Beranda / Fantasi / TAKDIR KEDUA SANG RATU / Bab 2 Nasib Sang Ratu

Share

Bab 2 Nasib Sang Ratu

Penulis: Purplelove77
last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 13:13:56

“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?”

Ctaaarrr! Ctaaarrr!

Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai.

Mei Ling mengejek Li Jing. “Hei, Li Jing! Apa kau masih berpikir, kau masih Permaisuri di Istana Langit? Jangan mimpi!”

Mei Ling menambahkan, “Penyakit kelaminmu ini benar-benar berbau. Kau pikir, Kaisar Wang Ming masih mau melihatmu?”

Dia menatap pelayannya.

“Kau benar-benar membuatku jijik, Li Jing. Cambuk dia keras-keras!” perintah Mei Ling.

“Baik, Nyonya.”

Dua pelayan Mei Ling yang sedang menghukum cambuk Li Jing tidak berbelas kasih.

Ctaaarrr! Ctaaarrr!

“Aargghhhhhh!”

Li Jing tengkurap di atas kursi kayu panjang sambil meringis kesakitan. Pakaian tipisnya yang berwarna putih penuh noda darah. Dia berteriak kesakitan berulang kali.

Sambil menahan sakit, Li Jing bertanya, “Mei Ling, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau hanyalah Selir Utama. Selama ini, aku selalu bersikap baik padamu. Bahkan, aku menganggapmu seperti adik sendiri.”

Mei Ling beranjak dari kursinya, menarik rambut Li jing. “Kita ini saudara sepupu. Tapi kenapa langit begitu buta? Kau bisa hidup enak menjadi permaisuri yang diakui rakyat dan dicintai Kaisar. Sedangkan aku?”

Mei Ling tertawa menghina hingga wajahnya memerah dengan emosi meledak-ledak.

Mei Ling berujar, “Kau buatku selalu dipandang rendah oleh semua orang. Semua itu karena status rendahku yang terlahir dari selir pamanmu yang kejam itu.”

“Kau tahu, Li Jing? Ketika ibuku masih menjadi pelayan di kediaman jenderal Lie Hyun, pamanmu memperkosa ibuku saat mabuk”

Masa lalu Mei Ling yang pahit berputar kembali di dalam ingatannya. Keluarga Paman Lou – paman Li Jing, menganggap ibu kandung Mei Ling sebagai pelayan penggoda.

Akibatnya, Mei Ling selalu mendapatkan caci maki dari orang-orang di kediaman jenderal Lie Hyun.

“Semua ini berawal dari keluargamu yang kejam. Aku akan balas dendam padamu,” maki Mei Ling.

Li Jing mulai menangis. Dia tidak akan membiarkan nama baik orang tuanya rusak hanya karena selir rendahan seperti Mei Ling.

Dengan angkuhnya, Mei Ling berdiri mengangkat dagu. Dia membayangkan hari-hari bahagia yang sebentar lagi akan datang.

Hati kecil Li Jing merasakan sakit yang luar biasa.

“Kini aku mengandung putra Naga! Tidak sepertimu, Permaisuri yang berselingkuh dengan laki-laki penyakitan.”

Mei Ling tertawa puas.

“Cukup!"

Semua orang menoleh ke arah gerbang.

Kaisar Wang Ming datang bersama Kasim dan pengawalnya.

“Salam Yang Mulia, panjang umur dan bahagia selamanya,” sapa Mei Ling.

“Segera berikan racun padanya,” perintah kaisar.

Merasa ajalnya sudah dekat, Li Jing memohon ampun untuk yang terakhir kalinya.

“Yang Mulia, Hamba benar-benar tidak mengenal laki-laki itu. Hamba difitnah dan dijebak!"

“Diam! Sudah tertangkap basah seperti ini, kau masih saja mengelak. Li Jing, kau benar-benar cari mati!” bentak Wang Ming.

Mei Ling membungkuk sedikit. Dia berbisik, “Ingat jalang, kau sekarang sudah tidak dipercaya Kaisar. Apapun yang kau katakan, hanyalah sampah.”

Mei Ling mencengkeram baju Li Jing yang terluka, “Biar aku beritahu, semua ini adalah rencanaku dan Pangeran Wang Dong. Dia lah yang akan menggantikan Wang Ming. Kau korbannya, hahaha!"

Wajah Li Jing pucat pasi bagaikan mayat kehilangan darah. “Mei Ling, kau…”

Karena tidak ingin bertele-tele, Wang Ming langsung memberikan perintah.

“Pengawal, paksa dia minum racun sekarang!”

Pengawal memberikan secawan arak beracun pada Li Jing yang masih meronta dan memaksanya minum. Begitu racun masuk ke tenggorokan, Li Jing muntah darah dan terkapar di lantai.

Dalam hati, Li Jing memohon, ‘Jika ada kehidupan kedua, aku akan memilih jalan yang lebih baik.’

Lalu, dia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Hahaha…”

“Hahaha…”

Terdengar kerasnya tawa Mei Ling dan Raja Wang Ming. Bagi Raja Wang Ming, tidak ada lagi Ratu Kerajaan Langit yang kotor seperti Li Jing. Namun bagi Mei Ling, tidak ada lagi penghalang langkahnya menuju tahta Ratu.

“Buang dia ke makam terbengkalai, biarkan jasadnya dimakan serigala!”

Para pelayan pun mematuhi titah Mei Ling yang diberikan anggukan persetujuan oleh Raja Wang Ming.

Di Pemakaman Kuno.

Angin berhembus tak bersahabat. Jasad Li Jing dibuang tanpa penghormatan dan tanpa nisan. Tepat saat itu, sisa darah Li Jing mengenai gelang Giok Bulan pemberian ibunya. Itu adalah hadiah dari Tabib Dewa Ren Hao.

Byaaaarrr!

Cahaya biru keputihan membungkus tubuh Li Jing. Dalam kematiannya, dia bertemu dengan seorang kakek membawa tongkat rumbai emas. Kakek itu mengusap-usap jenggotnya sambil berbicara pada jasad Li Jing.

“Li Jing, waktumu belum tiba. Kembalilah ke kehidupanmu sebelumnya. Tapi, kau harus menolong sesama tanpa memandang status dan ikatan darah. Jika melanggar, kau tidak akan bisa bereinkarnasi selamanya.”

Kakek tersebut mengeluarkan guci kecil berwarna biru dari dalam lengan jubahnya. Dia tersenyum samar.

“Ini adalah air suci yang bisa kau pakai sebagai obat. Air ini tidak akan pernah habis asalkan kau menjaganya dengan baik.”

Usai berkata demikian, kakek itu menghilang. Ajaibnya, Li Jing kembali ke kehidupan sebelumnya.

Li Jing mengedarkan pandangan ke sekitarnya. “Ah, aku di mana? Bukannya aku sudah tewas karena dipaksa minum racun?”

Ketika Li Jing masih sibuk memikirkan dirinya, terdengar suara dayang memanggilnya.

“Yang Mulia? Apakah Anda sudah siap?”

Dayang Xing berdiri di sisi Li Jing yang sedang duduk di meja rias. Di tangan dayang, terdapat sebuah jubah mewah dengan motif bunga peony yang indah.

“Dayang Xing? Aku… harus siap untuk apa?” tanya Li Jing masih dalam kebingungan.

“Yang Mulia, sekarang sudah waktunya mencoba jubah baru yang dikirim biro jahit untuk acara ulang tahun Raja Wang Ming besok. Apakah Yang Mulia lupa?”

Li Jing membelalak. Dia menatap dirinya di cermin, lalu memperhatikan pakaiannya sendiri.

Hati kecil Li Jing bertana-tanya, ‘Jadi, aku hidup kembali sehari sebelum acara ulang tahun laknat itu?’

Deru napas Li Jing tidak beraturan. Dadanya mulai sesak ketika benaknya mengingat kehidupan sebelumnya yang penuh luka dan air mata.

Li Jing mengepalkan tangan. Emosi di dalam dirinya bergejolak. ‘Di acara itulah, aku dijebak dan dipermalukan. Sekarang, langit memberikanku kesempatan kedua. Aku tidak akan memilih jalan yang sama lagi.’

Li Jing berdiri, menatap dayangnya.

“Berikan jubahnya,” pinta Li Jing.

Li Jing mencoba jubahnya sambil memikirkan beberapa rencana untuk menghadapi Raja dan sepupunya.

“Xing, siapkan penawar racun untukku,” perintah Li Jing.

Dayang terkejut. Sebab, dia selalu berada di sisi Ratu. Kenapa dia sendiri tidak menyadari Ratu keracunan?

“Hah? Penawar racun? Anda keracunan?”

“Siapkan saja. mulai hari ini, kita akan menghadapi drama panjang.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 12 Laporan Para Bawahan dan Fakta baru

    Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan terasa panas di kulitnya yang halus putih seperti pualam. Li Jing terkejut dengan perubahan dari gelang warisan ibunya itu. "Ada apa ini, tidak biasanya gelang ini berubah warna dan terasa menyengat di kulit tanganku." "Xing, ambilkan air es cepat!" "Ya, Yang Mulia." "Ini, Yang Mulia." "Tambahkan lagi es batunya, tanganku makin panas, Xing." "Astaga, Yang Mulia, ini tangan Yang Mulia mengapa bisa semerah ini, seperti daging matang?" pekik Xiao Xing melihat tangan mulus Li Jing mulai kemerahan melepuh. "Aku tidak tahu, tiba-tiba gelang ibuku ini berubah warna menjadi warna merah seperti bara api dan terasa sangat panas." "Apakah itu sebuah pertanda bahaya?" gumam Xiao X

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 11 Rencana Pangeran Sulung

    Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ada di bawah Kerajaan Langit. Kau pasti akan mendapatkan banyak pujian." "Oh, apakah ada tugas bagi Hamba juga, Ratu?" tanya Mei Ling dengan menekan kata 'Ratu' sebagai ejekan pada Li Jing. "Bukankah Selir Mei Ling suka sekali kesenian? Di dalam acara penyambutan tamu itu akan ada pertunjukan khusus untuk Selir Mei Ling dan para putri bangsawan untuk menampilkan kesenian yang mereka bisa. Aku dengar Selir Mei rela tidak tidur, hanya untuk melatih tarian dan musik yang akan dimainkan dan ditunjukkan di acara besok?" "Oh, tajam juga pendengaran Ratu, bahkan hamba saja belum mengatakan pada Anda. Tapi Anda sudah mengetahui semua, Ratu Li Jing." "Setiap acara harus didaftarkan di departeme

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 10 Persiapan Acara Besar

    Keesokan harinya, Li jing bersiap akan mengumpulkan haram untuk dia atur saat acara besar yang di gelar di Kerajaan Langit esok hari. Li jing kumpulkan semua untuk dia atur supaya tidak ada kesalahan yang terjadi saat acara dilaksanakan. "Pagi ini, aku undang kalian untuk sama-sama bersiap diri di acara Perjamuan Bunga Jade, atau yang kita kenal sebagai acara Persahabatan Tiga tahunan yang mengundang banyak tamu yang mungkin sudah ada yang datang hari ini," jelas Li Jing di depan para harem Istana Langit. Kurang lebih empat orang. "Aku butuh bantuan kalian untuk sama-sama mempersiapkan acara ini dengan baik. Selir Yen dan Selir Kim bisa bantu untuk urusan penataan taman dan kebersihan taman supaya saat para tamu hadir mereka bisa nyaman.""Baik, Yang Mulia Permaisuri," jawab serentak Selor Yen dan Selir Kim yang baru diangkat dua bulan ini. "Selir Xia, kamu adalah selir muda dan cantik yang baru diangkat dua bulan ini juga, kamu bisa bantu untuk menata menu makanan kecil dan teh

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 9 Siasat Ibu Suri

    Pagi itu di kediaman Ibu Suri Rong Yue.“Bibi Ang, apakah kau sudah tahu kabar Selir Mei Ling di Paviliun Terbengkalai? Apakah dia baik-baik saja?”“Hamba sudah mendapatkan kabar, Yang Mulia. Selir Mei Ling tetap bertahan.”“Bagus, sekarang kita bantu Selir Mei Ling dipulihkan kembali jabatannya. Aku punya rencana baik. Kau beritahu Raja bahwa aku memanggilnya. Suruh yang lain bebaskan Mei Ling dari sana.”“Baik. Yang Mulia.”Tak lama Mei Ling telah dibawa ke hadapan Ibu Suri. “Salam, Yang Mulia Ibu Suri. Hamba menghadap,” salam Mei Ling dengan muka sujud dan tersungkur di kaki Ibu Suri. “ Berdirilah.”“Terima kasih, Yang Mulia.” “Apakah kau sudah mendapatkan obat yang dibeli Pangeran Wang Dong untukmu?” “Sudah, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengobati Hamba.”“Itu karena Pangeran Wang Dong mengingat kau banyak membantu dia selama ini. Sekarang gunakan kesempatan yang aku berikan padamu, untuk mengembalikan posisi awalmu di hadapan Raja Wang Ming!” “ Hamba mengerti, Yang Mul

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 8 Asmara di Bak Mandi

    Tiba di Paviliun Mawar Phoniex, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Wang Ming yang sudah menunggu di ruangan pribadi Li Jing. "Yang Mulia," "Selamat malam Ratuku, apakah sudah merasa lega dan bahagia sudah jalan-jalan keluar istana? Bagaimana keadaan di luar istana, Ratuku?""Ampun Yang Mulia, hamba terlalu terburu-buru untuk keluar melihat-lihat banyak barang yang akan Hamba siapkan untuk acara besar beberapa hari lagi. Ampun, Yang Mulia.""Setidaknya kau bisa meminta pengawalku untuk menjagamu di jalan. Tapi, kau langsung keluar tanpa izin dariku. Apakah kau masih anggap aku ada?" sindir Wang Ming pahit, menusuk ulu hati Li Jing. "Hamba salah, Yang Mulia. Ampuni Hamba," mohon Li Jing yang telah tersungkur di kaki Wang Ming. "Sudahlah! Aku hanya ingin kau selamat dan tidak ada yang ganggu Ratuku. Sekarang layani aku, sebagai hukuman kau harus layani aku sampai pagi malam ini," bisik Wang Ming di telinga Li Jing yang membuat Li Jing merasa mual dan merinding. Xiao Xing ya

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 7 Dugaan Li Jing

    Pagi itu di kamar Li Jing, Li Jing nampak menulis sebuah surat. “A Chen!” “Ya, Yang Mulia!” “Berikan surat ini pada ayahku yang ada di perbatasan. Aku sudah cek gudang bahan makanan Mentri Bong An dan Pangeran Wang Dong, semua hanya pasir yang banyak! Sungguh keterlaluan mereka!” “Laksanakan, Yang Mulia.” Sisa angin dari kelebatan bayangan A Chen sempat membuat merinding. Gerakan itu sungguh cepat dan lincah. “Xiao Xing, aku harus cek kediaman Jendral hari ini. Aku mau tahu adalah sesuatu yang salah disana!” ucap Li Jing sambil menerawang langit cerah pagi itu. “Baik, Yang Mulia. Akan hamba siapkan.” Xiao Xing pun berkemas dan Li Jing bersiap. Perjalanan satu jam, Li Jing tiba di kediamannya. “Yang Mulia, Anda datang?” “Ya, apakah kamar Jendral sudah disiapkan?” “Sudah kami bersihkan Yang Mulia,” jawab serentak para pelayan yang menyambut Li Jing. “Xiao Xing, aku akan cek ruang kerja Jendral dulu.” “Hamba antarkan, Yang Mulia.” “Baiklah, kau be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status