FAZER LOGIN“Apa yang sebenarnya terjadi?”Li Mingzi berjalan santai menuju kerumunan warga Desa Kecil yang ribut di tepi Sungai Bening. Meski langkahnya tidak terburu-buru, entah kenapa suasana yang tadinya kacau sedikit mereda begitu ia muncul.Beberapa warga tanpa sadar mundur setengah langkah.Ruan Yin menghela napas lega saat melihatnya datang.“Akhirnya kau muncul juga.”Rambut panjang wanita itu sedikit berantakan. Jelas tadi ia cukup kewalahan menghadapi warga desa yang emosi.Lou Han bahkan tampak lebih parah. Bajunya kusut dan dahinya penuh keringat.“Tuan Muda, mereka terus memprovokasi warga!” keluhnya cepat. “Ada yang sengaja menyebarkan isu kalau kita mau merebut tanah makam leluhur!”Li Mingzi melirik kerumunan di depannya.Tatapannya berhenti pada Chu Yu dan Chu An yang berdiri agak belakang.Begitu mata mereka bertemu, wajah kedua kakak-beradik itu langsung berubah.Mereka buru-buru mundur ke tengah kerumunan sambil menundukkan kepala, seolah takut dikenali.Li Mingzi tidak terla
“Tolooong!!”Mo Yan menjerit begitu keras sampai suaranya menggema di seluruh ladang bambu. Wajahnya pucat pasi saat energi pedang dingin melesat lurus ke lehernya.Sret!Namun tepat sebelum energi pedang itu mengenainya, dua jari tiba-tiba muncul di depan wajahnya.Cap!Li Mingzi menjepit bilah samurai Gong Wusheng dengan santai.Mo Yan membelalak. Kakinya langsung lemas.“A-Aku selamat…”Ia buru-buru mundur beberapa langkah lalu menunjuk Gong Wusheng dengan gemetar.“Dia gila! Dia benar-benar mau membunuhku!”Li Mingzi meliriknya datar.“Bukannya tadi kau sangat percaya diri?”Mo Yan langsung tersedak malu.Beberapa pengawal yang tersisa buru-buru menyeret teman-temannya yang terluka keluar dari ladang bambu. Tidak ada lagi yang berani maju.Li Mingzi masih menjepit pedang itu dengan dua jari sambil memiringkan kepala.“Kapan kau belajar ilmu ninja?”Tatapan Gong Wusheng makin dingin.“Aku akan membunuhmu.”Aura pembunuh meledak dari tubuhnya. Energi tajam menyapu tanah hingga batan
Mobil hitam itu melaju meninggalkan jalan tol dengan kecepatan tinggi. Lampu jalan mulai jarang terlihat. Aspal mulus perlahan berubah menjadi jalan bergelombang penuh lubang. Pohon-pohon gelap berdiri rapat di kedua sisi jalan.Bruk!Mobil menghantam lubang besar hingga tubuh Gong Manli terlempar dari kursinya. Refleks wanita itu memeluk lengan Li Mingzi erat-erat.“A-Ah!” jeritnya.Li Mingzi meliriknya sekilas. “Kau takut?”“Iya serem banget!”Sopir tua di depan tertawa kecil serak. Namun tawanya terdengar aneh.Li Mingzi menyipitkan mata.Sejak tadi ia sudah merasa ada yang tidak beres. Aroma bensin di dalam mobil terlalu menyengat. Selain itu, sopir tua itu berkali-kali melirik kaca spion dengan gugup.Brak!Sopir tua tiba-tiba membuka pintu dan melompat keluar mobil yang masih melaju.Gong Manli membelalak. “Apa yang dia lakukan?!”Ekspresi Li Mingzi langsung berubah.“Keluar!”Tangannya meraih pinggang Gong Manli lalu menghantam pintu mobil dengan bahu.Boom!!Ledakan besar meng
Langkah kaki berat terdengar dari arah pintu belakang. Obrolan para tamu perlahan mereda. Beberapa orang bahkan tanpa sadar menahan napas saat sosok tinggi berpakaian hitam masuk dengan ekspresi sedingin es.Gong Wusheng akhirnya muncul.Tatapan pria itu menyapu aula tanpa emosi. Wajahnya nyaris tidak berubah meski foto Gong Qin terpajang besar di depan ruangan. Hanya hawa dingin yang terasa makin jelas saat ia berjalan perlahan menuju altar penghormatan.Gong Manli menggigit pelan.“Ayah…”Gong Wusheng tidak langsung menanggapi. Ia mengambil tiga batang dupa, menundukkan kepala sebentar di depan foto Gong Qin, lalu menancapkannya perlahan.“Aku akan membalaskan dendammu.”Tuan Tua Gong menghela napas berat. Keriput di wajahnya tampak makin dalam. “Wusheng… jangan bertindak gegabah.”Gong Wusheng tidak menjawab. Ia hanya berbalik perlahan, lalu langkahnya berhenti tepat beberapa meter di depan Li Mingzi.Mata tajam keduanya saling bertemu.“Kau Li Mingzi?”Li Mingzi tetap berdiri sant
Saat dalam perjalanan pulang,Di kursi depan mobil, Ruan Yuan melirik ke belakang beberapa kali sebelum akhirnya membuka suara.“Nenek menelepon tadi.”Ruan Yin membuka mata perlahan.“Apa katanya?”“Nenek ingin kita pulang makan malam.” Ruan Yuan berhenti sejenak lalu menambahkan cepat, “Dia merindukan kalian."Tatapan Ruan Yin langsung menyipit curiga.“Kalau nenek membahas pernikahan lagi, aku langsung pergi.”Ruan Yuan tertawa kering. "Aku jamin enggak akan ada kencan buta lagi."Li Mingzi tersenyum bangga sambil menatap Ruan Yin.Beberapa saat kemudian, mereka tiba di Kediaman Ruan. Seorang wanita tua berambut putih sudah berjalan cepat dari dalam rumah.“Yinyin!”Song Hua tampak benar-benar senang melihat cucunya kembali. Wajah tuanya yang biasanya tegas kini dipenuhi kehangatan.Ruan Yin membiarkan tangannya digenggam sambil tersenyum tipis.“Aku cuma datang makan malam.”“Bagus kalau kau masih mau pulang.”Tatapan Song Hua kemudian bergeser pada Li Mingzi yang berdiri santai d
Tetua Desa tertawa pelan setelah mendengar ucapan Li Mingzi. Tawa itu serak dan berat, membuat suasana di sekitar makam terasa kian menekan.“Kau pikir aku akan percaya begitu saja?” katanya sambil mengetukkan tongkat kayunya ke tanah. “Anak muda sepertimu datang tiba-tiba lalu menyuruh kami memindahkan makam leluhur?”Warga desa di belakangnya langsung ikut bersuara.“Benar!”“Mereka cuma ingin menggusur makam!”“Mereka pikir uang bisa membeli segalanya!”Ruan Yin melangkah maju. Gaunnya berkibar tipis tertiup angin.“Aku akan memberi kompensasi.” Suaranya tenang, tapi jelas terdengar semua orang. “Sepuluh miliar, bagaimana?”Keributan warga langsung berhenti sesaat.Bahkan Luo Han sampai melotot.“Direktur Ruan...” gumamnya pelan. “Kita serius kasih sebanyak itu?”Namun Ruan Yin tidak mengalihkan perhatian sedikit pun dari Tetua Desa.“Dana itu cukup untuk membangun ulang seluruh desa,” lanjutnya. “Rumah baru, jalan baru, sekolah, dan fasilitas kesehatan.”Beberapa warga mulai goyah







