MasukUdara pagi menyusup lembut ke sela-sela pepohonan ketika Raka bangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari mulai merambat masuk melalui celah dinding Workshop. Ia menguap panjang lalu menatap meja kerjanya yang penuh catatan, kabel, pecahan kristal, dan sketsa alat yang ia garap semalaman.
Hari ini ia berniat menyelesaikan prototipe pertama kamera kristal pendeteksi mana. Ia menyentuh permukaan lensa kaca yang telah ia poles sendiri. Benda itu tampak sederhana, tetapi Raka sudah berkali-kali mencoba memadukan kristal biru dengan konduktor logam agar bisa menghasilkan reaksi cahaya yang stabil. Raka menghela napas. “Kalau alat ini berhasil, kita punya senjata penting melawan Dewan,” gumamnya. Ia menyalakan kompor uap kecil yang terhubung ke pipa-pipa tembaga. Suara desis uap memenuhi ruangan. Uap panas bergerak melalui jalur yang sudah ia buat, menggerakkan piston kecil yang menstabilkan arus energi dari kristal biru. Raka menambahkan satu lagi potongan kristal ke dalam kotak logam. Cahaya biru lembut menyala. “Baik. Kita coba gabungkan lensa dan kristal.” Ia menahan napas ketika perlahan-lahan menempatkan lensa ke dudukan logam yang terhubung langsung ke kristal mana. Begitu lensa menyentuh bingkai logam, permukaan kacanya bergetar halus, lalu cahaya biru memancar lembut. Raka mengusap dahinya yang berkeringat. “Tidak meledak. Setidaknya itu kemajuan.” Ia menyalakan panel penerima, sebuah piring kaca tipis yang seharusnya menampung bayangan visual dari energi mana. Gelombang cahaya bergerak dari lensa menuju piring itu. Gambar pertama mulai terbentuk: bayangan buram, bercahaya samar. “Come on, fokus.” Ia memutar cincin logam di balik lensa untuk mengatur sensitivitas. Buram itu berubah menjadi garis-garis. Garis menjadi bentuk. Bentuk menjadi pola berwarna biru keperakan. “Oke, oke… ada hasil.” Ia mengambil seutas rumput kering di luar jendela dan mengangkatnya ke depan kamera. Piring kaca segera menampilkan rumput itu, tetapi dengan tambahan garis-garis cahaya yang melingkari batangnya. Itu bukan pantulan cahaya biasa. Raka mengangguk. “Itu pola mana. Alam di dunia ini memang penuh partikel energi.” Ia kemudian mengambil kristal biru kecil dan mendekatkannya pada kamera. Piring kaca langsung menampilkan gambar jauh lebih jelas: pola cahaya yang berputar, seperti pusaran angin dalam air. “Bagus. Ini sudah cukup untuk merekam aktivitas sihir.” Raka lalu menghubungkan kabel dari piring penerima menuju kotak rekam uap, sebuah mesin kecil yang menyimpan gambar dengan membakar pola cahaya ke lempengan batu tipis. “Sekarang tinggal tes rekam.” Ia mengarahkan kamera ke kompor uap, menekan tuas kecil. Kotak itu mengeluarkan suara klik-klik halus. Setelah beberapa detik, ia mengeluarkan satu lempengan dari dalam kotak itu. Di atas permukaannya, terpahat pola cahaya biru yang menggambarkan kompor uap dengan aliran energi panas yang terlihat jelas. Raka tersenyum lebar. “Berhasil. Ini dia bukti visual pertama dari pergerakan mana. Dengan ini kita bisa membongkar teknik mereka.” Ia meletakkan alat itu di meja dengan bangga. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Suara ketukan yang pelan terdengar dari pintu Workshop. Raka langsung memegang pipa logam panjang yang biasa ia gunakan sebagai senjata darurat . “Masuk,” ucapnya hati-hati. Pintu terbuka, menampilkan sosok Leonhart yang datang tanpa pengawal. Wajahnya tenang, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang serius. “Pangeran datang pagi-pagi begini, ada apa?” tanya Raka. “Aku ingin memastikan keadaanmu semalam. Selain itu, aku juga membawa kabar,” jawab Leonhart. Ia melihat meja kerja Raka, lalu mengangkat satu alis. “Kamera itu sudah jadi?” “Sudah. Lihat ini.” Raka memberikan lempengan batu kepada Leonhart. Pangeran itu menatap pola cahaya berbentuk kompor uap yang terukir di permukaan lempengan. Ia mendekatkannya pada cahaya untuk melihat lebih jelas. “Ini luar biasa,” katanya pelan. “Dengan alat seperti ini, kita bisa melihat setiap manipulasi mana, bahkan teknik terlarang.” “Itu tujuannya,” balas Raka. Leonhart duduk di kursi kayu. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Tapi hasilmu harus kita percepat penggunaannya. Dewan mulai gelisah. Mereka kehilangan kontak dengan enam penyihir yang menyerangmu. Mereka tentu sudah menduga sesuatu.” “Berarti serangan berikutnya tidak akan sekecil itu,” kata Raka sambil menyandarkan diri di meja. “Mereka akan kirim orang-orang yang lebih berbahaya.” Leonhart mengangguk. “Ada satu nama yang harus kau waspadai. Seorang agen Dewan yang dikenal dengan sebutan Penjilid Bayangan. Identitasnya tidak diketahui, tetapi dia ahli dalam sihir penyamaran. Dia bisa berubah menjadi siapa pun.” Raka meringis. “Bagus sekali. Di dunia lama, aku takut dikejar debt collector. Di dunia ini, aku dikejar penyihir kagebunshin.” Leonhart tersenyum singkat. “Agen itu terkenal. Katanya, mata-mata terbaik di kerajaan. Jika dia turun tangan, artinya Dewan sudah benar-benar menganggapmu ancaman besar.” “Kalau begitu,” kata Raka sambil menatap kamera kristal, “kita harus dapat bukti korupsi Dewan sebelum mereka mencapai kita." Leonhart berdiri. “Aku sudah mengatur agar kau bisa memasuki wilayahku. Di sana ada bengkel bawah tanah peninggalan kerajaan lama yang sudah tak digunakan. Tempat itu ideal untuk proyekmu selanjutnya.” Raka mengangguk. “Bagus. Aku butuh ruang lebih luas.” Leonhart menatapnya dalam-dalam. “Tapi sebelum kita pindah dari hutan ini, kita harus memastikan tidak ada mata yang mengawasi.” Raka mengerutkan kening. “Maksudmu?” Leonhart menunjuk ke arah luar jendela Workshop. “Sejak tadi malam, aku merasakan ada mana asing yang bersembunyi di sekitar area ini. Sangat halus. Hampir tidak terdeteksi.” Raka menegang. “Jadi… kita sudah dibayangi sejak semalam?” Kemungkinan terburuk langsung terlintas: agen Dewan Sihir sudah menemukan mereka. Leonhart berjalan ke pintu, memegang gagang pedangnya. “Kita tidak bisa tunggu sampai mereka menyerang lebih dulu. Kita harus memancing mereka keluar.” Raka memejamkan mata sejenak, berpikir cepat. “Kalau begitu, aku punya ide.” Leonhart menoleh. “Apa rencanamu?” Raka mengambil kamera kristal yang baru selesai ia buat, lalu menyiapkan satu tabung asap kecil yang ia isi dengan kristal pemanas. “Kamera ini bisa menangkap pergerakan mana, kan? Kalau kita bikin kabut buatan dari uap panas, partikel mana di sekitarnya pasti terlihat di udara. Tidak ada lagi tempat bersembunyi.” Leonhart mengangguk pelan, terpukau. “Lalu kita lakukan penyisiran.” “Ya,” kata Raka. “Uapnya akan membuat agen itu kelihatan seperti api kecil di gelapnya kabut.” Leonhart menghela napas. “Baik. Kita lakukan itu hari ini.” Raka mempersiapkan alatnya. Leonhart menggenggam pedangnya. Di luar hutan, angin bertiup semakin kencang, seolah menandai awal perburuan. Dan di antara pepohonan, tersembunyi sangat rapat, sepasang mata gelap memperhatikan mereka tanpa berkedip. Agen Dewan Sihir sudah berada di sana. Dan ia tersenyum tipis.Ledakan energi itu mengguncang seluruh hutan Marevos.Kabut ungu terhempas seperti tirai robek, pohon-pohon menunduk, tanah bergetar. Cahaya biru dari sistem dan cahaya emas dari sihir Elvara bertemu di udara, membentuk pusaran dahsyat yang memaksa mereka semua mundur.Raka merasakan dadanya seperti ditarik dari dalam, sistemnya berputar begitu cepat hingga penglihatannya berbayang.【 Mode Perlawanan Diaktifkan 】【 Akses Administrator: DITOLAK 】【 Memulai Firewall Dimensi… GAGAL 】Sosok berarmor hitam itu menapak maju perlahan, seolah ledakan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.“Menarik,” ujarnya datar. “Sistemmu masih mencoba mempertahankan diri… meski sudah dikubur dan disabotase.”Ia menekan sesuatu di pergelangan tangannya.Langsung, tubuh Raka terasa berat—seperti gravitasi menekan seluruh tulangnya.【 PERINGATAN: Gravitasi Variabel Terdeteksi 】“Berjongkok,” perintah sosok itu. “Sistemmu tidak dirancang untuk menahan tekanan dari operator kelas utama.”Raka terjatuh berlutut.
Langkah itu terdengar perlahan—tak seperti mesin, tapi juga bukan langkah penyihir.Hening hutan Marevos seolah menahan napas saat sosok itu akhirnya keluar dari balik kabut ungu.Raka merasakan seluruh tubuhnya kaku.Sosok itu berdiri tegak, dengan armor hitam matte yang menyerap cahaya.Desainnya modern, jauh lebih maju dari apa pun yang pernah ada di dunia sihir ini.Helm transparan menutupi wajah seseorang—ya, manusia, bukan robot.Leonhart segera mengangkat pedangnya. “Jangan bergerak!”Elvara menyiapkan sihir cahaya, matanya fokus pada setiap gerakan kecil sosok itu.Namun orang itu hanya menatap mereka… terutama Raka.Tatapannya penuh keyakinan, bukan kebencian.Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu momen ini lama sekali.Raka merasakan tenggorokannya kering.“…siapa kamu?” bisiknya.Sosok berarmor itu menunduk sedikit—sebuah salam kecil yang terasa formal.“Raka Pradipta,” katanya dengan suara manusia yang jelas.“Sudah lama sekali… kita akhirnya bertemu.”Raka mundur se
Kabut ungu itu bergerak seperti makhluk hidup. Tenang, namun menyimpan ancaman di setiap lekuknya.Di tengah kabut… mata hijau giok yang berdiam di kegelapan itu membuka lebih lebar.Cahaya dari mata itu menyinari pepohonan, membuat bayangan hutan terdistorsi seolah dunia sedikit melengkung.Elvara memeluk dirinya, merasakan dingin yang meresap sampai ke tulang.“Raka…” bisiknya. “Itu… makhluk hidup?”Raka tidak langsung menjawab. Sistem di depannya berkedip-kedip, mencoba memproses sesuatu yang sangat asing.Leonhart maju setengah langkah, pedang diangkat, namun matanya tak berkedip.Bukan karena keberanian…tapi karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Mata itu… bukan milik monster biasa.Bukan milik roh.Bukan pula dari dunia Raka.Itu… sesuatu yang jauh di atas imajinasi mereka.Sistem berbunyi pelan, seperti berusaha berbicara tanpa membuat kegaduhan.【 Deteksi Entitas: Tidak Dapat Diklasifikasikan 】Nama Sementara: “Penjaga Marevos”Tingkat: S (Ancaman Prioritas
Suara mesin di kejauhan itu terus bergema, lebih ritmis, lebih… hidup. Seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari robot sebelumnya baru saja diaktifkan.Raka menegakkan tubuhnya dengan napas tersengal, masih menatap bangkai exo-unit yang tergeletak. Leonhart sudah berdiri kembali, memeriksa pedangnya, sementara Elvara membersihkan debu di pipi dan rok sihirnya.“Aku tidak suka suara itu,” gumam Elvara, melirik ke arah hutan yang makin gelap.“Aku juga.” Raka menarik napas panjang. “Tapi—”Sesuatu menghentikan kalimatnya.Sebuah notifikasi transparan berwarna biru muncul di depan wajah Raka.BIP—!Raka membeku. Elvara dan Leonhart memandang ke arahnya, bingung melihat wajah Raka yang tiba-tiba pucat.“Raka…?” Elvara menyentuh bahunya. “Apa yang terjadi?”Raka tidak menjawab. Ia terlalu sibuk membaca.Di depan matanya, teks sistem muncul dengan kejelasan yang tidak pernah ia lihat sejak kedatangannya ke dunia ini.【 SYSTEM REBOOT: 87% → 100% 】【 SISTEM TEKNOLOGI MODERN AKTIF 】Mode: DARU
Suara mesin itu semakin jelas.Bip…Bip…Bip…Ritmenya teratur, dingin, dan sangat asing untuk telinga Elvara maupun Leonhart. Namun bagi Raka, suara itu… hampir seperti mimpi buruk yang kembali hidup.Ia mencengkeram alat scan di tangannya. “Itu bukan sembarang mesin. Itu… scanner medis tipe lama. Model portable.”Leonhart mengangkat alis. “Scanner? Seperti alat yang kau gunakan untuk melihat kondisi tubuh?”“Ya. Tapi aku tidak punya alat secanggih itu di sini. Dan tidak ada yang bisa membuatnya dalam dunia ini.”Raka menelan ludah.“Kecuali seseorang yang punya pengetahuan teknis dari tempat asalku.”Ketiganya bergerak makin dalam. Kabut biru semakin tebal hingga mereka harus menyalakan lampu kristal. Hutan Marevos mengeluarkan suara aneh—seperti bisikan, tapi bukan dari makhluk hidup.Seolah hutan itu sendiri mengingatkan sesuatu… dan tidak suka kedatangan mereka.Elvara memeriksa udara. “Energi liar sangat padat. Ada bekas distorsi ruang… baru saja terjadi.”Raka merespons cepat.
Pagi baru saja menyentuh puncak menara istana ketika Raka berdiri di balkon tertinggi ruang analisis. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi pikiran Raka jauh lebih dingin dari itu. Setelah semalam menemukan pola reaktor yang jelas-jelas tidak berasal dari dunia ini, satu kesimpulan mengganggu terus menghantuinya:Ada orang lain yang memahami teknologi modern.Raka menatap pecahan kristal hitam yang ia simpan di saku. Resonator yang meledak itu meninggalkan residu energi aneh—campuran mana dan gelombang elektromagnetik. Campuran seperti itu… tidak mungkin terjadi tanpa pemahaman teknis dari dunia asalnya.Leonhart berjalan mendekat. “Kau tidak tidur?”Raka tersenyum lelah. “Susah tidur kalau dunia kita mungkin mau diledakkan.”Leonhart berdiri di sampingnya. “Aku sudah menempatkan penjaga di seluruh menara timur. Kalau ada pergerakan bayangan atau energi asing, kita tahu.”Raka mengangguk. “Itu belum cukup.”Ia menoleh pada Leonhart—mata yang penuh tekad.“Aku mau pergi ke lokasi resonan







