LOGIN“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?”
Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “Istriku, dari mana? Aku tadi sudah masuk dan ingin menjenguk Anda. Apakah masih sakit?” “ Yang Mulia, ampun, Yang Mulia. Tadi hamba ke bilik karena gerah, jadi sedikit berendam di air hangat sisa tadi.” “Oh iya? Tapi, aku tidak mendengar ada suara apapun di bilik Anda, Istriku.” “Ampun Yang Mulia, karena kelelahan setelah mempersiapkan acara kemarin, Hamba ketiduran di sana sebentar,” jawab Li Jing canggung dengan selidik yang dilakukan Raja Wang Ming. “Mengapa sampai tertidur disana, pasti akan masuk angin. Aku panggilkan tabib istana dulu.” “Oh, tidak usah Yang Mulia, hamba baik-baik saja. Hanya kelelahan biasa. Sekarang juga sudah segar kembali,” cegah Li Jing cepat. “Kaki Anda kenapa, Istriku? Kok bengkak?” “Oh, ini tadi Hamba terkejut ada suara berisik di depan dan akhirnya Hamba terpeleset di bilik mandi Hamba, Yang Mulia,” jawab Li Jing dengan menutupi mata kakinya yang mulai membiru. “Pelayan! Panggil Tabib!” “Baik, Yang Mulia.” “Yang Mulia, ini baik-baik saja. Hanya terkilir sedikit.” “Terkilir sedikit bagaimana? Ini sudah sedikit membiru. Pasti sangat sakit dan harus segera diobati.” Li Jing pun terdiam. Dia lelah sekali jika harus debat malam itu. “Terima kasih Yang Mulia. Yang Mulia sudah perhatian sama Hamba,” ucap Li Jing dengan sedikit membungkukkan badannya. “Ssstt, diam di sana. Biarkan aku yang menemani Anda malam ini.” “Yang Mulia, hamba lagi tidak enak badan, bagaimana Yang Mulia akan di sini? Nanti Yang Mulia tertular.” “Saya baik-baik saja. Tidak akan tertular.” Li Jing tak lagi mampu menjawab dan mengelak. Hatinya kini merasa sangat gelisah. Ada sesuatu yang dia lihat di tatapan mata biru Sang Raja, seperti sedang merasa curiga. Tak lama tabib istana datang dan memeriksa cidera yang dialami Li Jing. “Bagaimana tabib Feng?” “Yang Mulia, kaki Yang Mulia Permaisuri, sepertinya agak parah, sehingga untuk beberapa saat, tidak bisa berjalan dan beraktivitas berat atau melelahkan. Karena cidera ini membuat Yang Mulia Permaisuri harus istirahat total.” “Apakah karena jatuh terpeleset? Atau karena hal lain?” tanya tiba-tiba Wang Ming pada tabib Feng. Membuat hati Li Jing seperti diremas mendadak. “Sial. Wang Ming curiga padaku? Aku harus bisa mengalihkan perhatiannya dari cidera kakiku,” bisik lirih dalam hati Li Jing. “Yang Mulia, salep ini bagus sekali. Sekali usap langsung tidak terasa sakit. Tapi, tiba-tiba Hamba merasa sangat mengantuk dan lelah sekali,” ucap Li Jing berharap Wang Ming segera pergi dari kamarnya. Wang Ming terdiam dan menatap pe ih selidik pada Li Jing. Namun kemudian melangkah meninggalkan kamar Li Jing. “Baiklah, sepertinya istriku malam ini ingin sendiri. Aku akan kembali ke ruang kerjaku. Jika ada apa-apa langsung suruh pelayan Anda panggil aku!” perintah tegas Raja Wang Ming pada Li Jing dan semua pelayan di sana. “Terima kasih Yang Mulia. Hamba hantarkan Yang Mulia.” Sepeninggal Wang Ming dari sana. Li Jing bernafas lega. “Xing, apakah tadi Raja Wang Ming lama menunggu?” “Iya, Yang Mulia. Dan sepertinya Yang Mulia Raja, tidak percaya pada Anda, Yang Mulia?” jawab Xiao Xing hati-hati dan setengah berbisik. “Biarkan saja. Yang penting kalian tidak dihukum.” “Yang Mulia, jangan diulangi lagi, hamba mohon, Yang Mulia. Ini sangat berbahaya,” mohon Xiao Xing pada Li Jing. “Ya. Aku juga sudah dapat buktinya. A Chen! Apakah kau sudah datang?” Bisik Li Jing. A Chen yang dipanggil segera menghadap Li Jing. “Ya, Yang Mulia, Hamba di sini.” “A Chen, kau harus segera beritahu Jendral Lie Hyun di perbatasan. Akan datang bahan makanan dari Bong An yang beracun.” “Siap, Yang Mulia. Tapi, bukankah tadi Yang Mulia sudah menyampaikan pesan pada kepala bandit di Celah Utara?” “Aku hanya antisipasi saja. Bahan makanan itu sudah diracuni. Mereka serius ingin merebut jalur perdagangan di sebelah Selatan,” ucap Li Jing. Terbayang di benak Li Jing, bagaimana di kehidupan lamanya, dia masih mengingat, gara-gara dia disekap dan disiksa maka semua pasukan papanya di perbatasan dibantai habis dengan racun. Sehingga papanya juga kembali dengan kondisi yang sudah teracuni. Lalu, keluarganya dibantai habis oleh Wang Dong yang menyalahgunakan dekrit Wang Ming tentang ‘pembersihan pasukan yang sudah terpapar racun dan bisa menular ke pasukan yang lain'. Alasan yang dibuat-buat dan dipaksakan. Serta berita bagaimana dulu dia mati di saat papanya juga baru pulang dari perbatasan. Sehingga membuat keluarganya menanggung malu dan difitnah akhirnya dibunuh semua. Kini, Li Jing tak ingin kejadian tragis itu terulang kembali. Dia harus membalikkan takdir kematian untuk keluarganya yang tak bersalah. “A Chen, siapkan sesuai perintahku!” “Baik, Yang Mulia.” A Chen pun melesat pergi secepat angin. ***** Di ruang kerja Raja Wang Ming. “Kasim Liang, menurutmu, apa yang disembunyikan oleh Permaisuri tadi? Mengapa dia tiba-tiba saja muncul padahal aku mencari ke dalam tadi, tidak ada siapa pun?” “Yang Mulia, seperti yang dikatakan oleh Permaisuri, bahwa Permaisuri tertidur di bilik mandi, jadi kemungkinan memang tidak akan kita dengar suara apapun.” “Apakah kau merasa bahwa hal itu wajar saja? Karena Permaisuri bukan orang yang ceroboh?” “Yang Mulia, kondisi Permaisuri akhir-akhir ini memang sering lemah. Pelayannya sering meminta tonik untuk mengurangi kelelahan.” “Baiklah. Aku tidak akan bahas ini lagi. Walaupun sebenarnya, aku merasa Permaisuri sedang menutupi sesuatu,” batin Wang Ming sambil terus membaca buku di tangannya. "Ada apakah sebenarnya? Raja Wang Ming seakan memikirkan sesuatu, ya? Tidak biasanya, Raja menanyakan Ratu Li Jing," gumam Kasim Liang di hatinya.Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan terasa panas di kulitnya yang halus putih seperti pualam. Li Jing terkejut dengan perubahan dari gelang warisan ibunya itu. "Ada apa ini, tidak biasanya gelang ini berubah warna dan terasa menyengat di kulit tanganku." "Xing, ambilkan air es cepat!" "Ya, Yang Mulia." "Ini, Yang Mulia." "Tambahkan lagi es batunya, tanganku makin panas, Xing." "Astaga, Yang Mulia, ini tangan Yang Mulia mengapa bisa semerah ini, seperti daging matang?" pekik Xiao Xing melihat tangan mulus Li Jing mulai kemerahan melepuh. "Aku tidak tahu, tiba-tiba gelang ibuku ini berubah warna menjadi warna merah seperti bara api dan terasa sangat panas." "Apakah itu sebuah pertanda bahaya?" gumam Xiao X
Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ada di bawah Kerajaan Langit. Kau pasti akan mendapatkan banyak pujian." "Oh, apakah ada tugas bagi Hamba juga, Ratu?" tanya Mei Ling dengan menekan kata 'Ratu' sebagai ejekan pada Li Jing. "Bukankah Selir Mei Ling suka sekali kesenian? Di dalam acara penyambutan tamu itu akan ada pertunjukan khusus untuk Selir Mei Ling dan para putri bangsawan untuk menampilkan kesenian yang mereka bisa. Aku dengar Selir Mei rela tidak tidur, hanya untuk melatih tarian dan musik yang akan dimainkan dan ditunjukkan di acara besok?" "Oh, tajam juga pendengaran Ratu, bahkan hamba saja belum mengatakan pada Anda. Tapi Anda sudah mengetahui semua, Ratu Li Jing." "Setiap acara harus didaftarkan di departeme
Keesokan harinya, Li jing bersiap akan mengumpulkan haram untuk dia atur saat acara besar yang di gelar di Kerajaan Langit esok hari. Li jing kumpulkan semua untuk dia atur supaya tidak ada kesalahan yang terjadi saat acara dilaksanakan. "Pagi ini, aku undang kalian untuk sama-sama bersiap diri di acara Perjamuan Bunga Jade, atau yang kita kenal sebagai acara Persahabatan Tiga tahunan yang mengundang banyak tamu yang mungkin sudah ada yang datang hari ini," jelas Li Jing di depan para harem Istana Langit. Kurang lebih empat orang. "Aku butuh bantuan kalian untuk sama-sama mempersiapkan acara ini dengan baik. Selir Yen dan Selir Kim bisa bantu untuk urusan penataan taman dan kebersihan taman supaya saat para tamu hadir mereka bisa nyaman.""Baik, Yang Mulia Permaisuri," jawab serentak Selor Yen dan Selir Kim yang baru diangkat dua bulan ini. "Selir Xia, kamu adalah selir muda dan cantik yang baru diangkat dua bulan ini juga, kamu bisa bantu untuk menata menu makanan kecil dan teh
Pagi itu di kediaman Ibu Suri Rong Yue.“Bibi Ang, apakah kau sudah tahu kabar Selir Mei Ling di Paviliun Terbengkalai? Apakah dia baik-baik saja?”“Hamba sudah mendapatkan kabar, Yang Mulia. Selir Mei Ling tetap bertahan.”“Bagus, sekarang kita bantu Selir Mei Ling dipulihkan kembali jabatannya. Aku punya rencana baik. Kau beritahu Raja bahwa aku memanggilnya. Suruh yang lain bebaskan Mei Ling dari sana.”“Baik. Yang Mulia.”Tak lama Mei Ling telah dibawa ke hadapan Ibu Suri. “Salam, Yang Mulia Ibu Suri. Hamba menghadap,” salam Mei Ling dengan muka sujud dan tersungkur di kaki Ibu Suri. “ Berdirilah.”“Terima kasih, Yang Mulia.” “Apakah kau sudah mendapatkan obat yang dibeli Pangeran Wang Dong untukmu?” “Sudah, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengobati Hamba.”“Itu karena Pangeran Wang Dong mengingat kau banyak membantu dia selama ini. Sekarang gunakan kesempatan yang aku berikan padamu, untuk mengembalikan posisi awalmu di hadapan Raja Wang Ming!” “ Hamba mengerti, Yang Mul
Tiba di Paviliun Mawar Phoniex, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Wang Ming yang sudah menunggu di ruangan pribadi Li Jing. "Yang Mulia," "Selamat malam Ratuku, apakah sudah merasa lega dan bahagia sudah jalan-jalan keluar istana? Bagaimana keadaan di luar istana, Ratuku?""Ampun Yang Mulia, hamba terlalu terburu-buru untuk keluar melihat-lihat banyak barang yang akan Hamba siapkan untuk acara besar beberapa hari lagi. Ampun, Yang Mulia.""Setidaknya kau bisa meminta pengawalku untuk menjagamu di jalan. Tapi, kau langsung keluar tanpa izin dariku. Apakah kau masih anggap aku ada?" sindir Wang Ming pahit, menusuk ulu hati Li Jing. "Hamba salah, Yang Mulia. Ampuni Hamba," mohon Li Jing yang telah tersungkur di kaki Wang Ming. "Sudahlah! Aku hanya ingin kau selamat dan tidak ada yang ganggu Ratuku. Sekarang layani aku, sebagai hukuman kau harus layani aku sampai pagi malam ini," bisik Wang Ming di telinga Li Jing yang membuat Li Jing merasa mual dan merinding. Xiao Xing ya
Pagi itu di kamar Li Jing, Li Jing nampak menulis sebuah surat. “A Chen!” “Ya, Yang Mulia!” “Berikan surat ini pada ayahku yang ada di perbatasan. Aku sudah cek gudang bahan makanan Mentri Bong An dan Pangeran Wang Dong, semua hanya pasir yang banyak! Sungguh keterlaluan mereka!” “Laksanakan, Yang Mulia.” Sisa angin dari kelebatan bayangan A Chen sempat membuat merinding. Gerakan itu sungguh cepat dan lincah. “Xiao Xing, aku harus cek kediaman Jendral hari ini. Aku mau tahu adalah sesuatu yang salah disana!” ucap Li Jing sambil menerawang langit cerah pagi itu. “Baik, Yang Mulia. Akan hamba siapkan.” Xiao Xing pun berkemas dan Li Jing bersiap. Perjalanan satu jam, Li Jing tiba di kediamannya. “Yang Mulia, Anda datang?” “Ya, apakah kamar Jendral sudah disiapkan?” “Sudah kami bersihkan Yang Mulia,” jawab serentak para pelayan yang menyambut Li Jing. “Xiao Xing, aku akan cek ruang kerja Jendral dulu.” “Hamba antarkan, Yang Mulia.” “Baiklah, kau be







