Share

Penuh Teka Teki

Author: Sheila FR
last update publish date: 2026-05-07 13:36:07

7

Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.

Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama sekali.

"Udah sangat sore, kok suami saya belum juga datang ya, Sus?" Arnita begitu mencemaskan Narendra yang tak kunjung datang jua. Biasanya jika pulang hanya memakan waktu satu dua jam, tapi ini sudah dari jam sepuluh pagi hingga jam lima sore tapi Narendra tak ada tanda-tanda untuk datang. Berkali-kali Arnita mencoba menelpon Narendra, tersambung tapi tak diangkat.

"Mungkin masih ada kepentingan pada pekerjaannya, Bu. Sabar saja, berdoa semoga bapak baik-baik saja."

"Gak biasanya loh, Sus, sampai selama ini. Biasanya juga ngabarin kalau ada apa-apa,"

"Ibu jangan banyak pikiran, ya. Berpikir positif saja. Kesehatan ibu harus ibu utamakan. Kalau ibu banyak pikiran, maka itu akan berdampak pada kesehatan ibu, kalau ibu gak cepat sembuh gimana yang mau nemenin bapak ke mana-mana."

"Kita jalan-jalan yuk, ke taman!"

Arnita mengangguk, membenarkan apa kata suster bahwa ia tak bisa terlalu banyak pikiran. Ia menyetujui untuk di ajak ke taman, mungkin benar dirinya terlalu negatif thinking karena suaminya tak pernah pergi selama ini selama mereka pindah rumah. Semoga Narendra baik-baik saja dan segera kembali kesini. Arnita di bawa ke taman dengan menggunakan kursi roda karena tubuhnya masih sangatlah lemah dan kaku.

Setibanya di taman, disana ada juga beberapa pasien yang sedang bersantai. Ada yang ditemani keluarganya, ada juga yang ditemani oleh suster seperti dirinya.

****

Di tempat lain, Narendra tengah kebingungan karena kantor kosong melompong di saat seharusnya masih jam kerja. Ia mencoba menghubungi Nofal, tapi tak aktif. Ia pun mencoba menelpon Killa, sama nomor perempuan itu juga tak aktif. Berulang kali nomor dua orang itu di hubungi oleh Narendra, tapi tetap tak ada yang aktif.

"Kemana mereka dua ini? Jika kantor diliburkan kenapa tak ada pemberitahuan terlebih dahulu padaku?"

Kepada siapa lagi ia akan bertanya, sedangkan di kantor itu tak ada orang sama sekali. Bahkan pintu utama terkunci. Tak ada satpam, pun tak ada petugas parkir yang biasa berjaga untuk membantu para karyawan parkir.

Narendra mencoba menghubungi Nofal dan Killa sekali lagi, nihil nomor keduanya tetap tak aktif. Akhirnya Narendra memutuskan pergi dan ingin melihat pabrik yang sudah lama tutup. Mungkin disana masih ada polisi yang sedang melakukan penelusuran.

Setibanya di pabrik, tak ada sesiapa disana. Polisi pun juga tak ada. Bahkan garis polisi sudah tak ada. Narendra semakin di buat bingung oleh ini. Seribu pertanyaan sudah bersarang di kepalanya.

"Apakah proses penyelidikan sudah selesai? Apa pelakunya sudah di temukan sehingga garis polisi sudah tak terpasang lagi? Kenapa gak ada yang memberitahukan kepadaku gimana hasilnya?"

Rasa penasaran yang membuncah, membuat Narendra memutuskan pergi ke kantor polisi untuk menanyakan bagaimana kelanjutan penyelidikan atas masalah yang terjadi di pabrik miliknya.

Ia mengemudikan mobilnya dengan sedikit ngebut. Semua yang di temui hari ini membuat kepalanya ingin pecah saja karena tak mampu mencapai penjelasan yang tepat akan situasi yang ada saat ini.

"Ada yang bisa kami bantu, Pak?"

"Saya Narendra, CEO NA Beauty, ingin menanyakan perihal kelanjutan kasus pada pabrik saya. Apakah pelaku sudah di temukan sehingga penyelidikan di hentikan?" tanya Narendra langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.

"Loh, maaf sebelumnya, Pak. Bapak ceo-nya? Kalau memang bapak CEO nya kenapa bapak gak tahu kalau penyelidikan di hentikan? Bukankah perintah pemberhentian penyelidikan atas kehendak bapak sendiri karena tak ingin memperpanjang masalah?"

"Saya tak pernah meminta kasusnya ditutup. Bahkan saya sangat ingin mengetahui siapa dalang dari kekacauan yang terjadi pada pabrik saya."

"Tapi memang kami berhenti atas perintah bapak. Perintah tertulis bahkan sudah di tanda tangani oleh bapak, dan tanda tangan itu asli tulisan tangan bapak."

Narendra terbelalak, dirinya tak pernah merasa menandatangani berkas perihal penutupan kasus pada pabriknya. Jangan menandatangani, berpikiran untuk menutupnya saja tidak pernah karena ia ingin siapapun pelakunya mendapatkan hukuman atas perbuatan kejinya tersebut.

"Siapa yang mengantarkan surat perintah itu kesini?"

"Kami menerimanya melalui kantor pos."

"Pak, saya tak pernah merasa menandatangani berkas semacam itu, bahkan sedikitpun dihati saya tak punya niatan untuk menutup kasusnya sebelum pelaku mendapat ganjarannya. Bisakah penyelidikan itu di lanjutkan?"

"Maaf, Pak, tapi pabrik itu saat ini sudah dalam proses penjualan. Pertanda sudah tak ada masalah pada pabriknya."

"APA? PENJUALAN? PABRIK SAYA MAU DI JUAL?"

"Ck! Kurang ajar! Siapa yang sudah berani bermain-main denganku? Tak ada satupun orang yang bisa menjual pabrik itu kecuali aku dan istriku!"

"Heh, bodoh! Siapa yang mau beli kalau sertifikatnya tak ada? Ah, untunglah sertifikat itu ada padaku, jadi sekeras apa pun orang itu ingin menjual pabrikku, maka tak akan bisa karena tak ada sertifikatnya."

Ah, Narendra merasa dirinya menjadi orang paling bodoh disini. Dia CEO nya, tapi dia tak tahu apa-apa akan kabar terbaru pada perusahaan dan pabriknya. Orang kepercayaannya Narendra pun tak ada yang memberi kabar bahkan tak bisa dihubungi.

Mungkinkah mereka yang sudah mengkhianati Narendra?

Ataukah mereka sedang dalam bahaya sekarang?

Narendra harus segera memastikan semuanya. Dia harus menyelidiki semua sendirian karena orang-orang kepercayaannya tak bisa dihubungi. 

Teringat kepada Arnita, Narendra gegas memeriksa ponselnya yang sejak tadi dia silent demi ketenangan pikirannya untuk menentukan langkah awal yang harus ia ambil untuk segala masalah yang menimpanya. Terdapat puluhan panggilan dan puluhan pesan WA dari sang istri. Ia melihat jam, ternyata sudah jam tujuh malam dan dia masih berada di dalam mobil yang terletak di parkiran kantor polisi.

(Aku segera kembali, Sayang!)

Begitu balasan yang dikirim Narendra kepada Arnita dan langsung di baca oleh wanita yang sejak tadi mencemaskan dirinya itu.

(Aku menunggumu, Sayang.) balasan pesan dari Arnita disertai emoticon cium membuat Narendra mengembangkan senyumnya. 

Narendra segera menghidupkan mobilnya dan mulai meninggalkan kantor polisi untuk segera kembali ke rumah sakit tempat sang istri di rawat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   SOMASI

    Jam 9 pagi, kantor Om Brian bau kacang goreng dan kopi sachet.Di atas meja ada satu kertas somasi yang kalau dibaca orang normal, pasti dikira surat cinta yang salah kirim.Om Brian pakai kacamata bacanya setengah turun, kayak mau ngintip janda mandi.Ia baca dengan suara khidmat:_"Dengan hormat, kepada Saudara Nofal bin Junaidi dan Saudari Sasmitha binti Hartono di Griya Permata No.7..."__"Sehubungan dengan ditemukannya BUG pada sistem kehamilan Anda..."_Arnita yang lagi minum teh langsung keselek."BUG, Om?""Iya. Kan kehamilannya nge-bug. Masa nikah 14 Juli, Agustus hamil 3 bulan. Ini bukan hamil, ini update software yang gagal."Darius yang duduk di sofa sambil mainin helm langsung tepuk tangan."Gila, Om. Ini somasi paling berfaedah se-Indonesia. Biasanya somasi isinya pasal-pasal bikin ngantuk, ini isinya roasting."Om Brian lanjut baca, makin serius:_"Bahwa berdasarkan kalender Masehi, kalender Hijriyah, kalender Jawa, bahkan kalender promo Indomaret, jarak antara 14 Juli

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Bukti

    Jam tiga sore, Kantor KUA sepi kayak kuburan. AC mati, kipas angin bunyi krek-krek-krek kayak lagi batuk TBC.Pak Haji Ridwan membuka buku nikah segede bantal guling."Ah, ketemu. Sasmitha binti Hartono dengan Nofal bin Junaidi. Tanggal 14 Juli tahun ini."Di dalam otak Arnita langsung ada kalkulator meledak._Oke, 14 Juli nikah, sekarang Agustus ngaku hamil 3 bulan. Juli ke Agustus itu baru satu bulan. Satu bulan hamil tiga bulan? Ini hamilnya pakai paket express Shopee? Pesan hari ini, hamil tiga bulan besok sampai? Atau jangan-jangan dia pakai ilmu mengkoding? Hamilnya di-download dulu file-nya 3 bulan baru di-install bulan Juli?_Mak Yati yang dari tadi pura-pura jadi patung di pojokan langsung kesetrum.Matanya melotot, dasternya hampir melorot."14 JULI? AGUSTUS HAMIL 3 BULAN? HEH! Ini hamilnya pakai tol langit? Ngebut amat! Baru nikah 30 hari kok isi perutnya sudah 90 hari! Ini bayi apa cicilan panci? Bunga nya kebanyakan!"Darius berbisik ke Arnita sambil nutupin mulut pakai h

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Tante Gosip

    Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Bukan Lagi Milikku

    "Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Diantar Raja Buaya

    20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Kobaran Api Dendam

    19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Operasi

    6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungki

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Jangan tinggalkan aku, Sayang!

    5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon a

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Resign berjamaah

    4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-m

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Pemeriksaan

    3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status