Share

Chapter 6B

Author: Chacha Prima
last update publish date: 2026-06-17 20:38:29

“Sorry, tanyanya nggak sopan. Kamu lagi ada pacar, nggak, sekarang? Kalau ada, kita harus kasih tahu dia soal rencana kita,” pungkas Kevino setelah menghabiskan air mineralnya di meja. “Aku nggak mau ambil risiko kena tonjok gara-gara salah paham.”

Jameka pun berbalik tanya, “Kamu pikir aku enggak?” Kemudian ia melanjutkan, “Aku lagi nggak ada. Kamu sendiri gimana?”

Piring kosong di meja depannya sontak menjadi sasaran pandang Kevino. Jameka bisa melihat tatapan kosong pria itu, tetapi tida
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TAMING THE BOSS   Chapter 9B

    “Is everything on the track?” tanya Kevino bernada khawatir ketika Jameka duduk di kursinya tanpa memperhatikan Tito. “Ya, cuma cuci muka, kok,” jawab Jameka datar. Sembari menyentuh saku celana bahan tempat tersimpannya benda yang tidak sengaja dijatuhkan Jameka sewaktu akan ke restroom tadi, Kevino semakin resah. Pikirannya menimbang-nimbang: apakah sebaiknya ia mengembalikan alat itu nanti saat mengantar Jameka pulang dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi—yang seharusnya bukan menjadi urusannya, tetapi berkaitan dengannya—atau tidak? Keresahan Kevino semakin menjadi-jadi ketika wanita itu minta diberhentikan di apotek yang sejalan saat dalam perjalanan pulang. Sebelum Jameka turun, Kevino pun tak kuasa menahan diri lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Kamu sakit, Jame?” “Enggak, kok. Cuma mau beli vitamin aja,” kilah Jameka. Merasa de javu dengan pertanyaan mau pun jawaban tersebut. “Vitamin buat ibu hamil, ya?” “Ha?” Jameka memelotot dan tidak jadi t

  • TAMING THE BOSS   Chapter 9A

    Apa pria itu hilang ingatan? Atau kesurupan? Atau sudah tidak waras? Atau malah kombinasi dari ketiganya? —Jameka Michelle _________________________________ Dalam kasus biasa, Jameka bukan tipe orang yang suka menggunakan kekerasan fisik untuk melawan seseorang. Namun, bukankah selalu ada pengecualian dalam hidup? Dan untuk orang semenyebalkan Tito Alvarez, kenapa tidak? Meski tidak mengeluarkan kekuatan penuh, Jameka tanpa ragu menerjang dan memukuli dada bidang, keras, bin kekar Tito secara membabi buta. Sampai babak belur kalau perlu. Pria seperti kadal sawah ini memang kadang tidak butuh dikasihani karena dengan kurang ajar sekali berani mengatainya bau! Enak saja! Jameka itu selalu berpenampilan rapi, wangi, dan on flick di setiap waktu. Bau merupakan kata sensitif bagi wanita feminin seperti dirinya. Sayangnya, kenyataan tidak berjalan seiring dengan harapan. Ibarat pribahasa: maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Soal tenaga, pria jelas memegang re

  • TAMING THE BOSS   Chapter 8B

    Memutuskan mengabaikan hal itu, Kevino kembali menegakkan tubuh. Sebelum fokus pada film, ia melihat Jameka terlebih dulu. Rupanya wanita itu memejamkan mata sambil mengunyah. “Akhirnya, nggak bisa nyembunyiin takutnya kan?” goda Kevino. Jameka pun meneleng ke arah pria itu kemudian membuka mata dan menemukan Kevino tersenyum jemawa. “Well, rada ngeri dikit, sih.” “Perlu sandaran, nggak?” Kevino kembali menggoda Jameka. Wanita itu malah mencibir, “Simpen aja. Aku pastiin kamu nggak perlu ngeluarin itu sampe tiga minggu ke depan.” “Menarik,” gumam Kevino lambat-lambat dibarengi anggukan. Ketegangan dan keseraman dalam film itu semakin bertambah. Dicampur dengan musik yang mendramatisir, suasana di ruang teater itu kian seram dan mencekam. Penonton pun kembali berteriak. Kevino baru hendak mencondongkan tubuh dan mengutarakan sesuatu pada Jameka, tetapi ia digagalkan oleh berondong-berondong jagung yang melayang dari arah belakang menuju kepalanya. Tidak hanya satu-dua, m

  • TAMING THE BOSS   Chapter 8A

    Orang yang selalu mengganggumu adalah orang yang mencintaimu —Someone in somewhere _________________________________ Jameka dan Kevino kini duduk di deretan kursi tengah yang layarnya pas dengan pengelihatan. Posisi paling strategis dan nyaman. Iklan-iklan masih diputar dan lampu-lampu masih disetel temaram. Orang-orang pun masih sibuk mengecek tempat duduk masing-masing dan masih saling mengobrol dengan teman-teman mereka. “Nggak nyangka selera kamu film horor,” komentar Kevino. Tubuh yang terselubung keheranan itu sedikit condong ke Jameka yang duduk di sebelah kirinya. Semata-mata supaya suaranya bisa menembus pendengaran wanita itu. Namun, apabila dilihat dari kacamata orang awam, mereka terlihat mengobrol secara intens. Setelah meletakkan minuman di antara dirinya dan Kevino duduk, Jameka yang baru membenarkan posisi untuk mendapatkan kenyamanan pun menjawab, “Yang lagi booming emang selalu bikin penasaran.” “Jawaban diplomatis. Kalau film kesukaanmu sendiri apa?” bal

  • TAMING THE BOSS   Chapter 7B

    “Apes bener bannya bisa kempes lagi,” desis Jameka mulai tidak sanggup memendam kedongkolannya. Sementara Tito masih melanjutkan, “Atau bisa jadi mogok ....” “Gampang, bisa nelepon bengkel,” jawab Jameka logis bin realistis dengan nada ketus. Namun, Tito tidak menggubrisnya dan terus menerocos, “Atau bensinnya habis?” “Beli bensin eceran!” “Ya kali Pagani dikasih bensin eceran?” cibir pria itu dan masih menambahkan kata-katanya sambil menenggelamkan buku catatan kecilnya ke dalam saku celana kerja. “Lo juga harus mikir, gimana kalau muncul berita-berita negatif? Heratl lagi butuh citra baik sekarang ini.” Jameka semakin mengernyit tak mengerti. Kenapa, sih, susah banget ngomong ama Kadal Sawah satu ini? Banyak banget alasannya. Ia kemudian berpikir harus membicarakan ini dengan adiknya. Tidakkah Jayden terlalu mengendalikan kehidupan pribadinya lewat Tito? Ia benar-benar membutuhkan privasi. Masih dengan alis menukik tajam serta kening yang terlipat-lipat samar, Jameka ber

  • TAMING THE BOSS   Chapter 7A

    Jealous?Oh no, DarlingI’ve never been the typeTerritorial?Well, guilty as charge—Someecard____________________________________________________Kevino Eclipster:Kita harus ngasih tahu jadwal masing-masing buat nyesuaiin jadwal nge-date selain weekend.Jameka Michelle:Kenapa emang kalau Weekend?Kevino Eclipster:Bikin males. Tempat makan, bioskop, liburan, dan lain-lain pasti rame. Jalannya juga macet.Jameka membaca pesan yang dikirim Kevino sembari berpikir itu merupakan hal lumrah bin masuk akal. Kadang, ia juga membutuhkan akhir pekan untuk memanjakan tubuh dengan banyak istirahat, atau pergi ke salon untuk spa. Sesekali, ia hanya menonton Netflix di kondominium tanpa ingin bertemu siapa pun—khususnya pada kondisi yang sulit seperti sekarang. Jadi, ia meraih gagang telepon untuk memanggil Tito.“Ya, Bu Jameka?” sapa pria itu dengan nada malas.Jameka membayangkan wajah Tito juga menampilkan hal serupa. Ini terjadi semenjak beberapa hari lalu pria itu menjemputnya di Dharma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status