공유

36. Setelah Bercerai

작가: ReyNotes
last update 게시일: 2025-11-28 08:11:39

Belva mengembuskan napas penuh kelegaan saat melihat Alvin dan Edo akhirnya keluar dari restoran. Ia segera membantu membereskan meja-meja dan ruangan.

Belva berdiri di halte kecil di depan hotel, seragamnya masih rapi meski wajahnya tampak lelah. Angin malam berembus dingin, membuatnya merapatkan cardigan tipis sambil memeriksa jam.

“Lama sekali…” gumamnya. Kendaraan umum terakhir biasanya lewat jam segini, tapi malam ini sepertinya terlambat.

Lampu mobil mendekat dari kejauhan. Belva bergeser
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
Yiming
emakmunaja yg gak Tau diri. udh Tau nikah sm dokter yaa emang gitu kan, pasti sibukk
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
mengabaikan? mengabaikan itu ga ngasi nafkah dan perhatian kan? sementara Papanya masih berjuang untuk itu tapi Mamanya udah nge jalang sama lakik orang, Rumi ternyata ga cerdas pemikirannya ya, percuma dikuliahin diluar negeri tapi pikirannya dangkal. ah males liat Arumi, tape deh...
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
itu namanya nyalahin Papanya, Arumi, masih cari pembenaran perselingkuhan? oh kalo jadwal suami padat boleh ngangkang depan lakik orang gitu? oh kalo kesepian terus menerima donor sperma dari kelamin lelaki lain gitu? ga gitu konsepnya Rumi, ah payah anak manja mana mikir kesitu, belain aja Mamanya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   99. Wanita Terakhir

    Tiba-tiba, Belva berdiri. “Kalian kenapa, sih? Aku nggak papa. Tadi sebenarnya... cuma ngantuk.”Semua orang di ruangan saling berpandangan. Kemudian, mereka menatap Belva.“Serius nggak papa?” Hendra menatap wajah Belva.Kepala Belva mengangguk, lalu menunjuk Alvin. “Aku kurang tidur gara-gara ayangku ini.”Alvin mengangkat kedua alisnya. Lalu ekspresinya dengan cepat berubah. Ia tersenyum pada semua orang.“Kalian pasti mengerti maksud Belva.”Sambil menggeleng pelan, satu persatu keluar dari ruang ganti. Belva dan Alvin berjalan paling belakang. Alvin mengecup kepala sang istri.“Maaf, kamu aku jadikan alasan. Tapi, aku nggak bohong semalam memang kurang tidur.” Belva berbisik.“Aku nggak keberatan menjadi tamengmu, Sayang.” Lengan Alvin merengkuh bahu Belva. “Merahasiakan sesuatu itu memang sangat berat.”Belva menatap wajah Alvin. “Setelah pesta usai, bisa kita umumkan.”Para tamu mulai berpamitan, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Musik band telah berhenti. Lampu-lampu d

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   98. Rahasiakan Dulu

    Pernikahan Estella dan Hendra berlangsung meriah.Tamu-tamu memenuhi area resepsi—wajah-wajah yang datang dari dua dunia yang berbeda namun malam itu menyatu dengan alami. Staf kesehatan dengan setelan rapi berbincang hangat di satu sisi, sementara para model dan rekan industri kreatif Estella menambah kilau dengan gaun dan jas yang elegan. Tidak ada jarak yang terasa canggung. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: merayakan cinta.Upacara sakral telah selesai. Doa-doa terucap khidmat. Ketika pasangan pengantin melangkah keluar dengan senyum lega, tepuk tangan mengalun panjang. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih ringan. Musik mengalir—band kenamaan tampil di panggung, membawakan lagu-lagu yang mengundang tamu bergoyang kecil sambil menikmati hidangan.Di antara keramaian itu, Belva memilih duduk di meja VIP. Tidak berusaha menarik perhatian. Piringnya terisi secukupnya. Ia makan dengan tenang, menikmati jeda yang jarang ia dapatkan di tengah pesta besar. Sesekali matanya m

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   97. Rumah Baru

    “Apa kata Mamamu? Kok kamu matikan teleponnya?” Belva bertanya pada Arumi yang sudah menurunkan ponsel dari telinganya.Arumi menatap Belva, lalu menunduk. “Mama cuma langsung bilang minta dibayar tebusannya biar bisa keluar dari penjara.”Belva dan Edo saling bertatapan sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Mereka membiarkan Arumi yang termangu sendiri menatap ke luar jendela.Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen, Arumi segera minta waktu bicara dengan Alvin berdua saja. Belva meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Sementara Edo pun langsung berpamitan.“Ada apa, Arumi?”Selama putrinya bercerita, Alvin menatapnya dengan ekspresi datar. Hingga akhirnya Arumi berhenti dan memeluk Alvin sambil terisak.“Aku nggak tau harus bagaimana, Pa?”Sejenak Alvin hanya diam. Lalu perlahan, tangannya mulai mengelus punggung sang putri. Ia mengurai pelukan Arumi dan menatap wajahnya.“Kenapa Mama bisa sampai seperti ini?” Arumi balas menatap mata Alvin.Sebelum menjawab, Alvin menghela na

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   96. Anak Baik

    Musim semi menyambut keluarga yang berkumpul lengkap di luar negeri untuk menghadiri wisuda Arumi dan Edo yang hanya selisih satu hari.Di halaman kampus yang luas, toga-toga hitam bergerak seperti gelombang kecil. Fredy dan Yarra berdiri berdampingan, wajah mereka dipenuhi senyum yang tidak dibuat-buat. Belva berdiri di sisi Alvin, tangannya sesekali merapikan kerah jas suaminya—kebiasaan kecil yang kini terasa wajar.“Papa, Belva,” panggil Arumi dari kejauhan.Ia melangkah mendekat dengan senyum lebar, toga membingkai wajahnya yang matang. Di sampingnya, Edo berjalan dengan langkah tenang. Mereka berhenti tepat di depan keluarga.“Selamat, Rumi,” ucap Fredy, suaranya berat namun hangat.Yarra memeluk cucunya lama. “Kami bangga sekali.”Belva tersenyum bahagia lalu menggenggam kedua tangan Arumi. “Gimana? Sudah lega?”Arumi tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akhirnya selesai.”Edo menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang.”Alvin menepuk bahu Edo singkat. Tidak banyak kata, tapi isy

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   95. Restu

    Saat semua orang bergembira dan menjabat tangan Edo dan Arumi bergantian. Alvin terdiam sambil menatap Edo tanpa berkedip. Lalu, perlahan, ia menyeret Edo ke pojok ruangan.“Sejak kapan?” Alvin melipat kedua yang tangannya di perut sambil menatap Edo tanpa jeda.“Umm... maaf, Om. Kami semakin dekat saat kembali bersama ke luar negeri. Karena satu kampus juga, kami jadi sering bertemu.” Edo menjelaskan.“Kenapa kalian diam-diam? Belva tau?”Edo menggeleng. “Arumi bilang, kalau Belva tau, ia akan langsung cerita pada Om. Arumi mau ini menjadi kejutan.”“Oh yaa.” Alvin mendelik. “Aku memang sangat terkejut.”Edo menunduk santun. “Maaf, Om.”Lalu, Alvin teringat sesuatu. “Belva pernah bilang kamu sudah memiliki kekasih.”“Kami tidak berjodoh.” Edo menghela napas. “Kami sudah putus sebelum aku memutuskan sekolah lagi.”“Begitu.”“Aku minta restu, Om.”Alvin mendekat ke telinga Edo dan mengancam, “Kupatahkan lehermu kalau sampai menyakiti putriku!”Setelahnya, Alvin bergabung pada keluargan

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   94. Dua Wisuda

    Pagi itu datang dengan situasi yang berbeda. Alvin memeluk dan mengelus punggung Belva yang terbuka. Wanita itu masih nyaman tidur dalam dekapan.“Sayang, aku harus siap-siap ke rumah sakit,” ucap Alvin.“Umm... aku masih mau dipeluk begini.” Belva menggumam sambil mengeratkan pelukannya.Alvin terkekeh. “Lima menit lagi. Oke?”Tidak ada jawaban. Hingga lima menit berikutnya, Alvin mengangkat tubuh Belva dan membopongnya ke kamar mandi.“Aku masih mau tiduran.” Belva merengut kala Alvin melepas pakaiannya.“Sekalian aku mandi, Sayang. Setelah aku berangkat, kamu bisa tidur lagi.”Akhirnya, Belva pasrah dimandikan sang suami. Dengan manja, Belva mengalungkan lengannya di leher Alvin saat tangan lelaki itu mengusap sabun ke seluruh tubuh istrinya. Mereka bertatapan, berciuman hingga kedua kaki Belva kini naik ke pinggang Alvin.Sambil menjaga keseimbangannya di lantai yang basah, Alvin membantu Belva bergerak di atas tubuhnya. Setelah sama-sama mendapat pelepasan, Belva menjejakkan kaki

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   64. Perdebatan Pertama

    Alvin akhirnya mengajak Belva masuk. Ia menyuguhkan minuman jus kaleng dan mereka duduk di sofa.“Ceritakan padaku.”Belva mengangguk. Sebelum mulai, ia membasahi tenggorokannya.“Aku... pernah bertengkar dengan Mamanya Arumi—sebelum tau dia adalah Bu Nolla.”Melalui kalimat itu, Belva melanjutkan

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   63. Jujur

    “Arumi.” Belva menepuk pelan paha sahabatnya yang masih tidur. “Sudah mau mendarat.”Arumi mendesah sedikit, lalu menegakkan posisi duduknya. Ia membuka tas dan menyisir rambut dan menata kembali penampilannya. Begitu juga dengan Belva.Setelah selesai berdandan, Arumi merentangkan tangan, meregang

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   62. Pelajaran Pertama

    Menjelang siang, mereka sudah berada di dalam pesawat. Mesin pesawat berdengung lembut, menjadi latar suara yang stabil di tengah kabin. Belva duduk di kursi tengah, Arumi di sebelah jendela, dan Alvin di sisi lorong.Sejak lepas landas, Arumi yang penuh energi terus mengajak Belva mengobrol—tentan

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   61. EHM!

    Malam itu, Alvin memang meminta Belva ikut pulang. Tentu alasannya agar mereka tidak terlalu jauh terpisah.Tidak butuh waktu lama berpikir, Belva mengangguk. Desa memang menentramkan, tetapi ia butuh kegiatan agar tidak bosan.Saat sarapan, Arumi menatap wajah Belva dan Alvin sambil senyum-senyum.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status