เข้าสู่ระบบ5
"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"
Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri.
"Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan."
"Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD.
"Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!"
"Baik, Pak."
Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengeknya tentu ikut terhambat bahkan berhenti.
"Nofal, apa ada kabar terbaru dari pihak kepolisian?" Tanya Narendra setelah para peserta rapat sudah keluar semuanya hanya menyisakan Narendra dan Nofal di ruangan itu.
"Belum, Pak. Sejauh ini belum ada penemuan terbaru terkait siapa pelaku sesungguhnya karena tak ada tanda-tanda mencurigakan dari hasil rekaman cctv. Kemungkinan ada orang dalam yang memang sudah sangat hafal betul degan seluk beluk pabrik hingga bisa beraksi tanpa terdeteksi cctv, atau kata kepolisian kemungkinan pelaku melakukan aksinya dengan menyamar sebagai karyawan di saat jam kerja." jelas Nofal yang selama ini selalu memantau perkembangan penyelidikan pihak polisi.
"Sudah sebulanan lebih dan belum ada titik terang dari semua itu? Sungguh sangat aneh!"
"Aku pulang dulu, kabari segala perkembangannya. Jika tak begitu penting aku harap kamu dan Killa bisa mengatasinya. Aku harus fokus pada kesehatan istriku!"
"Baik, Pak. Semoga ibu segera sembuh kembali,"
"Terimakasih, Fal. Kalau begitu aku pergi dulu!"
"Bentar, Pak. Ini ada juga berkas yang di minta kepolisian dan butuh tanda tangan bapak,"
"Baiklah,"
Dengan segera Narendra menandatangi berkas tersebut. Lalu setelahnya ia gegas pergi meninggalkan kantor menuju rumah sakit tempat istrinya di rawat.
Setibanya di rumah sakit, Narendra segera ke ruang rawat sang istri. Di sana Narendra mendapati Arnita sedang minum obat di bantu oleh suster. Ia menuju ranjang sebelah kiri sang istri dan duduk di pinggiran brankar.
"Bagaimana kelanjutan proses pengobatan istri saya, Sus?"
"Untuk itu bapak bisa menanyakan langsung kepada dokter Risya yang menangani ibu Arnita. Beliau tadi juga berpesan agar bapak segera ke ruangan dokter Risya jika sudah datang,"
"Baiklah, Sus. Saya titip istri saya dulu,"
"Tentu, Pak."
Penjabaran tentang sakit yang di derita Arnita serta pengobatan yang harus di lakukan di simak dengan baik oleh Narendra. Ia menyetujui akan tindakan operasi yang akan dilakukan, bahkan Narendra berharap operasi segera dilakukan agar istrinya bisa segera sembuh.
Narendra sudah sangat merindukan senyum ceria dan celoteh manja sang istri. Ia merindukan momen momen romantis bersama Arnita yang setiap sore terjadi saat Narendra pulang dai kantor. Narendra pun merindukan di manja oleh istrinya, entah dengan masakan, pijatan, bahkan rindu ketika berada di peraduan. Semua tentang Arnita sangat membuat Narendra Rindu. Seandainya ada pengobatan yang bisa membuat sembuh dalam sehari, tentu Narendra akan melakukan pengobatan itu untuk Arnita, tak peduli jika semua hartanya akan ludes asalkan istrinya bisa kembali sehat ceria.
"Narendra, kamu dimana? Kenapa rumahmu kosong tak ada orang sama sekali bahkan para pekerja di rumahmu juga tak ada?" suara dari sebrang telepon membuat Narendra ingin mengakhiri panggilan tersebut, tapi ia masih memiliki sopan santun pada wanita yang sudah melahirkan dirinya. Jika terus diabaikan, tentu wanita itu tak akan pernah menyerah untuk kembali menelpon dirinya.
"Aku sedang ada di tepat yang jauh, Ma. Para pekerja aku liburkan untuk beberapa waktu."
"Apa? Di tempat yang jauh? Kamu pergi liburan, Rend? Gak ngajak mama?" wanita yang mengenakan kemeja dengan lengan seperempat serta celana kulot dengan hils setinggi lima belas centimeter itu tampak tak terima jika putranya pergi berlibur tanpa mengajak dirinya. Jangan lupakan tas jinjing bermerk serta kaca mata kotak hitam yang turut menjadi pelengkap penampilan wanita paruh baya yang kerap di sapa jeng Intan tersebut.
"Ma, aku bukan berlibur, tapi aku membawa istriku berobat."
"Halah, kamu ini! istri kayak gitu ngapain diobatin, mending di ceraikan. Ngabisin duit ajah! Bagus uangnya buat mama biar mama bisa ikut teman-teman mama jalan-jalan keliling Eropa." ujar Jeng Intan yang memang tak peduli pada anak dan menantunya karena dirinya hanya peduli pada uang, uang dan uang.
"Please jangan membuatku marah, Ma!"
"Gitu ajah kok marah! Ya udah, kirimin mama uang seratus juta ajah. Mama mau ikut keliling Eropa bareng teman-teman mama. Kalau gak ikut malu, entar mama dikira kere!"
"Maaf, Ma. Untuk saat ini aku gak bisa kirimin uang buat mama. Jika hanya lima juta aku akan kasih, tapi kalau seratus juta gak bisa, Ma. Aku lagi banyak masalah sekarang. Aku harus ngirit agar uangku cukup untuk pengobatan istriku."
"Hei, anak bandel! Kamu nggak sekere itu sampai harus ngirit demi bayar pengobatan wanita tak berguna itu! Hasil dari penjualan kosmetikmu dalam sebulan tentu tak akan habis jika hanya untuk biaya istrimu! Kamu jangan cari alasan yang nggak masuk akan Narendra!"
Jeng Intan memang belum mengetahui atau mungkin memang tak mau tahu apa yang terjadi pada Narendra dan masalah apa yang terjadi pada perusahaan milik anaknya tersebut. Meskipun teman-temannya ada yang memberitahukan perihal perusahaan Narendra, ia masa bodoh dan hanya menganggap itu masalah sepele.
"Ma, jangan bilang mama gak tahu apa yang terjadi pada perusahaan ku karena saking sibuknya mama dengan teman-teman mama yang hanya menghambur-hamburkan uang!"
"Mama tahu, Kok. Mama yakin itu masalah sepele, dengan uang semuanya akan selesai, Narendra! Ayolah transferan mama sekarang, kalau mama gak ikut jalan-jalan mama akan sedih selalu berdiam diri di rumah karena selalu teringat almarhum papamu, Narendra."
"Maaf, Ma!"
Tut
Panggilan segera diakhiri oleh Narendra dan ia segera menonaktifkan ponselnya karena mamanya akan terus menelpon sampai Narendra mengirimi wanita itu uang sesuai permintaannya.
Narendra segera kembali ke ruang rawat Arnita. Ia duduk di kursi di samping ranjang sang istri. Tangan wanita ringkih itu ia genggam dan dikecupnya berkali-kali berusaha menghilangkan keresahan dalam hatinya.
"Sayang, kamu tahu nggak perusahaan kita di ambang kehancuran. Aku pusing tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi masalah itu. Semua masih sangat misteri tanpa menemukan titik terang."
"Jika perusahaan kita harus gulung tikar, jangan marah, ya! Jangan tinggalin aku! Aku sanggup kehilangan segalanya, asalkan jangan sampai aku kehilangan kamu. Aku akan gila jika kamu pergi dariku, Ta. Kamu wanita pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta, aku pun sangat berharap kau juga wanita terakhir yang menemaniku hingga akhir hayatku."
Jam 9 pagi, kantor Om Brian bau kacang goreng dan kopi sachet.Di atas meja ada satu kertas somasi yang kalau dibaca orang normal, pasti dikira surat cinta yang salah kirim.Om Brian pakai kacamata bacanya setengah turun, kayak mau ngintip janda mandi.Ia baca dengan suara khidmat:_"Dengan hormat, kepada Saudara Nofal bin Junaidi dan Saudari Sasmitha binti Hartono di Griya Permata No.7..."__"Sehubungan dengan ditemukannya BUG pada sistem kehamilan Anda..."_Arnita yang lagi minum teh langsung keselek."BUG, Om?""Iya. Kan kehamilannya nge-bug. Masa nikah 14 Juli, Agustus hamil 3 bulan. Ini bukan hamil, ini update software yang gagal."Darius yang duduk di sofa sambil mainin helm langsung tepuk tangan."Gila, Om. Ini somasi paling berfaedah se-Indonesia. Biasanya somasi isinya pasal-pasal bikin ngantuk, ini isinya roasting."Om Brian lanjut baca, makin serius:_"Bahwa berdasarkan kalender Masehi, kalender Hijriyah, kalender Jawa, bahkan kalender promo Indomaret, jarak antara 14 Juli
Jam tiga sore, Kantor KUA sepi kayak kuburan. AC mati, kipas angin bunyi krek-krek-krek kayak lagi batuk TBC.Pak Haji Ridwan membuka buku nikah segede bantal guling."Ah, ketemu. Sasmitha binti Hartono dengan Nofal bin Junaidi. Tanggal 14 Juli tahun ini."Di dalam otak Arnita langsung ada kalkulator meledak._Oke, 14 Juli nikah, sekarang Agustus ngaku hamil 3 bulan. Juli ke Agustus itu baru satu bulan. Satu bulan hamil tiga bulan? Ini hamilnya pakai paket express Shopee? Pesan hari ini, hamil tiga bulan besok sampai? Atau jangan-jangan dia pakai ilmu mengkoding? Hamilnya di-download dulu file-nya 3 bulan baru di-install bulan Juli?_Mak Yati yang dari tadi pura-pura jadi patung di pojokan langsung kesetrum.Matanya melotot, dasternya hampir melorot."14 JULI? AGUSTUS HAMIL 3 BULAN? HEH! Ini hamilnya pakai tol langit? Ngebut amat! Baru nikah 30 hari kok isi perutnya sudah 90 hari! Ini bayi apa cicilan panci? Bunga nya kebanyakan!"Darius berbisik ke Arnita sambil nutupin mulut pakai h
Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan
"Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set
20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D
19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungki
4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-m
3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang







