FAZER LOGINSetelah cukup lama larut dalam ciuman yang memabukkan, kami terperanjat dan refleks menarik diri. Beberapa anak buah Nikolai yang berjalan dari arah berlawanan tiba-tiba muncul dan memergoki kami."Bos?""Eh, ada Bos..."Mereka seketika berbalik dan berjalan tak beraturan, tampak salah tingkah karena telah mengganggu momen pribadi pemimpin mereka. Aku langsung menyembunyikan wajah di balik punggung lebar Nikolai, merutuki rasa maluku yang memuncak."Kalian mau ke mana?" tanya Nikolai dengan suara datar, namun otoritasnya tak terbantahkan."K-kami mau lewat, Bos.""Lewat saja," perintah Nikolai pendek."B-baik, Bos. Kami numpang lewat sebentar."Aku terus menempel di punggung Nikolai sampai langkah kaki mereka menjauh. Namun, tepat saat aku menoleh untuk memastikan, tanpa sengaja pandanganku bertabrakan dengan salah satu dari mereka yang juga sedang menoleh. Kami sama-sama langsung membuang muka de
Aku tahu Nikolai sedang berjuang sekuat tenaga agar hubungan kami bisa diakui secara publik tanpa ada lagi ancaman yang menghantui. Namun, tetap saja hati kecilku tak bisa membohongi rasa cemburu yang membakar setiap kali ia terpaksa berhubungan dengan Nadine demi formalitas geng.Aku membalikkan badan, menatap wajah Nikolai yang tampak lelah namun tetap kokoh di hadapanku. "Aku tahu," sahutku lembut sembari membelai rahang tegasnya.Ia meraih tanganku, mengecup punggung tanganku berkali-kali dengan penuh perasaan. "Aku mencintaimu, Eli. Bersabarlah sedikit lagi, hm?"Aku mengangguk perlahan, diiringi senyum tipis yang getir. Sesaat kemudian, ingatanku kembali pada sosok Meli yang kini tengah meregang nyawa akibat ulah Nadine."Nikol... mungkinkah kau bisa menyelamatkan Meli?" pintaku dengan nada serius. "Aku merasa peluru Nadine tidak menembus tengkoraknya secara telak. Aku yakin Meli masih memiliki secercah kesempatan untuk hidup."
Nadine tertawa singkat sembari menurunkan moncong pistolnya dengan santai, seolah baru saja menodongkan pistol itu pada benda mati, bukan manusia."Aku hanya bercanda, Eli. Aku hanya tidak suka melihat pengganggu itu terus mengusik kekasih Nikolai?" ucapnya sembari melirik Nikolai dengan tatapan penuh arti.Kekasih?Mataku membulat sempurna dengan hati yang bergejolak hebat. Kejahatan apa lagi yang sedang ia rencanakan di balik kata-kata manis itu? Aku yakin, Nadine tidak akan semudah itu mengakui posisiku di samping Nikolai. Aku tahu, ada duri yang ia sembunyikan di balik senyumnya.Aku menurunkan pistol di tanganku yang terasa berat, lalu ikut menoleh ke arah Nikolai.Pria itu, yang sejak tadi terdiam membeku menyaksikan eksekusi mendadak tersebut, membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya hingga padam. Ia membenamkan satu tangan di saku celana sebelum melangkah perlahan mendekati kami."Siapa yan
Meli melirik Nikolai sejenak dengan tatapan penuh harapan yang keliru, sebelum kembali menatapku dengan gusar. Dengan langkah serabutan, ia berlari mendekati Nikolai, seolah mencari perlindungan pada iblis yang salah."Tuan... Itu dia biang keladinya! Eli adalah penyebab kekacauan di Klinik Aurora!" teriaknya dengan napas tersengal-sengal dan mata membelalak panik. "Bunuh saja dia, Tuan! Bunuh saja wanita sialan itu!"Nikolai tak bergeming sedikit pun. Ia tetap menikmati rokoknya, membiarkan kepulan asap putih menghalangi pandangan mereka. Matanya tertuju padaku, memberikan kode yang sangat kupahami. Ia seolah sedang menyerahkan segala kekuasaan dan nyawa wanita di depannya ini ke dalam tanganku.Aku menyunggingkan senyum miring pada Meli, lalu melangkah mendekatinya dengan tatapan yang tajam dan dingin.Kaki Meli seketika terdorong mundur, wajahnya memucat pasi. "Tuan... Kenapa kau diam saja? Cepat habisi dia!" pintanya d
"Kau puas, Sayang?" bisik Nikolai dengan suara serak yang masih terengah-engah.Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan senyum lebar yang penuh binar kebahagiaan. "Emh. Aku mencintaimu, Nikol."Ia tersenyum lebar dengan binar menggoda. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Nikolai kembali menarik tengkukku, melumat bibirku dengan penuh gairah yang seolah tak ada habisnya.Sepertinya, satu bulan penuh tanpa kehadiranku telah menciptakan lubang kerinduan yang sangat dalam di dadanya.Puas menyesap bibirku, ia mengubah posisi kami. Ia mengatur tubuhku hingga menungging di atas sofa markas, dengan tangan bertumpu kuat pada sandaran kursi."Boleh aku melakukannya sekali lagi?" bisiknya tepat di telingaku, suaranya rendah dan menggetarkan saraf."Emh," sahutku sembari menggigit bibir, memberikan izin sepenuhnya.Ia tiba-tiba menggigit pelan daun telingaku dengan gerakan erotis, sementara tangannya meremas buah dadaku yang menggantu
Aku menunduk sembari menyunggingkan senyum simpul. Wajahku mungkin sudah memerah sempurna, panas seperti terbakar.Perlahan, Nikolai mengangkat daguku dengan ujung jemarinya, memaksa manik mata kami saling mengunci. "Kau pasti sangat terluka hari ini, hm?"Aku tak langsung menjawab. Pandanganku menunduk, mengingat kejadian memilukan beberapa jam yang lalu. "Awalnya iya," sahutku lirih, hampir berupa bisikan. Aku kembali mengangkat wajah sambil tersenyum tipis yang masih berselimut luka. "Tapi sejak kau datang... rasa sakitku lenyap begitu saja." Aku melingkarkan tangan di lehernya dengan posesif. "Aku senang kau datang dengan cepat, Nikol. Aku tahu... kau pasti tidak akan membiarkan aku disakiti oleh siapapun.""Kau benar. Siapapun yang menyakitimu, akan aku pastikan hidupnya seperti neraka," bisiknya dengan suara berat yang mematikan.Ia mengusap bibir bawahku pelan sembari menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna. "Kau m







