LOGIN“Terus?” tanya Kevino benar-benar tidak mengerti. “Makasih karena udah nolongin aku tadi. Kamu gandeng dan ngerangkul aku biar nggak jatuh di depan lift tadi.” Kevino mengangguk-angguk. “Oh ..., itu juga bukan apa-apa. Refleks aja.” “Whatever it is, I wanna say thank you,” jawab Jameka yang praktis menyentuh perutnya. Pandangan Kevino mengarah ke sana. Darah yang mengumpul di satu pusat membentuk badai gairahnya kontan menyebar kembali akibat ada yang seolah-olah menyentil hatinya. Baru saja ia tertarik pada wanita itu—bahkan tersulut gairah, tetapi ia sudah dihantam kenyataan yang tak sejalan. Yah, mau bagaimanapun, pria yang menanamkan benih itulah pemenangnya. Siapalah Kevino bagi Jameka? Hanya anak kolega papanya Jameka yang dijodohkan dengan wanita itu. Sementara, bukankah urusan hati seharusnya tidak ada unsur pemaksaan? Akan tetapi, bukankah Jameka bilang tidak ada perasaan apa pun kepada si penanam benih? Bingung dan tak ingin mereka-reka, Kevino lalu menatap Jame
Past lives couldn’t ever hold me down Lost love is sweeter when it's finally found —Børns; Past Lives _________________________________ “Lega, Kev?” tanya Jameka ketika memperhatikan Kevino mendongak, mengerjap-ngerjapkan mata sebelum mendesah. Senyum malu-malu melekuk di bibir pria itu kala membalas tatapan Jameka dari pantulan cermin wastafel di hadapannya. Tangan wanita yang berdiri di sampingnya tersebut sigap mengulurkan tisu yang kemudian diterimanya. “Iya lega. Thanks, Jame.” Jameka menunjuk-nunjuk. “Tapi jadi merah gitu, Kev.” Setelah mengeringkan dirinya, Kevino menginjak bagian bawah tong sampah yang terletak di bawah wastafel. Ia melemparkan tisu tepat sasaran sambil menjawab, “Nggak apa-apa. Entar juga balik normal lagi.” “Beneran nggak mau pakai ini?” tawar Jameka yang sekarang ganti mengulurkan sebuah botol plastik kecil kepada Kevino. Sedangkan tangan kirinya sejak tadi sibuk memegangi kemeja pria itu. “Nggak usah. Mau proses alami aja.” “Tapi, kan
Ini sesuatu yang tidak biasa. Jameka sudah siap apabila Kevino menolak permintaannya. Namun, untuk ke sekian kali, lagi-lagi ia salah menduga. Sambil memindah persneling, Kevino justru menjawab santai. “Kalau aku ayok aja. Pokoknya pas lagi nggak ada jadwal.” Oh My God, Oh My God, Oh My God! Rasanya Jameka ingin jungkir balik lalu memeluk Kevino detik ini juga lantaran berpikir ada yang di pihaknya, ada yang sedikit menjadi tempatnya berbagi masalah, ada yang menguatkannya seandainya nanti hasil pemeriksaan dari dokter ia dinyatakan hamil. Namun, apabila hasil pemeriksaan itu positif, mau tidak mau, suka tidak suka, bukankah Jameka harus memberitahu Tito tentang ini? Astaga .... Memikirkan kadal sawah satu ini rupanya malah memicu jantung Jameka berdebar-debar dengan gilanya sampai-sampai takut gendang telinga Kevino dapat menangkap suara tersebut. Namun, ia berusaha untuk tetap duduk anteng. “Ok. Kita cocokin jadwal aja,” usul Jameka sembari mempertahankan ekspresi dan nada s
Selamat datang di dunia kecemburuan yang indah, pikirnya. Untuk harga tiket masuk, Anda mendapatkan sakit kepala yang membelah, dorongan yang hampir tak tertahankan untuk melakukan pembunuhan, dan rasa rendah diri. Hura! —J.R. Ward ________________________________ Bentar.... Bentar.... Kok, kayaknya ada yang aneh, batin Jameka yang tiba-tiba teringat sesuatu. Perasaan tadi Karina nyetir mobil sendiri, deh. Kenapa jadi mobil gue yang diba—sialan! Duo kroco itu pasti sekongkol ninggalin gue! Dasar kampret! Maksudnya apa coba? Awas lo, lo pada kalau ketemu. Gue sledging! Rampung merutuki kedua sahabatnya, Jameka kembali berpikir sangat susah mencari makan bagi vegan seperti dirinya di PIM. Kebanyakan restoran menyediakan menu protein hewani. Memang ada satu restoran berkonsep olahan sayur organik yang berasal dari hasil kebun. Namun, di samping itu mereka juga menjual berbagai menu hasil dari peternakan dan boga bahari. Bisa saja Jameka makan sayur-sayuran di sana, tetapi sangs
Ada juga wanita paruh baya di samping pria itu yang langsung memeluk Jameka. “Jameka ...,” pekiknya, riang gembira. “Eh, Tante.” Jameka yang kaget refleks membalas pelukan Tante Bianca. Bundanya Kevino yang berperan paling utama dalam menjodohkannya dengan Kevino. Semua orang bertanya-tanya siapa pria yang memanggil Jameka “Baby” itu di saat Jameka sendiri membelalak menatap Kevino Eclipster yang kini gantian memeluknya. Kevino benar-benar mirip orang dilanda rasa rindu serta sayang tak terkira kepada Jameka. Dikarenakan ada Tante Bianca, Jameka terpaksa balas memeluk pria itu walau hanya pelukan formalitas. Bella, Karina, baby sitter dan pramuniaga sampai mengolo melihat perpaduan pasangan yang dianggapnya sangat serasi itu. Ketampanan pria yang kini melepaskan Jameka dari pelukannya jelas bisa membuat pramuniaga di samping mereka hampir melepas pegangan di keranjang belanjaan kecil dan hampir membuat si baby sitter ngiler. Cogan, Guys .... Cogan ..... “Buset, Kar. Panjang umu
Orang asing mengira aku pendiam, temanku mengira aku asyik, sahabatku mengetahui bahwa aku gila —Tanpa Nama _________________________________ “Beliin ini aja yang banyak,” canda Karina sembari menunjuk berderet-deret kotak pengaman berbagai merek dan ukuran di rak salah satu gerai toko di PIM. Baby sitter yang mendorong kereta bayi—di mana buah hati ibu muda itu sedang tidur nyenyak pascatantrum—mengikutinya ke mana pun ia melangkah. “Karina .... Parah amat lo. Persis Bang Tito,” timpal Bella sembari mengambil botol minyak kayu putih di rak sebelah. Sewaktu trimester pertama, morning sickness Bella sangat parah. Suaminya lantas coba-coba memberinya minyak kayu putih yang memang digadang-gadang menjadi aroma terapi. Rupanya efeknya tidak main-main. Aromanya yang khas menenangkan dan membuat Bella rileks. Bagian terpenting, bisa menangkal mualnya. Sejak saat itu pula Bella kecanduan membau minyak kayu putih. Dan, berhubung persediaannya sudah menipis, jadi wanita bergaun ibu hamil
Orang yang selalu mengganggumu adalah orang yang mencintaimu —Someone in somewhere _________________________________ Jameka dan Kevino kini duduk di deretan kursi tengah yang layarnya pas dengan pengelihatan. Posisi paling strategis dan nyaman. Iklan-iklan masih diputar dan lampu-lampu masih
Jealous?Oh no, DarlingI’ve never been the typeTerritorial?Well, guilty as charge—Someecard____________________________________________________Kevino Eclipster:Kita harus ngasih tahu jadwal masing-masing buat nyesuaiin jadwal nge-date selain weekend.Jameka Michelle:Kenapa emang kalau Weeke
“Sorry, tanyanya nggak sopan. Kamu lagi ada pacar, nggak, sekarang? Kalau ada, kita harus kasih tahu dia soal rencana kita,” pungkas Kevino setelah menghabiskan air mineralnya di meja. “Aku nggak mau ambil risiko kena tonjok gara-gara salah paham.” Jameka pun berbalik tanya, “Kamu pikir aku engga
Jameka memelotot dan cepat-cepat merenggut alat tes kehamilan tersebut yang beruntungnya hasilnya belum sempat dilihat Tito. “Bukan, kok, Pak Tito. Ya udah saya pergi dulu, ya, permisi.” Jameka pergi dengan gelisah. Berhadapan dengan Tito yang menyebalkan adalah suatu hal, dan mendapati pria itu







