เข้าสู่ระบบ"Kau tahu," bisiknya pelan, suaranya bergetar namun lembut. "Dulu aku membayangkan betapa bahagianya aku jika melihatmu terbaring tak berdaya seperti ini. Aku membencimu, Wang Ming. Aku membencimu karena aku pikir kau orang yang membunuh aku dengan dingin dan kejam. Tapi sekarang melihatmu seperti ini... rasanya hatiku seperti dirobek berkali-kali lipat lebih sakit daripada luka di bahumu."Ia mendekatkan wajahnya, mencium pelan punggung tangan Wang Ming yang digenggamnya."Papa pernah bilang kau menderita sendirian. Dulu aku tidak percaya. Tapi sekarang aku paham. Kau menyembunyikan rasa sakitmu di balik sikap dinginmu agar tak ada yang bisa menyakitimu lebih jauh dan aku... aku malah menambah lukamu selama ini."Air mata kembali jatuh, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena penyesalan yang mendalam."Maafkan aku, suamiku. Maaf karena aku buta selama ini. Maaf karena aku membuatmu merasa kesepian di istanamu sendiri. Mulai sekarang, jika kau harus menanggung beban berat,
Seorang tabib istana berlari mendekat dengan perlengkapan di tangan, wajahnya cemas. Li Jing mengangkat kepalanya, menatap tabib itu dengan tatapan yang memohon dan penuh ancaman sekaligus. "Selamatkan dia," ucap Li Jing dengan suara rendah namun bergetar, tangan Wang Ming masih digenggamnya erat seakan nyawanya sendiri bergantung padanya. "Kau harus menyelamatkannya. Karena jika dia mati, aku akan menghancurkan seluruh kerajaan ini sampai ke akar-akarnya." "Baik, Yang Mulia Ratu," jawab tabib istana itu dengan tubuh gemetar. "Ampun Yang Mulia, pedang ini beracun. Ini racun 'seribu racun cinta' jika Yang Mulia Baginda tidak bisa tahan maka jantungnya akan meledak, racun asmara ini sangat kuat dan berbahaya sehingga dilarang peredarannya di sekitar Kerajaan Langit, Kerajaan Awan dan Jalur Selatan. Jika ketahuan maka akan dihukum mati. Karena efek yang berbahaya," jelas tabib itu tersungkur dengan keringat dingin dan tubuh gemetar hebat. Li Jing hanya menggeram, matanya memberikan
Kini, Raja Wang Ming dan Li Jing, bergerak selaras, seolah satu jiwa dalam dua tubuh. Setiap kali Wang Ming menyerang, Li Jing menutup celahnya. Saat Li Jing maju, Wang Ming menjaga punggungnya. Pangeran Sulung melihat itu dan wajahnya semakin gelap. Ia menyadari bahwa selama mereka berdiri bersama, tak ada yang bisa menjatuhkan mereka."Kalian pikir kesetiaan itu akan menyelamatkan kalian?" teriak Pangeran Sulung, lalu meraih obor dari tangan pelayan di sampingnya dan melemparkannya ke arah tumpukan kain kering di dekat pintu masuk. Api langsung membesar, menutup jalan keluar sepenuhnya. "Sekarang kalian punya dua pilihan. Tewas terbakar atau mati di tangan pasukanku!"Panas menjadi tak tertahankan. Langit-langit kayu di atas mereka mulai runtuh, debu dan abu jatuh ke mana-mana. Wang Ming menarik tangan Li Jing mundur perlahan, menjauh dari reruntuhan yang jatuh. Nafas mereka memburu, keringat bercampur dengan jelaga di wajah. Li Jing melihat tiang besar di atas Pangeran Sulung mu
Api sudah menjilat tiang-tiang kayu penyangga, suara jeritan orang-orang terdengar dari dalam. Di depan pintu masuk, berdiri Pangeran Sulung dengan senyum penuh kemenangan, dikelilingi puluhan pengawal setianya yang sudah siap bertarung. Saat melihat Wang Ming dan Li Jing datang, pangeran itu tertawa keras tanpa rasa bersalah sedikit pun."Kau datang lebih cepat dari yang kuduga, Adikku tersayang," ucap Pangeran Sulung dengan nada mengejek. "Tapi ... Sayang sekali. Kalau kau datang sedikit lagi, semuanya sudah menjadi abu.""Kau gila!" bentak Wang Ming, langkah kakinya berhenti beberapa meter di hadapan adiknya sendiri. "Mereka adalah orang-orang tidak bersalah! Termasuk para selir yang tidak pernah menyakitimu!""Takhta tidak bisa diraih tanpa pengorbanan, Adikku," jawab Pangeran Sulung santai, lalu matanya beralih ke Li Jing dengan tatapan jijik. "Kau juga, Ratu palsu. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya? Kau hanyalah wanita yang seharusnya sudah mati. Kau tidak pantas be
"Kau berani menuduh Ratuku dan keluarganya?" Wang Ming melangkah maju lagi, aura keagungannya meledak keluar seakan ombak besar yang menghantam pantai. "Satu kata lagi kau menghina Ratu, Raja ini pastikan kepalamu jatuh ke tanah sebelum kau sempat berkedip."Suasana tegang seketika. Pedang-pedang diangkat lebih tinggi. Namun sebelum bentrokan terjadi, seorang pelayan istana berlari tergopoh-gopoh dari arah dalam, wajahnya pucat pasi. Ia berlutut di depan Wang Ming dan Li Jing, lalu menunduk dalam."Yang Mulia Ratu, ada pesan mendesak dari dalam istana," ucapnya dengan suara bergetar. "Paman dan Bibi kedua, Yang Mulia Ratu telah dibawa pergi oleh Pangeran Sulung. Dia dikurung di menara utara dan yang lebih buruk..."Pelayan itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, matanya menatap Wang Ming dengan penuh ketakutan."Pangeran Sulung sudah memerintahkan untuk membakar seluruh sayap istana tempat tinggal para selir yahh tersisa dan pengawal setia Yang Mulia Baginda Raja,
Pasukan pengawal bergerak di belakang mereka, langkah kaki berirama memecah keheningan pagi yang dingin. Setiap langkah mendekat ke gerbang istana terasa seperti melangkah masuk ke dalam mulut naga yang siap menelan mereka utuh."Kau yakin ingin ikut ke dalam?" tanya Wang Ming pelan, matanya tak lepas dari wajah istrinya. "Aku bisa menyuruh seseorang mengantarmu ke tempat yang aman sampai semuanya selesai."Li Jing mempererat genggaman tangannya, menatap lurus ke arah gerbang utama yang kini tampak tertutup rapat. "Kau pikir setelah semua yang terjadi aku akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian? Aku sudah bilang, Wang Ming. Kali ini aku tidak akan pergi ke mana-mana.""Karena kau memilihku?" kata Wang Ming lembut, jempolnya mengusap punggung tangan Li Jing dengan gerakan yang begitu lembut, kontras dengan suasana yang mengancam di sekeliling mereka."Karena aku memilihmu," jawab Li Jing tegas, lalu tersenyum tipis yang membuat hati Wang Ming berdebar kencang, "juga karena aku in
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







