Mag-log inKamu memang seperti lempeng bumi, bergeser sedikit saja sudah mengguncang hatiku —Tanpa Nama _________________________________ Tito memejam sambil meresapi. Ini bibir atau permen gula-gula, sih? Sudah manis, kenyal pula. Ia jadi ingin mengigitinya terus-menerus dalam taraf menggoda sang pemilik agar mempersilakannya menyelinap dan menjelajah. Memperoleh cecapan rasa manis lebih banyak, lebih nikmat. Lidah Tito sungguh ingin bermain-main di sana sambil mempekerjakan tangannya yang memegangi dagu Jameka untuk dialihkan fungsikan turun ke kancing kemeja wanita itu. Lalu, ia akan— “To? Tito? Hei! Kadal Sawah! Pagi-pagi bengong aja lo!” Hardikan Jameka membuat Tito diterjang gelombang badai kejut. Pria itu pun mengerjap beberapa kali dengan kening berlipat-lipat. Ia melihat Jameka masih duduk di kursi di balik meja CEO. Jaraknya beberapa langkah dari dirinya yang—rupanya—masih berdiri di dekat ambang pintu. Lengkap dengan helm yang masih terpasang di kepalanya, yang didapatinya ketik
“Harus banget ya berangkat besok?” celetuk Tito lantaran mengingat Jameka dan segala aspek yang mengelilingi mereka. Rasa tidak rela meninggalkan Jameka begitu saja mendadak singgah dalam diri Tito. “Makin cepet, makin baik. Malah kalau bisa, lo ke sini sekarang.” “Buset, dah, ya kali gue dokter Strange yang bisa cepet pindah-pindah tempat pakai cakra.” “Gue paham bener lo cuma manusia, makanya gue minta lo berangkat besok naik pesawat.” Tito mencoba bernegosiasi dengan Jayden. “Bisa nggak, tukeran jadwal sama si Bujang?” Lih yang masih berdiri di sana sambil bersedekap memperhatikan Tito pun ngedumel, “Yaelah, apaan, dah?” Sedangkan Jayden kembali bersuara. “Ngapain lo minta tuker jadwal sama si Bujang?” Nah, sekarang, Tito jadi bingung harus menjawab apa. Untung saja otaknya jalan pagi ini. “Ya kagak ada apa-apa, sih. Cuma, kan, lo tau sendiri kerjaan di Heratl lagi banyak.” Mengelola perusahaan di ambang kebangkrutan itu susahnya minta ampun. “Emang ada yang genting
Cinta itu bagai jam pasir Ketika hati terisi, otak mulai kosong —Jules Renard ________________________________ “Oh! Faster, To. Fas ... ter ....” Dengan penuh semangat, sambil menahan sebelah kaki wanita di bawah kungkungannya yang diletakkan di pundaknya, Tito mempercepat gerakan seduktif ciptaannya. Pandangan pria bertato sebadan itu lurus, tajam, dan tertuju pada Jameka yang kini mendongak dengan mata terpejam serta bernapas ngos-ngosan bak dikejar raja hutan. Perangai yang jelas menikmati perubahan kecepatan gerakan Tito. Selain lengkungan senyum yang terakit di bibir Tito lantaran takjub pada objek yang digarapnya, sebelah tangan pria itu yang semula memegangi pinggang berlekuk Jameka berpindah membelai rambut cokelat gelap berantakan yang meninggalkan kesan seksi, yang menutupi sebagian wajah wanita cantik tersebut. Jameka merespons Tito dengan kembali membelai daun telinga pria itu oleh gerungan erotisnya. Sehingga bara api yang membakar tubuh mereka menghasilkan ke
“Is everything on the track?” tanya Kevino bernada khawatir ketika Jameka duduk di kursinya tanpa memperhatikan Tito. “Ya, cuma cuci muka, kok,” jawab Jameka datar. Sembari menyentuh saku celana bahan tempat tersimpannya benda yang tidak sengaja dijatuhkan Jameka sewaktu akan ke restroom tadi, Kevino semakin resah. Pikirannya menimbang-nimbang: apakah sebaiknya ia mengembalikan alat itu nanti saat mengantar Jameka pulang dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi—yang seharusnya bukan menjadi urusannya, tetapi berkaitan dengannya—atau tidak? Keresahan Kevino semakin menjadi-jadi ketika wanita itu minta diberhentikan di apotek yang sejalan saat dalam perjalanan pulang. Sebelum Jameka turun, Kevino pun tak kuasa menahan diri lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Kamu sakit, Jame?” “Enggak, kok. Cuma mau beli vitamin aja,” kilah Jameka. Merasa de javu dengan pertanyaan mau pun jawaban tersebut. “Vitamin buat ibu hamil, ya?” “Ha?” Jameka memelotot dan tidak jadi t
Apa pria itu hilang ingatan? Atau kesurupan? Atau sudah tidak waras? Atau malah kombinasi dari ketiganya? —Jameka Michelle _________________________________ Dalam kasus biasa, Jameka bukan tipe orang yang suka menggunakan kekerasan fisik untuk melawan seseorang. Namun, bukankah selalu ada pengecualian dalam hidup? Dan untuk orang semenyebalkan Tito Alvarez, kenapa tidak? Meski tidak mengeluarkan kekuatan penuh, Jameka tanpa ragu menerjang dan memukuli dada bidang, keras, bin kekar Tito secara membabi buta. Sampai babak belur kalau perlu. Pria seperti kadal sawah ini memang kadang tidak butuh dikasihani karena dengan kurang ajar sekali berani mengatainya bau! Enak saja! Jameka itu selalu berpenampilan rapi, wangi, dan on flick di setiap waktu. Bau merupakan kata sensitif bagi wanita feminin seperti dirinya. Sayangnya, kenyataan tidak berjalan seiring dengan harapan. Ibarat pribahasa: maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Soal tenaga, pria jelas memegang re
Memutuskan mengabaikan hal itu, Kevino kembali menegakkan tubuh. Sebelum fokus pada film, ia melihat Jameka terlebih dulu. Rupanya wanita itu memejamkan mata sambil mengunyah. “Akhirnya, nggak bisa nyembunyiin takutnya kan?” goda Kevino. Jameka pun meneleng ke arah pria itu kemudian membuka mata dan menemukan Kevino tersenyum jemawa. “Well, rada ngeri dikit, sih.” “Perlu sandaran, nggak?” Kevino kembali menggoda Jameka. Wanita itu malah mencibir, “Simpen aja. Aku pastiin kamu nggak perlu ngeluarin itu sampe tiga minggu ke depan.” “Menarik,” gumam Kevino lambat-lambat dibarengi anggukan. Ketegangan dan keseraman dalam film itu semakin bertambah. Dicampur dengan musik yang mendramatisir, suasana di ruang teater itu kian seram dan mencekam. Penonton pun kembali berteriak. Kevino baru hendak mencondongkan tubuh dan mengutarakan sesuatu pada Jameka, tetapi ia digagalkan oleh berondong-berondong jagung yang melayang dari arah belakang menuju kepalanya. Tidak hanya satu-dua, m
Orang yang selalu mengganggumu adalah orang yang mencintaimu —Someone in somewhere _________________________________ Jameka dan Kevino kini duduk di deretan kursi tengah yang layarnya pas dengan pengelihatan. Posisi paling strategis dan nyaman. Iklan-iklan masih diputar dan lampu-lampu masih
“Apes bener bannya bisa kempes lagi,” desis Jameka mulai tidak sanggup memendam kedongkolannya. Sementara Tito masih melanjutkan, “Atau bisa jadi mogok ....” “Gampang, bisa nelepon bengkel,” jawab Jameka logis bin realistis dengan nada ketus. Namun, Tito tidak menggubrisnya dan terus menerocos,
You can’t treat people like yourselfRemember, every soul has difference in feeling—Chacha Prima_____________________________________________“Saya rasa kita masih harus meninjau lebih jauh lagi perkara ini. Berhubung sudah hampir jam makan siang, maka, cukup sekian untuk rapat hari ini. Selanjut
“Good morning, Bae.” Suara serak seorang pria memasuki rungu seorang wanita berbalut sweter cokelat yang salah satu lengannya melorot, mempertontonkan setengah bahunya. Di tengah acara mengaduk teh di kitchen island, senyum mengiringi telengan kepalanya untuk melihat tunangannya berjalan mendekat







