisih minimal dua angka, dialah yang memenangkan set, dan kali ini, Athar berhasil mengamankan kemenangan itu dengan pukulan forehand yang tajam dan sulit dijangkau.Ia menurunkan raketnya dengan napas yang masih memburu, dada naik turun setelah rally panjang yang baru saja terjadi. Keringat membasahi pelipisnya, menetes hingga ke rahang, sementara senyum puas terukir jelas di wajahnya.Di seberangnya, Atlas berdiri dengan postur tetap tegap meski napasnya tak kalah berat. Ia memutar raket di tangannya sebentar sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyum tipis khasnya yang jarang benar-benar terbuka.Keduanya berjalan mendekat ke net, lalu saling menepuk tangan dalam salaman singkat. Tak ada kat

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   101| Tenis Tengah Malam

    Aruna tidak benar-benar tidur malam itu.Matanya memang sempat terpejam, tubuhnya sempat beristirahat, tapi pikirannya... tidak pernah benar-benar diam. Nama itu terus berputar di kepalanya, wajah itu terus muncul tanpa diminta, dan yang paling menyebalkan, cara Atlas bereaksi ketika nama itu disebut, terus terulang seperti potongan adegan yang tak bisa ia hentikan.Menyebalkan.Tapi juga... menyakitkan, dengan cara yang tidak ia duga.Aruna membalikkan tubuhnya di atas ranjang ketika matahari mulai muncul, menatap langit-langit kamar yang perlahan terang. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Semua orang punya masa lalu, kan?Bahkan dirinya juga punya.Ia dan Agasa... lebih dari setengah dekade bersama. Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi sekarang? Ia bahkan tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya mencintai lelaki itu. Yang tersisa hanya kesal, jengkel, dan sedikit rasa malas kalau namanya kembali muncul.Cepat-cepat ia menggeleng, seolah bi

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   100| Anindhita

    Anindhita.Nama itu tidak pergi begitu saja dari kepala Aruna sejak makan malam tadi. Ia justru menetap, berputar pelan di pikirannya, seperti lagu yang terus terulang tanpa diminta. Bahkan ketika malam benar-benar turun dan ia sudah berada di kamarnya, nama itu masih terasa menggantung—mengusik, memancing rasa ingin tahu yang tidak bisa ia abaikan.Dengan gerakan cepat, Aruna menarik laptop ke pangkuannya. Cahaya layar langsung menerangi wajahnya di tengah ruangan yang sengaja ia biarkan gelap, hanya ditemani lampu tidur redup di sudut kamar. Dari luar, rintik hujan terdengar jatuh perlahan di kaca jendela, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat pikirannya semakin penuh.Jarinyapun mulai bergerak.Ia mengetik nama itu di kolom pencarian berbagai media sosial satu per satu. Bahkan platform yang jarang ia buka. Namun hasilnya nihil. Terlalu banyak "Anindhita" di luar sana, dan tidak satu pun yang terasa... tepat."Gak mungkin cuma satu nama," gumamnya pel

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   28| Semangkuk Ramen

    Aruna membuka matanya perlahan ketika sesuatu yang hangat terasa menyentuh kepalanya.Gerakan itu lembut, seperti seseorang yang sedang mengusap rambutnya dengan hati-hati. Beberapa detik ia masih berada di antara sadar dan tidak, sampai akhirnya pandangannya mulai fokus pada langit-langit kamar ya

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   30| Azalea

    Sudah dua hari sejak kepulangan mereka dari Heartline Haven Resort.Namun rasanya, suasana pulau itu masih tertinggal samar di kepala Aruna—angin laut, suara ombak, dan… seseorang yang kini justru tidak ada di dekatnya.Ballroom hotel malam itu dipenuhi cahaya yang terlalu terang untuk sekadar acar

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   29| Pulang

    Awan pagi itu bergerak pelan, seperti gulali yang ditarik panjang di langit biru pucat, saat private jet milik Atlas mulai menembus ketinggian. Pukul tujuh tepat ketika roda pesawat terangkat dari landasan, membawa mereka meninggalkan pulau itu—meninggalkan laut yang sempat mereka rekam, vila yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status