共有

TAS 209

last update 公開日: 2026-02-26 23:52:29

"Aku tak menyangka kau akan membawaku pulang," ucapku tersenyum pada Sam. Tanganku bergelayut manja di lengannya saat kami berdiri berdampingan di balkon kamar.

"Mulai sekarang ini rumah kita," jawabnya merangkulku erat.

Rumah peristirahatan itu seperti pulau kecil yang terlepas dari dunia luar. Kolam di belakangnya berkilau redup diterpa cahaya sore. Hujan sempat turun sebentar membawa hawa segar. Tirai tipis di jendela bergerak perlahan oleh angin.

Sangat damai. Bisa dibilang, ini kedamaian
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 243

    “Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 242

    Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 241

    "Seorang kurir." Aku menoleh pada ibu yang berdiri bingung di sampingku."Kapan?""Sebelum kau datang."Aku terdiam, mencoba mengingat. Saat masuk tadi, pikiranku masih penuh kesal. Emosi. Aku tidak memperhatikan jalanan sekitar lagi, bahkan tidak melihat bingkisan besar itu ruang tamu.Aku kembali menatap miniatur tadi. Terlalu berlebihan untuk sekadar hadiah biasa. Tanganku menggenggam erat kartu kecil itu.Pikiranku mulai menyusun kemungkinan.Sam?Tidak.Kalau itu dia, dia tidak akan menulis pesan singkat yang ambigu seperti ini. Dia akan langsung menulis permintaan maaf, membujuk, atau memberi penjelasan.Lagi pula, tulisan ini bukan tulisannya. Aku sangat yakin dia tak akan meminta orang lain menulisnya.Berarti…Hanya tersisa satu orang.Aku menghela napas pelan. Kembali merasa kesal."Kenapa?" tanya ibu, memperhatikanku lebih dekat. "Ini sepertinya barang mahal. Apa yang mengirimnya... pria itu lagi? Kau masih berhubungan dengannya?"Wajah ibu berubah galak seketika.Aku meng

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 240

    "Itu tidak seperti yang kau pikirkan." Akhirnya aku mengucapkan kalimat pembelaan paling klise yang terlintas dalam pikiranku. Dan aku langsung menyesalinya setelah melihat ekspresi Sam. Dia bergeleng pelan dan menegakkan tubuh. "Kalau begitu jelaskan," ucapnya. Tetap berusaha memberiku kesempatan membela diri. Tapi nada suaranya yang pasrah itu justru membuat dadaku terasa lebih bersalah. "Semua itu hanya kebetulan." Aku menunduk sebentar, mencoba menyusun kata. "Malam itu hujan sangat deras. Jalan ditutup karena kecelakaan. Dia tidak bisa pulang jadi harus menunggu di rumah." Sam diam, menunggu kelanjutan ceritaku. "Ada… beberapa hal tak terduga yang terjadi," lanjutku. "Keran di kamar tamu rusak, lalu dia menumpang mandi di kamarku—" "Kenapa dia bisa ada di rumahmu malam-malam?" Sam bersedekap menanyaiku. Aku menelan ludah. Makin menyesal telah menjelaskan bagian itu. "Dia diundang ibuku untuk makan malam." Wajah Sam langsung berubah. Dia memalingkan wajah, berusaha menyem

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 239

    "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan suara tertahan saat kami sudah melewati pintu."Aku mencarimu," jawab Sam langsung tanpa menoleh. Perlahan dia mengurangi kecepatan langkahnya hingga kemudian berhenti. Dia segera berbalik menatapku tajam. "Kau menghilang."Langkahku ikut terhenti. Kini kami berdua berdiri di area samping galeri. Sengaja mencari tempat yang lebih sepi dan bebas dari jalur lalu-lalang staf lain."Aku tidak menghilang," jawabku pelan."Kau tidak memberi kabar.""Aku sudah memberitahu Sarah—""Sebelum itu." Sam memotong kalimatku dengan cepat.Aku terdiam sejenak. "Maaf kalau aku membuatmu khawatir."Sam menghela napas, mencoba menahan emosi."Aku menunggumu. Kupikir kau sudah punya kuncinya dan kau akan segera datang padaku."Aku mengangguk lalu tertunduk penuh penyesalan. "Aku menyimpannya, tapi... kupikir sekarang bukan waktu yang tepat. Ada hal penting yang harus kulakukan sebelumnya.""Hal apa yang lebih penting dari urusan kita, sekarang?" Aku menggi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 238

    "Aku lapar sekali," ucapku mengusap perut sambil berjalan lemas ke arah dapur.Pagi datang dengan udara yang masih lembap. Hujan memang sudah berhenti, tapi sisa dinginnya masih terasa di seluruh rumah.Aku baru saja ingin duduk di meja makan saat ibu keluar dari dapur."Antarkan sarapan ini ke kamar tamu."Aku langsung menoleh. "Dia masih di sini?""Iya. Jadi cepatlah.""Kenapa harus aku?" tanyaku refleks. "Dia bisa datang sendiri ke sini. Untuk apa dibawakan seperti—"Tatapan ibu langsung menajam. "Seperti raja?" potongnya.Aku terdiam serba salah."Hei, dia itu bosmu. Dia juga tamu di rumah ini. Kau harus tahu bagaimana bersikap pada tamu."Aku menghempaskan napas. Kesal, tapi tidak bisa membantah lagi. Segera kuambil nampan itu. Isinya roti lapis, telur dan segelas minuman hangat. Langkahku menuju kamar tamu terasa lebih berat dari seharusnya.Aku mengetuk pintu.Tidak ada jawaban.Aku mengetuk lagi.Masih tidak ada."Tuan Sinclair?" teriakku pada daun pintu."Masuk saja." suara M

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status