Compartir

Operasi

Autor: Sheila FR
last update Fecha de publicación: 2026-05-03 11:23:06

 6

"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"

Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.

Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.

Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta. Dari dua sudut matanya mengalir air mata. Arnita pun juga merasakan ketakutan, takut ia akan berpisah dari lelaki yang sangat mencintai dan dicintai oleh dirinya. Ia takut operasi yang akan dijalani olehnya sebentar lagi akan membuat dirinya pergi dari dunia ini.

"Tuhan, jika operasi ini akan membuatku berpisah dari suamiku, lebih baik aku begini saja. Aku rela tetap lumpuh asalkan aku selalu ada disisi suamiku, Tuhan!" pinta Arnita dalam hatinya.

Namun, waktu tak bisa berhenti begitu saja. Brankar tempat Arnita tetap di dorong memasuki ruang operasi. Ingin Narendra ikut masuk ke dalam dan menemani istrinya yang tengah berjuang antara hidup dan mati, tapi peraturan tetaplah peraturan yang tak bisa di langgar. Narendra hanya duduk pasrah di kursi tunggu dengan mulut yang tak hentinya berdoa demi keselamatan sang istri. Tubuhnya begitu tegang, bahkan semakin tegang saat lampu di dalam sana sudah di nyalakan.

"Allah, selamat istriku. Sembuhkan istriku!"

Besar harapan Narendra agar operasi pada istrinya berjalan dengan lancar. Agar istrinya segera sembuh dan kembali ceria seperti sediakala. Dengan Arnita Narendra merasa begitu dicintai dan disayangi. Dengan Arnita Narendra merasa dirinya begitu dihargai. Dengan Arnita jua dirinya merasakan indahnya hidup yang penuh dengan warna. Arnitalah yang membuat hidupnya terasa lebih bermakna. Wanita yang memiliki tinggi badan proporsional serta memiliki lesung pipi pada kedua pipinya itulah yang membuat Narendra semangat menjalani hari-harinya juga semangat membangun bisnis dengan tujuan untuk membahagiakan dan memanjakan Arnita.

Arnita Salwa Abibah adalah tujuan hidup seorang Narendra Bagaskara.

Dua, tiga bahkan empat jam berlalu tapi lampu di dalam ruang operasi tak kunjung dimatikan. Meskipun berat untuk melangkah, tapi Narendra tetap meninggalkan ruang tunggu untuk menuju mushollah karena adzan Maghrib sudah berkumandang. Ia ingin melaksanakan sholat Maghrib serta bermunajat kepada sang pemilik kehidupan untuk kesembuhan istrinya. Berharap operasi yang dijalani Arnita berjalan dengan lancar tanpa kendala.

Narendra menuju kamar mandi untuk ambil wudhu, setelahnya ia memasuki musholla dan mulai melaksanakan sholat Maghrib.

"Ya Allah, ampuni segala dosaku dan juga dosa istriku. Ampuni atas segala khilaf yang pernah, bahkan sering kami lakukan. Ya Allah sang pemilik kehidupan, aku pasrahkan hidup dan matiku padamu, ya Allah. Aku juga pasrahkan hidup dan mati istriku padamu ya Allah."

"Ya Allah, angkatlah rasa sakit yang di derita istriku. Sehatkanlah dia. Jadikanlah sakitnya selama ini menjadi penggugur dosa-dosanya kepada_Mu ya Allah. Lancarkan proses operasi yang dijalani istriku saat ini. Berilah kemudahan kepada para tenaga medis yang menangani istriku ya Allah."

Setelah selesai menyampaikan segala kegundahan hatinya, Narendra memutuskan kembali ke ruang tunggu di depan ruang operasi. Ia sangat berharap setibanya disana dia mendapatkan kabar baik tentang istrinya.

Tubuhnya kembali lemas ketika mendapati pintu ruangan mengerikan itu masih tertutup rapat. Lampunya pun masih menyala dengan terang.

"Allah, kenapa begitu lama? Selamatkan istriku ya Allah."

Teleponnya berdering, Narendra mengambilnya dari dalam saku celana, tertera nama sang mama yang menelpon membuat Narendra enggan mengangkatnya. Namun, panggilan itu terus masuk ke ponselnya meskipun berkali-kali ditolak.

"Ada apa lagi, Ma?"

"Ada apa katamu? Dua hari ini mama nunggu kamu transferin, tapi nggak ada! Kamu benar-benar udah nggak peduli sama mama, Rend?"

"Udah aku jelasin kemaren kalau aku lagi kesulitan uang, Ma. Please, kali ini ngertiin aku dikit ajah!"

"Cuma seratus juta, Narendra! Besok sudah mau berangkat, mau di taruh dimana muka mama kalau mama gak ikut?"

Jeng Intan yang dikenal sebagai kaum sosialita kelas A, tentu akan merasa malu jika dirinya tak ikut pada acara jalan-jalan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dia tak tega jika harus menyakiti perasaan teman-temannya yang sudah di janjikan akan di traktir belanja oleh jeng Intan ketika sampai di luar negeri. Ya, dia memang begitu, lebih memikirkan perasaan temannya dari pada perasaan anaknya sendiri.

"Ma, istriku sedang berjuang di meja operasi sana, mana secuil empati mama pada anak dan mantumu ini? Aku disini gelisah, khawatir, takut dan semua itu aku lewati sendirian, Ma. Tak ada satupun orang yang ada di sisiku untuk menguatkanku! Pun begitu dengan mama, tak sedikitpun menaruh perhatian, justru mama selalu merongrongku dengan uang, uang dan uang!"

Narendra terduduk di lantai setelah mematikan sambungan teleponnya. Kedua tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Semua sesak yang berusaha ia tahan kini tumpah sudah. Tak peduli meskipun orang-orang menganggapnya lemah karena menangis. Ia hanya ingin melegakan hatinya dengan tangisnya itu. Segala pikiran yang berbaur hingga menyatu dan menciptakan benang kusut yang sulit diurai membuat Narendra tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Jika tak bisa membantu, setidaknya jangan menambah beban.

Sedangkan di sebrang sana, Jeng Nita tampak gelagapan setelah Narendra selesai mengatakan itu. Ia Tak menyangka Narendra akan mengatakan itu padanya. Pun tak menyangka perihal Narendra yang mempertanyakan perihal kepeduliannya pada anak semata wayangnya itu. 

Jeng Nita duduk termenung di kamarnya. Pandangannya menatap lurus ke depan. Pikirannya mulai berkelana mengenang anak satu-satunya yang ia miliki. Ia berusaha mengingat kapan terkahir kali dirinya bercanda tawa mencurahkan kasih sayangnya pada Narendra. Namun, nyatanya ingatan itu sangatlah buram. Pertanda masa itu terjadi pada beberapa tahun silam bahkan mungkin sepuluh tahun lebih. 

Namun, ada satu sisi hatinya yang menyangkal itu semua. Membenarkan tindakan dirinya selama ini. 

'Haruskah aku berikan dia kasih sayang? Perhatian? Sedangkan dia sudah besar dan sudah bisa memberikan nafkah untuk keluarganya. Harusnya dia yang mencurahkan kasih sayang sepenuhnya untuk sang ibu. Harusnya dia yang memberikan perhatian penuh pada ibunya sebagaimana sang ibu memberikan perhatian padanya waktu kecil. Dia sekarang yang harus menuruti semua keinginan ibunya sebagaimana ibunya menuruti semua keinginannya saat kecil dulu.'

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Diantar Raja Buaya

    20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Kobaran Api Dendam

    19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Perhatian yang tidak seharusnya

    "Oh, astaga, jeng Intan!! Heran deh sama situ, kok kayak yang gak punya hati gitu loh!"Seru jeng Ami yang merasa jengkel atas perkataan jeng Intan."Heh, kalian gak usah ikut berkomentar! Lagian kalau aku marah kepada Narendra soal dia yang jatuh miskin itu hak aku! Kalian gak usah sok ngebelain anak bodoh ini!"Bukannya merasa bersalah, justru jeng Intan meradang karena merasa mereka ikut campur. Dia merasa benar dengan apa yang di katakan oleh dirinya kepada sang putra."Aku permisi dulu, maaf sudah membuat mama malu akan kondisiku yang sekarang. Maaf juga aku belum bisa ngasih uang bulanan ke mama seperti selama ini. Maafkan anak bodohmu ini. Aku janji tak akan muncul lagi di hadapan mama dengan kondisi yang seperti ini."Narendra begitu terluka akan sikap sang ibu yang membuatnya begitu malu dan merasa begitu terhina di hadapan orang-orang. Dia memilih pergi saja. Mungkin Narendra tak akan pernah datang ke kota ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. "Astaga jeng Intan, kamu mem

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   17. Bertemu Raja Buaya

    17Merasa bosan karena tak ada yang bisa dilakukan, sedangkan saat buka sosial tak ada teman yang bisa dihubungi karena lupa nama akun mereka. Arnita memutuskan untuk keluar sebentar guna membeli camilan di warung yang tak begitu jauh dari rumahnya. Rasanya sudah sangat lama Arnita tidak jalan-jalan seperti ini.Walaupun sinar mentari begitu terik, tapi sengatan panasnya tak mampu memudarkan senyum Arnita yang terbit sejak tadi. Ia begitu bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk sembuh dan kembali menikmati hidup tanpa lupa akan segala hak dan kewajibannya sebagai umat Islam."Mau kemana mbak?" Seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari Arnita yang mengendari motor CBR tiba-tiba berhenti di samping Arnita membuat Arnita mendadak berhenti juga. "Mau ke warung depan," jawab Arnita dengan sedikit tersenyum sambil melanjutkan jalannya."Sekalian yuk bareng, saya juga mau ke sana," ajak pemuda sambil menjalankan motornya perlahan di samping Arnita."Nggak usah, Dik, maka

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Tak Punya Hati

    16"Semoga ada yang menerima lamaranku."Narendra kini sedang harap-harap cemas setelah mengirimkan surat lamaran via online ke beberapa perusahaan. Sudah sejak tiga harian ini dia rutin mencari lowongan pekerjaan melalui internet dan mencoba mengirimi surat lamaran kerja yang di rasa cocok dengan kemampuannya. Sudah sekitar delapan surat lamaran online yang Narendra kirimkan di delapan perusahaan sejak kemaren lusa, dan sampai di hari ini belum juga ada kabar. Jika seminggu tak ada balasan, maka lamaran Narendra di nyatakan di tolak."Kenapa sih kok kayak yang cemas gitu mukanya? Ada masalah lagi di perusahaan?" tanya Arnita sambil duduk di samping Narendra. Memang Arnita belum juga di beri tahu oleh Narendra, dan Narendra pun tak tahu bagaimana caranya menyampaikan kepada Arnita perihal kemiskinannya saat ini."Nggak kok, gak apa-apa. Cuma lagi mikirin kondisi rumah yang di kota A.""Loh, memangnya para pekerja kemana?""Mereka aku suruh cuti semua.""Bagaimana kalau besok kita ke k

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Suami yang manis

    15"Sayang, pelan-pelan, jangan terburu-buru! Kamu pasti bisa kok, semua hanya butuh proses!""Aku gak sabar pengen cepet-cepet bisa jalan, Mas. Aku lelah kemana-mana pake kursi roda terus.""Sabar ya, kalau kamu terburu-buru terus, bukan cepat bisa jalannya malah makin susah jalannya kalau semisal kamu keseleo atau apa.""Ini udah semingguan lebih, tapi aku baru bisa jalan sepuluh langkah doang.""Hus, sudah, jangan mengeluh terus! Nanti Allah marah kalau kamu selalu mengeluh."Saat ini keduanya sedang berada di taman belakang rumah mereka yang baru. Sudah sepuluh harinya sekarang Arnita keluar dari rumah sakit. Dan sampai saat ini Narendra belum juga berterus terang kepada sang istri tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada perusahaan NA Beauty. Ia tak mau sang istri kepikiran hingga mempengaruhi proses penyembuhannya. Biarlah istrinya itu sehat dulu, baru dia akan mengatakan yang sesungguhnya.Setiap pagi dan sore, Arnita selalu berlatih berjalan. Jika di turuti, mungkin setiap s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Dokter Baik Hati

    14Orang yang ditugaskan Nofal untuk mengantarkan Killa pulang malah membawa perempuan itu ke dokter. Dilihat dari kondisinya, udah bisa di pastikan bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Sehingga lelaki itu berinisiatif memeriksakan kondisi Killa sebelum dia mengantarkan wanita itu ke alama

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Ketika air susu di balas air Tuba

    13"Selamat atas jabatan baru anda, bapak Nofal yang terhormat!"Ucapan itu keluar dari mulut Narendra ketika melihat Nofal sudah masuk keruangan CEO yang dulunya menjadi ruangan miliknya.Ya, tadi Narendra tidak memutuskan untuk pulang. Ia ingin sedikit bercuap-cuap dengan Nofal sang mantan asiste

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Sasmitha dengan segala tipu dayanya

    12"Apa penyebabnya, Pak?""Hanya terletak pada kesalahan para pekerja mengambil bahan baku. Yang mereka ambil ternyata bahan baku yang sudah kadaluarsa yang seharusnya sudah di buang. Aku menemukan bahan baku yang baru masih utuh tersimpan di gudang penyimpanan barang dan tertutup oleh kardus-kard

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Sakit banget, Mas

    "Jangan mengatakan apapun pada yang lainnya terutama Narendra. Kalau sampai kamu buka mulut, jangan salahkan aku kalau majikanmu ini akan meregang nyawa karena bocornya mulutmu itu! Paham?"Sasmitha mengancam Bi Marni agar tak buka suara, sehingga

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status