FAZER LOGIN10
"Eh, Jeng Intan, beneran ya kalau pabrik NA beauty sudah di jual ke orang lain?" tanya Jeng Lani, teman sosialita jeng Intan yang saat ini mereka tengah berkumpul di rumah jeng Uyun dalam acara arisan.
"Iya, aku denger juga. Terus Narendra katanya pergi ya bawa istrinya berobat tapi tak ada yang tahu kemana?" Jeng Ami turut menyuarakan pendapatnya perihal apa yang ia dengar dari desas desus di luaran sana.
"Sayang
10"Eh, Jeng Intan, beneran ya kalau pabrik NA beauty sudah di jual ke orang lain?" tanya Jeng Lani, teman sosialita jeng Intan yang saat ini mereka tengah berkumpul di rumah jeng Uyun dalam acara arisan."Iya, aku denger juga. Terus Narendra katanya pergi ya bawa istrinya berobat tapi tak ada yang tahu kemana?" Jeng Ami turut menyuarakan pendapatnya perihal apa yang ia dengar dari desas desus di luaran sana."Sayang banget, ya. Padahal produk NA beauty booming banget loh. Kaget ajah tiba-tiba denger berita kalau NA beauty berhenti berproduksi karena ada kesalahan pada bahan utamanya.""Iya, sayang banget. Padahal aku dan anak-anakku pake NA Beauty dan cocok banget sama kulit kami.""Tapi, kok aku gak denger kabar lanjutannya ya siapa pelakunya?""Sama aku juga gak denger. Eh, ada kabar baru malah tentang penjualan pabriknya."
"Jangan mengatakan apapun pada yang lainnya terutama Narendra. Kalau sampai kamu buka mulut, jangan salahkan aku kalau majikanmu ini akan meregang nyawa karena bocornya mulutmu itu! Paham?"Sasmitha mengancam Bi Marni agar tak buka suara, sehingga karena ketakutannya akan keselamatan sang majikan Bi Marni memilih mengiyakan apa yang di katakan Sasmitha. Bahkan Bi Marni dan pekerja lainnya yang bertugas di dapur ataupun kebersihan di larang memasuki kamar itu lagi dengan alasan demi kesehatan Arnita dan mengatas namakan Narendra atas perintah itu. Narendra yang disibukkan dengan masalah kantor membuat para pekerjanya percaya bahwa perintah itu datang dari sang tuan.Semakin hari keduanya semakin menjadi. Paula semakin termakan bujuk rayu Sasmitha. Ia benar-benar mengabaikan Arnita dan menganggap bahwa Arnita itu hanyalah beban bagi dirinya. Ia semakin menuruti kemauan Sasmitha. Bahkan semua perhiasan Arnita sudah l
8"Sayang, maaf sudah membuatmu khawatir," sesal Narendra saat sudah tiba di ruang rawat Arnita."Kamu kemana saja, Mas?""Ada masalah di kantor dan pabrik. Aku tadi masih mengurus itu semua. Maaf ya, aku gak bilang dulu sama kamu tadi kalau aku masih ada urusan hingga membuat kamu khawatir.""Aku takut kamu kenapa-kenapa, Mas. Aku khawatir banget.""Maaf, ya,"Sekalipun pikirannya kalut, Narendra tak ingin membuat sang istri ikut kepikiran sehingga dia berusaha menampilkan ekspresi yang baik-baik saja. Ia memeluk erat sang istri berusaha mencari ketenangan akan hatinya yang gundah gulana."Kamu penyemangatku, tujuan hidupku. Sekalipun semua pergi dariku, aku harap kamu tak akan ikut pergi bersama mereka. Aku hancur tanpamu, Ta. Kamu pelangiku, cahayaku. Kamu satu-satunya kekuatan yang aku punya saat ini. Love you more and forever."
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama seka
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita
5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan.""Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD."Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!" "Baik, Pak."Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengekny







