Home / Fantasi / TAKDIR KEDUA SANG RATU / Bab 6 Kecurigaan Raja

Share

Bab 6 Kecurigaan Raja

Author: Purplelove77
last update publish date: 2026-06-02 13:31:29

“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?”

Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya.

“Yang Mulia…”

Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming.

“Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega.

“Istriku, dari mana? Aku tadi sudah masuk dan ingin menjenguk Anda. Apakah masih sakit?”

“ Yang Mulia, ampun, Yang Mulia. Tadi hamba ke bilik karena gerah, jadi sedikit berendam di air hangat sisa tadi.”

“Oh iya? Tapi, aku tidak mendengar ada suara apapun di bilik Anda, Istriku.”

“Ampun Yang Mulia, karena kelelahan setelah mempersiapkan acara kemarin, Hamba ketiduran di sana sebentar,” jawab Li Jing canggung dengan selidik yang dilakukan Raja Wang Ming.

“Mengapa sampai tertidur disana, pasti akan masuk angin. Aku panggilkan tabib istana dulu.”

“Oh, tidak usah Yang Mulia, hamba baik-baik saja. Hanya kelelahan biasa. Sekarang juga sudah segar kembali,” cegah Li Jing cepat.

“Kaki Anda kenapa, Istriku? Kok bengkak?”

“Oh, ini tadi Hamba terkejut ada suara berisik di depan dan akhirnya Hamba terpeleset di bilik mandi Hamba, Yang Mulia,” jawab Li Jing dengan menutupi mata kakinya yang mulai membiru.

“Pelayan! Panggil Tabib!”

“Baik, Yang Mulia.”

“Yang Mulia, ini baik-baik saja. Hanya terkilir sedikit.”

“Terkilir sedikit bagaimana? Ini sudah sedikit membiru. Pasti sangat sakit dan harus segera diobati.”

Li Jing pun terdiam. Dia lelah sekali jika harus debat malam itu.

“Terima kasih Yang Mulia. Yang Mulia sudah perhatian sama Hamba,” ucap Li Jing dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Ssstt, diam di sana. Biarkan aku yang menemani Anda malam ini.”

“Yang Mulia, hamba lagi tidak enak badan, bagaimana Yang Mulia akan di sini? Nanti Yang Mulia tertular.”

“Saya baik-baik saja. Tidak akan tertular.”

Li Jing tak lagi mampu menjawab dan mengelak. Hatinya kini merasa sangat gelisah. Ada sesuatu yang dia lihat di tatapan mata biru Sang Raja, seperti sedang merasa curiga.

Tak lama tabib istana datang dan memeriksa cidera yang dialami Li Jing.

“Bagaimana tabib Feng?”

“Yang Mulia, kaki Yang Mulia Permaisuri, sepertinya agak parah, sehingga untuk beberapa saat, tidak bisa berjalan dan beraktivitas berat atau melelahkan. Karena cidera ini membuat Yang Mulia Permaisuri harus istirahat total.”

“Apakah karena jatuh terpeleset? Atau karena hal lain?” tanya tiba-tiba Wang Ming pada tabib Feng. Membuat hati Li Jing seperti diremas mendadak.

“Sial. Wang Ming curiga padaku? Aku harus bisa mengalihkan perhatiannya dari cidera kakiku,” bisik lirih dalam hati Li Jing.

“Yang Mulia, salep ini bagus sekali. Sekali usap langsung tidak terasa sakit. Tapi, tiba-tiba Hamba merasa sangat mengantuk dan lelah sekali,” ucap Li Jing berharap Wang Ming segera pergi dari kamarnya.

Wang Ming terdiam dan menatap pe ih selidik pada Li Jing. Namun kemudian melangkah meninggalkan kamar Li Jing.

“Baiklah, sepertinya istriku malam ini ingin sendiri. Aku akan kembali ke ruang kerjaku. Jika ada apa-apa langsung suruh pelayan Anda panggil aku!” perintah tegas Raja Wang Ming pada Li Jing dan semua pelayan di sana.

“Terima kasih Yang Mulia. Hamba hantarkan Yang Mulia.”

Sepeninggal Wang Ming dari sana. Li Jing bernafas lega.

“Xing, apakah tadi Raja Wang Ming lama menunggu?”

“Iya, Yang Mulia. Dan sepertinya Yang Mulia Raja, tidak percaya pada Anda, Yang Mulia?” jawab Xiao Xing hati-hati dan setengah berbisik.

“Biarkan saja. Yang penting kalian tidak dihukum.”

“Yang Mulia, jangan diulangi lagi, hamba mohon, Yang Mulia. Ini sangat berbahaya,” mohon Xiao Xing pada Li Jing.

“Ya. Aku juga sudah dapat buktinya. A Chen! Apakah kau sudah datang?” Bisik Li Jing.

A Chen yang dipanggil segera menghadap Li Jing.

“Ya, Yang Mulia, Hamba di sini.”

“A Chen, kau harus segera beritahu Jendral Lie Hyun di perbatasan. Akan datang bahan makanan dari Bong An yang beracun.”

“Siap, Yang Mulia. Tapi, bukankah tadi Yang Mulia sudah menyampaikan pesan pada kepala bandit di Celah Utara?”

“Aku hanya antisipasi saja. Bahan makanan itu sudah diracuni. Mereka serius ingin merebut jalur perdagangan di sebelah Selatan,” ucap Li Jing.

Terbayang di benak Li Jing, bagaimana di kehidupan lamanya, dia masih mengingat, gara-gara dia disekap dan disiksa maka semua pasukan papanya di perbatasan dibantai habis dengan racun. Sehingga papanya juga kembali dengan kondisi yang sudah teracuni. Lalu, keluarganya dibantai habis oleh Wang Dong yang menyalahgunakan dekrit Wang Ming tentang ‘pembersihan pasukan yang sudah terpapar racun dan bisa menular ke pasukan yang lain'.

Alasan yang dibuat-buat dan dipaksakan. Serta berita bagaimana dulu dia mati di saat papanya juga baru pulang dari perbatasan. Sehingga membuat keluarganya menanggung malu dan difitnah akhirnya dibunuh semua.

Kini, Li Jing tak ingin kejadian tragis itu terulang kembali. Dia harus membalikkan takdir kematian untuk keluarganya yang tak bersalah.

“A Chen, siapkan sesuai perintahku!”

“Baik, Yang Mulia.”

A Chen pun melesat pergi secepat angin.

*****

Di ruang kerja Raja Wang Ming.

“Kasim Liang, menurutmu, apa yang disembunyikan oleh Permaisuri tadi? Mengapa dia tiba-tiba saja muncul padahal aku mencari ke dalam tadi, tidak ada siapa pun?”

“Yang Mulia, seperti yang dikatakan oleh Permaisuri, bahwa Permaisuri tertidur di bilik mandi, jadi kemungkinan memang tidak akan kita dengar suara apapun.”

“Apakah kau merasa bahwa hal itu wajar saja? Karena Permaisuri bukan orang yang ceroboh?”

“Yang Mulia, kondisi Permaisuri akhir-akhir ini memang sering lemah. Pelayannya sering meminta tonik untuk mengurangi kelelahan.”

“Baiklah. Aku tidak akan bahas ini lagi. Walaupun sebenarnya, aku merasa Permaisuri sedang menutupi sesuatu,” batin Wang Ming sambil terus membaca buku di tangannya.

"Ada apakah sebenarnya? Raja Wang Ming seakan memikirkan sesuatu, ya? Tidak biasanya, Raja menanyakan Ratu Li Jing," gumam Kasim Liang di hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 180 Epilog (END)

    "Berhenti! Jangan nyalakan api itu!" Suara Raja Wang Ming membelah kegelapan. Pasukan Kerajaan Padang Pasir tersentak serentak. Mereka berputar ke arah sumber suara, dan saat melihat siapa yang berdiri di sana, napas mereka tertahan. Raja Pasir Besar melangkah maju dari tengah barisan, matanya melotot tak percaya. "Kau... bagaimana kau bisa sampai ke sini?" "Aku tidak datang sendirian." Raja Wang Ming menunjuk ke arah bukit pasir di belakangnya. Ratusan prajurit Kerajaan Langit dan Kerajaan Awan muncul perlahan, senjata terhunus namun tak terangkat untuk menyerang. Mereka telah mengepung tempat itu tanpa disadari siapa pun. "Kau tertangkap basah Raja Pasir Besar. Obor-obor itu, bahan bakar yang tersembunyi di balik pasir... semuanya sudah kami lihat." Raja Pasir Besar menatap sekeliling. Jalur mundur sudah tertutup rapat. Pasukannya tampak panik, tak tahu harus berbuat apa. Ia mengepalkan tangannya erat, giginya gemeletuk keras karena marah namun tak berdaya. "Baiklah. Kau menang

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 179 Niat Baik Panglima Ga - Rang

    Matahari baru saja terbenam ketika bayangan tunggal berjalan perlahan di atas pasir yang masih menyisakan kehangatan siang. Panglima Ga-Rang tidak membawa senjata. Hanya sebotol air dan selembar kain penutup kepala yang lusuh. Langkahnya berat namun pasti, menembus keheningan gurun yang luas dan sunyi.Di kejauhan, di perbatasan selatan Kerajaan Langit, dua pengawal melihat sosok itu mendekat. Mereka segera berdiri tegak, tombak terhunus."Berhenti di sana! Siapa kau?"Panglima Ga-Rang berhenti, mengangkat kedua tangannya perlahan. "Aku datang bukan untuk berkelahi. Aku ingin menemui Raja Wang Ming. Ada hal mendesak yang harus kukatakan sebelum fajar tiba."Saat ia dibawa masuk ke ruang pertemuan di pos perbatasan, Raja Wang Ming segera berdiri menyambutnya. Wajahnya tidak menunjukkan curiga sedikit pun."Masuklah. Duduklah. Kau terlihat kelelahan.""Terima kasih Yang Mulia." Panglima Ga-Rang duduk perlahan, meneguk air yang disodorkan kepadanya. "Aku tidak datang atas perintah siapa

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 178 Raja Kerajaan Pasir Tidak Terima

    Di istana Kerajaan Padang Pasir, suasana tegang mencekam. Di ruang sidang utama, lima penguasa wilayah berkumpul. Wajah mereka gelap dan tak sabar menunggu kabar dari pasukan yang dikirim ke selatan. Tiba-tiba pintu terbuka paksa. Seorang utusan masuk dengan napas memburu, wajahnya penuh debu dan keringat. Ia berlutut di hadapan singgasana pasir. "Kabar dari lembah selatan Yang Mulia. Pasukan kita... pulang tanpa pertempuran." Salah satu penguasa, Raja Pasir Besar, melompat berdiri. "Apa maksudmu? Panglima Ga-Rang tak menyerang?" "Raja Wang Ming tidak bertempur dengan pedang Yang Mulia." Utusan itu menunduk dalam. "Ia menutup jalan di lembah, memojokkan pasukan kita, lalu menawarkan air dan makanan. Ia memberi kesempatan menyerah tanpa menuntut balas. Banyak prajurit kita yang memilih meletakkan senjata. Panglima Ga-Rang pulang sendirian, namun tidak sebagai pemimpin yang menang." Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Salah satu penguasa yang lebih tua, Raja Pasir Halus, m

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 177 Perlawanan Tidak Selalu Dengan Kekerasan dan Perang

    "Kita berjuang mati-matian! Panjat bukit itu! Bunuh siapa pun yang menghalangi!"Panglima Ga-Rang melesat memimpin pasukannya menyerbu lereng bukit pasir. Kuda-kuda meringkik liar, kakinya tergelincir di pasir yang bergerak di setiap langkah. Pasukan Kerajaan Padang Pasir berusaha memanjat dengan senjata terhunus, namun pasir yang longgar membuat mereka terus tergelincir ke bawah."Tahan posisi!" Raja Wang Ming berteriak lantang. "Jangan turun ke bawah! Biarkan mereka kelelahan sendiri!"Prajurit Kerajaan Langit tetap berdiri di atas bukit, melemparkan batu-batu besar dan tumpukan pasir ke arah mereka yang berusaha naik. Tak ada yang terbunuh, namun jalan naik tertutup rapat. Pasukan Panglima Ga-Rang semakin panik. Mereka berputar-putar di dasar lembah yang panas, kering, dan semakin sempit."Kepung mereka dari sisi kanan!" teriak Wu Chen melompat turun ke lereng yang lebih landai bersama dua puluh prajurit pilihan. Mereka bergerak cepat, memotong jalan mundur yang tersisa.Panglima G

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 176 Strategi Perang Sang Ratu

    "Biarkan mereka datang. Tapi mereka akan menemukan bahwa dua kerajaan yang bersatu jauh lebih kuat daripada satu kerajaan yang serakah."Raja Wang Ming memacu kudanya perlahan membelah pagi yang baru menyingsing. Debu semakin tebal dan gelap, menandakan pasukan Kerajaan Padang Pasir terus bergerak mendekat. Wu Chen berkuda di sampingnya, matanya tak lepas dari bayangan itu."Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan Yang Mulia.""Mereka terburu-buru karena mereka pikir kita belum siap." Raja Wang Ming menatap lurus ke depan. "Mereka tidak tahu bahwa kita sudah bersatu dengan Raja Guang Shen. Itu keunggulan terbesar kita saat ini."Sesampainya kembali di istana, rapat darurat segera dibuka. Peta besar terbentang di atas meja panjang di ruang sidang. Raja Wang Ming berdiri di ujung meja, menunjuk wilayah selatan dengan tegas."Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar." Suaranya tenang namun lantang, terdengar jelas di seluruh ruangan. "Kelompok pertama menuju jalur timur Kerajaan Awa

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 175 Pertemuan Rahasia

    "Perang baru sedang mengintai dari arah pasir yang panas itu," gumam Raja Wang Ming pelan. "Kali ini, pertempuran bukan hanya untuk takhta. Tapi untuk keadilan bagi setiap orang yang tinggal di tanah ini."Li Jing mengangguk pelan. "Raja Guang Shen adalah kawan baikmu. Dia tidak berdiri di pihak mereka. Dia hanya memberi tahu apa yang terjadi di jalur selatan yang berbatasan langsung dengan wilayahnya. Kita tidak boleh salah paham.""Kau benar." Raja Wang Ming menarik napas panjang, menenangkan dirinya. "Raja Guang Shen tidak melawan kita. Dia memperingatkan kita. Itulah sebabnya dia mengirim pesan secara rahasia. Dia tahu bahaya ini mengancam kerajaan kita berdua."Tiga hari kemudian, utusan kembali membawa kabar baru, kali ini lebih mendesak. Raja Guang Shen mengundang Raja Wang Ming untuk bertemu secara rahasia di pos perbatasan selatan, di tempat yang tersembunyi di antara bukit pasir, jauh dari pantauan mata-mata Kerajaan Padang Pasir."Aku akan pergi sendiri," kata Raja Wang Min

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 4 Jebakan Yang Menjadi Bumerang

    Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU    Bab 3 Racun di Cawan Anggur

    Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 5 Dekrit Raja

    “Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU    Bab 2 Nasib Sang Ratu

    “Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status