LOGIN“Pelayan! Tuliskan titahku!”
“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun tidak boleh keluar dari sana!” Mei Ling panik. “Yang Mulia, ampun! Hamba dijebak. Berikan keadilan bagi Hamba, Yang Mulia!” teriak Mei Ling. Mei Ling diseret para pengawal ke Paviliun terbengkalai di sebelah selatan Istana Naga. Tempat di mana Li Jing disiksa hingga mati di kehidupan lamanya. Pangeran Wang Dong segera meninggalkan halaman Paviliun tersebut. Dan undur diri dengan alasan ada urusan penting. Ibu Suri Rong Yue dan Raja Wang Ming kembali ke Aula Utama. Diikuti Li Jing dan Xiao Xing. Sejak hari itu, Pangeran Wang Dong semakin sering bertemu dengan mertuanya Menteri Keuangan. “Yang Mulia, apakah rencana kita, bisa tetap kita laksanakan?” tanya Bong An pada menantunya pada suatu malam. “Tetap kita laksanakan. Aku akan menyuruh pengawal ku memberikan surat pada Paman Pong di Kerajaan Angin,” jawab Pangeran Wang Dong pada mertuanya. “Yang Mulia, waktu Raja Wang Ming adakan pesta ulang tahun, bukankah Pong datang?” “Iya. Tapi karena insiden memalukan itu, Paman pulang terlebih dahulu. Ada banyak urusan juga yang beliau kerjakan.” “Tapi apakah Beliau setuju dengan rencana kita?” “Selama ini Paman Pong, selalu setuju jika itu usul atau ide Ibu Suri Rong Yue.” “Baiklah jika demikian. Maka hamba akan siapkan perbekalan makanan untuk para tentara di perbatasan,” jawab Bong An sambil menyeringai. “Lakukan dengan baik, Menteri Bong An?” Cibir Wang Dong dengan seringai penuh arti. ***** Di kediaman Li Jing. A Chen dan A Xiong datang menghadap. “Salam, Yang Mulia Permaisuri. Kami kembali membawa laporan,” ujar kedua pengawal bayangan itu serempak di hadapan Li Jing. “Laporkan!” “Pergerakan Perdana Menteri Pong dan Menteri Keuangan Bong An serta Pangeran Wang Dong telah terlihat. Mereka menyiapkan pasokan bahan makanan para tentara ke perbatasan.” “Tapi pasokan itu diberi tanah dan tidak layak dimakan,” lapor A Chen. Brak! Li Jing menggebrak meja dengan keras. “Sungguh berani mereka memberikan makanan tidak layak pada para pasukan!” “Lalu, apa rencana Yang Mulia?” tanya A Xiong pada Li Jing. “Kau, diam-diam kumpulkan para bandit di pegunungan Celah Utara. Berikan suratku ini pada ketua bandit disana,” perintah Li Jing pada A Chen. “Kau siapkan bahan makanan baru yang harus kita kirim ke pasukan di perbatasan,” perintah Li Jing pada A Xiong. “Baik, Yang Mulia.” Jawab keduanya yang langsung melesat pergi. Mata indah Li Jing kembali menerawang ke cakrawala malam. “Xing, siapkan baju samaran ku. Ada tugas yang harus aku lakukan saat ini!” “Yang Mulia mau kemana?” “Aku akan keluar sebentar,” jawab Li Jing tergesa. “Yang Mulia, jika Raja Wang Ming datang bagaimana? Sekarang Selir ehm maksud hamba Pelayan Mei Ling sudah di hukum?” “Jangan sampai, Yang Mulia tahu. Cepat matikan semua lilin. Padamkan lentera. Dan berjagalah di depan. Jika Yang Mulia datang kau harus katakan bahwa aku sedang tidak enak badan dan sudah tidur,” saran Li Jing pada Xiao Xing. Li Jing segera menyelinap di gelapnya malam. Dengan mengenakan pakaian seorang pendekar berwarna hitam. Xiao Xing langsung melakukan apa yang telah diperintahkan padanya oleh Li Jing. Dengan gerakan gesit dan lincah, Li Jing menggunakan ilmu meringankan badan menyelinap, mengintai kediaman Bong An. Dia tidak hanya mendengar apa yang dilaporkan tapi dia ingin melihat bagaimana bahan makanan di gudang Bong An yang disiapkan oleh Bong An dan Wang Dong untuk dikirim esok hari. Tiba di sisi gudang makanan Bong An. Li Jing mengendap-endap membuka pintu gudang yang masih dibuka, menandakan kegiatan untuk menyiapkan bahan makanan itu belum selesai. Di dalam gudang makanan itu, Li Jing bersembunyi dan mengamati kegiatan yang dilakukan oleh anak buah Bong An. “Gila! Mereka benar-benar mencampur gandum itu dengan pasir dan kerikil. Bahkan lebih banyak pasir dan kerikilnya daripada gandumnya,” monolog Li Jing dalam hatinya. “Mereka juga menaburkan serbuk racun di atas daging kering dan sayuran. Benar-benar tidak punya hati!” geram Li Jing. Li Jing mulai menghitung semua karung goni yang digunakan dan mencatat baik-baik dalam ingatannya. Dengan hati-hati, Li Jing kemudian keluar dari gudang itu. Krak! Li Jing tak sengaja menginjak ranting dan kayu yang berserakan di sana membuat banyak orang berteriak dan mulai keluar memburu Li Jing. “Siapa itu?” “Siapa di sana?” Teriakan itu membuat jantung Li Jing seperti genderang yang ditabuh bertalu-talu. “Kejar dia!” Li Jing pun berlari dan menyelinap di kegelapan malam. Meninggalkan gudang dan kejaran para pekerja Bong An. “Hah, untung sudah sampai. Jika tidak, pasti akan gagal rencana ku?” lirih Li Jing yang sudah masuk ke halaman paviliunnya. Di depan pintu paviliunnya terlihat sosok yang sangat familiar, dan terlihat Xiao Xing sangat panik. Benar dugaan Xiao Xing, malam itu Raja Wang Ming akan datang berkunjung ke Paviliunnya. “Astaga, dia datang! Aku harus segera menyelinap ke bilik mandiku.” “Pelayan! Kau sungguh tidak tahu Permaisuri kemana?” tanya gusar Raja Wang Ming pada semua pelayan di sana. “Ampun Yang Mulia, ampun. Hamba tadi telah melihat Yang Mulia sudah tidur, dan Yang Mulia Permaisuri, tidak keluar lagi.” “Lancang!” Plak! Plak! “Kalian telah lalai jaga Permaisuri. Jika ada apa-apa pada Permaisuri kepala kalian akan aku pastikan terpajang di alun-alun ibukota!” bentak Wang Ming emosi."Aku harus segera melaporkan hal ini pada Tuanku," gumam di hati Tuan Tang.Ia berjalan cepat menuju halaman belakang istana yang sepi, tangan kanannya meremas selembar kertas kecil tersembunyi di balik lengan jubah. Matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tak ada siapa pun yang melihat. Ia mengeluarkan seekor burung merpati dari keranjang anyaman yang dibawanya, lalu mengikat gulungan pesan di kaki salah satunya. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dadanya. Tangannya melepaskan burung itu langsung ditarik dan terhenti mendadak saat terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah semak belukar."Siapa di sana?"Tuan Tang tersentak hebat, burung merpati itu telah terlepas dari genggamannya, namun ternyata ada yang datang. Ia berbalik perlahan mencoba menetralkan sikap dan wajahnya. Di hadapannya berdiri dua prajurit yang mengenakan seragam patroli keamanan istana, A Chen dan A Xiong yang menyamar menjadi petugas patroli. Wajah mereka
"Ada apakah ini? Kenapa aku merasa ada yang berbeda? Semua menjadi tidak seperti biasanya?" Tuan Tang bergumam pelan, jemarinya meremas ujung lengan jubahnya yang halus. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia berjalan mendekati pintu, mengintai celah kecil ke arah lorong istana yang sepi namun terasa tegang.Di ruang sidang utama, ketegangan sudah memuncak sedari pagi. Suara bentakan terdengar hingga ke ambang pintu."Katakan padaku! Siapa yang berani menimbun beras hingga harga naik tiga kali lipat dalam seminggu!" Raja Wang Ming berdiri dari kursi takhtanya, telapak tangannya menghantam meja berat hingga piala di atasnya bergemerincing. "Rakyat di desa perbatasan mulai kelaparan! Pedagang dari Kerajaan Timur menolak masuk jalur perdagangan! Kerajaan tetangga mengancam akan memutus hubungan dagang sepenuhnya!""Ampun Yang Mulia. Kami tak tahu Yang Mulia!" Salah seorang pejabat daerah berlutut dengan wajah pucat. "Setiap pagi pasar kosong melompong. Barang-barang diangkut p
Di Kerajaan Langit saat sidang pagi akan dimulai seorang utusan berteriak lantang," Laporrr! Yang Mulia! Pesan rahasia dari Komandan Gun!" Raja Wang Ming menyambut burung merpati itu dengan tangan gemetar. Ia membuka gulungan kecil yang terikat di kaki burung itu seketika, membaca setiap baris tulisan di bawah cahaya pelita yang bergetar. Di sampingnya berdiri Ratu Li Jing, menatap wajah suaminya yang perlahan berubah serius seketika. "Ada kabar dari Kakakku?" tanya Li Jing pelan, napasnya tertahan. Raja Wang Ming mengangguk mantap namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Kakakku telah selamat. Ia telah diselamatkan dan kini disembunyikan di tempat aman yang tak diketahui siapa pun. Namun kabar yang dibawanya jauh lebih mengerikan dari apa pun yang kita duga selama ini." Raja Wang Ming menatap istrinya, suaranya rendah namun bergema penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. "Li Jing... mata-mata terbesar Kerajaan Angin bukan orang asing. Ia berdiri di samping k
Pasukan Kerajaan Angin pun segera berbalik arah, melesat meninggalkan perkemahan yang kini sepi dan sunyi. Debu yang terangkat akibat langkah kaki kuda dan prajurit perlahan turun kembali ke tanah, menyisakan kesunyian yang mencekam seakan tak pernah ada kehidupan di sana. Perdana Menteri Pong menoleh sekali lagi ke arah lembah tempat gudang kayu bakar itu berdiri, matanya menyala penuh janji balas dendam yang kelak akan datang berkali-kali lipat lebih dahsyat. Lalu ia melesat pergi bersama pasukannya, menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti puncak pegunungan.Di puncak bukit utara, Pangeran Wang Dong berdiri diam di atas batu tinggi menatap bayangan pasukan musuh yang perlahan lenyap dari pandangan. Napasnya masih terasa berat namun dadanya kini terasa jauh lebih lega. Ia selamat. Ia hidup dan yang paling penting, ia membawa pulang kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kedok kesopanan seorang pria yang berdiri tepat di samping takhta adiknya.Komandan Gun melangkah
"Siapa kalian?" Pangeran Wang Dong meloncat bangkit meski kakinya masih terbelenggu, matanya menyala tajam menatap tiga sosok yang tiba-tiba muncul dari kegelapan gudang. "Jangan mendekat! Katakan siapa yang menyuruh kalian datang!""Tenang Yang Mulia. Kami dikirim Komandan Gun atas perintah Jenderal Lie Kwang." Salah satu pengintai itu berlutut di lantai berdebu, suaranya berbisik namun tegas. "Kami datang untuk menyelamatkan Yang Mulia. Silakan ikut kami sekarang juga. Waktunya sangat mendesak."Pangeran Wang Dong menatap mereka lekat-lekat sejenak, lalu napasnya memburu menahan rasa sakit sekaligus harapan yang tiba-tiba melonjak tinggi. Namun seketika itu juga ia mengangkat tangan menahan langkah mereka yang hendak memutuskan rantai besi di pergelangan kakinya."Tunggu." Pangeran Wang Dong mundur selangkah, menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Aku akan ikut kalian, namun ada satu syarat mutlak."Pengintai itu tertegun sejenak. "Sebutkan Yang Mulia. Segala sesuatu
"Dia telah pergi. Tapi... Aku harus bagaimana sekarang?"Pangeran Wang Dong merosot kembali ke tanah berbatu yang dingin, napasnya memburu menahan rasa sakit sekaligus keputusasaan yang perlahan mulai merayap di dadanya. Ia menatap pintu kayu tebal itu dengan tatapan tajam namun penuh kegelisahan. Rantai besi di pergelangan tangan dan kakinya terasa begitu berat dan tak mungkin diputus hanya dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya yang lemah. Namun di tengah kegelapan yang menyelimuti gudang itu, secercah harapan perlahan muncul kembali di benaknya. Jika ada orang yang telah mengikuti rombongan ini sejauh ini seperti yang dicurigai Tuan Tang tadi... mungkin saja orang itu masih berada di dekat sini. Mungkin saja pengintai Kerajaan Langit itu masih mengawasi dari balik tebing atau pepohonan gelap di sekitar perkemahan. "Ya, aku ingat. Saat itu ada kepanikan dari mereka, jika ada bayangan yang mencintai mereka hingga sampai tempat ini. Tandanya ada yang tahu aku disekap disini. Semoga di
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji







