Home / Romansa / Pak, Jangan! Nanti Ketahuan! / 144| Can we do it again?

Share

144| Can we do it again?

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-05-06 00:05:40

"Ingin memegangnya?"

Wajah Aruna semakin merah padam, jika sebelumnya ia sudah merah, kini ia merah seluruhnya, dari pipi sampai ke dada, dan matanya membelalak tak percaya mendengar pertanyaan itu. Ia susah payah menelan ludahnya, tenggorokannya kering, dan tak menjawab.

Diamnya membuat Atlas memperlahan gerakannya, lalu perlahan menarik tangan Aruna turun. Seakan membimbingnya.

Menuntun jari-jari Aruna melewati perutnya yang berkontraksi, melewati pinggang celananya, sampai ke bawah sana dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   145| Dominant Effect

    "Can we do it again?"Aruna refleks menjauhkan dirinya, seolah Atlas baru saja menyodorkan bara api dan ia terbakar. Kedua tangannya terlebih dulu menarik turun atasan golfnya yang tergulung ke atas. Lalu di bawah sana, jari-jarinya bekerja cepat, mengaitkan kembali tali pengait seamless bra yang telah dibuka Atlas dengan keahlian yang kini membuatnya geram sendiri. Dan dari posisinya, Atlas kembali terkekeh.Suara tawanya rendah, hangat, dan sangat menyebalkan. Lelaki itu menatap Aruna yang sedang sibuk memperbaiki dirinya dengan ekspresi yang bisa digambarkan sebagai perpaduan antara kepuasan dan hiburan.Aruna melemparkan tatapan geram ke arahnya, tapi Atlas hanya tersenyum lebih lebar.Baru setelah cukup rapi dan layak, Aruna menyadari sekelilingnya.Matanya melirik ke bangunan megah di depan.Villa itu kini terlihat lebih memukau di bawah langit yang sudah berubah warna. Jendela-jendela melengkung berpendar dari dalam. Air mancur di tengah putaran jalan kini memantulkan langit

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   144| Can we do it again?

    "Ingin memegangnya?"Wajah Aruna semakin merah padam, jika sebelumnya ia sudah merah, kini ia merah seluruhnya, dari pipi sampai ke dada, dan matanya membelalak tak percaya mendengar pertanyaan itu. Ia susah payah menelan ludahnya, tenggorokannya kering, dan tak menjawab. Diamnya membuat Atlas memperlahan gerakannya, lalu perlahan menarik tangan Aruna turun. Seakan membimbingnya.Menuntun jari-jari Aruna melewati perutnya yang berkontraksi, melewati pinggang celananya, sampai ke bawah sana dan ketika telapak tangan Aruna akhirnya menggenggam sesuatu di balik kain, mata gadis itu membelalak.Ukurannya.Besar. Sangat besar. Bahkan di balik kain celana, Aruna bisa merasakan bentuknya yang panjang dan tebal, keras seperti batu, dan panas, panas yang menembus kain dan membara di telapak tangannya."Do you think you can handle it?" tanya Atlas, suaranya serak, rendah, dan diiringi senyum yang hampir kejam.Aruna masih tak bereaksi. Ia terlalu kaget, terlalu takjub, terlalu tersihir oleh se

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   143| Dua Puluh Menit

    Suasana di dalam mobil itu jauh dari kata tenang.Aruna memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan, kepalanya menoleh ke jendela, memandang pepohonan yang berlalu kabur di luar sana, tapi matanya tak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya terlalu sibuk dengan apa yang baru saja terjadi di lounge tadi.Kakinya yang menjalar, tangan Atlas yang menghimpitnya, dan tatapan itu, tatapan itu, yang berkata jelas seolah diucapkan: kamu akan membayar ini nanti.Sementara Atlas, dengan urat-urat tangannya yang menonjol di balik stir kemudi, tampak fokus. Rahangnya mengeras, kedua tangannya menggenggam stir. Topinya sudah dilepas, ditarik dan dilempar ke kursi belakang tanpa kata. "Masih dua puluh menit lagi," gumam lelaki itu dengan rahang mengeras, melirik dashboard yang memperlihatkan map dilayar sebelum kembali fokus dengan jalanan perbukitan di hadapan."Apa yang dua puluh menit lagi?" bingung Aruna.Tapi Atlas tak menjawab.Matanya melirik ke arah spion tengah, lalu ke spion samping, meng

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   142| Mas Atlas

    Suasana di tengah siang itu begitu damai.Cahaya matahari menembus kaca-kaca jendela lounge Emerald Hills, menciptakan pola cahaya keemasan yang jatuh ke atas lantai marmer dan sofa-sofa berwarna krem. Suara denting sendok dari meja-meja terdekat berpadu dengan gemericik air mancur kecil di sudut ruangan, membentuk simfoni yang menenangkan.Sampai Aruna menginjakan kakinya ke tengah area lounge.Langkahnya terhenti sebentar di ambang pintu, merapikan rok golfnya yang sedikit tergeser saat ia berjalan, menarik napas panjang sekali, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang baru saja hancur lebur di dalam kamar mandi bersama Atlas, sebelum akhirnya melangkah masuk.Di sana, di sudut lounge yang paling privat, Atlas tengah berbincang dengan Raka. Kedua lelaki itu duduk saling berhadapan di atas sofa kulit cokelat tua. Di hadapan Raka, Nadine duduk manis, kakinya dilipat ke samping, sementara satu tangannya membolak-balik halaman majalah golf edisi terbaru.Aruna mendekat. Langkahn

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   141| Pak, Jangan! Nanti ketahuan!

    "No. Call me Mas. I love the way it sounds from your lips."Aruna menelan ludah, matanya berkaca-kaca, napasnya terputus. "Mas... Atlas?"Satu panggilan itu.Satu panggilan itu cukup.Mata Atlas menggelap menjadi hitam pekat. Ia kembali melumat bibir Aruna, kali ini lebih tergesa, lebih dalam, lebih lapar. Giginya menggigit ujung bibir bawah Aruna, menariknya pelan sebelum melepaskannya dengan suara kecil, lalu menghisap dalam lidah gadis itu tanpa ampun. Sementara satu tangannya berkelana ke bawah sana, kembali meremas secara bergantian dua gunung yang menonjol itu, memainkannya, memutar ujungnya dengan ibu jarinya di balik kain tipis, sampai Aruna harus menggigit bibirnya sendiri untuk menahan desahan yang hampir lolos. Tangan Atlas yang satunya sudah mulai turun, melewati perut Aruna yang berkontraksi, melewati pinggangnya, hampir menyentuh area paling sensitifnya, sampai—"Kak Aruna?"Panggilan itu datang dari arah luar, jelas dan ceria, milik Nadine.Aruna harus susah payah men

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   140| It Turns Me On

    Suara kran air mengalir pelan, mengisi keheningan ruangan dengan gemericik yang menenangkan. Aruna membasuh tangannya, mengusap sisa busa sabun yang masih menempel di sela-sela jari, lalu mematikan kran dengan gerakan ringan.Di hadapannya, cermin besar menampilkan wajah yang baru saja ia bersihkan dari sisa keringat dan pelindung matahari. Ia mengoleskan lip gloss bening, perlahan, membuat penampilannya terlihat segar kembali, seolah baru saja beranjak dari tidur yang nyenyak.Senyum Aruna mengembang perlahan.Bukan senyum biasa. Ini adalah senyum yang lahir dari rasa bangga yang baru saja ia tanamkan sendiri. Untuk sekali ini, bukan wajahnya, bukan tubuhnya, bukan koneksi keluarganya yang membuat orang-orang di sekitar menoleh. Tapi otaknya. Aruna masih terpaku di depan cermin, masih tersenyum pada bayangannya sendiri, jari-jarinya masih memegang lip gloss yang belum ia kembalikan ke dalam pouch, ketika suara pintu terdengar.Klik.Aruna menoleh, dan di sana, di ambang pintu kamar

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status