LOGIN"Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka
Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B
Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.
Ruangan itu terasa semakin luas ketika aku dan Sean berdiri saling berhadapan.Jauh di belakang, suara tawa dari ruang tamu terdengar sayup. Sangat hangat, santai, bertolak belakang dengan ketegangan yang kini menekan dadaku."Kau menuduhku sekarang?" tanyaku dengan suara tercekat.Sean menatapku dalam dan tajam, seolah benar-benar yakin dengan tuduhannya."Aku tak bisa menyebut itu tuduhan atau bukan, kau yang lebih tahu apa niatmu.""Aku tidak-" kalimatku terhenti. Aku sadar. Aku memang punya tujuan tertentu mendekati keluarga besar mereka. Meski begitu, dia tak boleh seenaknya menyebut itu balas dendam. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang harusnya jadi milikku.Tanganku mengepal pelan di sisi tubuh. Ada dorongan untuk menjelaskan, untuk menyangkal. Tapi semua kata-kata itu terasa berantakan di dalam kepalaku."Kau menargetkan posisi ibuku, kan?" Pertanyaan Sean kali ini jauh lebih berani.Aku menatapnya tanpa berkedip. Bibirku terkatup rapat. Dia sudah tahu, kenapa masih berta
"Bagaimana... kalau ada dokumen atau saksi, yang bisa menjelaskan kelalaiannya?" Ulangku bertanya dengan suara ditekan. Matanya menyipit sedikit, mencoba membaca wajahku, mencari celah apakah aku hanya menggertak atau benar-benar tahu sesuatu."Apa kau... menemukan sesuatu?" tanya Sam lirih. Aku tidak menjawab, juga tidak mengalihkan pandangan Keheningan di antara kami terasa berbeda sekarang. Penuh kecurigaan.Tapi yang dia lakukan selanjutnya justru mundur.“Aku tidak mau ikut campur lagi,” ucap Sam. Suaranya kembali datar, seperti pintu yang ditutup rapat. “Aku sudah mengajukan banding untuk pengajuan perceraian kami.”Aku terdiam dengan alis terangkat. Kalimat itu sungguh mengejutkanku. Kupikir dia sudah menyerah. Tapi sepertinya aku keliru. “Dia dan semua masalahnya, bukan urusanku lagi,” tandasnya. Tidak ada penjelasan tambahan. Setelah itu, dia berbalik pergi.Langkahnya tegas dan panjang, sangat jelas bahwa dia tidak ingin percakapan ini berlanjut. Aku menyusul dengan cepat
Kedatangan Sam langsung mengubah pusat perhatian. Bahkan sebelum aku sempat menata ekspresiku kembali, Tuan Henry sudah melangkah mendekat dengan senyum lega yang jelas tidak dibuat-buat.“Ayo, Nak. Kita makan bersama,” ucapnya sambil menepuk bahu Sam. “Kau pasti belum makan setelah rapat tadi.”Di sampingnya, Nyonya Miranda ikut tersenyum, meski ada sedikit ketajaman di matanya yang tidak hilang begitu saja. “Jangan biasakan menunda waktu makanmu.”Sam mengangguk singkat. “Ini hanya sesekali, tidak selalu.”Tuan Henry menatap ke belakang, seolah mencari seseorang. “Kau datang sendiri? Di mana istrimu?”Pertanyaan itu menggantung. Nyonya Miranda langsung menyela dengan nada yang jelas tidak sabar. “Untuk apa mengharapkan wanita itu di sini?”Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tajam untuk membuat siapa pun mengerti arah pembicaraan ini.“Pertama kali ikut acara keluarga saat lelang kemarin, dia langsung membuat ulah. Bahkan hampir mempermalukan kita di depan semua tamu,” lanjutnya
Tanganku terhenti seketika, tak jadi memutar gagang pintu.Kuberanikan diri menoleh kembali padanya. Max masih berdiri dalam posisi sebelumnya. Tatapan mata dan ekspresinya yang ambigu sungguh menyiksa otakku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.Aku tak paham apa sebenarnya yang dia inginkan. Di
"Aku sungguh minta maaf…" lirihku dari luar pintu kamar mandi di kamarku. "Aku tidak sengaja."Di dalam terdengar suara air keran yang berhenti. Lalu berganti suara Max yang menjawab tenang."Kau tidak perlu minta maaf berulang kali."Aku menunduk, menatap lantai. Mengingat kejadian tadi sungguh me
Aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang datang. Tatapanku pertama kali menemukan ibu yang duduk tegak di sofa. Lalu perlahan bergeser ke sofa di seberangnya.“Hai, Audrey. Kau baru pulang?”Aku terhenyak sesaat. Rasa tegang yang sempat mengikat dadaku perlahan mereda saat menyada
"Kau terlihat terkejut," ucap Max mengamati perubahan ekspresiku.Aku cepat menggeleng dan kembali tersenyum. "Silakan lanjutkan."“Oke. Kau akan mulai dari hal paling dasar. Data, arsip, pencatatan koleksi. Kau akan melihat bagaimana sebuah karya masuk, diverifikasi, dinilai, lalu dipersiapkan unt







