LOGIN7
Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.
Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama sekali.
"Udah sangat sore, kok suami saya belum juga datang ya, Sus?" Arnita begitu mencemaskan Narendra yang tak kunjung datang jua. Biasanya jika pulang hanya memakan waktu satu dua jam, tapi ini sudah dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore tapi Narendra tak ada tanda-tanda untuk datang. Berkali-kali Arnita mencoba menelpon Narendra, tersambung tapi tak diangkat.
"Mungkin masih ada kepentingan pada pekerjaannya, Bu. Sabar saja, berdoa semoga bapak baik-baik saja."
"Gak biasanya loh, Sus, sampai selama ini. Biasanya juga ngabarin kalau ada apa-apa,"
"Ibu jangan banyak pikiran, ya. Berpikir positif saja. Kesehatan ibu harus ibu utamakan. Kalau ibu banyak pikiran, maka itu akan berdampak pada kesehatan ibu, kalau ibu gak cepat sembuh gimana yang mau nemenin bapak ke mana-mana."
"Kita jalan-jalan yuk, ke taman!"
Arnita mengangguk, membenarkan apa kata suster bahwa ia tak bisa terlalu banyak pikiran. Ia menyetujui untuk di ajak ke taman, mungkin benar dirinya terlalu negatif thinking karena suaminya tak pernah pergi selama ini selama mereka pindah rumah. Semoga Narendra baik-baik saja dan segera kembali kesini. Arnita di bawa ke taman dengan menggunakan kursi roda karena tubuhnya masih sangatlah lemah dan kaku.
Setibanya di taman, disana ada juga beberapa pasien yang sedang bersantai. Ada yang ditemani keluarganya, ada juga yang ditemani oleh suster seperti dirinya.
****
Di tempat lain, Narendra tengah kebingungan karena kantor kosong melompong di saat seharusnya masih jam kerja. Ia mencoba menghubungi Nofal, tapi tak aktif. Ia pun mencoba menelpon Killa, sama nomor perempuan itu juga tak aktif. Berulang kali nomor dua orang itu di hubungi oleh Narendra, tapi tetap tak ada yang aktif.
"Kemana mereka dua ini? Jika kantor diliburkan kenapa tak ada pemberitahuan terlebih dahulu padaku?"
Kepada siapa lagi ia akan bertanya, sedangkan di kantor itu tak ada orang sama sekali. Bahkan pintu utama terkunci. Tak ada satpam, pun tak ada petugas parkir yang biasa berjaga untuk membantu para karyawan parkir.
Narendra mencoba menghubungi Nofal dan Killa sekali lagi, nihil nomor keduanya tetap tak aktif. Akhirnya Narendra memutuskan pergi dan ingin melihat pabrik yang sudah lama tutup. Mungkin disana masih ada polisi yang sedang melakukan penelusuran.
Setibanya di pabrik, tak ada sesiapa disana. Polisi pun juga tak ada. Bahkan garis polisi sudah tak ada. Narendra semakin di buat bingung oleh ini. Seribu pertanyaan sudah bersarang di kepalanya.
"Apakah proses penyelidikan sudah selesai? Apa pelakunya sudah di temukan sehingga garis polisi sudah tak terpasang lagi? Kenapa gak ada yang memberitahukan kepadaku gimana hasilnya?"
Rasa penasaran yang membuncah, membuat Narendra memutuskan pergi ke kantor polisi untuk menanyakan bagaimana kelanjutan penyelidikan atas masalah yang terjadi di pabrik miliknya.
Ia mengemudikan mobilnya dengan sedikit ngebut. Semua yang di temui hari ini membuat kepalanya ingin pecah saja karena tak mampu mencapai penjelasan yang tepat akan situasi yang ada saat ini.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?"
"Saya Narendra, CEO NA Beauty, ingin menanyakan perihal kelanjutan kasus pada pabrik saya. Apakah pelaku sudah di temukan sehingga penyelidikan di hentikan?" tanya Narendra langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Loh, maaf sebelumnya, Pak. Bapak ceo-nya? Kalau memang bapak CEO nya kenapa bapak gak tahu kalau penyelidikan di hentikan? Bukankah perintah pemberhentian penyelidikan atas kehendak bapak sendiri karena tak ingin memperpanjang masalah?"
"Saya tak pernah meminta kasusnya ditutup. Bahkan saya sangat ingin mengetahui siapa dalang dari kekacauan yang terjadi pada pabrik saya."
"Tapi memang kami berhenti atas perintah bapak. Perintah tertulis bahkan sudah di tanda tangani oleh bapak, dan tanda tangan itu asli tulisan tangan bapak."
Narendra terbelalak, dirinya tak pernah merasa menandatangani berkas perihal penutupan kasus pada pabriknya. Jangan menandatangani, berpikiran untuk menutupnya saja tidak pernah karena ia ingin siapapun pelakunya mendapatkan hukuman atas perbuatan kejinya tersebut.
"Siapa yang mengantarkan surat perintah itu kesini?"
"Kami menerimanya melalui kantor pos."
"Pak, saya tak pernah merasa menandatangani berkas semacam itu, bahkan sedikitpun dihati saya tak punya niatan untuk menutup kasusnya sebelum pelaku mendapat ganjarannya. Bisakah penyelidikan itu di lanjutkan?"
"Maaf, Pak, tapi pabrik itu saat ini sudah dalam proses penjualan. Pertanda sudah tak ada masalah pada pabriknya."
"APA? PENJUALAN? PABRIK SAYA MAU DI JUAL?"
"Ck! Kurang ajar! Siapa yang sudah berani bermain-main denganku? Tak ada satupun orang yang bisa menjual pabrik itu kecuali aku dan istriku!"
"Heh, bodoh! Siapa yang mau beli kalau sertifikatnya tak ada? Ah, untunglah sertifikat itu ada padaku, jadi sekeras apa pun orang itu ingin menjual pabrikku, maka tak akan bisa karena tak ada sertifikatnya."
Ah, Narendra merasa dirinya menjadi orang paling bodoh disini. Dia CEO nya, tapi dia tak tahu apa-apa akan kabar terbaru pada perusahaan dan pabriknya. Orang kepercayaannya Narendra pun tak ada yang memberi kabar bahkan tak bisa dihubungi.
Mungkinkah mereka yang sudah mengkhianati Narendra?
Ataukah mereka sedang dalam bahaya sekarang?
Narendra harus segera memastikan semuanya. Dia harus menyelidiki semua sendirian karena orang-orang kepercayaannya tak bisa dihubungi.
Teringat kepada Arnita, Narendra gegas memeriksa ponselnya yang sejak tadi dia silent demi ketenangan pikirannya untuk menentukan langkah awal yang harus ia ambil untuk segala masalah yang menimpanya. Terdapat puluhan panggilan dan puluhan pesan WA dari sang istri. Ia melihat jam, ternyata sudah jam tujuh malam dan dia masih berada di dalam mobil yang terletak di parkiran kantor polisi.
(Aku segera kembali, Sayang!)
Begitu balasan yang dikirim Narendra kepada Arnita dan langsung di baca oleh wanita yang sejak tadi mencemaskan dirinya itu.
(Aku menunggumu, Sayang.) balasan pesan dari Arnita disertai emoticon cium membuat Narendra mengembangkan senyumnya.
Narendra segera menghidupkan mobilnya dan mulai meninggalkan kantor polisi untuk segera kembali ke rumah sakit tempat sang istri di rawat.
20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D
19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s
"Oh, astaga, jeng Intan!! Heran deh sama situ, kok kayak yang gak punya hati gitu loh!"Seru jeng Ami yang merasa jengkel atas perkataan jeng Intan."Heh, kalian gak usah ikut berkomentar! Lagian kalau aku marah kepada Narendra soal dia yang jatuh miskin itu hak aku! Kalian gak usah sok ngebelain anak bodoh ini!"Bukannya merasa bersalah, justru jeng Intan meradang karena merasa mereka ikut campur. Dia merasa benar dengan apa yang di katakan oleh dirinya kepada sang putra."Aku permisi dulu, maaf sudah membuat mama malu akan kondisiku yang sekarang. Maaf juga aku belum bisa ngasih uang bulanan ke mama seperti selama ini. Maafkan anak bodohmu ini. Aku janji tak akan muncul lagi di hadapan mama dengan kondisi yang seperti ini."Narendra begitu terluka akan sikap sang ibu yang membuatnya begitu malu dan merasa begitu terhina di hadapan orang-orang. Dia memilih pergi saja. Mungkin Narendra tak akan pernah datang ke kota ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. "Astaga jeng Intan, kamu mem
17Merasa bosan karena tak ada yang bisa dilakukan, sedangkan saat buka sosial tak ada teman yang bisa dihubungi karena lupa nama akun mereka. Arnita memutuskan untuk keluar sebentar guna membeli camilan di warung yang tak begitu jauh dari rumahnya. Rasanya sudah sangat lama Arnita tidak jalan-jalan seperti ini.Walaupun sinar mentari begitu terik, tapi sengatan panasnya tak mampu memudarkan senyum Arnita yang terbit sejak tadi. Ia begitu bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk sembuh dan kembali menikmati hidup tanpa lupa akan segala hak dan kewajibannya sebagai umat Islam."Mau kemana mbak?" Seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari Arnita yang mengendari motor CBR tiba-tiba berhenti di samping Arnita membuat Arnita mendadak berhenti juga. "Mau ke warung depan," jawab Arnita dengan sedikit tersenyum sambil melanjutkan jalannya."Sekalian yuk bareng, saya juga mau ke sana," ajak pemuda sambil menjalankan motornya perlahan di samping Arnita."Nggak usah, Dik, maka
16"Semoga ada yang menerima lamaranku."Narendra kini sedang harap-harap cemas setelah mengirimkan surat lamaran via online ke beberapa perusahaan. Sudah sejak tiga harian ini dia rutin mencari lowongan pekerjaan melalui internet dan mencoba mengirimi surat lamaran kerja yang di rasa cocok dengan kemampuannya. Sudah sekitar delapan surat lamaran online yang Narendra kirimkan di delapan perusahaan sejak kemaren lusa, dan sampai di hari ini belum juga ada kabar. Jika seminggu tak ada balasan, maka lamaran Narendra di nyatakan di tolak."Kenapa sih kok kayak yang cemas gitu mukanya? Ada masalah lagi di perusahaan?" tanya Arnita sambil duduk di samping Narendra. Memang Arnita belum juga di beri tahu oleh Narendra, dan Narendra pun tak tahu bagaimana caranya menyampaikan kepada Arnita perihal kemiskinannya saat ini."Nggak kok, gak apa-apa. Cuma lagi mikirin kondisi rumah yang di kota A.""Loh, memangnya para pekerja kemana?""Mereka aku suruh cuti semua.""Bagaimana kalau besok kita ke k
15"Sayang, pelan-pelan, jangan terburu-buru! Kamu pasti bisa kok, semua hanya butuh proses!""Aku gak sabar pengen cepet-cepet bisa jalan, Mas. Aku lelah kemana-mana pake kursi roda terus.""Sabar ya, kalau kamu terburu-buru terus, bukan cepat bisa jalannya malah makin susah jalannya kalau semisal kamu keseleo atau apa.""Ini udah semingguan lebih, tapi aku baru bisa jalan sepuluh langkah doang.""Hus, sudah, jangan mengeluh terus! Nanti Allah marah kalau kamu selalu mengeluh."Saat ini keduanya sedang berada di taman belakang rumah mereka yang baru. Sudah sepuluh harinya sekarang Arnita keluar dari rumah sakit. Dan sampai saat ini Narendra belum juga berterus terang kepada sang istri tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada perusahaan NA Beauty. Ia tak mau sang istri kepikiran hingga mempengaruhi proses penyembuhannya. Biarlah istrinya itu sehat dulu, baru dia akan mengatakan yang sesungguhnya.Setiap pagi dan sore, Arnita selalu berlatih berjalan. Jika di turuti, mungkin setiap s
14Orang yang ditugaskan Nofal untuk mengantarkan Killa pulang malah membawa perempuan itu ke dokter. Dilihat dari kondisinya, udah bisa di pastikan bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Sehingga lelaki itu berinisiatif memeriksakan kondisi Killa sebelum dia mengantarkan wanita itu ke alama
13"Selamat atas jabatan baru anda, bapak Nofal yang terhormat!"Ucapan itu keluar dari mulut Narendra ketika melihat Nofal sudah masuk keruangan CEO yang dulunya menjadi ruangan miliknya.Ya, tadi Narendra tidak memutuskan untuk pulang. Ia ingin sedikit bercuap-cuap dengan Nofal sang mantan asiste
12"Apa penyebabnya, Pak?""Hanya terletak pada kesalahan para pekerja mengambil bahan baku. Yang mereka ambil ternyata bahan baku yang sudah kadaluarsa yang seharusnya sudah di buang. Aku menemukan bahan baku yang baru masih utuh tersimpan di gudang penyimpanan barang dan tertutup oleh kardus-kard
"Jangan mengatakan apapun pada yang lainnya terutama Narendra. Kalau sampai kamu buka mulut, jangan salahkan aku kalau majikanmu ini akan meregang nyawa karena bocornya mulutmu itu! Paham?"Sasmitha mengancam Bi Marni agar tak buka suara, sehingga







