LOGIN“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?”
Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Jing. “Hei, Li Jing! Apa kau masih berpikir, kau masih Permaisuri di Istana Langit? Jangan mimpi!” Mei Ling menambahkan, “Penyakit kelaminmu ini benar-benar berbau. Kau pikir, Kaisar Wang Ming masih mau melihatmu?” Dia menatap pelayannya. “Kau benar-benar membuatku jijik, Li Jing. Cambuk dia keras-keras!” perintah Mei Ling. “Baik, Nyonya.” Dua pelayan Mei Ling yang sedang menghukum cambuk Li Jing tidak berbelas kasih. Ctaaarrr! Ctaaarrr! “Aargghhhhhh!” Li Jing tengkurap di atas kursi kayu panjang sambil meringis kesakitan. Pakaian tipisnya yang berwarna putih penuh noda darah. Dia berteriak kesakitan berulang kali. Sambil menahan sakit, Li Jing bertanya, “Mei Ling, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau hanyalah Selir Utama. Selama ini, aku selalu bersikap baik padamu. Bahkan, aku menganggapmu seperti adik sendiri.” Mei Ling beranjak dari kursinya, menarik rambut Li jing. “Kita ini saudara sepupu. Tapi kenapa langit begitu buta? Kau bisa hidup enak menjadi permaisuri yang diakui rakyat dan dicintai Kaisar. Sedangkan aku?” Mei Ling tertawa menghina hingga wajahnya memerah dengan emosi meledak-ledak. Mei Ling berujar, “Kau buatku selalu dipandang rendah oleh semua orang. Semua itu karena status rendahku yang terlahir dari selir pamanmu yang kejam itu.” “Kau tahu, Li Jing? Ketika ibuku masih menjadi pelayan di kediaman jenderal Lie Hyun, pamanmu memperkosa ibuku saat mabuk” Masa lalu Mei Ling yang pahit berputar kembali di dalam ingatannya. Keluarga Paman Lou – paman Li Jing, menganggap ibu kandung Mei Ling sebagai pelayan penggoda. Akibatnya, Mei Ling selalu mendapatkan caci maki dari orang-orang di kediaman jenderal Lie Hyun. “Semua ini berawal dari keluargamu yang kejam. Aku akan balas dendam padamu,” maki Mei Ling. Li Jing mulai menangis. Dia tidak akan membiarkan nama baik orang tuanya rusak hanya karena selir rendahan seperti Mei Ling. Dengan angkuhnya, Mei Ling berdiri mengangkat dagu. Dia membayangkan hari-hari bahagia yang sebentar lagi akan datang. Hati kecil Li Jing merasakan sakit yang luar biasa. “Kini aku mengandung putra Naga! Tidak sepertimu, Permaisuri yang berselingkuh dengan laki-laki penyakitan.” Mei Ling tertawa puas. “Cukup!" Semua orang menoleh ke arah gerbang. Kaisar Wang Ming datang bersama Kasim dan pengawalnya. “Salam Yang Mulia, panjang umur dan bahagia selamanya,” sapa Mei Ling. “Segera berikan racun padanya,” perintah kaisar. Merasa ajalnya sudah dekat, Li Jing memohon ampun untuk yang terakhir kalinya. “Yang Mulia, Hamba benar-benar tidak mengenal laki-laki itu. Hamba difitnah dan dijebak!" “Diam! Sudah tertangkap basah seperti ini, kau masih saja mengelak. Li Jing, kau benar-benar cari mati!” bentak Wang Ming. Mei Ling membungkuk sedikit. Dia berbisik, “Ingat jalang, kau sekarang sudah tidak dipercaya Kaisar. Apapun yang kau katakan, hanyalah sampah.” Mei Ling mencengkeram baju Li Jing yang terluka, “Biar aku beritahu, semua ini adalah rencanaku dan Pangeran Wang Dong. Dia lah yang akan menggantikan Wang Ming. Kau korbannya, hahaha!" Wajah Li Jing pucat pasi bagaikan mayat kehilangan darah. “Mei Ling, kau…” Karena tidak ingin bertele-tele, Wang Ming langsung memberikan perintah. “Pengawal, paksa dia minum racun sekarang!” Pengawal memberikan secawan arak beracun pada Li Jing yang masih meronta dan memaksanya minum. Begitu racun masuk ke tenggorokan, Li Jing muntah darah dan terkapar di lantai. Dalam hati, Li Jing memohon, ‘Jika ada kehidupan kedua, aku akan memilih jalan yang lebih baik.’ Lalu, dia menghembuskan nafas terakhirnya. “Hahaha…” “Hahaha…” Terdengar kerasnya tawa Mei Ling dan Raja Wang Ming. Bagi Raja Wang Ming, tidak ada lagi Ratu Kerajaan Langit yang kotor seperti Li Jing. Namun bagi Mei Ling, tidak ada lagi penghalang langkahnya menuju tahta Ratu. “Buang dia ke makam terbengkalai, biarkan jasadnya dimakan serigala!” Para pelayan pun mematuhi titah Mei Ling yang diberikan anggukan persetujuan oleh Raja Wang Ming. Di Pemakaman Kuno. Angin berhembus tak bersahabat. Jasad Li Jing dibuang tanpa penghormatan dan tanpa nisan. Tepat saat itu, sisa darah Li Jing mengenai gelang Giok Bulan pemberian ibunya. Itu adalah hadiah dari Tabib Dewa Ren Hao. Byaaaarrr! Cahaya biru keputihan membungkus tubuh Li Jing. Dalam kematiannya, dia bertemu dengan seorang kakek membawa tongkat rumbai emas. Kakek itu mengusap-usap jenggotnya sambil berbicara pada jasad Li Jing. “Li Jing, waktumu belum tiba. Kembalilah ke kehidupanmu sebelumnya. Tapi, kau harus menolong sesama tanpa memandang status dan ikatan darah. Jika melanggar, kau tidak akan bisa bereinkarnasi selamanya.” Kakek tersebut mengeluarkan guci kecil berwarna biru dari dalam lengan jubahnya. Dia tersenyum samar. “Ini adalah air suci yang bisa kau pakai sebagai obat. Air ini tidak akan pernah habis asalkan kau menjaganya dengan baik.” Usai berkata demikian, kakek itu menghilang. Ajaibnya, Li Jing kembali ke kehidupan sebelumnya. Li Jing mengedarkan pandangan ke sekitarnya. “Ah, aku di mana? Bukannya aku sudah tewas karena dipaksa minum racun?” Ketika Li Jing masih sibuk memikirkan dirinya, terdengar suara dayang memanggilnya. “Yang Mulia? Apakah Anda sudah siap?” Dayang Xing berdiri di sisi Li Jing yang sedang duduk di meja rias. Di tangan dayang, terdapat sebuah jubah mewah dengan motif bunga peony yang indah. “Dayang Xing? Aku… harus siap untuk apa?” tanya Li Jing masih dalam kebingungan. “Yang Mulia, sekarang sudah waktunya mencoba jubah baru yang dikirim biro jahit untuk acara ulang tahun Raja Wang Ming besok. Apakah Yang Mulia lupa?” Li Jing membelalak. Dia menatap dirinya di cermin, lalu memperhatikan pakaiannya sendiri. Hati kecil Li Jing bertana-tanya, ‘Jadi, aku hidup kembali sehari sebelum acara ulang tahun laknat itu?’ Deru napas Li Jing tidak beraturan. Dadanya mulai sesak ketika benaknya mengingat kehidupan sebelumnya yang penuh luka dan air mata. Li Jing mengepalkan tangan. Emosi di dalam dirinya bergejolak. ‘Di acara itulah, aku dijebak dan dipermalukan. Sekarang, langit memberikanku kesempatan kedua. Aku tidak akan memilih jalan yang sama lagi.’ Li Jing berdiri, menatap dayangnya. “Berikan jubahnya,” pinta Li Jing. Li Jing mencoba jubahnya sambil memikirkan beberapa rencana untuk menghadapi Raja dan sepupunya. “Xing, siapkan penawar racun untukku,” perintah Li Jing. Dayang terkejut. Sebab, dia selalu berada di sisi Ratu. Kenapa dia sendiri tidak menyadari Ratu keracunan? “Hah? Penawar racun? Anda keracunan?” “Siapkan saja. mulai hari ini, kita akan menghadapi drama panjang.”"Berhenti! Jangan nyalakan api itu!" Suara Raja Wang Ming membelah kegelapan. Pasukan Kerajaan Padang Pasir tersentak serentak. Mereka berputar ke arah sumber suara, dan saat melihat siapa yang berdiri di sana, napas mereka tertahan. Raja Pasir Besar melangkah maju dari tengah barisan, matanya melotot tak percaya. "Kau... bagaimana kau bisa sampai ke sini?" "Aku tidak datang sendirian." Raja Wang Ming menunjuk ke arah bukit pasir di belakangnya. Ratusan prajurit Kerajaan Langit dan Kerajaan Awan muncul perlahan, senjata terhunus namun tak terangkat untuk menyerang. Mereka telah mengepung tempat itu tanpa disadari siapa pun. "Kau tertangkap basah Raja Pasir Besar. Obor-obor itu, bahan bakar yang tersembunyi di balik pasir... semuanya sudah kami lihat." Raja Pasir Besar menatap sekeliling. Jalur mundur sudah tertutup rapat. Pasukannya tampak panik, tak tahu harus berbuat apa. Ia mengepalkan tangannya erat, giginya gemeletuk keras karena marah namun tak berdaya. "Baiklah. Kau menang
Matahari baru saja terbenam ketika bayangan tunggal berjalan perlahan di atas pasir yang masih menyisakan kehangatan siang. Panglima Ga-Rang tidak membawa senjata. Hanya sebotol air dan selembar kain penutup kepala yang lusuh. Langkahnya berat namun pasti, menembus keheningan gurun yang luas dan sunyi.Di kejauhan, di perbatasan selatan Kerajaan Langit, dua pengawal melihat sosok itu mendekat. Mereka segera berdiri tegak, tombak terhunus."Berhenti di sana! Siapa kau?"Panglima Ga-Rang berhenti, mengangkat kedua tangannya perlahan. "Aku datang bukan untuk berkelahi. Aku ingin menemui Raja Wang Ming. Ada hal mendesak yang harus kukatakan sebelum fajar tiba."Saat ia dibawa masuk ke ruang pertemuan di pos perbatasan, Raja Wang Ming segera berdiri menyambutnya. Wajahnya tidak menunjukkan curiga sedikit pun."Masuklah. Duduklah. Kau terlihat kelelahan.""Terima kasih Yang Mulia." Panglima Ga-Rang duduk perlahan, meneguk air yang disodorkan kepadanya. "Aku tidak datang atas perintah siapa
Di istana Kerajaan Padang Pasir, suasana tegang mencekam. Di ruang sidang utama, lima penguasa wilayah berkumpul. Wajah mereka gelap dan tak sabar menunggu kabar dari pasukan yang dikirim ke selatan. Tiba-tiba pintu terbuka paksa. Seorang utusan masuk dengan napas memburu, wajahnya penuh debu dan keringat. Ia berlutut di hadapan singgasana pasir. "Kabar dari lembah selatan Yang Mulia. Pasukan kita... pulang tanpa pertempuran." Salah satu penguasa, Raja Pasir Besar, melompat berdiri. "Apa maksudmu? Panglima Ga-Rang tak menyerang?" "Raja Wang Ming tidak bertempur dengan pedang Yang Mulia." Utusan itu menunduk dalam. "Ia menutup jalan di lembah, memojokkan pasukan kita, lalu menawarkan air dan makanan. Ia memberi kesempatan menyerah tanpa menuntut balas. Banyak prajurit kita yang memilih meletakkan senjata. Panglima Ga-Rang pulang sendirian, namun tidak sebagai pemimpin yang menang." Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Salah satu penguasa yang lebih tua, Raja Pasir Halus, m
"Kita berjuang mati-matian! Panjat bukit itu! Bunuh siapa pun yang menghalangi!"Panglima Ga-Rang melesat memimpin pasukannya menyerbu lereng bukit pasir. Kuda-kuda meringkik liar, kakinya tergelincir di pasir yang bergerak di setiap langkah. Pasukan Kerajaan Padang Pasir berusaha memanjat dengan senjata terhunus, namun pasir yang longgar membuat mereka terus tergelincir ke bawah."Tahan posisi!" Raja Wang Ming berteriak lantang. "Jangan turun ke bawah! Biarkan mereka kelelahan sendiri!"Prajurit Kerajaan Langit tetap berdiri di atas bukit, melemparkan batu-batu besar dan tumpukan pasir ke arah mereka yang berusaha naik. Tak ada yang terbunuh, namun jalan naik tertutup rapat. Pasukan Panglima Ga-Rang semakin panik. Mereka berputar-putar di dasar lembah yang panas, kering, dan semakin sempit."Kepung mereka dari sisi kanan!" teriak Wu Chen melompat turun ke lereng yang lebih landai bersama dua puluh prajurit pilihan. Mereka bergerak cepat, memotong jalan mundur yang tersisa.Panglima G
"Biarkan mereka datang. Tapi mereka akan menemukan bahwa dua kerajaan yang bersatu jauh lebih kuat daripada satu kerajaan yang serakah."Raja Wang Ming memacu kudanya perlahan membelah pagi yang baru menyingsing. Debu semakin tebal dan gelap, menandakan pasukan Kerajaan Padang Pasir terus bergerak mendekat. Wu Chen berkuda di sampingnya, matanya tak lepas dari bayangan itu."Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan Yang Mulia.""Mereka terburu-buru karena mereka pikir kita belum siap." Raja Wang Ming menatap lurus ke depan. "Mereka tidak tahu bahwa kita sudah bersatu dengan Raja Guang Shen. Itu keunggulan terbesar kita saat ini."Sesampainya kembali di istana, rapat darurat segera dibuka. Peta besar terbentang di atas meja panjang di ruang sidang. Raja Wang Ming berdiri di ujung meja, menunjuk wilayah selatan dengan tegas."Mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar." Suaranya tenang namun lantang, terdengar jelas di seluruh ruangan. "Kelompok pertama menuju jalur timur Kerajaan Awa
"Perang baru sedang mengintai dari arah pasir yang panas itu," gumam Raja Wang Ming pelan. "Kali ini, pertempuran bukan hanya untuk takhta. Tapi untuk keadilan bagi setiap orang yang tinggal di tanah ini."Li Jing mengangguk pelan. "Raja Guang Shen adalah kawan baikmu. Dia tidak berdiri di pihak mereka. Dia hanya memberi tahu apa yang terjadi di jalur selatan yang berbatasan langsung dengan wilayahnya. Kita tidak boleh salah paham.""Kau benar." Raja Wang Ming menarik napas panjang, menenangkan dirinya. "Raja Guang Shen tidak melawan kita. Dia memperingatkan kita. Itulah sebabnya dia mengirim pesan secara rahasia. Dia tahu bahaya ini mengancam kerajaan kita berdua."Tiga hari kemudian, utusan kembali membawa kabar baru, kali ini lebih mendesak. Raja Guang Shen mengundang Raja Wang Ming untuk bertemu secara rahasia di pos perbatasan selatan, di tempat yang tersembunyi di antara bukit pasir, jauh dari pantauan mata-mata Kerajaan Padang Pasir."Aku akan pergi sendiri," kata Raja Wang Min
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka







